Belajar Parenting › Forums › Pengembangan Potensi Anak › Pengembangan Minat dan Bakat
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
October 10, 2020 at 5:12 pm #7100
Anonymous
GuestMas Aar & Mbak Lala, ada yang ingin saya tanyakan….
Jika proses stimulus-nya terlambat –anak sdh memasuki remaja– apa msh memungkinkan untuk tetap dilakukan stimulus dalam rangka memperluas pengalamannya?
Terima kasih
=Juni=May 13, 2021 at 6:27 am #6909Anonymous
GuestDear mas Aar n kak Lala,
Sy sedang bingung nih, beberapa bulan lalu sy mengajak anak untuk mengikuti lomba bercerita tingkat kota, tujuan awalnya hanya agar ia punya pengalaman berkompetisi dan memanfaatkan waktunya lebih produktif. Cara membujuknya seperti ini, “Teteh, ikutan lomba yuk, kalau menang hadiahnya uang lho..” lalu anaknya mau, hehe. Usianya saat ini 9 tahun. Tidak disangka, ternyata ia keluar sebagai juara pertama. Para juri bilang, anaknya sudah punya bakat, hanya harus terus dilatih, setiap ada perlombaan sejenis, ikutkan saja dalam kompetisi.
Lalu kemudian, awal bulan puasa tiba, ada lomba sejenis di tingkat provinsi. Lalu sy tanya sang anak, dan ia menjawab mau ikut. Selanjutnya kami mencari materi dongeng, meringkasnya (ini sy yg melakukan), lalu ia menghafalkan materi dongengnya, dan menambahkan improvisasi agar cerita lebih hidup. Perlu diketahui bahwa dalam lomba bercerita, peserta harus menghafalkan seluruh materi cerita, lalu menceritakan ulang dalam durasi tertentu yang ditetapkan panitia. Harus sy akui, menghafal materi dalam durasi 10 menit untuk anak usia 9 tahun itu very challenging, bahkan untuk orang dewasa pun sy rasa sulit ya.
Disinilah konflik dimulai. Anak sy suliiiit sekali menghafalkan materi cerita ini, padahal ketika menghafalkan untuk lomba tingkat kota sebelumnya, mulus-mulus saja. Entah karena lagi puasa sehingga ia sulit berkonsentrasi, entah karena hal lain. Anaknya malah sering leyeh-leyeh, bermain dengan temannya, pokoknya apapun selain menghafal materi dongeng. Padahal kami sudah membebaskan tanggung jawab belajar yang lainnya sementara, agar ia bisa fokus untuk mempersiapkan lomba.
Lalu kami sebagai orang tua mencoba memotivasi:
1. “Ini lomba tingkat provinsi lho teh, hadiahnya lebih keren”
2. “Kalau sebelumnya teteh paling keren di kota, nanti kalo menang, teteh paling keren seprovinsi”
3. “Kalau lomba tingkat provinsi ini beda, lebih banyak peserta yang jagoan, jadi teteh harus lebih keras berusaha kalau mau menang lomba”Etapi anaknya ya gitu wee, masih males-malesan menghafal materi dongeng, saat menghafal sambil tiduran, trus akhirnya tidur beneran, hadeuuh.
Dalam prosesnya, sy jd sering marah-marah. “Teteh serius nggak sih mau ikut lomba? Kok banyak mainnya, jangan tidur melulu, fokus dong teh, keburu deadline ini teh, kok masih belum hafal juga?” Duuh, ini sy sebetulnya menyesal sekali marah-marah, tapi sy bingung pakai bahasa apa lagi yg bisa buat anak mengerti.
Lalu sang anak juga sepertinya cepat sekali menyerah, nggak apal dikit, nangis. Lalu mulai lagi, lalu ketiduran lagi, lalu main, gituu terus.Akhirnya anak saya tetap mengikuti lomba, namun menurut sy not at her best performance, she could’ve done it much much better.
—
Seminggu kemudian, -sebagai juara pertama lomba bercerita tingkat kota- anak sy diundang untuk tampil selama 5 menit di acara pembukaan sebuah acara gerakan literasi nasional, yang akan dihadiri oleh walikota. Sebagai orang tua, sy bangga sekaligus deg-degan, bisa nggak ya anak sy perform dengan baik, mengingat pada lomba tingkat provinsi kemarin, effortnya dia sangat tidak maksimal.
Dan benar saja dugaan saya, anak sy suliiit sekali menghafal script yg saya siapkan, hingga akhirnya sy memutuskan membuat contekan saja agar ia bisa membacanya saat speech. Ini menurut sy kurang keren, mosok juara lomba cerita pake contekan. Tapi another side of me bilang, orang dewasa aja kalo bicara di depan umum banyak yang pake contekan, kenapa anakmu nggak boleh? Bingung deh saya.
—
3 hari lalu kami dapat kabar bahwa anak saya masuk semifinal lomba tingkat provinsi. Skrg kami sedang berproses mempersiapkannya, teuteup anak sy masih ogah-ogahan tp pengen ikutan.Jadi yang mau saya tanyakan ini:
1. Dengan diraihnya juara 1 di tingkat kota dan masuk semifinal di tingkat provinsi, apakah ini menunjukkan bahwa bertutur/story telling ini termasuk ke dalam kategori bakat yg dimiliki anak sy? Apakah ini serumpun dengan public speaking?
2. Jika memang bakat, mengapa proses selanjutnya sulit sekali ya dijalankan? Apakah anak sy sedang masuk ke critical period dalam learning curve nya? Apakah anak sy masih terlalu dini untuk menjalani proses itu? Apakah saya terlalu memaksakan anak saya untuk berprestasi dan perform well di depan publik?
3. Stimulus terbaik yang sebaiknya diberikan pada anak saya apa ya?
4. Karena dalam prosesnya sy seriiing marah-marah, apakah sebaiknya sy tunda dulu saja anak sy untuk ikut dalam lomba-lomba selanjutnya, atau bahkan menunda memberikan stimulus? Karena jujur saja, sebenarnya sy nggak ingin mencederai proses parenting dengan terlalu banyak memarahi anak, takut anaknya jg trauma untuk berprestasi di masa depannya.Huuft.. Kepanjangan ini, maaf lahir batin ya mas Aar n kak Lala, hehe..
Cimahi, 1 Syawwal 1442 H
December 23, 2021 at 6:27 pm #4527Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
January 9, 2023 at 9:36 am #5720Sonia
MemberSelamat pagi mas Aar,
Saya ingin bertanya dan maaf sebelumnya jika mungkin ini sudah pernah dibahas sebelumnya.
Apakah ada patokan usia yang ideal untuk memulai dalam menentukan atau mencari bakat/minat pada anak? Misalkan dengan menjejali anak dalam berbagai les (yg disukai anak)
Terima kasih.
January 11, 2023 at 11:28 am #5718Aar
KeymasterKak @sonia-fitria,
Kunci penting dalam proses stimulasi terkait minat dan bakat adalah pengalaman yang dirasakan anak.
Prosesnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang ingin dicoba dan dilakukan anak, yang difasilitasi sehingga menjadi pengalamaan riil yang dijalani. Bentuk-bentuknya tak harus dengan les/kursus.
Tak ada standard/panduan terkait usia karena karakter setiap anak berbeda-beda dan respon mereka terhadap hal yang diminati juga berbeda. Kita tak pernah tahu hal apa yang akan memicu motivasi internal anak. Kita juga tak pernah tahu kapan motivasi internal itu terpicu.
Jadi, tugas orangtua ada 2:
- memfasilitasi pengalaman berkualitas
- memberikan paparan pengalaman penambah referensi
Yang penting fokus pada kualitas pengalaman, bukan pada jumlah kegiatan. Jangan buru2 menambah kegiatan hanya karena keinginan supaya anak punya banyak referensi pengalaman.
Carilah keseimbangan antara mendalam (fokus) dan melebar (menambah pengalaman).
Yang pasti, nikmati momennya setiap saat.
Jika Anda merasa perlu menambahkan pengalaman kegiatan, tambahkan tapi longgarkan ekspektasi. Jika Anda merasa kegiatan anak sudah cukup memenuhi kebutuhannya, jangan ditambah lagi agar tidak terlalu membebani anak dan agar dia bisa belajar memfokuskan pada yang ada saat ini..
Demikian kak, semoga membantu.
🙏
January 12, 2023 at 10:22 am #5717Sonia
MemberTerima Kasih mas Aar atas penjelasannya.
Jadi lebih tenang, dan tidak terburu buru untuk penjejali anak ke hal hal yg belum tentu memang ia minati. 🙏
March 12, 2023 at 11:44 am #5569Indah
Member– bagai mana kalau kita lihat akan minat bakat tapi belum terbukti secara eksternalnya, misal pernah bertanding tapi tingkat sekolah udah menang tapi pas naik ke propinsi biasanya mentok apa masalahnya atau apakah ini belum bisa disebut minat dan bakatnya
– apakah minat dan bakat anak bisa rusak karena salah stimulasi atau lingkungan? terus bagai mana cara mengembalikannya, mis anak waktu kecilnya aktif, kreatif, bearani, sering ngomong , bisa tampil di umum tapi pas beasr sesuadah sekolah anak jadi jauh dari waktu kecilnya?
-bagaimana caranya membaca minat bakat lebih cepat atau apakah salah ada presepsi dari ortu anak harus cepat terbaca minat dan bakatnya sehingga mudah anak untk kita arahkan?
March 12, 2023 at 8:10 pm #5568Aar
KeymasterHalo kak @annisa-sidqia-nahdah
1. Kualitas Minat
Ketika kita mulai mengasah hal yang diminati anak, berbagai kemungkinan sangat bisa terjadi.
Pertama, anak berprestasi dan terus meningkat level prestasinya. Tidak selalu menjadi juara pertama, tapi terlihat ada kemajuan. Anak juga masih terus bisa ditingkatkan kualitasnya. Ini adalah tanda2 bakat atau potensi kekuatan yang bisa terus ditingkatkan.
Kedua, anak berprestasi tetapi hanya pada level tertentu. Anak mentok dan sulit berkembang di level yang lebih tinggi. Pertanyaannya:
~ apakah anak masih semangat belajar dan masih bisa belajar? Jika anak masih semangat belajar dan mengasah diri, berarti ada peluang untuk terus berkembang.
~ apakah prestasi anak sudah betul2 stuck di sebuah level tertentu? Jika iya, tinggal dipertimbangkan: apakah anak ini satu-satunya kekuatan anak? Jika iya, berarti perlu diterima bahwa anak adalah pemain di level tersebut. Jika ternyata ada kekuatan lain, tentu saja itu layak untuk dijajagi.
Ada anak yang puas dan mampu menjadi pemain di level kota, ada yang puas di level provinsi, ada yang puas di level nasional, ada yang puas di level regional, ada yang baru puas jika menjadi pemain di level dunia.
Ketiga, anak berminat tapi tidak berprestasi. Dia memilih menjadikan kegiatan yang disukainya itu sebagai hobi dan kesenangan. Dan itu tidak apa2. Banyak orang dewasa yang senang masak, tapi tidak menjadikannya sebagai profesi. banyak yang senang menyanyi dan bagus menyanyi, tapi memilih tidak menjadi penyanyi profesional. banyak pertimbangan jika mau dibawa ke level profesi.
2. Pengaruh lingkungan
Tentu saja lingkungan berpengaruh dalam proses pengembangan minat & bakat anak. Ada lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan komunitas, dan lain-lain. Sebuah proses yang sudah terjadi hanya bisa diperbaiki, tidak bisa dikembalikan ke masa yang sudah lewat.
Bagaimana memperbaikinya? Sediakan ruang yang kondusif untuk kegiatan tersebut.
Jika Anda ingin anak aktif dan kreatif, berikan kepercayaan dan waktu luang anak untuk memilih kegiatannya. Jika Anda ingin anak kembali berani ngomong, berikan ruang bagi anak untuk melakukan kegiatan organisasi: pramuka, kepanitiaan, komunitas, dll sehingga anak memiliki kesempatan untuk mengembanhkan dirinya.
3. Cara cepat
Cara paling efektif adalah mengamati dan menemani anak berproses. Jika anak sudah remaja, kunci pentingnya adalah mengobrol dengan anak. Peran orangtua semakin kecil dan anak perlu dlibatkan dalam proses pengambilan keputusan terkait dirinya. Semakin besar usia anak, porsi posisi pengambilan keputusan anak semakin besar dan orangtua perlu merelakan diri bahwa perannya semakin terbatas.
Demikian kak, semoga membantu.
🙏March 17, 2023 at 10:04 pm #5564Indah
Memberterimakasih
January 20, 2024 at 3:54 pm #4914Astrid Kristianti
MemberHallo mas Aar saya Astrid ibu dari 2 anak (9 thn dan 3 thn)…saya mau bertanya anak saya dulu pernah ikut les badminton atas keinginan ortunya, dan hanya berlangsung 6 bulan saja karena secara fisik dia kecapean (kebetulan les nya seminggu 3x dan itu berlangsung selama 3 jam) memang pada saat latihan bergantian main dgn temannya. Setelah kami mendengar keluhan dari anak kami bahwa dia capek dan tidak merasa tertarik dan kadang sampai menangis di lapangan maka kami putuskan utk berhenti saja…yg mau saya tanyakan apakah terlalu gampang kami menurunkan target kami utk melatih konsistensi anak?, bagaimanakah batasan toleransi antara kasihan karna alasan kecapean dengan menjaga konsistensi anak?
January 20, 2024 at 8:54 pm #4913Aar
KeymasterHalo kak Astrid,
Terkait proses membangun konsistensi pada anak, ada beberapa catatan yang bisa kami berikan:
1. Mulai dari anak
Mulailah proses membangun konsistensi dari hal-hal yang disukai atau dibutuhkan anak. Ini jauh lebih mudah dibandingkan memaksa anak mengikuti kemauan kita dan bersikap konsisten pada hal yang tak disukainya.
Banyak contoh peristiwa penentangan anak terjadi di lapangan. Anak yang dipaksa mengikuti perintah orangtua sangat mungkin bisa berprestasi, tapi tak akan bertahan lama jika tak disertai motivasi dari dalam dirinya.
Motivasi dari dalam diri adalah sumber penting untuk membangun konsistensi.
2. Anak memiliki tujuan
Ketika anak melakukan kegiatan, penting bagi orangtua untuk membantu anak memiliki tujuan. Apa yang ingin dikejar? Apa target jangka panjang? Apa target jangka pendek?
Target dan tujuan ini sebaiknya dimiliki anak, bukan cuma ditetapkan orangtua.
Berdasarkan target dan tujuan itulah akan muncul porsi latihan/beban yang dibutuhkan.
Jadi, prosesnya bukan hanya menyuruh anak berlatih atau memaksa anak berlatih. Ini juga bukan perihal tega dan kasihan.
Jika anak merasa memiliki kegiatannya dan punya tujuan, proses pembimbingan menjadi lebih mudah. Inipun tak ada jaminan akan berhasil.
Studi kasus konsistensi
Kami punya contoh tentang konsistensi ini pada anak kami ketiga, Satria Duta.
Dia menyukai catur. Karena suka, dia rajin berlatih. Karena rajin berlatih, dia sering menang sehingga membuatnya semakin semangat berlatih. Ini menjadi spiral positif yang membuat dia semangat berlatih.
Bukan hanya suka, Duta memiliki tujuan yang jelas, ingin menjadi grandmaster.
Kami bertanya kepadanya: “Apa yang dibutuhkan untuk menjadi grandmaster?”
Jawabnya: “Berlatih keras dan sering menang tanding.”Dengan rasa memiliki terhadap kegiatannya dan tujuannya (bukan tujuan orangtuanya), Duta sangat termotivasi untuk bekerja keras dan berlatih.
Kami tak perlu menyuruhnya berlatih karena dia tahu berlatih itu adalah kepentingannya.
Dalam kondisi normal, Duta berlatih catur sejak pagi sampai malam, bahkan beberapa seminggu ada kelas yang harus diikutinya hingga pk. 22.30.
Mengapa Duta bisa seperti itu? Karena dia merasa semua itu kepentingannya.
Demikian kak, semoga membantu.
Semoga kakak bisa membantu anak menemukan kegiatan yang disukai dan ingin dikejarnya sehingga mau berlatih dengan konsisten seperti yang diharapkan.
🙏
March 12, 2024 at 12:48 pm #4898heni soraya
MemberMas Aar dan Mbak Lala,
Anak pertama kami (usia 15th) memiliki minat digital music composing. Ketika mengerjakannya dia kelihatan enjoy dan tekun. Tapi sayangnya output yang dihasilkannya kurang berkembang dan monoton.
Ketika kami beri tantangan untuk mempelajari tekniknya lebih mendalam dan belajar not balok kelihatannya kurang antusias. Sepertinya memang bukan bakatnya dan hanya sekedar hobi untuk bersenang senang saja.
Tadinya kami pikir ya sudahlah tunggu sampai anaknya bosan.. tapi kok lama2 sayang juga waktunya, soalnya hobi ini lumayan menyita banyak waktu. Padahal ada bidang2 lain yang sebetulnya terlihat ada potensi bakatnya tapi kurang diminati jadi malah kurang dikembangkan.
Bagaimana menyikapinya..
March 13, 2024 at 12:43 pm #4897Aar
KeymasterKak @heni-soraya
Mendampingi anak remaja menemukan area-area yang bisa menjadi kekuatannya dalam jangka panjang adalah sebuah proses yang menantang. Banyak sekali variabel baik teknis maupun non-teknis yang mempengaruhi prosesnya.
Variabel teknis terkait: pilihan jenis kegiatan, strategi mengasah skills, menemukan mentor & tempat belajar, menentukan karya yg terus bertumbuh, mendapatkan feedback/pencapaian positif, dll.
Variabel non-teknis: kepercayaan diri, distraksi. kemampuan meregulasi diri, kebutuhan otonomi (yang sering membuat konflik dg orangtua)
Apa yang bisa dilakukan:
1. Menggunakan pendekatan lebih horizontal
Libatkan anak secara aktif untuk mencari solusi-solusi terkait dengan kegiatannya. Diskusikan renca anak untuk mengasah diri dan menaikkan skillsnya.
“Menurutmu, bagaimana caranya agar skill music composition-mu naik terus?”
“Skills apa yang menurutmu perlu ditingkatkan agar kualitas karyamu terus meningkat?”
“Bagaimana caranya kamu bisa terus belajar? Perlu ikut kelas apa?”
“Apa goal kamu tahun ini?”
2. Gunakan bantuan eksternal untuk menilai anak
Untuk mengurangi konflik bersama anak, gunakan bantuan eksternal untuk memberikan penilaian dan memberikan feedback kualitas karya/skills anak. Jika memungkinkan, cari guru/mentor yang bisa membimbing dan memberikan feedback pada anak.“Bagaimana caranya kamu bisa mendapat feedback karyamu?”
“Apakah ada senior yang bikin kelas dan bisa kasih feedback?”
“Apakah kamu bisa cari komunitas digital music composition yang aktif dan saling memberikan feedback?”
“Apakah kamu mau mencoba menjual karyamu di marketplace digital music?”
3. Proaktif, tidak menunggu
Jangan menunggu anak bosan. Tapi, ajak anak menjajagi kegiatan lain yang potensial untuk diasah. Dalam satu waktu, tak ada salahnya anak punya beberapa kegiatan yang sama-sama dicoba untuk diasah, misalnya: music production, foreign language, design, dll.
Jelaskan goalnya: “Dunia profesional itu terkait kualitas karya & skills, bukan tentang suka saja. Supaya berkualitas, kamu perlu terus meningkatkan skills-mu di bidang yang kamu pilih. Dan itu berarti kamu perlu belajar bekerja keras, mengatasi rasa bosan dan malas pada bidang yang ingin kamu tekuni.”
4. Membantu membuat strategi
Bantulah anak membuat strategi pengembangan dirinya. Ada kegiatan yang dilakukan untuk bersenang-senang dan menjadi hobi. Ada kegiatan yang diasah untuk pengembangan diri.
Buat peta kegiatan yang akan dilakukan tahun ini:
- kegiatan apa saja untuk bersenang-senang
- kegiatan apa saja yang diasah skillsnya
Pada kegiatan yang ingin diasah skillsnya, diskusikan dan sepakati tujuan/target tahun ini:
- apa yang akan dipelajari/dilakukan
- belajar di mana atau dengan cara apa
- output apa yang akan dihasilkan
- target2 yang ingin diraih
Tentukan target yang bisa diukur untuk minggu/bulan ini.
Jadikan proses ini sebagai pendampingan Anda sebagai life coach untuk anak.
Demikian kak. Untuk proses pengembangan ini memang butuh banyak diskusi dan pendampingan untuk membantu remaja kita berproses dengan pertumbuhannya.
Semoga membantu.
🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.