eBook Manajemen Keseharian Homeschooling

Belajar Parenting Forums Manajemen Keseharian Homeschooling eBook Manajemen Keseharian Homeschooling

  • This topic is empty.
Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 20 total)
  • Author
    Posts
  • #4678
    Mira Julia
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #7185
    Anonymous
    Guest

    Selamat sore Pak Aar & Bu Lala,

    Mohon info project based learning : keju, cokelat, minecraft maksudnya meminta mereka membuat keju, cokelat begitu kah? atau hal lainnya?

    Terima kasih sebelumnya untuk jawaban yang diberikan.

    #7178
    Aar
    Keymaster

    Dear kak Anggraeni,
    Project-based Learning (PBL) adalah sebuah strategi belajar yang banyak digunakan dalam homeschooling. Untuk proses belajar, anak-anak tidak (hanya) berbasis mata pelajaran, tapi berbasis pada dunia nyata. Nah, salah satu contoh dunia nyata yang menjadi pintu belajar anak-anak adalah makanan.

    Prosesnya kurang lebih seperti ini:
    Ibu (I): “Kita bikin proyek belajar tentang makanan yuk!”
    Anak (A): “Mauuu!”

    I: “Mau bikin proyek belajar tentang apa? Keju, cokelat, pizza?”
    A: “Aku mau bikin proyek tentang pizza?”

    I: “Apa yang ingin kamu pelajari tentang pizza?”
    A: “Aku ingin tahu sejarahnya, jenis-jenis pizza, apa yang bikin pizza enak, terus cara bikin pizza.”

    I: “OK, nanti kamu cari informasi tentang itu yaa.. terus kamu bikin slide. Kalau sudah selesai, nanti presentasi dan cerita tentang pizza.”
    A: “Boleh nggak nanti kita bikin pizza bareng?”

    I: “Boleh. Nanti kalau kamu sudah selesai cari resepnya, nanti kita bikin pizza. Jangan lupa untuk foto pizza hasil karyamu.”
    A: “Asyikkk..”

    Lalu, mulailah proses anak mencari informasi/pengetahuan tentang pizza dengan didampingi Ibu. Anak belajar meringkas informasi dengan bahasa sederhana dan belajar membuat slide presentasi tentang pizza, memasak pizza bersama, dan kemudian melakukan presentasi. Proses ini berlangsung beberapa hari.

    Dari kegiatan proyek pizza, anak jadi belajar: sejarah, mencari informasi, meringkas/menyarikan informasi yang dibaca, membuat slide, menghias slide, menonton/mencari resep, mengenal aneka bahan baku, mengikuti tutorial memasak, memotret, dan melakukan presentasi.

    Demikian gambaran sederhana tentang proses membuat proyek dengan tema pizza. Proyek ini dirancang orangtua bersama anak, dengan tema yang disepakati, dengan kompleksitas yang disesuaikan usia anak.

    Semoga menjawab.

    #7177
    Anonymous
    Guest

    Terima kasih untuk jawabannya, lengkap dan jelas sekali.

    #7175
    Aar
    Keymaster

    Sama-sama, kak Angreni Gunawan.

    Selamat mencoba project-based learning bersama anak-anak

    #7173
    Anonymous
    Guest

    ok langsung kita bikin pizza besok 😀
    gawat mas aar contohnya langsung bikin *ngiler*

    #7170
    Aar
    Keymaster

    Keren mas Anggi. Mainkan..!

    #7167
    Anonymous
    Guest

    Selamat pagi mas aar dan mba Lala
    Anak saya selama ini bersekolah formal dan akan deschooling utk saya HS kan. Yang ingin saya tanyakan utk memulai proses HS ini bgmn ya menyusun atau memulainya drmn? Selama ini anak saya hanya belajar akademis dr sekolah. Pernah saya tanyakan dia ingin berkegiatan apa? Dia pun bingung. Akhirnya saya yg menetapkan. Utk minat nya sendiri bgmn ya cara mengetahuinya? Sebagai info anak saya laki2 sekarang memasuki kelas 8
    Terima kasih atas jawabannya

    #7166
    Aar
    Keymaster

    Selamat pagi kak Fatma Andhayani,

    Proses deschooling memang berat bagi kedua belah pihak, baik bagi orangtua maupun bagi anak. Orangtua perlu belajar menentukan arah, berkomunikasi secara baik dengan anak, dan mengelola ekspektasinya. Demikian pun anak bingung karena selama ini semuanya diatur dan ditetapkan orang lain, kini dia diajak berpikir dan berinisiatif. Semua itu bukan hal yang mudah.

    Jangka waktu proses deschooling sangat tergantung pada kualitas komunikasi antara orangtua-anak dan kesiapan bereksperimen mencari pola baru yang sesuai dengan anak & keluarga. Secara umum, para veteran menyatakan bahwa waktu yang dibutuhkan kurang lebih adalah = x tahun bersekolah = x tahun masa deschooling/adaptasi.

    Jika kelas 8, berarti dia sudah bersekolah selama 8 tahun. Jika ditambah TK 1 tahun, berarti jangka waktu proses transisi itu sekitar 9 bulan. Bisa lebih cepat, bisa lebih lambat.

    Apa yang terjadi selama proses deschooling?

    Yang terjadi adalah “chaos” karena sama-sama sedang mencari pola. Jika anak bingung dan tidak punya inisiatif, itu hal yang wajar. Jika anak tidak bisa menjawab mau apa, itu juga hal yang sering terjadi. Karena selama ini dia hanya diminta patuh dan menjalankan suka-atau-tidak-suka. Dia tidak pernah ditanya mau apa dan inisiatif. Jadi, anak perlu dikasihani karena kemampuan survivalnya tanpa sadar dilemahkan oleh sistem.

    Yang perlu diperkuat dalam proses deschooling adalah dialog yang nyaman antara anak & orangtua. Sebagai pemimpin proses, orangtua perlu membantu anak dengan keterampilan survival paling dasar, yaitu inisiatif.

    Jika anak belum bisa menjawab pertanyaan terbuka: “Kamu mau kegiatan apa?”
    Maka bantulah anak dengan kegiatan: “Kamu pilih kegiatan A, B, atau C?”
    atau “Kamu mau belajar skills A, B, atau C?”

    Setelah anak memilih, bantu anak berproses melakukan kegiatan yang dimaksud dengan menyediakan alat belajarnya, misalnya: “mau belajar pakai apa? kamu sudah tahu alat belajar yang mau kamu gunakan?”

    Kalau anak tidak tahu, maka lakukan proses pencarian bersama. Googling bareng dan diskusikan pilihan yang ada. Sepakati proses belajar bersama anak, temani dan dampingi prosesnya.

    Jadi, misalnya anak tertarik belajar animasi, lakukan pencarian untuk mencari alat belajar animasi. Apakah mau yang gratis di Youtube atau ikut kelas online? Diskusikan bersama. Putuskan bersama. Bikin kesepakatan proses belajarnya.

    Intinya, ketika anak tidak tahu, memang perlu diajari dan ditemani prosesnya.

    Dalam masa normal, kondisi deschooling sering dibantu dengan proses anak ikut kursus yang disukai, misalnya: bahasa atau seni (musik). Sambil anak kursus, orangtua & anak mulai terus mencari jenis2 kegiatan yang mungkin dilakukan anak.

    #7151
    Anonymous
    Guest

    Salam mba Lala dan Mas Aar,

    Saya hanya ingin tahu, kenapa keluarga mas Aar lebih memilih IXL Math ketimbang KhanAcademy ? (saya tau KhanAcademy dari podcast RI sebelumnya). Apa ada pengalaman anak-anak menggunakan 2 tools/Apps untuk belajar ? Apa yang terjadi ya?

    Terima Kasih,
    Tania

    #7148
    Aar
    Keymaster

    Kak Tania,

    Anak-anak sudah mencoba IXL Math dan Khan Academy, tapi mereka lebih suka IXL Math. Alasannya, latihan banyak sehingga membentuk cara berpikir.

    Tapi kalau penjelasan, lebih enak Khan Academy karena ada videonya. Yudhis dulu pakai Khan Academy kalau ingin mencari penjelasan tentang sebuah tema tertentu. Tapi latihan belajarnya menggunakan IXL Math.

    Sebenarnya sih mirip, kak. Lebih ke preferensi dan cocok-cocokan saja.

    #6865
    Mira Julia
    Keymaster

    Hai kak Mia,

    Yang gratis diantaranya Khan Academy & MEP Math

    Di luar itu pasti masih banyak jika kakak googling.

    #6863
    Anonymous
    Guest

    Salam kenal.pak Aar, untuk math dan inggris yg serupa dgn ixl math tapi tdk berbayar apa ya?

    #5655
    Zulhy Adham
    Member

    Assalaamu’alaykum…

    Mas Aar dan Mbak Lala yang baik,

    Setelah membaca e-book Manajemen Keseharian Homeschooling, rasanya kok seperti ada tembok tebal yang harus ditembus, ya. Jujur saja, kami tidak terbiasa menjadwal. Kalaupun menyempatkan diri untuk menjadwal, ini tidak pernah konsisten dikerjakan.

    Agar budaya menjadwal, dan mungkin nanti sampai kepada menjurnal, adakah langkah kecil yang bisa mulai kami lakukan? Karna kalau sudah terasa berat di awal, malah takutnya menjadi beban. Barangkali Mas Aar dan Mbak Lala bisa memberi bantuan pemantik dalam hal ini.

    Salam

    #5650
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb,

    Sebenarnya tidak ada keharusan sebuah keluarga membuat jadwal untuk proses HS-nya. Ada tipikal keluarga yang senang kegiatan spontan karena terasa lebih segar dan seru. Hal ini terutama terjadi saat anak usia dini.

    Kondisi paling umum terjadi dalam keluarga HS adalah antara: spontan semuanya dan terjadwal semuanya. Kecenderungannya bisa lebih dekat ke spontan atau lebih dekat ke terjadwal, ini yang perlu dicoba-coba.

    Mengapa jadwal itu diperlukan? Untuk melatih anak melakukan kegiatan2 besar yang membutuhkan project management atau kegiatan yang terkait komitmen dengan orang lain yang tidak boleh berdasarkan mood.

    Latihan yang bisa dilakukan:

    • coba minta anak bikin checklist rencana harian dengan sistem menu. Dia tulis target, tapi urutan pengerjaannya bebas. Jadi masih ada fleksibilitas cukup besar utk pelaksanaannya.
    • bikin proyek yang membutuhkan pengerjaan beberapa hari dan breakdown aktivitas/target harian yang perlu dilakukan

    Demikian kak, semoga membantu

Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 20 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top