Manajemen Orangtua Homeschooling

Belajar Parenting Forums Manajemen Keseharian Homeschooling Manajemen Orangtua Homeschooling

  • This topic is empty.
Viewing 9 posts - 1 through 9 (of 9 total)
  • Author
    Posts
  • #4659
    Aar
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #6966
    Anonymous
    Guest

    Mas Aar, Mbak Lala terima kasih untuk materi2nya yg samgat positif. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana jika suatu materi kita nilai penting (misal matematika), tetapi anak seperti trauma pd matematika akibat pengalaman di sekolah formal?

    #6961
    Aar
    Keymaster

    Kak Lis,

    Kalau dalam pengamatan Anda, kira2 apa penyebab trauma anak?

    Apakah karena konten matematikanya? Cara guru mengajarkan? Pengalaman buruk terkait belajar/hasil matematika?

    Ini yang perlu dikenali.

    Biasanya penyebab trauma bukan pada konten matematikanya, tetapi pada pengalaman belajar yang buruk mulai: hafalan, penghakiman, tekanan, dipermalukan, dll.

    Jika problemnya adalah di cara, maka Anda perlu mencari pintu-pintu masuk untuk proses belajar matematika yang sesuai dengan anak dan tidak menakutkannya.

    Yang pertama, turunkan ekspektasi
    Jangan memaksa anak melakukan proses belajar yang traumatis. Tentukan tujuan praktis belajar matematika, misalnya: agar tidak ditipu saat bertransaksi. Tidak semua materi perlu dipelajari. Diskusikan bersama anak agar anak & Anda merasa tenang.

    Yang kedua, masuk secara ringan
    Kenali minat anak dan kebutuhan anak, cari hubungannya dengan matematika. Misalnya, proses belajar matematika dimulai dengan matematika uang. Stimulasi proses belajar matematika dengan matematika uang sehingga anak mengetahui hubungan antara matematika dengan dunia nyata.

    Lakukan proses belajar dengan mengobrol dan tebak-tebakan.

    Yang ketiga, temukan media yang cocok
    Cari cara belajar yang cocok dengan anak apakah dengan benda fisik, video, dan sebagainya. Lakukan proses belajar secara bertahap hingga secara perlahan anak berkurang ketakutannya pada matematika.

    Ada anak yang senang belajar matematika sambil jalan di lapangan, anak harus dapat contoh riil penggunaannya. Ada yang senang menggunakan game.

    Anda bisa coba game matematika di sini: https://www.hoodamath.com/

    Semoga membantu.

    #6894
    Anonymous
    Guest

    Assalamualaikum saya sasti.. Sejauh ini saya n suami sudah membuat visi misi pendidikan. Apakah sebagai orang tua hs perlu juga membuat silabus, kompetensi umum, dasar dll sebagai perangkat kita sbg fasilitator? Kalo dari pengalaman mbak lala kurikulum apa yg mbak lala pakai dan perangkat pendidikan mbak sebagai fasilitator apa saja?

    #6892
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Prasasti,

    Semua alat fungsinya adalah sebagai pembantu untuk membuat tujuan tercapai dan pelaksanaan berjalan lancar. Jadi, silakan dipilih sesuai kondisi.

    Secara umum, visi pendidikan itu bermanfaat untuk menjadi pedoman arah keluarga homeschooling. Mengapa? Karena pelaksanaan homeschooling bukan hanya mengikuti kurikulum seperti sekolah. Setiap keluarga bisa mengembangkan aspek-aspek unik untuk anaknya.

    Jika di sekolah model belajarnya 95% akademis dan 5% non-akademis (sebagai perbandingan kasar), dalam homeschooling orangtua bisa mengatur sendiri proporsinya, misalnya: 70% akademis, 30% non-akademis. Atau justru dibalik, 5% akademis, 95% non-akademis.

    Untuk alasan kepraktisan, keluarga HS biasanya tak menurunkan visi pendidikan sampai detil KU/KD seperti di sekolah. Mengapa? Karena keluarga HS pada umumnya bukan guru, jadi yang penting tahu arah dan bisa menjalaninya. Tapi bukan berarti bikin KU/KD tidak boleh. Boleh-boleh saja dirasa itu membantu, bukan memberatkan.

    Keluarga kami menggunakan model HS Eclectic berbasis unschooling. Keluarga kami 5% akademis, 95% pengembangan life skills dan potensi anak. Anak2 belajar matematika dan bahasa Inggris, selain itu kegiatannya pengembangan diri sesuai minatnya. Untuk keperluan rapor dan ijazah, kami ikut saja petunjuk dari PKBM tapi anak2 tidak belajar secara khusus seperti anak sekolah.

    Demikian kak, semoga menjawab.

    #6867
    Anonymous
    Guest

    assalamualaikum saya sasti ibu dari putri 6 tahun. saya mulai membiasakan bertanya pd anak tiap mau tdr mlm mau kegiatan apa besok. kadang ank saya punya ide n kalo gak ada ide saya yg carikan kegiatan. kegiatan bisa macam2, membuat kue, melihat serangga d lapangan, membuat project family tree atau membuat maket rumah. tapi belakangan saya gampang lelah karena hamil. sehingga saya tidak bisa berkegiatan dg anak sehingga anak gak ngapa2in. apa ada tips untuk saya sbg fasil agar bisa mendampingi anak dlm kondisi mudah lelah skrg ini agar anak tetap dlm situasi belajar

    #6864
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Halo kak Prasasti,

    Selamat untuk kehamilannya yaa.. semoga kakak selalu sehat dan proses kehamilan berlangsung lancar.

    Kondisi kelelahan yang kakak alami sangat dimengerti, kak. Kondisi ini bisa menjadi pintu untuk proses belajar anak berempati dan mengembangkan kemandiriannya.

    1. Libatkan anak
    Jangan menanggung sendiri semua proses anak. Libatkan anak dan jadikan kondisi ini sebagai momentum belajar bersama. Belajar bagi anak juga tak harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat.

    2. Mulai dengan dialog
    Obrolkan dan empatikan kondisi Anda pada anak. Tawarkan anak untuk membantu. Berempati adalah sebuah proses belajar yang penting dipelajari anak.

    “Kak, Bunda saat ini sudah semakin gampang capek karena adik sudah mau lahir. Bunda sangat berterima kasih kalau kakak bisa bantuin Bunda. Kakak mau nggak bantuin jadi asisten Bunda?”
    “Bantu apa Bunda?”
    “Macam-macam, yang pasti kakak bisa; misalnya mengambilkan sesuai, membantu memasak, dl.. [jelaskan kebutuhan Anda yang kira2 bisa dilakukan anak]…”

    3. Sediakan alat bantu untuk anak
    Kenali pola kegiatan harian anak. Lihat kegiatan yang bisa dilakukannya secara mandiri atau butuh sedikit bantuan. Sediakan alat bantu untuk anak berkegiatan, misalnya: aneka jenis kertas, gunting, lem, aneka pensil, balok, dsb (sesuai kesukaan anak). Anda juga bisa print worksheet yang sesuai dengan usia anak.

    Diskusikan pada anak tentang hal yang bisa dilakukan. Jika dibutuhkan, berikan contoh pada awal. Setelah itu dorong anak melakukannya sendiri.

    “Kak, Bunda sedang kurang enak badan. Kakak boleh berkegiatan bebas. Kakak bisa pakai kertas untuk menggambar atau mengerjakan worksheet yang sudah Bunda sediakan di situ yaa… Nanti kalau kakak sudah bikin, kakak tunjukin ke Bunda ya….”

    Saat anak menunjukkan karyanya, apresiasi dan puji kemandiriannya dan inisiatifnya. Ini yang utama untuk meneguhkan inisiatif kakak.

    4. Alat online
    Jika keluarga Anda terbiasa menggunakan alat online sebagai alat bantu, manfaatkan. Misalnya menonton video Youtube (yang disepakati). Kemudian minta anak untuk bercerita yang ditontonnya. Atau menggunakan aplikasi lain, misalnya Reading Eggs dan IXL Math (berbayar).

    5. Kegiatan bersama
    Tetap lakukan kegiatan bersama yang masih mungkin Anda lakukan bersama, misalnya: jalan pagi, membacakan buku (read aloud). Jangan lupa melibatkan pasangan untuk terlibat menemani anak berkegiatan.

    Demikian kak, semoga membantu.

    #4756
    Astri
    Member

    Wah nemu harta karun alhamdulillah lagi diposisi ini mas, tapi kalo anak saya lebih ke ter transfer “gak suka” matematikanya karena cara saya saat menemani proses anak mengerjakan tugas2 matematika dari PKBM nya mas Aar, jadi kesalahan ada di diri saya ini, tapi lihat jawaban mas Aar ini saya jadi tercerahkan kembali untuk kembali mencoba membersamai anak saat mengerjakan soal2 matematika dari PKBMnya 😁🙏 makasih mas

    #4753
    Aar
    Keymaster

    Selamat melanjutkan proses mendampingi anak-anak, kak @astri-mayasari… salah satu proses menantang dalam homeschooling adalah mencari pendekatan/cara yang sesuai dengan kondisi lapangan sehingga tujuan tercapai (kebutuhan orangtua) dan anak menikmati (kebutuhan anak).

    🙏🔥

Viewing 9 posts - 1 through 9 (of 9 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top