Belajar Parenting › Forums › Menyiapkan Pembelajar Mandiri › Podcast Kepedulian pada Kualitas
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 25, 2019 at 10:31 am #4623
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
May 17, 2021 at 7:08 pm #6908Anonymous
Guestmenurut kayak-kakak, apa yang membuat para orang tua bisa memiliki “extra mile”? bagaimana cara mempertahankannya? dan… apa pula yang dimaksud dengan “mengeraskan diri”?
terima kasih banyak atas responnya, saya senang sekali bisa belajar disini~
May 18, 2021 at 4:41 pm #6907Aar
KeymasterKak Jeki,
Terima kasih pertanyaannya.
Mengapa sesesorang mau melakukan “extra mile”?
Pertanyaan ini kurang lebih serupa dengan pertanyaan:
~ mengapa seseorang mau capek2 belajar?
~ mengapa seseorang mau bekerja?
~ mengapa seseorang mau menabung?Salah satu penjelasannya adalah karena gambar besar.
~ kita tahu alasan mengapa hal itu dilakukan (why)
~ kita tahu tujuan yang hendak diraih
~ kita tahu manfaatnya
~ yang pasti, kita bisa melihat manfaat melakukannya lebih besar dibandingkan usaha yang kita lakukanNah, di sinilah pentingnya kita (dan anak-anak kita) mendapat mindset mengapa “extra mile” dilakukan. Extra mile adalah kebiasaan orang-orang yang berhasil, para achiever. Mereka melakukan lebih baik dan lebih banyak daripada rata-rata. Saat orang umum sudah merasa puas dengan kualitas standar, para achiever selalu berusaha mengupayakan kualitas yang lebih baik. Dan kualitas yang lebih baik itu biasanya terkait dengan extra effort, extra time, dan extra mile.
Kebiasaan melakukan “extra mile” menghasilkan kualitas lebih baik dan membahagiakan diri sendiri.
Bagaimana mempertahankan sikap “extra mile”?
Kuncinya adalah kebahagiaan personal kita melakukan. Kita puas walaupun orang lain tidak terlalu melihat perbedaannya. Apalagi jika kita mendapatkan manfaat nyata dari usaha ekstra yang kita lakukan.Apa itu “mengeraskan diri”?
Mengeraskan diri adalah meneguhkan diri untuk tidak berhenti sampai tujuan tercapai. Bayangkan lari marathon yang jauh. Kita pasti capek dan ada keinginan untuk berhenti di tengah jalan. Mengeraskan diri berarti tidak menuruti rasa lelah dan keinginan untuk berhenti, tetapi terus maju sampai garis finish.Dalam konteks homeschooling, mengeraskan diri ini sangat diperlukan. Pertama itu membuat kualitas HS kita menjadi lebih baik. Kedua, kita memberikan keteladanan yang nyata pada anak melalui kerja keras dan kengototan kita.
Contohnya begini.
Ada orangtua HS yang tinggal di sebuah kota. Karena di kotanya tidak ada komunitas HS, seminggu sekali dia mengantarkan anaknya lintas-kota lintas-provinsi. Dia berangkat habis Subuh dan berkendari 3 jam untuk bisa sekadar membawa anaknya berkegiatan. Itu adalah contoh “mengeraskan diri”.Contoh yang lain adalah membuat dokumentasi. Setelah selesai kegiatan, sebagian besar orang biasanya langsung mau istirahat. Proses “extra mile” dan mengeraskan diri ditunjukkan dengan memilih tidak beristirahat, tetapi membuat dokumentasi kegiatan.
Capek? Iya. Puas? Iya. Bermanfaat? Bermanfaat sekali karena dokumentasi adalah bekal untuk membuat portofolio karya anak.
Demikian kak, semoga menjawab pertanyaan kakak.
February 23, 2022 at 12:59 pm #6595Endang
MemberSelamat siang, Mas Aar. Terima kasih untuk pemaparannya.
Anak saya berusia 10 tahun dan 6 tahun. Dalam hal kepedulian pada kualitas ini, apakah yang lebih penting itu, anak mau melakukan sesuatu dengan senang dan sukarela terlebih dahulu walaupun dengan kualitas yang minimal, ataukah sedari awal kita sudah menetapkan kualitas tertentu yang perlu dia capai?
Misalkan dalam hal pekerjaan di rumah, saya mengajari anak saya untuk mencuci piring. Tetapi masih belum bersih. Apakah yang harus saya lakukan? Apakah saya tunjukkan cara yang benar dengan mencuci ulang di depannya? Atau saya cuci ulang saat dia tidak lihat saja? Atau tutup mata saja yang penting kita apresiasi dulu usahanya?
Bagaimana supaya dia tahu bahwa saya menghargai usaha dan keterlibatannya tetapi ada yang perlu diperbaiki karena ada kualitas tertentu yang perlu dicapai?
Terima kasih.
February 23, 2022 at 1:58 pm #6594Aar
KeymasterSemua proses berlangsung bertahap, ditingkatkan selangkah demi selangkah seperti naik tangga.
Kepedulian terhadap kualitas dibangun setelah sebuah kegiatan/keterampilan sering dilakukan anak.
Jadi, urutannya kurang lebih seperti ini:
1. Anak mau melakukan
Anak mau mencuci piring tapi belum bersih. Orangtua mengapresiasi kesediaan anak terlibat. Orangtua tidak mengkritik dan tidak memberikan masukan. Yang penting anak mau dan semakin mengetahui prosedur/cara mencuci piring. Jika kurang bersih, orangtua bisa mengulang mencucinya (tanpa sepengetahuan anak). Ini bagian dari proses membangun keterlibatan dan kepercayaan diri.
Tanda: anak mau melakukan dan bisa melakukan dengan mudah
2. Petunjuk kualitas
Setelah beberapa kali mencuci, tunjukkan pada anak teknik mencuci yang baik. Jelaskan juga cara mengecek hasil cucian sebagai tanda bersih. Berikan contoh, minta anak melakukan dan berikan masukan cara kerja dan hasil kerja anak hingga anak mengerti dan bisa melakukannya sendiri.
Berikan kesempatan anak melakukan sendiri.
Tanda: anak mulai tahu teknik dan standar kualitas, sering mencuci dengan benar
3. Masukan
Jika Anda menemukan piring yang belum bersih dicuci anak, ajak anak melihat hasilnya kerjanya. Minta anak mengecek piring kering untuk menguci apakah dia bisa mengenali perbedaan piring bersih dan masih belum sempurna kebersihannya. Ajari dan temani untuk meningkatkan kualitas.
Langkah ketiga ini mungkin terjadi beberapa kali. Saat menemui kondisi ke-3, pastikan untuk mengapresiasi hasil bersih yang sudah dilakukan dan masalah yang terjadi adalah anomali (hanya terjadi sesekali).
Tanda: anak semakin terampil dan hasilnya bersih.
Jadi prosesnya bertahap, kak.
Proses penting adalah mengenali anak ada di tahapan yang mana saat ini. Selalu utamakan apresiasi, menjaga kepercayaan diri anak, dan secara bertahap meningkatkan kualitas proses dan hasil pekerjaannya.
Demikian, semoga membantu.
August 23, 2022 at 10:34 am #5990Zulvi Andriyani
MemberIjin bertanya, bagaimana langkah agar orang tua terampil membuat progress kemajuan atau anak tangga untuk anak. Misal anak saya usia 7 tahun hobi memasak, bagaimana membuatkan anak tangga agar kualitas semakin meningkat? Bisakah mas aar berika contohnya . Terimakasih
August 23, 2022 at 4:56 pm #5988Aar
KeymasterKak @zulvi.andriyani
Untuk membuatkan anak tangga proses pada anak, salah caranya adalah mengenali standar profesional di bidang yang ditekuni, kemudian membayangkan komponen-komponennya. Dalam implementasinya, prosesnya tergantung keunikan setiap anak.
Sebagai contoh dalam bidang memasak seperti yang kakak tanyakan.
Seorang profesional memasak memiliki kapasitas:
- sikap/mental bekerja
- keterampilan bekerja terkait proses
- kualitas karya terkait hasil
SIKAP/MENTAL
Dalam hal sikap kerja, aspek yang perlu diasah pada anak antara lain:
- Ketertarikan, anak dari tidak peduli menjadi peduli, dari tidak tertarik menjadi tertarik, dari tertarik sesekali menjadi suka
- Stamina bekerja (semakin lama semakin kuat bekerja)
- Peduli pada kualitas proses (pra kerja=persiapan bahan & alat kerja, saat bekerja, dan setelah bekerja = membereskan alat kerja)
KETERAMPILAN PROSES
- Keterampilan proses berarti keterampilan menggunakan alat-alat memasak, mulai manual hingga otomati.
- Keterampilan bekerja dengan aman, mulai tanpa pisau tanpa kompor, hingga memasak menggunakan pisau, kompor, dan proses berisiko (misalnya: menggoreng dengan minyak)
- Keterampilan aneka jenis proses memasak: merebus, membakar, menumis, menggoreng, memanggang, dll.
- Keterampilan bekerja dengan prosedur sederhana hingga kompleks.
KUALITAS HASIL
- Yang penting masak dan bisa dimakan
- Memasak dengan rasa enak dan konsisten.
- Memasak dengan penampilan yang baik (memperhatikan penyajian)
Kurang lebih semacam itu prosesnya, kak. Anak tangga itu juga dibuat sesuai kebutuhan, misalnya: yang penting bisa masak untuk bersenang-senang dan masak untuk sendiri. Anak tangga berikutnya memasak untuk keluarga. Anak tangga berikutnya lagi memasak untuk orang banyak/dijual.
Pembuatan anak tangga proses juga dipengaruhi oleh kapasitas orangtua dan ketersediaan alat kerja. Yang penting dilakukan adalah untuk kepentingan diri sendiri (survival) dan berkontribusi pada keluarga.
Jika hendak didorong ke level yang lebih serius (profesional), biasanya membutuhkan alat bantu keahlian dari luar, misalnya anak ikut kursus memasak.
Demikian kak, semoga membantu 🙏
August 29, 2023 at 12:52 am #5027Vera Marsella
MemberSelamat Malam Mas @Aar
Setelah menyimak 2 podcast terakhir di bagian ini bahwa untuk membangun ketekunan dibutuhkan orangtua yang bijaksana. Dimana 2 variabel menjadi orang tua bijaksana itu mendukung dan menuntut. Bagaimana kedua variabel tersebut itu bisa dibangun agar menjadi orangtua bijaksana saat mendampingi anak2 usia dini?khususnya pada variabel menuntut agar bisa melatih anak untuk peduli terhadap kualitas jika melakukan suatu kegiatan/membuat karya. Terbayang jika anak2 sudah masuk usia sekolah misalnya menekuni suatu skill tertentu maka ada standar yang bisa dikejar dan ada standar yang sudah ditentukan dalam suatu program/kegiatannya. Lalu bagaimana untuk anak usia dini, tuntutan seperti apa yang bisa dilakukan kepada anak2 usia dini?saya coba gambarkan berdasarkan pemahaman saya setelah menyimak kedua materi ini adalah saat anak belajar menggunakan tutorial membuat kupu2 dari kertas lipat. Maka standar yang bisa ortu tuntut kepada anak adalah pekerjaan harus diselesaikan, setelah selesai kegiatan kemudian beres2, dokumentasi+refleksi, hasilnya karyanya sama dengan apa yang ada di tutorialnya.
Meski kegiatan tsb masih banyak peran ortu untuk menyelesaikannya. Atau apakah bisa ketika ortu melakukan kegiatan di rumah bisa menjadi standar yang bisa dicontoh oleh anak2 sejak usia dini. Misalnya kegiatan masak. Mulai dari persiapan->beres2 dapurnya.
Mohon dikoreksi jika pemahaman saya mengenai konteks ini masih belum tepat.
Terimakasih
August 29, 2023 at 11:47 am #5024Aar
KeymasterHalo kak @vera-marsella
Proses yang terjadi pada anak usia dini sebagian besar adalah pengenalan. Jadi, ekspektasinya adalah mengenalkan proses dan standar, tapi tidak ada tuntutan atau harapan bahwa anak bisa mengikuti standar proses/hasil yang ditetapkan.
Jika ada standar, prosesnya betul-betul disederhanakan dan disesuaikan dengan kapasitas anak.
Dalam penentuan standar, prinsipnya adalah:
1. Anak belajar melalui pengamatan terhadap proses keseharian yang dilakukan orangtua. Orangtua bisa membangun cerita dan narasi tentang proses/standar kualitas yang dilakukannya. Tapi, orangtua tidak mengharapkan anak melakukannya. Jadi, anak hanya menyerap saja secara pasif.
2. Anak bisa melakukan sebuah bagian pekerjaan/kegiatan sehingga terbangun rasa percaya dirinya
3. Ada tantangan/kesulitan yang masih bisa dilakukan. Di sinilah fungsi pengamatan orangtua dan wisdom untuk membuat tantangan yang selaras dengan kapasitas anak.
Demikian koridornya, kak. Semoga membantu.
🙏
August 30, 2023 at 10:57 pm #5023Vera Marsella
MemberSelamat malam Mas @Aar
Terimakasih atas pencerahannya.
Saya mau mencoba memberikan contoh dari pemahaman saya atas penjelasan Mas Aar. Apakah ini sudah tepat atau belum?
Jadi orang tua bisa menetapkan suatu standar yang sesuai dengan budaya keluarga yah. Kemudian dikenalkan standar tsb kpd anak2 sjk usia dini. Misalnya pertama ,standar kebersihan diri sendiri. Mulai dari cuci tangan dan kaki pakai sabun sehabis main.
Berarti standar ini pun bisa dinaikkan dan diturunkan sesuai kapasitas anak yah Mas?
September 1, 2023 at 9:56 am #5018Aar
KeymasterBetul kak @vera-marsella
Praktik lapangannya seperti yang kakak sampaikan. 👍
September 2, 2023 at 7:48 am #5013Vera Marsella
MemberSiap. Terimakasih Mas Aar🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.