Belajar Parenting › Forums › Strategi Belajar Homeschooling › Podcast Anak-anak dan Dunia Game
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 24, 2019 at 12:01 pm #4649
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
September 21, 2021 at 2:50 pm #6795Aar
KeymasterHalo kak Febi,
Terima kasih atas informasi tambahan yang diberikan.
Yang menarik dari proses interaksi orangtua bersama anak, anak-anak selalu tahu berusaha mencari cara untuk mendapatkan keinginannya dan mereka tahu hal-hal yang menjadi keterbatasan orangtua. Sebagai contoh, anak tahu bahwa Ibunya akan mengalah dan memberikan gadget jika dia mengganggu adik. Pola semacam ini dikenali olehnya.
Masalah pemakaian game dan gangguan terhadap adik perlu ditangani secara terpisah.
Ada keluarga yang melakukan pendekatan drastis dengan mencabut gawai sama sekali dari anak. Pada awalnya anak tantrum. Tapi karena orangtua bersikeras, anak akhirnya luluh dan mengikuti kegiatan tanpa game.
Pendekatan kedua lebih moderat, melakukan secara bertahap.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
1. Teguhkan peran orangtua sebagai pemimpin
Pastikan Anda lebih cerdas daripada anak, hehehe.. dan tentu saja jangan bertindak karena diancam oleh anak.2. Sediakan alat berkegiatan mandiri
Sediakan alternatif kegiatan pada anak selain game. Sediakan balok, kertas, alat gambar, dll. Ajak dan biasakan anak melakukan kegiatan memakai alat2 tersebut. Minta anak bermain mandiri memakai alat tersebut jika Anda sedang ada keperluan.Sebagai substitusi game, Anda bisa menyediakan film anak berbahasa Inggris. Walaupun tidak terlalu ideal, minimal anak belajar bahasa Inggris dari tontonannya.
3. Buat aturan main dan tegakkan
Buat aturan main terkait game. Berikan pengingat dengan alarm 5 menit sebelum waktu main game habis, 3 menit, dan saat waktu benar2 habis. Ajari dia tanda-tanda alarm itu. Jika sudah habis, ambil gadget tanpa perlu marah-marah. Tegakkan aturan ini tanpa kompromi. Jika anak mengancam dengan menangis dan merengek, jelaskan padanya bahwa tindakan semacam itu justru bisa membuat jatah main game-nya dikurangi.Termasuk aturan yang perlu dibuat dan dijelaskan pada akak adalah jika dia mengganggu adik, jatah main game-nya dikurangi bahkan bisa dicabut. Jika kakak bersikap baik dan bisa mandiri, dia akan mendapatkan jatah tambahan game.
4. Kurangi durasi main game secara bertahap
Secara bertahap, perbanyak kegiatan offline dan tanpa gawai sehingga anak tahu bahwa ada alternatif kegiatan lain selain game.Demikian kak, semoga membantu.
September 21, 2021 at 6:53 pm #6794Anonymous
GuestTerimakasih mas Aar penjelasannya Sangat celas sekali,dan berdasarkan penjelasan mas aar Anak saya sudah Masuk ke negatif dengan gamenya usianya mesih 5 tahun, jadi harus selalu di ingatkan jika sudah melebihi jam jatah mainnya. Sebenarnya saya juga sudah mengajaknya bermain, cuma ketika saya mengerjakan pekerjaan domestik, menemani belajar kakao dan adiknya selalu larinya ke game. jadi kadang saya serba salah karena kalau tidak maen game dia sil gangguin adiknya terus sampai sayapun tidak bisa mengerjakan hal lain karena harus ngawasin mereka. Sebaiknya saya bagaimana ya mas Aar jira seperti ini?
September 27, 2021 at 6:55 am #6792Anonymous
Guestterimakasih kak tipsnya, no. 2 ssh, no 3 yang blm teak karena saya memang terkadang menyerah di saat si tengah terus minta berkompromi, soalnya Menurut saya si tengah ini punya banyak strategi agar keinginannya tercapai minimal jika tidak tercapai mamaanya jg harus menghentikan pekerjaannya untuk menemaninya
, dan terkadang saya yang kewalahan. notes kak orangtua harus lebih cerdas dari anak dalam hal ini.September 27, 2021 at 3:28 pm #6790Aar
KeymasterSangat dimengerti kak Febi,
Tantangan yang sering dialami oleh orangtua di lapangan adalah membuat aturan main dan menegakkannya.
Mengapa perlu dibuat aturan main yang disepakati?
Supaya drama dengan anak berkurang. Anak juga tahu koridor dan aturan main yang harus diikutinya. Dengan adanya aturan main, ada ekspektasi yang sama yang mengikat orangtua dan anak.
Dalam membuat aturan pastikan sederhana dan tidak berubah-ubah. Jelaskan pada anak alasan aturan itu dibuat dengan bahasa sederhana. Pastikan anak mengerti.
Nah, setelah itu adalah proses penegakannya. Semakin konsisten dan dilakukan tanpa emosi (tidak ada teriakan atau bentakan), semakin efektif aturan itu untuk membangun pola perilaku anak.
Semangat ya kak.. saya percaya kak Febi lebih cerdas dan bisa membuat argumentasi yang lebih kuat daripada anak.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.