Belajar Parenting › Forums › Tempat Ngeriung › Mengoptimalkan balita peniru andal
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
August 2, 2023 at 10:54 pm #4054
Winda Djohar
MemberHalo, Kak Aar dan Kak Lala.
Izin bertanya…
Anak saya sekarang menjelang usia 4 tahun dan sangat senang meniru (kegiatan maupun omongan) orang di sekitarnya. Saya melihatnya kurang bisa berinisiatif untuk melakukan aktivitas sendiri (misal, memulai untuk menggambar/mewarna sendiri tanpa disuruh). Bahkan saat ditinggal sendiri (misal saat saya di kamar mandi), dia memilih untuk menunggu di depan pintu sambil berceloteh.
Akan tetapi, ketika saya mencoba memulai kegiatan mewarna/menggambar dengan harapan dia juga tertarik untuk ikut, dia tetap tidak terpacu untuk ikut serta. Saya heran karena melihat anak-anak seusianya biasanya senang dengan mewarna/menggambar.
Bagaimana ya, Kak mengoptimalkan ‘kemampuan’ meniru anak agar perkembangannya optimal dan agar dia pun memiliki kemandirian/inisiatif?
Terima kasih
August 3, 2023 at 10:11 am #5407Aar
KeymasterHalo kak @winda-djohar,
Selamat datang di dunia pengasuhan anak. Setiap anak unik dan berbeda. Ini yang selalu menantang dalam proses pengasuhan bersama anak-anak.
Kami juga mengalami kondisi seperti ini kak. Ada anak yang suka membaca, ada anak yang lambat membaca. Ada anak yang senang kegiatan di luar, ada anak yang maunya di rumah terus. Ada anak yang butuh main sama teman, ada anak yang senangnya sendirian. Ada anak yang setiap hari menggambar, ada anak yang sama sekali tidak suka menggambar.
And it’s okay.
Kami sama sekali tidak masalah ketika Duta (anak ke-3) kami lambat membaca, tak tertarik aneka percobaan, dan tidak suka menggambar. Ternyata, setelah dia besar dia menyukai sport (basket & catur) dan sekarang di usia 15 tahun telah menjadi atlet catur junior nasional.
Jadi, ada beberapa hal yang bisa dan perlu dilakukan:
1. Terimalah keunikan anak
Penting untuk mengimani bahwa setiap anak unik. Anak kita tak harus sama dengan anak lain. Jika ada kelemahan/kekurangan anak, kita jangan fokus energi pada kekurangannya itu. Jangan lupa mencari sisi-sisi lain yang menjadi kekuatan anak.
2. Kenali tujuan yang sesuai anak
Jangan menjadi kebiasaan anak2 lain menjadi acuan. Seperti yang saya tuliskan di atas, anak ke-3 kami sama sekali tak suka menggambar dan mewarnai. Kami tak mempermasalahkannya.
Yang penting untuk orangtua adalah: kenali parameter tumbuh kembang anak sesuai usia. Jadikan itu sebagai acuan untuk stimulasi pertumbuhan anak.
Kenali, apa yang pelu distimulasi? Apa yang sudah bagus sehingga bisa ditingkatkan kualitasnya? Apa yang masih tertinggal dan membutuhkan stimulasi?
3. Fokus pada stimulasi
Fokus pada hal2 yang bisa kita lakukan. Fokuslah pada proses stimulasi pada anak, lepaskan hasilnya karena itu di luar kendali kita. Jika kita merasa anak perlu stimulasi kreativitas, ajari melalui berbagai cara: menggambar, mewarnai, ikuti tutorial, bikin2, dll. Jika kita merasa anak perlu stimulasi kegiatan motorik kasar/fisik, ajak anak jalan pagi, main di taman, dan seterusnya.
Begitu, kak. Kita tak bisa memastikan dan tak bisa memaksa anak menyukai sesuatu. Yang bisa kita lakukan adalah mencoba melakukan sebuah kegiatan dengan asyik sehingga anak menjadi tertarik untuk melakukannya.
Semoga membantu.
🙏
August 3, 2023 at 3:27 pm #5406Winda Djohar
MemberTerima kasih sekali atas jawaban dan sharing-nya.
Meskipun selama ini saya berusaha tenang dengan ngomong ke diri sendiri bahwa setiap anak unik dan kemampuan/minat anak lain bukanlah patokan tum-bang, tapi ketika mendengar sharing Kak Aar tentang Duta, saya jadi lebih yakin.
Terkait membangun inisiatif, apakah ada caranya melatih anak usia dini untuk bisa berinisiatif?
Misalnya agar dia tidak cenderung berdiam diri saat ditinggal beraktivitas.
Terima kasih, Kak.
August 5, 2023 at 12:11 pm #5403Aar
KeymasterKak @winda-djohar,
Salah satu cara memicu inisiatif anak bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada anak.
1. Pertanyaan ganda
Pertanyaannya dimulai dari pilihan:
“Kakak mau melakukan A atau B?”
“Kakak mau melakukan A dulu atau B dulu?”
“Kakak mau makan A atau B?”
“Kakak mau pakai baju A atau B?”
Jika anak membutuhkan waktu, berikan waktu. Bersabarlah. Jangan langsung menyodorkan pilihan Anda.
Jika anak terserah Bunda, pada awalnya Anda bisa mengatakan: “OK, yang sekarang yang pilih Bunda. Besok yang pilih kakak yaa… Bunda sekarang pilih A.”
Jika anak sudah memilih, ikuti dan jangan dikoreksi. Jika Anda mengkoreksi, itu tandanya Anda mengajukan pilihan yang salah. Pastikan pilihan yang Anda ajukan sama-sama benar dan sama2 bisa dikerjakan.
Ini adalah proses membangun kepercayaan diri anak bahwa:
- dia boleh memilih
- dia bisa memilih
- pilihannya tidak salah dan tidak dikoreksi
- pilihannya diterima
2. Pertanyaan majemuk
Jika anak sudah terbiasa pertanyaan ganda, ajukan pertanyaan dengan pilihan majemuk.
“Mau A, B, atau C?”
Berikan kesempatan pada anak untuk memilih.
2. Pertanyaan terbuka
Jika anak sudah terampil menjawab pertanyaan terpandu baik pilihan ganda dan majemuk, baru ajukan pertanyaan terbuka.
“Hari ini kakak mau kegiatan apa?”
“Hari ini mau pakai baju apa?”
“Hari ini kita mau ke mana?”
Ini proses-proses stimulasi yang bisa dilakukan, kak,
Semoga membantu. 🙏
August 7, 2023 at 1:41 pm #5401Winda Djohar
MemberWah… Terima kasih sekali, Kak Aar atas jawabannya. Akan saya coba terapkan.
Sehat dan sukses selalu ya, Kak Aar-Kak Lala dan keluarga.🙏
August 7, 2023 at 2:19 pm #5399Aar
KeymasterAmin.. terima kasih kak @winda-djohar 🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.