Belajar Parenting › Forums › Menyiapkan Pembelajar Mandiri › Podcast Tantangan Pembelajar Mandiri
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 25, 2019 at 9:02 am #4626
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
November 18, 2020 at 6:29 am #7084Anonymous
GuestMas Aar dan Mbak Lala, bagaimana cara mengajarkan / membiasakan anak untuk terbiasa mengevaluasi pekekerjaannya secara mandiri dan merefleksi diri? Apa langkah awal yang bisa dilakukan oleh orangtua?
November 19, 2020 at 3:26 pm #7081Aar
KeymasterKak Nia,
Stimulasi refleksi diawali dari pengenalan prosesnya kepada anak melalui pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan oleh orangtua kepada anak.
Setelah anak mengikuti kegiatan, orangtua terbiasa bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang kegiatan tadi, kak? Apa yang kamu sukai? Apa yang tidak kamu sukai?”
Setelah anak berkarya, orangtua terbiasa bertanya:
“Hasilnya bagus nggak menurutmu? Kamu memberikan nilai berapa untuk hasil karyamu itu? Mengapa kamu memberikan nilai itu?”
“Bagian apa yang sudah bagus dari karyamu? Bagaimana apa yang menurutmu bisa diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya?”“Proses apa yang paling berkesan dari kegiatan itu?”
“Apakah kamu mendapat kesulitan selama mengerjakan proyek? Bagaimana kamu menanganinya?”
“Apa yang bisa diperbaiki jika kamu nanti melakukan kegiatan itu lagi?”Pertanyaan2 tersebut hanya panduan, digunakan secara alamiah dalam percakapan bersama anak-anak. Dari pengalaman semacam ini, anak akan belajar melakukan refleksi.
Semoga menjawab pertanyaan kak Nia.
November 28, 2020 at 6:40 pm #7076Anonymous
GuestMas Aar, melanjutkan pertanyaan ini, karena tadi dapat jawaban juga saat webinar ,
kalau misalkan anaknya (5thn 10 bln) ini ngasih nilai 10 untuk pekerjaannya sementara pekerjaannya ya jauh dari 10 gimana respon kita? (Soalnya ini kejadian..) dan menurutnya pekerjaannya itu bagus banget.. apa kita terima saja?Terus kalau anaknya kalau dikasih saran itu suka baper, padahal dikasih tau dengan senetral mungkin. Misal pas gambar,
“Kalau menurut Bunda, ini telinganya terlalu atas, kan kalau kita ikat rambut aslinya juga jaraknya ga terlalu jauh.. menurut kamu gimana?” Mukanya biasanya langsung berubah jadi beteApa respon saya kayak gini udah tepat?
November 29, 2020 at 3:40 pm #7075Aar
KeymasterHalo kak Nia,
Jika anak “memperpermainkan” angka dengan memberikan penilaian sesukanya, maka Anda tidak perlu menggunakan angka. Langsung masuk pada susbtansi yang dituju:
~ anak bisa mengapresiasi dirinya: “Apa yang sudah bagus dari karya yang kamu buat?”
~ anak bisa mengenali kekurangannya dan siap memperbaikinya di waktu lain: “Apa yang perlu dan bisa ditingkatkan kualitasnya?”Jika anak tidak mengerti, maka Anda bisa memberikan contoh dengan memberikan penilaian 8 atau 9 dan menjelaskan mengapa Anda memberikan nilai tersebut (apa yang sudah bagus dan apa yang perlu/bisa ditingkatkan). Lakukan itu beberapa kali sehingga anak memahami ekspektasi yang diharapkan darinya.
Karakter anak memang beragam dan penting bagi kita untuk mengembangkan kekuatan anak dan pada saat bersamaan mencoba menggunakan cara yang paling sesuai dengan anak agar tujuan yang diharapkan tercapai.
Berkaitan dengan cara, biasa kami berdiskusi dengan pasangan. “Anak kita yang ini lebih mirip siapa sifatnya?”
Jika lebih dekat ke saya, saya yang akan lebih berperan untuk menangani. Jika lebih mirip pasangan, dia yang lebih berperan untuk mencari penanganan yang sesuai dengan karakternya.Tentang pemberian feedback, ada beberapa prinsip yang mungkin bisa digunakan:
~ selalu mulai dengan apresiasi dan lakukan apresiasi dengan tajam, terutama pada effort dan aspek khusus yang sudah berkembang (dibandingkan sebelumnya). “Bagian xxx sudah jauh lebih bagus dibandingkan sebelumnya. Sebelumnya xxx, sekarang menjadi xxxx.”
~ jika kita sendiri tidak menguasai kegiatan yang dilakukan anak (misalnya menggambar), kita perlu lebih hati-hati saat memberikan masukan.
~ gunakan pertanyaan dan canda untuk memberikan masukan jika anak sensitif terhadap masukan secara langsung. “Ini kakak memang sengaja ya kupingnya dibuat jauh begini? Jadi seperti apa yaa… hehehe.. ”
~ atau, berikan contoh langsung supaya anak memahami apa yang perlu dilakukannya. “Eh kak, coba kalau kupingnya dibuat seperti ini, kayaknya seru lho.. ” Lalu Anda menggambar juga dan memberikan contoh.Semoga membantu.
December 15, 2020 at 9:10 am #7072Anonymous
GuestTerimakasih Mas Aar. Jadi mungkin ada kegiatan rutin yang setiap hari, lalu ada kegiatan yang berbeda setiap hari ya. Terima kasih.
December 15, 2020 at 11:59 am #7071Anonymous
Guesthaha. ide bagus, Mas. Terimakasih banyak ya. Ini saya lagi menata kehidupan lagi, kelas-kelasnya sangat membantu sekali.
December 15, 2020 at 12:12 pm #7070Anonymous
GuestHalo Mas Aar, saya sedang melihat halaman membangun kebiasaan baik/printable dan mempunyai pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan check list harian? Terimakasih banyak.
December 15, 2020 at 3:27 pm #7069Aar
KeymasterKak Ratnasari,
Checklist harian = daftar kegiatan yang akan dikerjakan hari itu.
Misalnya:
Hari ini saya ada kegiatan:
~ Jalan pagi
~ Yoga
~ Menemani Duta belajar math
~ Jawab forum
~ Posting di Instagram
~ Bikin modul
~ dllNah, jadwal itu biasanya dibuat malam hari atau usai bangun tidur. Proses ini membuat hari lebih terang dan sehari-hari jadi lebih fokus. Setiap pencapaian yang diselesaikan dan ditandai membuat bahagia dan menciptakan spiral positif dalam keseharian.
December 15, 2020 at 3:41 pm #7068Aar
KeymasterBetul sekali mbak Ratnasari,
Biasanya dalam checklist keseharian ada kegiatan rutin + kegiatan baru. Kalau saya, yang penting dituliskan semua biar tidak lupa. Termasuk yang mungkin dianggap sepele dan kecil-kecil.
Setiap kali mencentang kegiatan yang direncanakan selalu bikin bahagia. Apalagi saat malam melihat semua atau sebagian besar tercentang. Itu bikin tidur jadi lebih nyenyak, hehehe
January 29, 2023 at 2:29 pm #5683Nongki Sakinah
Membertentang inisiatif, sejauh mana ortu boleh “mengatur” anak, karena terkadang kami masih merasa perlu berperan dalam aktivitasnya, karena kalau ga dibantu diingatkan, ga dikerjakan. apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan ortu agar anak tidak terkubur inisiatifnya.
November 24, 2023 at 12:47 pm #4943Mira wulandari
MemberTerima kasih Mas Aar. atas Penjelasan ini: “Karakter anak memang beragam dan penting bagi kita untuk mengembangkan kekuatan anak dan pada saat bersamaan mencoba menggunakan cara yang paling sesuai dengan anak agar tujuan yang diharapkan tercapai.
Berkaitan dengan cara, biasa kami berdiskusi dengan pasangan. “Anak kita yang ini lebih mirip siapa sifatnya?”
Jika lebih dekat ke saya, saya yang akan lebih berperan untuk menangani. Jika lebih mirip pasangan, dia yang lebih berperan untuk mencari penanganan yang sesuai dengan karakternya.”.Telat baca QnA ini….. tapi jadi lebih paham dan tau alasannya.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.