Podcast Mengembangkan Motivasi Internal

Belajar Parenting Forums Menyiapkan Pembelajar Mandiri Podcast Mengembangkan Motivasi Internal

  • This topic is empty.
Viewing 12 posts - 1 through 12 (of 12 total)
  • Author
    Posts
  • #4451
    Aar
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #5037

    Halo Mas Aar. Saya mohon pandangannya nih Mas. Bagaimana ya sebaiknya untuk membangun motivasi internal anak remaja, perempuan (15 tahun). Membangun motivasi internal untuk remaja perempuan yang karakternya tertutup, kepercayaan pada keluarga belum tumbuh baik, kemandirian belajar juga masih rendah, bagaimana ya sebaiknya?

    Pada tahap ini, apa ya kebutuhannya secara umum? Kalau mengikuti apa yang disukainya, rasa2nya sudah bukan saatnya lagi karena sebentar lagi dia akan jadi orang dewasa dan saya khawatir terjebak malah memanjakannya. Mungkin Mas Aar juga bisa sedikit berbagi berdasarkan pengalaman, motivasi internal apa yang bisa cukup besar mempengaruhinya?

    Terimakasih πŸ™

    #5030
    Aar
    Keymaster

    Kak @dhiyan-fathiya,

    Proses interaksi bersama remaja adalah hal yang cukup rumit, terutama jika kualitas hubungan antara orangtua/pendamping bersama anak buruk. Orangtua/pendamping sering mengeluarkan komentar yang bernada penghakiman, anak merasa tidak dipercaya dan yang dilakukannya selalu dianggap salah. Itu akan membuat anak akan lari ke luar menjauh dari keluarga.

    Jadi, kunci pertama adalah menjalin hubungan dan kepercayaan bersama remaja yang menjadi pondasi untuk perubahan lebih baik apapun yang diharapkan. Tanpa komunikasi yang baik dan dipercaya, akan sulit membangun perubahan untuk remaja.

    Memahami alasan dan tujuan

    Membangun motivasi internal berarti mengaitkan kegiatan dengan alasan dan tujuan. Alasan dan tujuan ini yang harus didapatkan dari anak sendiri: mengapa perlu melakukan sebuah hal dan apa tujuan yang ingin diraih dari kegiatan tersebut.

    Ini PR-PR besar orangtua/pendamping bersama remaja.

    Diskusinya bisa lebar (globa) atau teknis, tergantung kecenderungan anak dan kondisi lapangan.

    “Apa sih cita-citamu? Kalau kamu punya cita2 itu, apa yang perlu diasah dari sekarang? Apa yang mau kamu lakukan?”

    “Kamu tahu nggak syarat utk bisa bekerja/mendapatkan penghasilan/kaya? Memiliki keterampilan untuk berkarya. Apa keterampilan yang ingin kamu asah?”

    Dari diskusi global ttg dunia orang dewasa dan cita2 anak, perlu dibantu agar menjadi langkah aksi yang nyata:

    “Apa yang perlu dan bisa dilakukan saat ini?”

    “Apa tanda proses ke sana bagus?’

    “Bagaimana cara mengasah kapasitas/keterampilan itu?”

    “Apa target paling dekat? Kapan target itu diraih?”

    “Apa dukungan yang kamu butuhkan dari Bapak/Ibu/kakak?”

    Diskusi ini menjadi basis dalam proses pembimbingan dan pendampingan untuk menumbuhkan motivasi intrinsik anak.


    Memanjakan vs. menguatkan

    Memberikan kesempatan anak melakukan yang diminati berbeda dengan membiarkan anak melakukan hal dengan suka-suka.

    Orangtua sering merasa bahwa membiarkan anak melakukan hal yang diminati sudah cukup. Padahal belum. Itu baru awal dari perjalanan.

    Karena kesalahan sudut pandang, orangtua kemudian membiarkan anak melakukan hal yang disukai itu dengan sesukanya dan kemudian kecewa karena minat itu tidak membawa anak ke mana-anak.

    Proses yang seharusnya dilakukan:

    1. Minat menjadi pintu kesukaan

    Anak boleh menentukan hal yang ingin dilakukan berdasarkan preferensi dan kesukaannya.

    2. Dialog dan kesepakatan

    Orangtua melakukan dialog tentang proses mengasah skills terkait area yang diminati tersebut. Mengubah dari konsumsi menjadi produksi.

    “OK, kamu suka menonton/main xxxx. Bagaiman caranya supaya kegiatan itu bisa menambah skills mu? Apa yang mau kamu asah? Apakah kamu mau bikin tulisan ttg xxx? Apakah kamu mau mengasah public speaking? Apakah kamu belajar bahasa xxx? Dst”

    3. Pendampingan

    “Bapak memberikan kebebasan kamu untuk memilih bidang yang ingin kamu tekuni. Tapi Bapak ingin skills kamu terus bertumbuh untuk kepentingan masa depanmu. Jadi, kita bikin rencana belajar dan mengasah skills=mu ya… Kamu yang bikin rencana, Bapak akan mendampingi.”

    Seperti ini proses yang biasanya kami lakukan bersama anak-anak, kak.

    Semoga membantu. πŸ™

    #4790
    Astri
    Member

    Mas Aar ijin bertanya

    Jika babahnya sudah terlanjur banyak menggunakan motivasi eksternal misal untuk shalat ya mas kek nakut2in gitu

    Seperti nanti usia 10 th kalo belum bisa shalat sendiri nanti udah boleh dipukul

    “Shalat sendiri” dalam artian tidak berjamaah dengan saya ibunya (karena maunya masih berjamaah dengan saya sbg ibunya setiap shalat dengan alasan takut salah dll )

    Apa ada cara untuk memperbaiki kesalahan itu ya mas?

    Usia kakak sekarang 9 th 10 bulan πŸ₯ΊπŸ₯Ή ditakut2innya dari usia baru menginjak 9 tahun siy mas sama babahnya πŸ˜Άβ€πŸŒ«οΈ

    Hal apa yang bisa saya perbaiki dan ajak diskusi ya dengan kakak karena sekarang dia seperti takut untuk menghadapi usia 10 th 😬 dan setiap diajak murajaah bacaan shalat dia jadi kek ogah2an pada akhirnya hmmmhhh

    Makasih mas πŸ™πŸ™πŸ™

    #4789
    Aar
    Keymaster

    Kak @astri-mayasari,

    Terima kasih sharingnya.

    Proses utama yang perlu dilakukan adalah mengobrol bersama pasangan untuk menyelaraskan strategi mengajarkan ibadah dan hal2 lain terkait agama. Penting sekali bagi orangtua untuk punya pendekatan yang kompak dan saling meneguhkan dalam mendidik anak-anak. Jika tidak, nanti akan menimbulkan kebingungan pada anak.

    Proses yang penting Anda lakukan adalah bercerita tentang dampak buruk dari ancaman itu kepada anak.

    Ancaman memang sering dilakukan oleh orang-orang dulu untuk mengajarkan sebuah hal dengan cara memaksa. Di era dulu, ancaman mungkin efektif karena anak takut kepada orangtua dan tidak punya pilihan selain menurut.

    Di era kini, ancaman semakin sulit digunakan untuk anak. Efektivitas ancaman semakin turun karena anak dibesarkan di zaman yang membuka diri untuk dialog dan pengertian. Ancaman bahkan justru bisa menjauhkan anak dari nilai-nilai yang ingin ditanamkan karena anak melakukan perlawanan.

    Jadi, PR besarnya adalah mengubah komunikasi dan pendekatan kepada anak.

    Pendekatan yang penting dilakukan menggunakan 2 prinsip:

    • Gembirakan, jangan ditakut-takuti
    • Permudah urusan, jangan dipersulit

    Pola yang bisa dan perlu lebih ditekankan adalah:

    • sering mengobrol bersama anak tentang sifat Allah sebagai Yang Maha Pengasih dan sholat sebagai cara berkomunikasi dengan yang dikasihi
    • orangtua menunjukkan teladan hubungan yang mesra dan penuh kecintaan dengan Allah saat beribadah ibadah
    • ibadah dilihat sebagai kebutuhan dan kebahagiaan, bukan kewajiban dan yang ditakuti

    Demikian masukan yang bisa saya sampaikan, kak.

    Selama ancaman masih jalan terus, kemungkinan pemberontakan dan ketakutan anak akan terus berlanjut.

    Jadi, fokus utamanya bukan membuat anak tidak takut, tetapi menghilangkan sumber ancaman dan menggantikannya dengan pola yang lebih sehat.

    Semoga berkenan ..

    πŸ™

    #4788
    Astri
    Member

    Terimakasih sekali jawabannya mas

    Bissmillah akan saya coba komunikasikan kembali dengan pasangan dan mengubah pola pelan2 dengan anak

    πŸ™πŸ™πŸ™

    #4787
    Antik
    Member

    Selamat sore mas Aar…

    #4786
    Antik
    Member

    Selamat sore mas Aar…

    Pas sekali rasanya saya membaca chat ini, karena saya memiliki kegelisahan yang sama di tema ini, anak saya saat ini perempuan usia 15 tahun, dia pernah sekolah formal sampai dengan kelas 4 SD, kemudian beralih ke home schooling, proses deschoolingnya cukup panjang, alhamdulillah saat ini hubungan kami baik, sering ngobrol bareng, saya sudah melakukan saran-saran mas Aar seperti diatas, diskusi bareng tentang kesukaan anak dan pinginnya saya bisa mengarahkan kesukaan anak menjadi sesuatu produk. Tetapi ketika kami ngobrol ujung-ujungnya sikakak seperti ngambek, bilang sudah ngerti tetapi masih belum mau bergerak. Dia bilang tidak mau menguasai satu hal saja, karena dia suka banyak hal, khawatir ketika fokus pada satu hal, maka kesempatan belajar banyak halnya jadi hilang.

    Saya sudah coba memberikan pengertian bahwa sebenarnya dengan fokus pada satu hal tidak akan menghilangkan kesempatan untuk belajar banyak hal, tetapi malah kayak bertengkar jadinya dan ujung-ujungnya malah ngambek lagi. Saya sering membiarkannya lebih dulu, kemudian berusaha memantik diskusi lagi dengan lebih rileks, tapi hasilnya masih tetap sama. Saat ini dia menyukai bahasa Inggris, saya berikan beberapa alternatif, seperti mengajar les bahasa Inggris, katanya nggak suka ngajar, ikut english club ternyata dia tidak mau aktif, suka bikin-bikin kue tapi kurang konsisten prakteknya alias moody, kemudian suka design canva dia bilang nggak suka profesi itu, saya jadi bingung sendiri :D. Oh ya dia sering bertanya, kenapa kita harus bertumbuh, kenapa semua harus berkaitan satu sama lain, sebenarnya kami sudah jelaskan, dan ketika kami tanya balik apakah sudah paham, iya katanya paham, tapi kenapa masih balik-balik lagi ya ? Adakah saran dari mas Aar untuk case saya ini? terima kasih mas Aar πŸ™

    #4782
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Antik,

    Terima kasih sharingnya kak.
    Menemani proses bertumbuh anak remaja memang sangat menantang. Pada satu sisi, kemampuannya mengambil keputusan masih terbatas. Pada sisi lain, anak merasakan kebutuhan otonomi yang semakin besar untuk menjadi dirinya sendiri. Anak semakin sensitif terhadap masukan dan kritik orangtua.

    Otak anak berpikir: “Ini maunya Ibu ya? Ibu mau memaksakan cara berpikirnya kepadaku?”

    Jika anak merasa orangtua ingin memaksakan sebuah gagasan/kehendak, walaupun itu baik untuk dirinya, anak akan cenderung menolak dan melawan karena kebutuhan akan otonominya lebih besar. Anak tidak ingin berada di bawah bayang-bayang orangtuanya.

    Dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa dilakukan orangtua?

    • membawa kondisi ini ke dalam kesadaran bahwa “ruang yg dimiliki orangtua untuk mengarahkan anak semakin terbatas”
    • dengan waktu yang terbatas itu, apa yang bisa dilakukan?

    Dalam sudut pandang saya, yang paling bisa dilakukan adalah memastikan bahwa hubungan orangtua dan anak tetap kuat & asyik.

    Itu berarti, orangtua perlu mengubah strategi:

    • dari menyodorkan gagasan pada anak menjadi lebih banyak mendengarkan. Tidak memaksakan gagasan, membuka diri untuk menerima sudut pandang anak
    • dari memberikan nasihat dan masukan, menjadi lebih banyak mengajukan pertanyaan untuk membuat anak berpikir
    • fokus utama untuk menemani anak berlatih mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri

    Orangtua tentu saja boleh memberikan masukan, tetapi prasyarat utama harus terpenuhi: anak merasa orangtua mendengarkan pendapatnya dan menghargainya.

    Jika anak merasa orangtua tetap memperlakukannya sebagai anak kecil, kemungkinan besar anak akan menunjukkan resistensi terhadap apapun yang disampaikan orangtua.

    Jadi, anak tetap dibiarkan saja walaupun melakukan hal yang tidak benar dan tidak efektif?

    Yang bisa kita lakukan adalah berdialog dan bertanya, bukan menghakimi:

    • mengapa kamu melakukan itu?
    • apa rencanamu?
    • apa targetmu terkait kegiatan itu?

    (Saat komunikasi, ketenangan dan intonasi suara sangat berpengaruh pada respon yang akan kita terima).

    Bantu anak untuk membuat komitmen2 dan kesepakatan sesuai yang dimaui anak. Buat secara tertulis. Jadikan tulisan itu sebagai bahan untuk diskusi dan refleksi.

    • sudah sampai mana perkembangannya?
    • timeline kamu bagaimana?
    • apa yang bisa Ibu bantu?

    Demikian kak, proses menemani remaja memang tidak mudah. Demikian pula, proses kita untuk mengubah pola komunikasi kita sendiri dengan anak juga bukan hal yang mudah.

    Untuk kepentingan bersama, kita perlu berlatih mengubah diri kita sendiri untuk menunjukkan bahwa fokus kita adalah untuk kepentingan anak dan membantu mereka, bukan untuk kepentingan kita sendiri.

    Semoga membantu

    #4769
    Astri
    Member

    Assalamualaikum mas ijin bertanya lagi heheheh sekarang Mika udah 10 th mas, makin sering bertanya kenapa sih harus mengerjakan tugas2 PKBM

    Apa selama ini jawaban saya ke dia kurang membangun minatnya ya mas

    Saya bilang ini untuk dapat nilai2 di ijazah, ijazah ini bisa kamu pake kuliah ntar gitu2 mas

    Tapi di titik ini nanya lagi gitu terus mas πŸ˜†πŸ˜…πŸ€£ mati kutu saya jawabnya harus begimana ya

    Makasih mas jawabannya

    #4768
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Kak @astri-mayasari.

    Terima kasih sharingnya, kak.

    Kalau menurut kakak, materi tugas-tugas di PKBM itu maknanya apa selain sekadar lulus dan punya ijazah? Apa gunanya untuk hidup? Seberapa banyak tugas PKBM dibandingkan dengan kegiatan2 lain yang bermakna untuk anak?

    Kondisi lapangan ini memang agak tricky. Anak-anak yang terpapar dengan aneka informasi ini semakin menuntut materi belajar yang relevan dengan kepentingannya.

    Ada beberapa skenario yang bisa dilakukan:

    1. Melihat kewajiban sebagai keterampilan hidup

    Tidak semua hal yang dilakukan terkait dengan hal yang disukai. Ada hal-hal yang penting dan harus dilakukan walaupun tidak disukai. Di dunia pekerjaan, ketika kita mencari uang, ketika di masyarakat & keluarga, sebuah hal dilakukan seringkali bukan karena senang, tetapi karena dianggap penting untuk dilakukan.

    Jadi, keterampilan melakukan hal yang penting itu perlu diasah. Ini seperti otot yang perlu dikuatkan.

    Misalnya:

    • ibu bisa jadi tidak suka memasak, tetapi perlu memasak untuk anggota keluarganya. Kenapa tidak beli saja? Karena itu mahal dan uang yang ada bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih penting, misalnya membeli buku buat kakak, biar kita bisa jalan ke luar, dll.
    • main acara keluarga mungkin tidak asyik, tetapi harus dilakukan karena itu adalah cara kita menjalin hubungan dengan keluarga dan orang2 yang kita sayangi. Mengapa keluarga penting? Karena keluarga adalah tempat kita saling bergantung dan mendukung.
    • ayah pekerjaannnya xxxx. Di tempat kerja, ayah harus melakukan yyyy, padahal ayah tidak suka tapi harus dikerjakan. Kalau ayah tidak mau, ayah bisa dikeluarkan dari pekerjaan dan kita tidak punya uang untuk makan. Nah, ayah bisa melakukan seperti ini karena sejak kecil terbiasa melakukan hal-hal yang penting walaupun tidak suka atau kadang ayah nggak ngerti gunanya apa.

    2. Melampaui ijazah

    Ketika anak dijelaskan terkait ijazah dan kuliah, mungkin mereka belum terbayang. Jadi, prosesnya perlu diulik lebih dalam pada kepentingan anak yang riil dan membahagiakan, misalnya terkait dengan mimpi mereka.

    Misalnya:

    • katanya kamu saat besar pengin jalan-jalan keliling dunia, ke tempat-tempat yang asyik. Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang untuk modal jalan-jalan keliling duniamu? Kamu tahu syarat dan caranya mendapatkan uang?
    • Kalau kamu tidak bisa memahami matematika, bagaimana kamu tidak ditipu orang saat melakukan transaksi?

    3. Proporsi kegiatan

    Bandingkan proporsi kegiatan PKBM dengan kegiatan mandiri yang disukainya.

    • Kamu berapa banyak mengerjakan kegiatan/tugas PKBM? Coba bandingkan dengan kegiatan yang bisa kamu pilih sendiri. Banyak mana?
    • Kamu tahu nggak anak sekolah sama sekali tidak bisa memilih kegiatan/belajarnya apa? Jadi, kamu beruntung masih bisa memilih dan cuma sedikit saja yang dari PKBM. Atau kamu mau pilih sekolah saja?

    Nah, saya tidak tahu beban tugas di PKBM yang kakak pilih seperti apa dan seberapa menarik/cocok prosesnya dengan anak & keluarga kakak. Sebab, memang ada PKBM yang “sangat sekolah” dan tidak asyik. Ada PKBM yang fleksibel. Ada PKBM yang menyediakan kelas/klub kegiatan yang bisa dipilih anak.

    Di sini kejelian orangtua saat memilih PKBM. Jika proses PKBM tidak cocok dengan karakter/kebutuhan keluarga, saatnya kakak melakukan survey PKBM dan menimbang kemungkinan2 untuk pindah PKBM.

    Demikian kak, semoga membantu.

    Jika ada hal2 lain yang ingin ditambahkan dalam diskusi ini, dipersilakan..

    πŸ™

    #4767
    Astri
    Member

    Makasih mas jawabannya seperti biasa sangat komplit, mencerahkan jalan ku πŸ˜†πŸ«£ dan bahasanya mudah saya cerna, insyaAlloh akan saya coba evaluasi kembali ya mas

    Emang sempet ada kepikiran cari2 lagi PKBM sebelumnya,makasih sekali lagi y mas pencerahannya dan bimbingannya

Viewing 12 posts - 1 through 12 (of 12 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top