Membangun insfrastruktur HS

Belajar Parenting Forums Tempat Ngeriung Membangun insfrastruktur HS

  • This topic is empty.
Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 27 total)
  • Author
    Posts
  • #4177
    Diany
    Member

    Assalamualaikum Mas Aar dan Mba Lala.

    Perkenalkan saya diany.

    Saya dapat broadcast WA dari admin Rumah inspirasi. Temanya mengenai manajemen keseharian HS. Salah satunya tentang membangun infrastruktur HS.

    1. Izin bertanya, untuk penjelasan dari kesehatan mental ortu dan pola koordinasi kegiatan itu maksudnya bagaimana?

    2. Bagaimana cara tahu ” level baik” Kesehatan mental orang tua dan anak dalam menjalankan pendidikan rumah?

    Terima kasih β˜ΊπŸ™

    #6069
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Kak @diany-justiana

    Proses HS berbeda dengan anak bersekolah karena peran orangtua sangat krusial. Anak tak bisa hanya dibuatkan jadwal seperti anak sekolah dan disuruh mengikuti jadwal, hanya mengundang tutor, atau ikut les.

    1.

    Peran orangtua sangat krusial untuk memimpin proses keseharian HS agar berlangsung lancar.

    Oleh karena itu, prioritas pertama dalam keseharian HS bukan membuatkan jadwal untuk anak, tapi memastikan kesehatan orangtua, baik fisik maupun mental. Kesehatan fisik berarti orangtua sehat dan bisa menemani anak tanpa masalah. Kesehatan mental berarti orangtua tidak kusut, tidak stress, dan berbahagia saat berinteraksi/berkegiatan bersama anak.

    Mengapa perlu koordinasi kegiatan anak dan orangtua?

    Karena HS bukan berarti orangtua mengajari anak setiap saat. Ketika anak semakin besar, proses yang dilakukan pada anak adalah mengajari mereka agar bisa mandiri mengelola jadwal dan kegiatannya. Itulah sebabnya, anak perlu diajari membuat jadwal kegiatannya sendiri.

    Koordinasi diperlukan karena orangtua juga punya kegiatan masing-masing. Jadi, saat pagi hari orangtua dan anak bisa saling bercerita tentang rencana kegiatannya:

    Orangtua bercerita: “Hari ini Ibu ada kegiatan xxx, target yyy, nanti jam x ada urusan keluar untuk yyy… Apa jadwalmu hari ini? Apa yang kamu butuhkan dari Ibu hari ini?”

    2.

    Kesehatan mental orangtua bisa dilihat dari:

    • orangtua tidak kusut menjalani keseharian
    • orangtua bisa berkomunikasi bersama anak dengan santai (tidak ngegas terus)
    • orangtua dan anak bisa berkomunikasi dua arah tanpa harus marah2

    Kesehatan mental anak bisa dilihat dari:

    • anak menjalani kesehariannya dengan semangat
    • anak melakukan kegiatan yang produktif (tidak bingung dan tidak cuma main game saja)

    Tema manajamen keseharian ini dibahas lebih mendalam di kelas “Manajemen Keseharian Homeschooling”.


    Demikian kak, semoga membantu.

    #6058
    Diany
    Member

    MasyaAllah, terima kasih jawabannya. Barakallahufiikum πŸ™

    #6044

    Assalamu’alaikum Mas Aar dan Mba Lala. Perkenalkan saya Nurul dari Solo.

    Saat ini Kami masih masa transisi dari sekolah formal ke HS. masih bingung dalam menjalani keseharian HS. Saya sudah membaca beberapa buku HS termasuk buku pak Aar tentang prinsip dan gagasan HS. Dan juga ikut kelas lengkap di RI. Tapi secara tehniknya masih bingung pak Aar/bu lala.

    Yang ingin saya tanyakan berikut ini:

    1. Bagaimana urutan materi di kelas lengkap? mana yang harus dipelajari terlebih dahulu.

    2. Bagaimana contoh portofolio dan bagaimana cara menyusun ? Dan apakah semua yang dipelajari anak didokumentasikan?

    3. Bagaimana cara agar anak kondusif saat menjalani HS?

    Anak saya aktif semua, 10th, 7th dan 2th. Anak pertama sudah tenang jika dia belajar dan mempresentasikan materi. Anak ke 2 heboh, tidak tertarik. Dia lebih tertarik di non akademik dan untuk akademik hanya matematika.

    4. Untuk materi akademik bisa di kasih materi dari mana ya bu lala?apakah bebas sumbernya? Dari PKBM saya belum di share modulnya.

    5. Anak saya yang pertama suka menulis, anak saya ke 2 suka robot, dua-duanya suka baca buku. apakah ibu ada rekomendasi tempat belajar untuk mengembangkan potensi mereka?

    Terimakasih pak Aar dan bu Lala

    #6043
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam kak @nurul-hidayah-8617

    Terima kasih sharing dan pertanyaannya.

    Proses transisi penting HS dari sekolah ada 2:

    • transisi legal
    • transisi operasional

    Transisi legal dilakukan dengan mendaftarkan anak ke PKBM. Jika kakak sudah melakukannya, maka proses 1 sudah selesai. Tinggal menunggu arahan dan mengikuti alur kegiatan dari PKBM yang dipilih.

    Transisi operasional ini yang lebih substansial. Prosesnya membutuhkan banyak kesabaran karena tidak bisa berlangsung cepat. Butuh waktu 6 bulan atau lebih agar keluarga bisa mendapatkan pola kegiatan yang sesuai dengan anak, sesuai harapan orangtua, dan kondisi keluarga. Keluarga perlu melakukan eksperimen/coba2 bikin pola kegiatan hingga ketemu yang cocok.

    Untuk melengkapi pertanyaan kak Nurul, apakah boleh dijawab dulu pertanyaan berikut ini:

    a. Apa alasan kakak memilih HS?

    b. Apa tujuan yang ingin diraih dengan HS (yang berbeda dari sekolah)?

    c. Apa pola kegiatan yang dijalani anak sehari-hari saat ini?

    Jawaban kak Nurul akan membantu saya menjawab pertanyaan Anda sebelumnya dengan lebih tajam.

    Semoga berkenan ya kak.. πŸ™

    #6036

    Terimakasih pak Aar atas responya.

    Alasan saya dan suami memilih HS karena mapel di sekolah terlalu padat. Anak-anak kami sekolah di kuttab, sekolah berbasih hafalan qur’an. Karena kuttabnya resmi jadi mapel akademik juga banyak seperti SDIT. sekolah Sistemnya fulday, Setiap hari Ada PR Murojaah(mengulang hafalan Qur’an) sekitar 1 juz tiap hari, dan terkadang ada PR akademik juga. Anak saya yang ke 2 selama semester Ke 2 nangis terus setiap mau berangkat sekolah,Katanya sekolahnya lama. padahal sudah di motivasi dengan berbagai cara.

    Tujuan kami ber HS adalah agar bisa Mendidik anak dengan pendidikan terbaik versi kami, mengembangkan minat bakat anak, life skillnya, agar lebih enjoy menghafal qur’an (dengan memahamkan maknanya), agar lebih mudah mengajarkan adab dan akhlaq anak, memperkuat bonding keluarga.


    Pola sehari-hari yang kami jalani adalah tiap hari menghafal qur’an dan mentadaburinya, belajar Langsung dari dunia nyata, seperti 10 Ketrampilan dasar Dari rumah inspirasi, Mereka belajarnya masih random, pengen belajar apa Saya Dampingi dan fasilitasi. Anak-anak lebih banyak baca buku, akhirnya berkembang ke diskusi, terkadang fieldtrip, dan les renang.

    Sudah Kami buat Lesson Plan dalam 3 bulan ke depan, tapi ternyata kondisi di rumah masih hiruk pikuk. Akhirnya kami saat ini belajarnya mengalir saja.


    Begitu pak Aar,,terimakasih sebelumnya. Barokallahfiik

    #6032
    Aar
    Keymaster

    Kak @nurul-hidayah-8617

    Terima kasih sharingnya. Informasi dari Anda membuat saya lebih memahami konteks dan kondisi Anda yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan Anda.

    Dalam masa transisi memulai HS, proses yang utama memang membutuhkan kesabaran dari orangtua untuk memandu proses agar berlangsung lebih mulus.

    Tujuannya adalah mencari pola yang paling cocok dengan keluarga.

    1. Mulai dari pola yang dikenal

    Berdasarkan pilihan Anda sebelumnya mengirimkan anak bersekolah di Kuttab, porsi kegiatan keagamaan menjadi aspek penting yang menjadi panduan pendidikan di keluarga Anda.

    Untuk itu, alokasikan waktu yang cukup untuk membangun pola kegiatan keagamaan sebagai pondasi keluarga Anda.

    Bagaimana caranya:

    a. Anda bisa membangun budaya terkait kegiatan keagamaan di keluarga. Anda bisa membangun budaya solat Subuh bersama. Setelah Subuh, lakukan 1 sesi kegiatan keagamaan (seperti mengaji) dipimpin oleh Ayah & Ibu.

    Untuk anak2 yang masih kecil, fokuslah untuk membangun budaya sholat berjamaah dan melakukan kegiatan bersama. Pengetahuan dan hafalan diberikan menyusul secara bertahap.

    Selain kegiatan Subuh, Anda bisa memanfaatkan kegiatan antara Maghrib-Isya. Lakukan sholat Maghrib berjamaah disusul kegiatan keagamaan lain dipimpin oleh Ayah & Ibu.

    Mengapa Ayah & Ibu? Karena itulah yang menjadi substansi HS. Orangtua terlibat aktif dalam pendidikan anak (bukan hanya menitipkan anak pada orang/lembaga lain).

    b. Jenis kegiatan Subuh & Maghrib sangat bisa disesuaikan dengan preferensi Ayah-Ibu, misalnya: mengaji, menghafal, belajar sirah, dll.

    c. Bangunlah pola kegiatan itu sebagai prioritas utama. Ini PR yang membutuhkan waktu tidak sedikit, tapi merupakan pondasi dalam jangka panjang. Pastikan proses dan kegiatannya berlangsung membahagiakan dan anak menikmatinya. Selingi hal-hal serius dengan hal yang santai dan asyik sehingga membahagiakan semuanya.

    d. Saat pagi hingga sore, Anda bisa memanfaatkan bantuan eksternal jika merasa ada materi lain yang perlu dikuasai anak dan tidak dikuasai orangtua. Anda bisa mengundang guru privat mengaji, anak ikut kursus bahasa Arab, belajar tafsir, dll (dengan guru yang bukan orangtua).

    2. Membangun Kebiasaan Baik

    Lakukan proses membangun kebiasaan baik. Anda sudah bagus memulainya dengan membangun 10 Keterampilan Dasar Anak.

    Kebiasaan baik terkait aktivitas keseharian anak: tidur, mandi, makan, bermain, berkegiatan.

    Perkuat itu dengan melibatkan anak mengurus keseharian rumah: ikut menyapu, mengepel, berbelanja, bersenang2 dengan proyek memasak bersama.

    3. Materi Akademis

    Untuk materi akademis, semuanya tergantung pada preferensi orangtua. Anak tak harus belajar semua pelajaran seperti anak sekolah. Kalau mau dapat semuanya: (agama + akademis lengkap + life skills + minat/bakat) pasti berat sekali.

    Kakak perlu menyederhanakan apa yang penting dan bisa dilakukan. Jangan semuanya.

    Apalagi di awal proses HS. Nanti jadi kusut semua, kak.

    Nah, untuk bisa menyederhanakan, butuh kelapangan hati orangtua bahwa tidak belajar semua hal itu tak apa-apa.

    Mulai dari yang bisa dilakukan. Misalnya: ikut tutorial PKBM, ikut bimbel, mengundang guru privat, memakai aplikasi, dll. Materi akademis bisa dipegang sendiri oleh orangtua, bisa juga menggunakan alat bantu eksternal.

    Kalau dipegang sendiri orangtua, berarti orangtua perlu mencari cara belajar yang asyik.

    Di keluarga kami. yang utama adalah Matematika dan Bahasa Inggris. Kami memakai aplikasi (IXL Math & Reading Eggs). Anak2 belajar dalam pendampingan kami, tanpa guru eksternal.

    4. Pengembangan Minat Bakat

    Tugas orangtua memperkenalkan kegiatan pada anak. Itu saja dulu fokusnya di awal. Jangan berharap prestasi dan fokus.

    Tempat kegiatan sangat tergantung lokasi kakak. Mulai dulu dari yang ada. Tak harus yang fancy seperti robotika, dll. Mulai dari basic misalnya terkait kesehatan & olahraga, misalnya berenang. Yang lain2 sambil jalan aja nanti lihat kesempatan yang ada.

    Demikian kak, yang penting dicoba kesehariannya dulu. Dalam 3 bulan pertama, jangan berpikir portofolio karya dulu. Yang penting keseharian terkelola dengan baik.

    Itu dulu pondasinya.

    Demikian, semoga membantu. πŸ™

    #6027

    Terimakasih Banyak pak Aar atas saranya. Sangat bermanfaat sekali bagi kami. Barakallahfikum

    #6014

    saya nurul

    Pak maaf mau tanya, dikelas lengkap ada beberapa materi, jika mau belajar bisa dimulai dari materi apa ya pak? 1 materi saja masih dibreakdown jadi beberapa bab. Maaf pak masih bingung saya. Terima kasih

    #6013
    Aar
    Keymaster

    Iya kak @nurul-hidayah-8617

    Proses menjalani HS itu ibarat membangun rumah baru. Kita pindah dari rumah lama (sekolah) ke rumah baru (HS).

    Tentu saja kita ingin cepat langsung menempati rumah baru. Kita ingin langsung mendekor interiornya. Sayangnya prosesnya tidak bisa secepat itu.

    Jika memang mau berpindah ke rumah baru (HS), butuh membangun pondasinya dulu di tempat baru. Setelah itu membangun pilar2 di atasnya, baru tembok, lantai, atap, finishing, sebelum mulai masuk ke interior.

    Dalam konteks memulai HS, memang butuh meluangkan waktu belajar setahap demi setahap.

    Supaya ada waktu belajar, maka ekspektasi terhadap anak diturunkan dulu. Yang penting anak tidak main gawai dan menjalani keseharian dengan baik. Gunakan alat bantu seperti les/kursus dulu untuk menambah kegiatan anak. Dengan cara itu, orangtua jadi punya waktu untuk proses belajar.

    Dari mana belajarnya?

    Setiap orang punya kondisi berbeda sehingga perlu memilih sesuai kebutuhannya. Keberanian memilih itu juga adalah keterampilan penting orangtua HS. Tidak ada yang salah dari manapun memulai.

    Kekhawatiran yang utama biasanya pada anak usia sekolah. Jadi, proses pertama adalah belajar tentang legalitas. Jika Anda sudah menyelesaikan urusan legalitas (HS Usia Sekolah), maka Anda bisa masuk ke langkah selanjutnya.

    Mulai dari kelas HS Usia Sekolah.

    Pilih salah satu alat yang paling sesuai dengan Anda. Anda bisa pilih ebook, video, podcast (salah satu saja). Kalau Anda suka teks, download dan baca semua ebooknya. Jika Anda waktunya tidak banyak, tonton videonya saja. Jika Anda belajar sedikit demi sedkit, pilih podcast.

    Setelah itu, lanjutkan dengan HS Usia Dini (karena Anda masih punya anak usia dini).

    Jika Anda butuh hal yang teknis, pelajari Manajemen Keseharian HS dan 10 Keterampilan Dasar Anak. Ikuti Webinar 10 Keterampilan Dasar anak hari Sabtu (13 Agustus, pk. 13.00 WIB) yang akan datang.

    Demikian kak.

    Supaya tidak panik, jangan terlalu mengkhawatirkan kondisi anak. Kepanikan akan membuat overthinking dan jalan di tempat berputar-putar. Anak-anak akan baik-baik saja selama menunggu waktu orangtua belajar. Jika Anda meluangkan cukup waktu, selama kurang lebih 1 bulan Anda akan mulai dapat mindsetnya.

    Saya tidak memiliki jalan instan untuk belajar tentang HS, kak. Semua materi kelas sudah berusaha kami sederhanakan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan tentang HS yang kami miliki.

    Jika memungkinkan, jangan lupa mencari teman sesama praktisi HS sehingga Anda bisa mengobrol dan mendapatkan perspektif lapangan tentang praktek HS di keluarga tersebut.

    #6010

    Hallo kak, permisi mau tanya<div>Gimna ya caranya untuk mengajarkan anak membaca pada anak yang gak bisa fokus dan imajinasinya terlalu tinggi belum bisa baca sama sekali, anaknya juga telat ngomong, kosa katanya juga terbatas mohon bantuannya terimakshπŸ™</div>

    #6009
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @dina-mei-setyowati

    Terima kasih pertanyaannya.

    Sebelum menjawab detil pertanyaan kakak, boleh diinformasikan beberapa informasi tambahan berikut ini:
    1. Usia anak

    Berapa usia anak saat ini?

    2. Kegiatan terkait membaca

    Apa kegiatan pra-membaca yang sudah dilakukan bersama anak?

    Contoh kegiatan pra-membaca adalah mendongeng sebelum tidur dan membacakan buku cerita. Anak hanya mendengarkan ibunya membaca cerita dan melihat bahwa buku cerita itu terkait dengan hal yang asyik dan seru.

    Jika sudah sering dilakukan, apa cerita dan buku cerita kesukaan anak?

    3. Kegiatan lain

    Apa kegiatan yang disukai anak?

    Apakah anak menggunakan gawai (nonton Youtube, main game, dll) dalam kesehariannya? Jika iya, berapa lama dia biasanya memakai gawai dan apa kegiatannya di gawai?

    Usia, kegiatan pra-membaca, dan pola keseharian anak sangat mempengaruhi proses belajar membaca.

    Berdasarkan informasi tambahan dari kakak, nanti saya menjawab lebih detil.

    πŸ™

    #6006

    Terima kasih pak, ma syaa Allah penjelasanya selalu detail dan mengena. Barokallaafiikum

    #5880

    Saya nurul.

    Mb lala, apakah ada contoh portofolio? Saya masih bingung cara buatnya mb. Terimakasih

    #5879
    Mira Julia
    Keymaster

    Ada bangeeeeet kak. Banyaaaaak, hehehehe. Silakan mulai dari link ini ya:
    Contoh Dokumentasi anak usia dini
    Contoh Dokumentasi anak usia sekolah

    Dokumentasi & Portofolio itu suka ketuker2 kefungsiannya. Bisa simak penjelasannya di sini

Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 27 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top