Belajar Parenting › Forums › Menimbang Homeschooling › Podcast Peluang Homeschooling
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
January 9, 2022 at 7:38 pm #4328
Mira Julia
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
February 9, 2022 at 5:58 pm #6652Rara Fatima
MemberHalo mbak Lala dan kak Aar,
mau sharing pengalaman sekaligus konsultas ya kak, saya Rara usia anak 3 tahun.
Kami melihat bahwa anak kami cenderung pemalu dan tidak suka keramaian. Dia hanya mau berkumpul dengan sepupu tertentu dan cenderung menghindar dengan yang lain, dan tidak ‘lepas’ ketika bermain di playground. Jika dengan orangtuanya, dia sangat terbuka dan ekspresif ketika bermain.Atas dasar inilah, akhir tahun lalu ketika anak menginjak usia 3 tahun kami memasukkannya ke playgroup. Harapannya agar anak kami terbiasa dengan anak lain dan suasanya yang berbeda dari rumah. Di sana pun proses adaptasinya tidak mudah, nangis hingga 8x pertemuan (1 bulan). Lepas dari itu, kami melihat perkembangan yang sangat pesat dari dirinya, yaitu lebih berani, lebih leluasa bermain di tempat umum. Jadi, meski sesekali dia tidak mau ‘sekolah’, tapi banyak waktu dia menikmati kebersamaan dengan oranglain.
Lalu karena Omicron, akhirnya kami memutuskan utk meliburkan diri dan mulai mencari kesibukkan lain di rumah (kondisi suami ngantor senin – sabtu, dan saya cari uang dari rumah), dan akhirnya mempertimbangkan untuk Homeschooling setelah melihat beberapa kenalan yang enjoy dengan kegiatan HS.
Pertanyaan saya kak, bagaimana ya caranya agar menjaga keberanian dan keleluasaan bermain dia dengan banyak orang dengan kondisi HS untuk anak usia dini? Terlebih di kondisi pandemi seperti sekarang.
Terima kasih kak
February 10, 2022 at 10:08 am #6649Aar
KeymasterHalo kak @rara.fatima
Dalam konteks interaksi sosial, dikenal ada anak introvert dan ekstrovert, Karakter ini ada pada orangtua, diterima dengan wajar, dan juga dimiliki anak-anak.
Anak introvert merasa nyaman dengan kelompok kecil, butuh waktu lebih banyak untuk berinteraksi dengan orang lain. Saat berinteraksi dengan orang lain pun dia tidak suka keramaian.
Apakah orangtua (ayah/ibu) ada yang memiliki karakter seperti ini? Biasanya karakter seperti ini juga diturunkan pada anak.
Walaupun anak introvert, bukan berarti anak dibiarkan dan tidak diasah keterampilan sosialnya. Tetap berikan stimulasi untuk mengasah keterampilan sosial anak.
Yang dibutuhkan adalah sensitivitas orangtua dan toleransi yang lebih besar pada anak:
- bangun rasa nyaman dan kepercayaan diri anak. Jika anak percaya diri, dia akan mulai meraih ke luar dirinya dimulai dari lingkungan yang dia merasa aman. Proses ini yang utama dibangun di keluarga bersama anak (tidak harus melibatkan anak di luar).
- jangan paksa. Itu justru kontra produktif dan bisa membuat anak trauma dan menarik diri
- berikan anak ruang dan waktu yang cukup untuk beradaptasi. Orangtua menjadi pendukung anak untuk menjadi dirinya sendiri dan merasa nyaman, jangan dilabeli negatif.
- stimulasi keterampilan sosialnya secara bertahap: bisa mengobrol, tanya-jawab, bercerita, dan diasah keberaniannya memasuki ruang2 baru
Demikian kak, semoga membantu.
February 18, 2022 at 4:26 pm #6622Ingrid Siahaan
MemberHalo kak lala, anak2 kami usia 6 tahun, 4 tahun, dan 2 tahun. Setahun kami coba homeschooling tp saya kelabakan dg target hs yg saya buat dari atur waktu ttg urusan hs, rumah, kerja free-lance dan me time. Kira2 apa mmg sebaiknya dibuat target atau tidak ya kak? Saya khawatir anak2 nanti jd terbiasa tdk disiplin seperti saya yg dari kecil begitu. Ataukah dibuat target dg standar yg diturunkan, misal hanya 1-2 kegiatan per anak dalam satu minggu kah? Jd tdk setiap hari yg setahun kmrn saya coba jalankan. Karena ketiga anak punya minat yang berbeda2. Untuk suami jg mendukung hs tetapi tdk punya waktu untuk turut serta sehari2 berperannya, disempatkan quality time pada malam hari saja sekitar 1/2 jam. Mohon sarannya ya kak. Terimakasih.
February 19, 2022 at 9:57 am #6618Aar
KeymasterHalo kak @ingrid.siahaan
Bagaimana mengelola keseharian yang pas?
Sebenarnya tidak ada teknis yang pas karena setiap keluarga punya harapan dan pola kegiatan unik. Kunci penting dalam mengelola keseharian proses HS adalah:
- mengelola harapan orangtua
- mencari pola yang sesuai dengan keluarga
Untuk anak usia dini, sebenarnya prosesnya relatif ringan. Pegangannya adalah “Parameter Perkembangan Anak” yang bisa Anda unduh.
Inti kegiatannya adalah:
- Anak menjalani keseharian dengan happy
- Anak belajar kemandirian (mandi, makan, minum, mengurus dirinya sendiri)
- Membangun kebiasaan baik
Jika ingin membangun disiplin, Anda bisa mulai dengan kegiatan yang terkait dengan kemandirian: bangun tidur, mandi, makan, pakaian, dan sikap keseharian. Termasuk disipling adalah anak2 bisa main sendiri/bersama tanpa bertengkar (itu berarti, Anda perlu menyediakan ruang dan materi2 siap pakai seperti kertas, alat tulis, balok, dan mainan siap pakai lain yang bisa dimainkan anak).
Saat berkegiatan, fokus pada yang terbesar (6 tahun). Adiknya tidak perlu dibuatkan program khusus.
Bangun pola yang sesuai dengan keluarga Anda, misalnya:- habis mandi berkegiatan bersama selama 30 menit bersama Mama, setelah itu mereka bebas (sediakan sarana untuk berkegiatan)
- saat mereka bebas, Mama berkegiatan dengan urusan pekerjaan. Jika memungkinkan, libatkan mereka juga karena itu bisa jadi alat belajar. Anak membantu Mama dan Mama mengajak mengobrol terus mereka sambil mengerjakan urusan rumah.
- kenalkan anak dengan jadwal kerja Mama. Kalau bisa ada tanda yang mereka kenal, semacam bendera atau yang lain. “Kalau Mama pegang komputer dan ada bendera ini, itu berarti Mama sedang bekerja. Kalian berkegiatan bebas. Kalian juga boleh nonton. Mama akan kerja. Kakak bantu jagain adik.”
Jadi, yang dikelola adalah jadwal kita, bukan jadwal anak karena anak belum mengerti tentang jadwal. Targetnya diganti dengan menjaga kualitas kegiatan saat sedang bersama mereka. Jika hari itu anak menjalani kegiatan dengan bahagia dan prosesnya terkelola, itu berarti tanda keberhasilan.
Tapi kalau kakak merasa butuh target, jadikan itu target orangtua, bukan target anak. Anak tahunya menjalani kegiatan dan pola yang dibuatkan orangtua.
Demikian kak, semoga membantu.
March 18, 2022 at 11:58 am #6521Rara Fatima
MemberKak Aar,
Menyambubg dengan pertanyaan bulan lalu tentang anak introvert. Saya sedikit cerita dulu ya kak. Jadi, anak saya 3 tahun kan pernah playgroup dan membutuhkan adaptasi yg lama. Lalu, sebelum saya memutuskan untuk mencoba HS usia dini ini saya pun sudah terlanjur memperpanjang playgroup, namun memang blm dipakai jatah masuknya karena: 1. Omicron, 2. Anak saya benar-benar tidak mau dibujuk utk ‘sekolah’ lg.
Karena refund tdk bisa, solusinya akhirnya kami ikut kelas online. Inipun kami lakukan atas persetujuan buah hati. Di 2 hari pertama, dia mau join dengan segala rasa malu dan ‘diam’nya, tapi dia jg senyum2 melihat tingkah laku teman2nya di zoom. Di akhir kelas, guru belum selesai bicara, dia tiba2 langsung tutup laptop dan bersikeras utk menyudahi. Saya hanya beri penjelasan bahwa lain kali tunggu hingga selesai dulu baru laptopnya ditutup. Atau bilang dulu sama Ibu kalau memang sudah bosan, jadi kita bisa pamit.
Pertemuan ke 3 dan 4, dia tidak mau lagi. Sayapun membujuk dulu beberapa kali sampai akhirnya menyerah, ya sudah asal dia nyaman dan senang.
Saat kumpul bersama sepupunya baru-baru inipun, dia cenderung diam atau hanya menjadi penonton kehebohan sepupunya. Dia baru mau ikut main kalau ditemani ayah/ibunya.
Saya belum paham mas Aar, apakah ini bersangkutan dengan rasa kepercayaan dirinya, atau karena masalah adaptasi, atau dua-duanya berhubungan ya?
Pertanyaan saya, bagaimana cara menumbuhkan kepercayaan diri pada anak 3 tahun dgn tipe introvert? Kalau keberanian, dia sangat berani mencoba sesuatu jika dia sendirian atau dgn kami ortunya. Tapi begitu ada org lain, dia akan ciut meski kami coba utk meyakinkan bahwa orang2 itu baik.
Apakah perlu sering2 diajak bertemu sepupunya atau teman sebayanya agar terbiasa? Atau ada cara lain? Saya pun sampai dewasa masih sering merasa tidak nyaman jika hrs bertemu orang lain sih hehe (saya 80% introvert menurut tes).
Terima kasih sebelumnya kak.
March 19, 2022 at 2:55 pm #6514Aar
KeymasterHalo kak @rara.fatima
Kebutuhan anak introvert adalah space & time (ruang & waktu). Dia butuh waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan orang lain.
Penjelasan kak Rara menunjukkan bahwa anak memang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan situasi baru, termasuk bersama sepupu-sepupunya.
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah: jangan memaksa anak untuk main dan bergaul dengan orang lain.
Jika anak masih ingin melihat saja kehebohan sepupu-sepupunya, biarkan saja. Jangan didorong dan dipaksa. Kalau orangtua merasa nyaman, anak juga akan merasa nyaman. Kalau orangtua terus mendorong, itu justru akan membuat anak merasa insecure.
Yang kedua adalah melatih keterampilan sosial: bisa berkomunikasi dengan jelas, bertanya, mengobrol, presentasi, dll. Proses utama bersama orangtua. Proses lain adalah stimulasi terkait kepentingan mereka, misalnya: transaksi ke warung/supermarket.
Yang ketiga, anak memang perlu dipaparkan secara bertahap dengan orang lain. Tapi sekali lagi harus dengan suasana nyaman yaa.. bukan justru menambah rasa insecure anak.
Yang keempat dan paling penting. Orangtua perlu belajar menerima diri introvert dan tidak ingin mengubah anak menjadi bentuk yang berbeda. Anak introvert punya kekuatan, tapi bukan di aspek pergaulan sosial yang sifatnya umum. Asahlah kekuatan anak introvert yang biasanya terkait dengan diri sendiri (bukan dengan orang lain): menggambar, memasak, bikin karya apapun yang tidak harus tergantung pada orang lain. Untuk anak usia 3 tahun, prosesnya masih panjang kak.. so, take it easy.
Pertanyaan reflektif untuk kakak yang merasa introvert:
- bagaimana cara kakak melatih keterampilan sosial yang membuat kakak bisa berhubungan dengan orang lain jika dibutuhkan?
- apa kekuatan yang kakak miliki sebagai orang introvert?
Jika kakak merasa nyaman sebagai introvert, kakak akan bisa berempati dan membantu anak menjadi introvert yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri.
March 19, 2022 at 8:33 pm #6511Rara Fatima
MemberKak Aar, bisa kah ditarik kesimpulan bahwa kita sbg orangtua memberikan kebebasan dia si introvert utk memilih siapa yg mau dia dekati, dia ajak bicara, dia ajak main? Jadi misalkan dia bisa dekat dgn salah 1 sepupunya, maka momen itu dimanfaatkan sbg latihan sosialisasinya. Dan dgn sepupu lain yg sudah beberapa kali dicoba namun hanya membuat dia menutup diri, maka kita tdk perlu memaksakan kedekatan di antara mereka, meskipun tentu kita ttp perlu meyakinkan dia terus menerus bahwa si sepupu baik dan hanys ingin berusaha akrab dgn dia?
Jadi, mempertemukan dia dgn teman / saudara seusianya itu perlu, namun tidak perlu mengharap hasil akhir. Begitu ya? Semua tergantung perasaan si anak saja mana yg cocok dan tidak?
Saya lega jika ini bukan masalah kepercayaan dirinya. Karena saya yakin anak saya sgt PD dgn dirinya ketika di lingkungan yg nyaman versi dia. Spt ketika dgn kakeknya, tante yg dia senangi, dsb.
Jika saya merefleksikan diri bagaimana saya menghandle kemampuan bersosialisasi, jujur juga kesulitan menjawab kak. Karena itu PR terbesar saya hingga kini usia 32 tahun. Bukan hal yg mudah bagi saya.
Jadi saya bs memahami jika putra saya mengalami hal serupa. Tapi kadangkala saya lupa bahwa yg terpenting adalah putra saya, saya suka terbawa prasangka takut dicap tdk mengajarkan anak sosialisasi / sopan santun / ramah-tamah dgn sepupu2 atau paman/bibinya. Jd harus beberapa kali meminta pengertian agar saudara tdk salah paham mengapa putra saya sulit berbaur. Huhu. Sedangkan ketika lupa, benar kata mas Aar td, saya cenderung membebankan ekspektasi ke anak saya utk bs berbaur.
Padahal ibunya sendiri pun sampai sedewasa ini kesulitan ya.
March 20, 2022 at 9:17 am #6505Aar
KeymasterBagus refleksinya kak @rara.fatima
Pengalaman kakak bisa menjadi cermin dan sumber empati saat menemani proses-proses anak yang memiliki karakter mirip. Fokus pada proses bertumbuh yang sesuai dengan anak, bukan kekhawatiran kita dan orang lain.
Kesimpulan kakak sudah benar.
Berikan ruang dan waktu anak memilih teman yang cocok dengannya. Yang sudah akrab dikuatkan.
Semakin anak merasa nyaman dengan dirinya, dia akan semakin berani mencoba meluaskan lingkarannya (jika dirasa dibutuhkan). Dalam konteks anak introvert, kebutuhan pertemanan bukan terletak pada jumlah teman tapi kualitas pertemanan.
Untuk menambah kepercayaan diri, yang perlu dilatih adalah keterampilan komunikasi anak. Jika dia terampil, dia tak ada masalah berkomunikasi dengan siapapun jika dibutuhkan.
Semangat kak! 🤩
August 7, 2025 at 4:31 pm #4784Andella Nur handayani
MemberHalo, saya della mama dari 2 orang anak dengan jarak dekat, anak pertama berusia 4 tahun anak kedua berusia 3 tahun.
Kami masib mengumpulkan keyakinan untuk menjalankannya home schooling nantinya untuk anak2 ketika mereka sudah berusia sekolah.
Yang mau saya tanyakan tentang waktu anak home schooling yang banyak dirumah, apakah waktu yang banyak ini (diluar proses belajar) pernah membuat anak2 kak aar bosan, menjadi malas, atau membentuk suatu kebiasaan yang buruk ?
Terimakasih sebelumnya
Salam kenal 🙂
August 13, 2025 at 10:15 am #4780Aar
KeymasterHalo kak @andella-nur-handayani
Terima kasih pertanyaannya.
Menjalani homeschooling berarti mengintegrasikan kegiatan belajar anak dengan kehidupan dan keseharian.
Apakah hidup keseharian kita sempurna? Tentu saja tidak. Tapi kita berusaha menjadikan keseharian kita menjadi asyik dan bisa dinikmati. Masalah tetap ada dan dicari solusinya.
Demikian pula homeschooling.
1. Kebosanan
Apakah anak-anak pernah bosan? Jawabannya pernah.
Terus bagaimana? Dicari solusinya, dimulai dengan mengenali apa yang membuat anak-anak bosan.Biasanya anak bosan karena:
- kesehariannya kurang asyik => solusinya adalah kita (orangtua) perlu berpikir melakukan kegiatan2 yang asyik di rumah bersama anak
- kegiatan monoton => berarti kita perlu menambah variasi kegiatan; kegiatan terstruktur vs. tidak terstruktur, kegiatan di dalam vs. di luar; kegiatan akademis vs. non-akademis; dll. Solusi sederhananya biasanya menambah porsi kegiatan di luar
- kurang interaksi sosial => berarti solusinya mencari teman main, bikin janjian bersama teman, camping, traveling, dll
- kegiatan tidak menatang => berarti anak perlu dicarikan kegiatan yang menantang sekaligus bermakna
2. Malas
Apakah anak jadi malas? Ini hampir tidak pernah terjadi.
Kenapa anak malas? Biasanya anak malas karena tidak tahu apa yang mau dikerjakan dan orangtua membiarkan anak suka-suka menjalani kesehariannya.
Dalam proses HS di keluarga kami, kami biasa berdiskusi dengan anak-anak tentang kegiatan yang mau dilakukan, proyek yang dibikin, dan lain-lain.
3. Kebiasaan Buruk
Apakah HS membuat anak membentuk kebiasaan buruk? Di keluarga kami tidak. Di keluarga lain kami tidak tahu.
Kebiasaan adalah sebuah hal yang berulang dilakukan. Jika ada sebuah kebiasaan buruk yang dilakukan anak, itu berarti ada pembiaran yang dilakukan orangtua sehingga aksi anak dilakukan terus-menerus dan menjadi kebiasaan.
Misalnya terkait penggunaan gawai. Anak punya kebiasaan memakai gawai tanpa batas dan marah jika diatur. Ini adalah contoh kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi akumulasi proses berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun.
Tugas kita sebagai orangtua homeschooling adalah memimpin.
Bagian dari proses kepemimpinan adalah menentukan aturan main untuk kebaikan bersama dan menjalankan aturan main itu di keluarga. Dalam konteks gawai, tugas orangtua adalah membuat aturan main terkait gawai, mendiskusikan dan membuat kesepakatan bersama anak, dan menjalankannya.
Demikian, kak.
Jika kakak ingin menjalani homeschooling, salah satu latihan yang bisa dilakukan adalah meningkatkan bonding dan intensitas kegiatan bersama anak. Latihlah berkegiatan yang asyik bersama anak hingga anak bisa mengatakan dengan jujur: “Berkegiatan bersama Bunda itu asyik.”
Inilah modal besar menjalani homeschooling.
Semoga membantu. 🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.