Belajar Parenting › Forums › Manajemen Keseharian Homeschooling › eBook Manajemen Keseharian Homeschooling
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 22, 2019 at 6:15 pm #4678
Mira Julia
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
June 17, 2020 at 11:37 am #7185Anonymous
GuestSelamat sore Pak Aar & Bu Lala,
Mohon info project based learning : keju, cokelat, minecraft maksudnya meminta mereka membuat keju, cokelat begitu kah? atau hal lainnya?
Terima kasih sebelumnya untuk jawaban yang diberikan.
June 18, 2020 at 9:54 am #7178Aar
KeymasterDear kak Anggraeni,
Project-based Learning (PBL) adalah sebuah strategi belajar yang banyak digunakan dalam homeschooling. Untuk proses belajar, anak-anak tidak (hanya) berbasis mata pelajaran, tapi berbasis pada dunia nyata. Nah, salah satu contoh dunia nyata yang menjadi pintu belajar anak-anak adalah makanan.Prosesnya kurang lebih seperti ini:
Ibu (I): “Kita bikin proyek belajar tentang makanan yuk!”
Anak (A): “Mauuu!”I: “Mau bikin proyek belajar tentang apa? Keju, cokelat, pizza?”
A: “Aku mau bikin proyek tentang pizza?”I: “Apa yang ingin kamu pelajari tentang pizza?”
A: “Aku ingin tahu sejarahnya, jenis-jenis pizza, apa yang bikin pizza enak, terus cara bikin pizza.”I: “OK, nanti kamu cari informasi tentang itu yaa.. terus kamu bikin slide. Kalau sudah selesai, nanti presentasi dan cerita tentang pizza.”
A: “Boleh nggak nanti kita bikin pizza bareng?”I: “Boleh. Nanti kalau kamu sudah selesai cari resepnya, nanti kita bikin pizza. Jangan lupa untuk foto pizza hasil karyamu.”
A: “Asyikkk..”Lalu, mulailah proses anak mencari informasi/pengetahuan tentang pizza dengan didampingi Ibu. Anak belajar meringkas informasi dengan bahasa sederhana dan belajar membuat slide presentasi tentang pizza, memasak pizza bersama, dan kemudian melakukan presentasi. Proses ini berlangsung beberapa hari.
Dari kegiatan proyek pizza, anak jadi belajar: sejarah, mencari informasi, meringkas/menyarikan informasi yang dibaca, membuat slide, menghias slide, menonton/mencari resep, mengenal aneka bahan baku, mengikuti tutorial memasak, memotret, dan melakukan presentasi.
Demikian gambaran sederhana tentang proses membuat proyek dengan tema pizza. Proyek ini dirancang orangtua bersama anak, dengan tema yang disepakati, dengan kompleksitas yang disesuaikan usia anak.
Semoga menjawab.
June 18, 2020 at 1:52 pm #7177Anonymous
GuestTerima kasih untuk jawabannya, lengkap dan jelas sekali.
June 19, 2020 at 4:06 pm #7175Aar
KeymasterSama-sama, kak Angreni Gunawan.
Selamat mencoba project-based learning bersama anak-anak
June 20, 2020 at 10:27 am #7173Anonymous
Guestok langsung kita bikin pizza besok 😀
gawat mas aar contohnya langsung bikin *ngiler*June 22, 2020 at 4:06 pm #7170Aar
KeymasterKeren mas Anggi. Mainkan..!
June 26, 2020 at 10:40 am #7167Anonymous
GuestSelamat pagi mas aar dan mba Lala
Anak saya selama ini bersekolah formal dan akan deschooling utk saya HS kan. Yang ingin saya tanyakan utk memulai proses HS ini bgmn ya menyusun atau memulainya drmn? Selama ini anak saya hanya belajar akademis dr sekolah. Pernah saya tanyakan dia ingin berkegiatan apa? Dia pun bingung. Akhirnya saya yg menetapkan. Utk minat nya sendiri bgmn ya cara mengetahuinya? Sebagai info anak saya laki2 sekarang memasuki kelas 8
Terima kasih atas jawabannyaJune 27, 2020 at 4:08 pm #7166Aar
KeymasterSelamat pagi kak Fatma Andhayani,
Proses deschooling memang berat bagi kedua belah pihak, baik bagi orangtua maupun bagi anak. Orangtua perlu belajar menentukan arah, berkomunikasi secara baik dengan anak, dan mengelola ekspektasinya. Demikian pun anak bingung karena selama ini semuanya diatur dan ditetapkan orang lain, kini dia diajak berpikir dan berinisiatif. Semua itu bukan hal yang mudah.
Jangka waktu proses deschooling sangat tergantung pada kualitas komunikasi antara orangtua-anak dan kesiapan bereksperimen mencari pola baru yang sesuai dengan anak & keluarga. Secara umum, para veteran menyatakan bahwa waktu yang dibutuhkan kurang lebih adalah = x tahun bersekolah = x tahun masa deschooling/adaptasi.
Jika kelas 8, berarti dia sudah bersekolah selama 8 tahun. Jika ditambah TK 1 tahun, berarti jangka waktu proses transisi itu sekitar 9 bulan. Bisa lebih cepat, bisa lebih lambat.
Apa yang terjadi selama proses deschooling?
Yang terjadi adalah “chaos” karena sama-sama sedang mencari pola. Jika anak bingung dan tidak punya inisiatif, itu hal yang wajar. Jika anak tidak bisa menjawab mau apa, itu juga hal yang sering terjadi. Karena selama ini dia hanya diminta patuh dan menjalankan suka-atau-tidak-suka. Dia tidak pernah ditanya mau apa dan inisiatif. Jadi, anak perlu dikasihani karena kemampuan survivalnya tanpa sadar dilemahkan oleh sistem.
Yang perlu diperkuat dalam proses deschooling adalah dialog yang nyaman antara anak & orangtua. Sebagai pemimpin proses, orangtua perlu membantu anak dengan keterampilan survival paling dasar, yaitu inisiatif.
Jika anak belum bisa menjawab pertanyaan terbuka: “Kamu mau kegiatan apa?”
Maka bantulah anak dengan kegiatan: “Kamu pilih kegiatan A, B, atau C?”
atau “Kamu mau belajar skills A, B, atau C?”Setelah anak memilih, bantu anak berproses melakukan kegiatan yang dimaksud dengan menyediakan alat belajarnya, misalnya: “mau belajar pakai apa? kamu sudah tahu alat belajar yang mau kamu gunakan?”
Kalau anak tidak tahu, maka lakukan proses pencarian bersama. Googling bareng dan diskusikan pilihan yang ada. Sepakati proses belajar bersama anak, temani dan dampingi prosesnya.
Jadi, misalnya anak tertarik belajar animasi, lakukan pencarian untuk mencari alat belajar animasi. Apakah mau yang gratis di Youtube atau ikut kelas online? Diskusikan bersama. Putuskan bersama. Bikin kesepakatan proses belajarnya.
Intinya, ketika anak tidak tahu, memang perlu diajari dan ditemani prosesnya.
Dalam masa normal, kondisi deschooling sering dibantu dengan proses anak ikut kursus yang disukai, misalnya: bahasa atau seni (musik). Sambil anak kursus, orangtua & anak mulai terus mencari jenis2 kegiatan yang mungkin dilakukan anak.
July 9, 2020 at 7:25 am #7151Anonymous
GuestSalam mba Lala dan Mas Aar,
Saya hanya ingin tahu, kenapa keluarga mas Aar lebih memilih IXL Math ketimbang KhanAcademy ? (saya tau KhanAcademy dari podcast RI sebelumnya). Apa ada pengalaman anak-anak menggunakan 2 tools/Apps untuk belajar ? Apa yang terjadi ya?
Terima Kasih,
TaniaJuly 9, 2020 at 4:09 pm #7148Aar
KeymasterKak Tania,
Anak-anak sudah mencoba IXL Math dan Khan Academy, tapi mereka lebih suka IXL Math. Alasannya, latihan banyak sehingga membentuk cara berpikir.
Tapi kalau penjelasan, lebih enak Khan Academy karena ada videonya. Yudhis dulu pakai Khan Academy kalau ingin mencari penjelasan tentang sebuah tema tertentu. Tapi latihan belajarnya menggunakan IXL Math.
Sebenarnya sih mirip, kak. Lebih ke preferensi dan cocok-cocokan saja.
July 11, 2021 at 4:09 pm #6865Mira Julia
KeymasterHai kak Mia,
Yang gratis diantaranya Khan Academy & MEP Math
Di luar itu pasti masih banyak jika kakak googling.
July 11, 2021 at 5:16 pm #6863Anonymous
GuestSalam kenal.pak Aar, untuk math dan inggris yg serupa dgn ixl math tapi tdk berbayar apa ya?
February 10, 2023 at 9:25 pm #5655Zulhy Adham
MemberAssalaamu’alaykum…
Mas Aar dan Mbak Lala yang baik,
Setelah membaca e-book Manajemen Keseharian Homeschooling, rasanya kok seperti ada tembok tebal yang harus ditembus, ya. Jujur saja, kami tidak terbiasa menjadwal. Kalaupun menyempatkan diri untuk menjadwal, ini tidak pernah konsisten dikerjakan.
Agar budaya menjadwal, dan mungkin nanti sampai kepada menjurnal, adakah langkah kecil yang bisa mulai kami lakukan? Karna kalau sudah terasa berat di awal, malah takutnya menjadi beban. Barangkali Mas Aar dan Mbak Lala bisa memberi bantuan pemantik dalam hal ini.
Salam
February 12, 2023 at 11:45 am #5650Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Sebenarnya tidak ada keharusan sebuah keluarga membuat jadwal untuk proses HS-nya. Ada tipikal keluarga yang senang kegiatan spontan karena terasa lebih segar dan seru. Hal ini terutama terjadi saat anak usia dini.
Kondisi paling umum terjadi dalam keluarga HS adalah antara: spontan semuanya dan terjadwal semuanya. Kecenderungannya bisa lebih dekat ke spontan atau lebih dekat ke terjadwal, ini yang perlu dicoba-coba.
Mengapa jadwal itu diperlukan? Untuk melatih anak melakukan kegiatan2 besar yang membutuhkan project management atau kegiatan yang terkait komitmen dengan orang lain yang tidak boleh berdasarkan mood.
Latihan yang bisa dilakukan:
- coba minta anak bikin checklist rencana harian dengan sistem menu. Dia tulis target, tapi urutan pengerjaannya bebas. Jadi masih ada fleksibilitas cukup besar utk pelaksanaannya.
- bikin proyek yang membutuhkan pengerjaan beberapa hari dan breakdown aktivitas/target harian yang perlu dilakukan
Demikian kak, semoga membantu
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.