Belajar Parenting › Forums › Strategi Belajar Homeschooling › Webinar Strategi Belajar Homeschooling
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
July 18, 2022 at 8:35 am #4182
Mira Julia
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
July 26, 2022 at 2:58 pm #6071Yulita Khosuma
MemberKak, jadi ceritanya setelah nonton webinar ini, saya langsung semangat untuk bebikinan lapbook dengan anak, jadi sy mulai mencari ide lapbook di google sesuai minat anak yaitu solar system/planets, dan anaknya ikut semangat tapi giliran bebikinan, anaknya cuma kuat beberapa menit saja habis itu udahan, capek katanya gunting2, dan akhirnya sy yg meneruskan semua, itupun sy sambi jadi nya 3 harian br selesai, nah itu gimana ya menurut kak Aar & kak Lala? Kok kayaknya ga efektif ya, anaknya spt kurang tertarik, dia 6th btw, makasih
July 26, 2022 at 4:01 pm #6068Aar
KeymasterHalo kak @yulita-khosuma
Dalam proses HS tugas orangtua adalah menakar kapasitas anak dan merancang kegiatan yang sesuai dengan bebannya. Jika anak tidak sanggup dan kegiatan sebagian besar dilakukan oleh orangtua selama 3 hari, itu menunjukkan bahwa beban kegiatannya terlalu besar.
Jadi, ini bukan tentang suka dan tidak suka, tapi tentang beban yang berlebihan.
Tentang suka dan tidak suka, PR orangtua adalah memberikan prolog di depan sehingga anak tertarik.
Di materi premium printable Rumah Inspirasi juga tersedia aneka lapbook yang tinggal dipakai: https://member.rumahinspirasi.com/lapbook/
Tapi, penggunaannya tetap juga membutuhkan strategi lapangan.
Awalnya mungkin yang bikin orangtua, anak hanya membantu, Yang dibantu juga disesuaikan dengan kapasitas anak. Mungkin dia hanya tempel2, warna2, dll. Jika anak capek, berhenti. Orangtua yang melanjutkan bikin. Sambil bikin orangtua bercerita dan mengobrol isi lapbooknya. Anak jadi belajar membaca dan mendengarkan isinya.
Setelah lapbook selesai dibuat, diobrolkan dan dijadikan materi belajar bersama.
Intinya lapbook adalah alat. Jangan terlalu fokus pada penguasaan konten, tapi fokus untuk memberikan pengalaman yang asyik bagi anak sehingga mereka ingin mengulang lagi kegiatannya di waktu lain. Gunakan lapbook sesekali, jangan setiap saat.
Silakan lihat di halaman lapbook tentang contoh pengalaman2 keluarga lain memakai lapbook. Ini salah satu contohnya: https://member.rumahinspirasi.com/lapbook-k4-peta/
Demikian, kak. Semoga membantu.
August 10, 2024 at 7:10 pm #4846Luna Kirana
MemberBagaimana cara mengukur kapasitas anak kita?
August 11, 2024 at 8:22 am #4845Aar
KeymasterKak Luna,
Aspek kapasitas anak apa yang spesifik ingin diukur?
Secara umum, pengukuran dilakukan dengan membandingkan antara kualitas yang diinginkan dengan kondisi anak.
Sebagai contoh, jika ingin mengukur kapasitas personal, kita perlu mengenali aspek apa saja yang menurut kita penting untuk dimiliki anak. Contohnya, aspek manajemen emosi.
Kemudian kita menurunkan lagi aspek manajamen emosi apa yang menurut kita perlu dimiliki anak, misalnya:
- anak tidak tantrum
- anak bisa mengutarakan keinginan dengan jelas tanpa memaksa/marah/menangis
- anak bisa mengenali dan menceritakan emosi yang dirasakannya
- saat mengalami emosi yang intens (misalnya marah/sedih/kecewa) anak tidak menyakiti diri sendiri atau merusak barang
- anak menjalani keseharian dengan emosi yang stabil..
Kapasitas2 anak itu bersifat kualitatif dan tidak ada standarnya. Orangtua bisa mengidentifikasi sendiri aspek yang dianggap penting.
Setelah itu, untuk mengukur kondisi anak dilakukan melalui pengamatan.
Subyektif?
Iya kak, tidak apa-apa. Perilaku biasanya memang tidak bisa diukur murni objektif, tetapi mengandung subjektivitas pengamat.
Yang penting kita tetap berusaha menjaga objektivitas kita karena proses pengamatan dan pengukuran ini untuk kepentingan anak, bukan untuk kepentingan orang lain.
August 11, 2024 at 8:49 am #4844Luna Kirana
MemberJadi kita perlu memiliki goals dulu baru setelah itu menentukan cara mengukur kapasitas tersebut. Menarik sekali, ternyata tujuan itu memengaruhi cara kita mengamati dan kemudian mengukur kapasitas anak… What an insight, terima kasih untuk pemahamannya Kak Aar
August 11, 2024 at 10:36 am #4843Aar
KeymasterAda 2 pendekatan yang bisa kita lakukan, kak.
Pendekatan t0p-down, kita mulai dengan mengidentifikasi goals yang ingin dikejar dan kemudian mengamati/mengukur kondisi yang ada saat ini. Berdasarkan kondisi saat ini, kemudian kita merancang stimulasi/proses untuk mendekatkan pada goals yang ingin diraih.
Pendekatan bottom-up juga bisa dilakukan. Dalam pendekatan ini, kita mulai dari pengamatan kondisi anak. Berdasarkan kondisi anak, kemudian kita merancang anak tangga berikutnya yang perlu dilakukan anak. Proses ini dilakukan terus-menerus untuk meningkatkan kualitas/kapasitas anak.
Semoga membantu..
Semangat berproses bersama anak-anak kak!
🙏🤩April 16, 2025 at 10:33 am #4819Anasril Agusri
MemberDear Bu Lala dan Pak Aar,
Anak saya laki2 usia 8 thn di september ini. Sangat suka lego. Setiap hari dia akan merakit lego. Pagi,siang malam dia g pernah bosan. Beda halnya kalo diminta berkegiatan yg lain. Dia tdak seantusias ketika merakit lego, bhkan cenderung ogah2an. Apakh itu wajar? Kami bermaksud memasukkannya ke kelas robotik tahun ini agar kemampuan merakit lego nya semakin terasah. Namun dia tdak pernh tertarik ikut kompetisi apapun. Walaupun saya blg mau coba nanti kompetisi lego. Dia tdak mau padhl blm pernah coba.
Bukannya untuk tahu apakah itu bakat atau skedar minat , harus ada pengakuan pihak eksternal atas sebuah karyanya. Jika ia tak berminat untuk kompetisi, cara lainnya apa ya agar ada pengakuan phak eksternal yg dimaksud shngga kita yakin itu bakatnya. Terimakasih jika berkenan menjawab.
April 17, 2025 at 1:45 pm #4818Aar
KeymasterKak @anasril-agusri
Selamat untuk ketertarikan ananda pada lego dan ketekunannya belajar serta berproses.
Dalam proses pendidikan anak, khususnya homeschooling, ada 2 area yang perlu diasah oleh anak:
1. Hal penting (non-negotiables).
Ini adalah hal-hal yang dianggap penting oleh orangtua untuk kepentingan anak jangka panjang. Anak perlu belajar setahap demi setahap secara terus-menerus sepanjang tahun. Tugas orangtua menetapkan apa yang dianggap penting dan perlu dipelajari anak, serta mencari cara belajar yang sesuai.
Misalnya, di keluarga kami, yang basic adalah Math & English. Itu harus dipelajari anak, bukan karena dia suka, tetapi karena penting. Tidak ada pilihan tidak mau di sini. Walaupun anak ogah2an, prosesnya tetap dilakukan.
Tugas orangtua adalah menjelaskan mengapa hal2 tersebut penting untuk anak dalam jangka panjang.
Di keluarga kami, alat belajar yg kami gunakan adalah materi online: IXL (Math & Language Art) dan Reading Eggs. Ada keluarga lain yang pakai les, kelas Zoom, dll.
2. Pengembangan minat
Proses lain adalah mencari minat dan kekuatan anak. Dalam contoh kakak, kegiatan menekuni Lego adalah minat. Proses yang perlu dilakukan orangtua adalah membuat minat terhadap lego menjadi pintu mengasah karakter dan skills.
Contohnya:- bertekun
- bekerja keras
- peduli pada kualitas
- bisa menerima feedback
- kreativitas
Skills:
- terkait langsung dengan lego, misalnya: lego construction yang tingkat kesulitannya semakin meningkat
- yang tidak terkait langsung: skills bercerita, bekerja dengan rapi & terstruktur, skills menggambar, membuat video, berlogika, dll
Tugas orangtua adalah mengenali karakter & skilsl yang bisa diasah (tidak harus melalui les) dan mengasahnya setiap waktu.
3. Fokus Awal
Untuk anak usia 8 tahun, fokus yang paling penting adalah mengolah minat (terhadap Lego) menjadi pendidikan karakter dan skills. Asah kemampuan terkait Lego. Kenali dan cari tahapan pertumbuhan skills yang ingin diasah. Cari “pelatih” dan diskusikan dengan pelatih (jika ada).
Jika prosesnya masih awal dan tidak mau memakai pelatih (eksternal), tidak apa-apa juga. Itu berarti orangtua perlu belajar tentang dunia Lego dan tahapan proses-proses mengasah skills terkait Lego.Dunia Lego itu sangat luas, kak. Saya tidak mendalaminya, tapi secara umum adalah memanfaatkan Lego untuk:
- Engineering & Problem Solving. Itu berarti anak belajar terkait mekanik lego, membangun sesuatu yang bisa bergerak, robotika, belajar coding, dll. Ujungnya bisa menjadi pintu anak tertarik dunia teknik (itu berarti perlu diperkuat kemampuan matematikanya).
- Desain & Arsitektur. Itu berarti anak memanfaatkan lego untuk desain, membangun bentuk tertentu, belajar tentang bangunan, desain memakai aplikasi, dll. Ujungnya anak bisa menjadi arsitek, desainer, atau lego constructor.
- Storytelling & Creative Thinking. Kegiatan membuat lego digabungkan dengan pemicu agar anak menceritakan. Orangtua terus mengasah kemampuan anak bercerita dan presentasi secara berkualitas.
Demikian, kak. Cara paling mudah adalah melihat Lego sebagai jalan untuk pertumbuhan, belum tentu nanti menekuni Lego terus. Jika pun nanti terus menekuni Lego, skills dan kemampuannya terus meningkat.
4. Kompetisi
Cara mengetahui “bakat” atau kekuatan anak adalah:
- melihat apakah dia bisa terus bertumbuh dan belajar ketika materi belajarnya semakin sulit
- kualitas karyanya keren
Kompetisi adalah salah satu cara menilai kemampuan, tapi bukan satu-satunya.
Seperti belajar bela diri, anak tidak harus ikut kompetisi. Kualitas kemampuannya bisa diukur dengan naik level (sabuk) terus hingga menjadi pendekar.Belajar piano juga tidak harus berkompetisi. Yang penting levelnya naik terus hingga memiliki sertifikat kemampuan di dunia piano.
Menggambar juga tidak harus berkompetisi. Yang penting dia menemukan style-nya, tekniknya semakin berkembang dan dia mendapatkan “positioning”, serta hasilnya bermanfaat bagi orang lain.
Jadi, kompetisi bukan satu-satunya alat uji. Yang penting skills dan standarnya naik terus.
Lego memang tidak punya sertifikasi resmi, tapi ada alternatif utk mengasah skills, misalnya:
Beberapa lembaga menawarkan kursus berbasis Lego + coding/robotik dengan sertifikat penyelesaian program. Levelnya berjenjang, seperti:
- Basic Engineering with Lego
- Intermediate Robotics
- Advanced Design Challenge
Meskipun bukan dari Lego langsung, sertifikat ini tetap bernilai untuk menunjukkan kemampuan.
Atau, Anda bisa mencari kursus/kelas online yang mengeluarkan sertifikat, seperti Udemy, Coursera, dl..
Demikian kak, semoga membantu
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.