Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Sekolah › Evaluasi & Manajemen Keseharian Homeschooling
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 22, 2019 at 7:20 pm #4674
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
March 31, 2021 at 8:42 am #6924Aar
KeymasterKak Nana,
Untuk proses mengikuti Ujian Paket, proses utamanya adalah Anda harus mendaftarkan anak di PKBM sejak sekarang (tidak bisa nanti menjelang ujian).
Untuk pembuatan rapor, setiap PKBM punya kebijakan yang berbeda-beda. Yang bisa kita lakukan adalah mengikuti aturan/panduan yang dibuat PKBM. Cari PKBM yang fleksibel sehingga proses pembuatan rapor dan kegiatannya tidak memberatkan dalam proses HS.
Ada PKBM yang mengambil nilai dari proses mengejarkan Setara Daring, mengerjakan tes dari PKBM, kehadiran saat tutorial, portofolio kegiatan, dll.
Pastikan Anda berkonsultasi dengan PKBM tempat bernaung anak tentang proses pembuatan rapor anak ini.
March 31, 2021 at 11:29 am #6923Anonymous
GuestAssalamu alaikum
Mas Aar,kami berencana mengikutkan kakak ujian paket B dan syaratnya harus ada rapor.Nah rapor pasti terstruktur dan jelas matpelnya,ini gimana yaa evaluasi dan cara menyusunnya?
Terima kasihOctober 27, 2021 at 5:32 pm #6772Anonymous
GuestSelamat sore kak Lala dan Pak Aar.
Saya memulai HS di awal tahun ini, anak saya di umur 8 tahun (saat kelas 2 SD)
sangat sulit bagi saya mengatur dia untuk belajar.
Seringkali dia selalu berstrategi kalau disuruh belajar.
Saya sudah berulang kali mengobrak abrik pola belajar. Belajar pagi, siang atau sore
Saya sudah beri waktu main dulu atau belajar dulu
Sebelumnya saya sudah jelaskan apa itu HS
Dan dia setuju, apa bila saya katakan dia ke Sekolah dia keberatan.
Apa yg harus saya lakukan Pak
Apakah karena dia pernah terpapar sekolah
Dan memang kami tinggal dilingkungan anak2 yang semuanya sekolah, pemukiman warga bukan komplek .
Sehingga kalau sudah siang dia terdistraksi untuk main
Mulai besok saya bersepakat dengan dia jadual sesuai dengan jadual sekolah tapi saya tidak tahu bagaimana nanti, karena dia harus bangun pagi2.
Mohon masukannya pak.
Terimakasih.October 27, 2021 at 5:34 pm #6771Anonymous
GuestUntuk belajar Reading Eggs atau Khan Academy memang sesuai mood, kalau ingat dikerjain. Apakah diusia begini semua proses didampingi, Dan untuk belajr K13 sulit sekali.
October 28, 2021 at 8:43 am #6770Aar
KeymasterHalo kak Evry,
Terima kasih pertanyaannya.
Problem yang Anda alami tidak asing dan sering dialami oleh para orangtua yang baru memulai homeschooling.
Mengapa?
Karena ada asumsi dan ekspektasi yang kurang tepat terkait homeschooling dibandingkan pengalaman anak bersekolah sebelumnya.
Banyak yang membayangkan bahwa memindahkan anak dari sekolah ke homeschooling adalah serupa dengan memindahkan dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Padahal, homeschooling dan sekolah adalah 2 sistem yang sangat berbeda.
Orangtua berharap anak bisa membuat jadwal dan kesepakatan, menaati jadwal yang sudah dibuat, orangtua membelikan buku atau materi belajar, belajar secara mandiri tanpa pendampingan orangtua, anak berinisiatif dan menikmati proses kesehariannya.
Itu harapannya.
Kenyataannya:
~ anak merasa sedang liburan
~ anak hanya tertarik bermain, nonton, dan main game
~ anak tidak tertarik belajar
~ anak tidak punya inisiatif
~ anak tidak bisa menjawab apa yang ingin dipelajari (karena dia tidak suka semua materi belajarnya)
~ anak tidak mengikuti jadwal dan kesepakatan yang dibuat
~ anak harus terus diingatkan untuk belajarIni kondisi yang sering dialami oleh para orangtua HS dan memang beginilah yang biasa terjadi. Jika kak Evry mengalaminya, kakak tidak sendirian.
Isunya bukan hanya tentang pembuatan jadwal, tetapi lebih mendasar. Ini tentang perbedaan tujuan2 dan cara kerja HS dibandingkan sekolah. Selama kakak tidak mengubah mindset tentang homeschooling, problem ini akan terus terjadi.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Jangan memindahkan sekolah ke rumah
Ini pesan paling mendasar yang ingin saya sampaikan di awal. Sekolah dirancang untuk fokus mendorong anak menguasai materi (konten) belajar dan mensyaratkan harus ada guru. Anak dipaksa mengikuti jadwal dan materi belajar yang dianggap penting, tidak peduli apakah anak suka atau tidak suka. Hubungan sekolah/guru dan anak bersifat formal, anak mau tidak mau harus menurut.Jika Anda memindahkan model sekolah ke rumah, kemungkinan kegagalannya sangat besar karena suasana di rumah informal. Anak selalu melakukan negosiasi bersama orangtua. Materi pelajaran yang ada di buku tidak menarik dan korelasinya dengan hidup anak sangat sedikit. Anak tidak pernah diminta inisiatif sehingga dia tidak terampil berinisiatif, membuat jadwal, dan berkomitmen. Anak juga tidak bisa belajar sendiri karena selama ini selalu “disuapi”. Dia hanya perlu datang dan buku mulut; semua materi belajar sudah disiapkan oleh guru dan disuapkan kepadanya.
Modifikasi minimal ala sekolah
Jika kakak tetap ingin menggunakan model sekolah (karena ini satu-satunya model yang terbayang dan pernah dialami), maka tugas kakak adalah mencarikan guru untuk anak. Guru itu bisa Anda sendiri, tempat les, atau guru privat. Fungsinya adalah mengajari.Modifikasi cara belajar
Jika Anda siap untuk berproses lebih lanjut dalam homeschooling, maka Anda mulai mencari cara belajar yang lebih cocok dengan konteks rumah/keluarga dan lebih cocok dengan anak. Tujuannya tetap menguasai konten, tapi metode belajarnya diubah. Ini berarti Anda mulai memakai pola belajar tematik, project-based learning, game-based learning (materinya ada di kelas Strategi Belajar Homeschooling).Termasuk modifikasi cara belajar adalah mulai memakai aplikasi belajar, misalnya Reading Eggs, Khan Academy, dll. Untuk proses ini, peran aktif orangtua masih sangat krusial. Yang memimpin proses belajar adalah orangtua. Anak masih butuh pendampingan besar dari orangtua, tidak bisa dilepas begitu saja, terutama di masa awal sampai anak mendapatkan pola belajarnya.
Modifikasi tujuan
Jika Anda siap menyelami homeschooling lebih dalam, Anda bisa mengubah tujuan2 pendidikan. Sekolah itu sangat akademis. Kegiatan non-akademis hanya sebagai tambahan. Padahal, hidup bukan hanya urusan akademis. Keberhasilan tak hanya ditentukan dengan urusan akademis. Pemain bola, penari, penyanyi, fotografer, dll adalah contoh profesi2 yang tidak terkait secara intens dengan keberhasilan akademis.Nah, homeschooling memungkinkan kita memodifikasi tujuan. Anda bisa mengatur porsi akademis dan pengembangan diri, dari 100% akademis (sekolah); menjadi proporsi2 lain sesuai visi pendidikan Anda, misalnya:
~ 70% akademis, 30% pengembangan diri
~ 50% akademis, 50% pengembangan diri
~ 20% akademis, 80% pengembangan diriDi keluarga kami, polanya adalah 10% akademis dan 90% pengembangan diri.
Apa itu kegiatan pengembangan diri?
Pengembangan diri berarti pengembangan minat dan bakat, pengembangan keahlian, pengembangan keterampilan dasar, pengembangan soft skills, dan lain-lain (yang tidak terkait langsung dengan pelajaran/akademis). Contohnya, Duta menekuni catur dan Tata menekuni dunia grafis.
Jika akademis 10%, itu berarti alokasi waktu belajar akademis tidak banyak. Yang penting anak lulus ujian Paket, tidak punya target nilai. Seandainya tidak punya ijazah Paket bagi kami juga tidak apa-apa.
Modifikasi pola-pola belajar
Jika Anda mau lebih mendalam lagi memanfaatkan homeschooling, Anda bisa mengintegrasikan homeschooling dengan kehidupan. Kegiatan belajar diintegrasikan dengan kehidupan keluarga. Misalnya: anak terlibat aktif dalam urusan rumah tangga, belajar keterampilan yang sesuai dengan bisnis keluarga dan pola2 keseharian keluarga. Orangtua yang berprofesi peternak memanfaatkan kegiatan beternak sebagai kegiatan belajar anak, pebisnis online menggunakan bisnis online sebagai materi belajar anak.Ada juga keluarga yang memilih travelschooling, belajar dengan travelling.
Nah, variasi homeschoolingnya bisa sangat lebar dan bentuk2nya sangat berbeda dibandingkan model sekolah.
Demikian kak, semoga jawaban ini membantu kakak memetakan kondisi homeschooling yang sedang kakak hadapi.
October 28, 2021 at 8:44 am #6769Aar
KeymasterKak Evry,
Di usia berapapun, proses pengenalan metode dan alat belajar baru perlu disertai dengan pendampingan. Apalagi kalau anak baru menjalani homeschooling dan selama ini terbiasa disuapi dalam proses belajarnya.
Tugas orangtua mendampingi dan memastikan anak tahu yang dilakukan. Jika anak sudah tahu yang dilakukan, orangtua memastikan selalu ada dan membantu jika anak mengalami kesulitan.
Untuk menata pola keseharian, orangtua memastikan anak terbiasa menggunakan alat belajar seperti Reading Eggs dan Khan Academy secara teratur (dengan pendampingan penuh orangtua). Itu berarti, kegiatannya dijadwalkan dan didampingi.
Demikian, semoga membantu.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.