Kak @liza-darmawan,
Variasi minat dan bakat memang sangat beragam.
- Minat + nggak berbakat => hobi
- Nggak minat + berbakat => profesi
- Nggak minat + nggak berbakat => abaikan
- Minat + berbakat => prestasi
Fenomena paling umum adalah minat tapi nggak berbakat. Kegiatan itu menjadi kebahagiaan, tapi ketika dicoba ditekuni utk menjadi keahlian dan prestasi tidak berkembang.
Jika mengalami hal seperti ini tidak apa-apa kak. Kegiatannya dijadikan sebagai sumber kebahagiaan. Seperti kegiatan badminton, selain menjadi sumber kebahagiaan dia bisa menjadi stimulasi motorik kasar dan untuk kepentingan kesehatan.
Tidak semua hal memang bisa diarahkan menjadi prestasi.
Bagaimana jika masih mau dilanjutkan 2 tahun lagi?
Tidak masalah, kak. Untuk orangtua, kuncinya adalah mengelola ekspektasi.
Jika dari pengamatan awal terlihat anak tidak berbakat, ekspektasi minimum adalah untuk kesehatan dan kesenangan. Jangan sampai badminton menjadi sumber stress dan beban untuk anak.
Jangan berekspektasi prestasi, nanti orangtua dan anak sama-sama stress.
Demikian kak, semoga membantu 🙏