Podcast Tantangan Pembelajar Mandiri

Belajar Parenting Forums Menyiapkan Pembelajar Mandiri Podcast Tantangan Pembelajar Mandiri

  • This topic is empty.
Viewing 12 posts - 1 through 12 (of 12 total)
  • Author
    Posts
  • #4626
    Aar
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #7084
    Anonymous
    Guest

    Mas Aar dan Mbak Lala, bagaimana cara mengajarkan / membiasakan anak untuk terbiasa mengevaluasi pekekerjaannya secara mandiri dan merefleksi diri? Apa langkah awal yang bisa dilakukan oleh orangtua?

    #7081
    Aar
    Keymaster

    Kak Nia,

    Stimulasi refleksi diawali dari pengenalan prosesnya kepada anak melalui pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan oleh orangtua kepada anak.

    Setelah anak mengikuti kegiatan, orangtua terbiasa bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang kegiatan tadi, kak? Apa yang kamu sukai? Apa yang tidak kamu sukai?”

    Setelah anak berkarya, orangtua terbiasa bertanya:
    “Hasilnya bagus nggak menurutmu? Kamu memberikan nilai berapa untuk hasil karyamu itu? Mengapa kamu memberikan nilai itu?”
    “Bagian apa yang sudah bagus dari karyamu? Bagaimana apa yang menurutmu bisa diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya?”

    “Proses apa yang paling berkesan dari kegiatan itu?”
    “Apakah kamu mendapat kesulitan selama mengerjakan proyek? Bagaimana kamu menanganinya?”
    “Apa yang bisa diperbaiki jika kamu nanti melakukan kegiatan itu lagi?”

    Pertanyaan2 tersebut hanya panduan, digunakan secara alamiah dalam percakapan bersama anak-anak. Dari pengalaman semacam ini, anak akan belajar melakukan refleksi.

    Semoga menjawab pertanyaan kak Nia.

    #7076
    Anonymous
    Guest

    Mas Aar, melanjutkan pertanyaan ini, karena tadi dapat jawaban juga saat webinar ,
    kalau misalkan anaknya (5thn 10 bln) ini ngasih nilai 10 untuk pekerjaannya sementara pekerjaannya ya jauh dari 10 gimana respon kita? (Soalnya ini kejadian..) dan menurutnya pekerjaannya itu bagus banget.. apa kita terima saja?

    Terus kalau anaknya kalau dikasih saran itu suka baper, padahal dikasih tau dengan senetral mungkin. Misal pas gambar,
    “Kalau menurut Bunda, ini telinganya terlalu atas, kan kalau kita ikat rambut aslinya juga jaraknya ga terlalu jauh.. menurut kamu gimana?” Mukanya biasanya langsung berubah jadi bete

    Apa respon saya kayak gini udah tepat?

    #7075
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Nia,

    Jika anak “memperpermainkan” angka dengan memberikan penilaian sesukanya, maka Anda tidak perlu menggunakan angka. Langsung masuk pada susbtansi yang dituju:
    ~ anak bisa mengapresiasi dirinya: “Apa yang sudah bagus dari karya yang kamu buat?”
    ~ anak bisa mengenali kekurangannya dan siap memperbaikinya di waktu lain: “Apa yang perlu dan bisa ditingkatkan kualitasnya?”

    Jika anak tidak mengerti, maka Anda bisa memberikan contoh dengan memberikan penilaian 8 atau 9 dan menjelaskan mengapa Anda memberikan nilai tersebut (apa yang sudah bagus dan apa yang perlu/bisa ditingkatkan). Lakukan itu beberapa kali sehingga anak memahami ekspektasi yang diharapkan darinya.

    Karakter anak memang beragam dan penting bagi kita untuk mengembangkan kekuatan anak dan pada saat bersamaan mencoba menggunakan cara yang paling sesuai dengan anak agar tujuan yang diharapkan tercapai.

    Berkaitan dengan cara, biasa kami berdiskusi dengan pasangan. “Anak kita yang ini lebih mirip siapa sifatnya?”
    Jika lebih dekat ke saya, saya yang akan lebih berperan untuk menangani. Jika lebih mirip pasangan, dia yang lebih berperan untuk mencari penanganan yang sesuai dengan karakternya.

    Tentang pemberian feedback, ada beberapa prinsip yang mungkin bisa digunakan:
    ~ selalu mulai dengan apresiasi dan lakukan apresiasi dengan tajam, terutama pada effort dan aspek khusus yang sudah berkembang (dibandingkan sebelumnya). “Bagian xxx sudah jauh lebih bagus dibandingkan sebelumnya. Sebelumnya xxx, sekarang menjadi xxxx.”
    ~ jika kita sendiri tidak menguasai kegiatan yang dilakukan anak (misalnya menggambar), kita perlu lebih hati-hati saat memberikan masukan.
    ~ gunakan pertanyaan dan canda untuk memberikan masukan jika anak sensitif terhadap masukan secara langsung. “Ini kakak memang sengaja ya kupingnya dibuat jauh begini? Jadi seperti apa yaa… hehehe.. ”
    ~ atau, berikan contoh langsung supaya anak memahami apa yang perlu dilakukannya. “Eh kak, coba kalau kupingnya dibuat seperti ini, kayaknya seru lho.. ” Lalu Anda menggambar juga dan memberikan contoh.

    Semoga membantu.

    #7072
    Anonymous
    Guest

    Terimakasih Mas Aar. Jadi mungkin ada kegiatan rutin yang setiap hari, lalu ada kegiatan yang berbeda setiap hari ya. Terima kasih.

    #7071
    Anonymous
    Guest

    haha. ide bagus, Mas. Terimakasih banyak ya. Ini saya lagi menata kehidupan lagi, kelas-kelasnya sangat membantu sekali.

    #7070
    Anonymous
    Guest

    Halo Mas Aar, saya sedang melihat halaman membangun kebiasaan baik/printable dan mempunyai pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan check list harian? Terimakasih banyak.

    #7069
    Aar
    Keymaster

    Kak Ratnasari,

    Checklist harian = daftar kegiatan yang akan dikerjakan hari itu.

    Misalnya:
    Hari ini saya ada kegiatan:
    ~ Jalan pagi
    ~ Yoga
    ~ Menemani Duta belajar math
    ~ Jawab forum
    ~ Posting di Instagram
    ~ Bikin modul
    ~ dll

    Nah, jadwal itu biasanya dibuat malam hari atau usai bangun tidur. Proses ini membuat hari lebih terang dan sehari-hari jadi lebih fokus. Setiap pencapaian yang diselesaikan dan ditandai membuat bahagia dan menciptakan spiral positif dalam keseharian.

    #7068
    Aar
    Keymaster

    Betul sekali mbak Ratnasari,

    Biasanya dalam checklist keseharian ada kegiatan rutin + kegiatan baru. Kalau saya, yang penting dituliskan semua biar tidak lupa. Termasuk yang mungkin dianggap sepele dan kecil-kecil.

    Setiap kali mencentang kegiatan yang direncanakan selalu bikin bahagia. Apalagi saat malam melihat semua atau sebagian besar tercentang. Itu bikin tidur jadi lebih nyenyak, hehehe

    #5683

    tentang inisiatif, sejauh mana ortu boleh “mengatur” anak, karena terkadang kami masih merasa perlu berperan dalam aktivitasnya, karena kalau ga dibantu diingatkan, ga dikerjakan. apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan ortu agar anak tidak terkubur inisiatifnya.

    #4943

    Terima kasih Mas Aar. atas Penjelasan ini: “Karakter anak memang beragam dan penting bagi kita untuk mengembangkan kekuatan anak dan pada saat bersamaan mencoba menggunakan cara yang paling sesuai dengan anak agar tujuan yang diharapkan tercapai.

    Berkaitan dengan cara, biasa kami berdiskusi dengan pasangan. “Anak kita yang ini lebih mirip siapa sifatnya?”
    Jika lebih dekat ke saya, saya yang akan lebih berperan untuk menangani. Jika lebih mirip pasangan, dia yang lebih berperan untuk mencari penanganan yang sesuai dengan karakternya.”.

    Telat baca QnA ini….. tapi jadi lebih paham dan tau alasannya.

Viewing 12 posts - 1 through 12 (of 12 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top