Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Sekolah › Podcast Proses Awal dan Deschooling
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 22, 2019 at 1:57 pm #4689
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
July 11, 2020 at 11:30 am #7147Anonymous
GuestSalam Mba Lala Dan Mas Aar,
Mba Saya baru memulai proses home scholing bulan ini, sebelumnya anak Saya Kyo 10 tahun naik kelas 5 dan Gia 7 tahun Naik ke kelas 2 bersekokah di sekolah swasta.
Pertanyaan saya :
1) Ttg persyaratan administratif krn ternyata sekolah anak saya meminta untuk mengurus surat pindah ke sekolah ke dinas pendidikan kecamatan saya agak bingung karena dalam surat perpindahan tersebut perlu dicantumkan perpindahan dilakukan ke sekolah mana? dan utk mengurus hal tsb saya diminta utk membayat 250 rb ke sekolah atau mengurus sendiri ke kecamatan. Saya sudah jelaskan ke sekolah bahwa saya hendak melakukan HS berbasis keluarga tapi sekolah tetap mewajibkan membuat surat pindah krn beberapa kasus di sekolah ada murid pindah HS dengan institusi dan tetap mengurus surat ini. Apakah mba Lala dan mas Aar pernah mendengar kasus administratif spt ini? Apakah saya perlu ttp mengurus surat pindah tsb? Apakah proses HS keluarga memang memerlukan pelaporan ke dinas pendidikan.
2) Mas Aar mba Lala mohon informasinya sedikit proses deschooling yang efektif buat anak itu kira-kira bentuknya spt apa? Krn dalam kondisi pademi spt ini pilihan kegiatan terutama kegiatan out door jd agak berkurang padahal saya ingin memberikan kesan kepada anak-anak HS itu menyenangkan.
Terima kasih sebelumnya.
SalamJuly 14, 2020 at 3:49 pm #7144Aar
KeymasterKak Andrini,
1. Proses yang diperlukan pada saat awal perpindahan dari sekolah menuju HS pada saat ini adalah mendaftar di PKBM. Prosesnya adalah mutasi (perpindahan) dari sekolah ke PKBM yang dituju.
Secara aturan tertulis memang diminta lapor ke Dinas Pendidikan. Praktek di lapangan yang terjadi selama ini adalah mendaftar di PKBM (tidak perlu lapor ke Dinas. Nanti PKBM yang melaporkan ke Dinas Pendidikan).
Pendaftaran ke PKBM bisa dilakukan di kota tempat tinggal kita atau di kota yang berbeda.
2. Inti deschooling sebenarnya adalah mencari pola baru yang cocok untuk keluarga, yang berbeda dengan sekolah.
Prosesnya dimulai dari hal-hal yang disukai anak. Karena kegiatan eksternal terbatas di era pandemi ini, proses bisa dimulai dengan melakukan proyek yang dipilih dan disukai anak. Ada yang memulai dengan proyek masak, proyek bikin bisnis bareng, belajar animasi, dll.Tanyakan pada anak dan diskusikan bersama anak tentang konsekuensi dari HS dan kegiatan apa yang ingin dilakukannya bersama untuk mengawali HS.
January 23, 2021 at 10:43 am #7037Anonymous
GuestKak tolong jelaskan proses PDCA
January 23, 2021 at 3:50 pm #7033Aar
KeymasterKak Zulvi,
Yang Anda maksudkan PDCA = Plan, Do, Check, Act untuk proses homeschooling?
Untuk keluarga Anda yang meneruskan proses dari HS Usia Dini menuju Usia Sekolah, prosesnya kurang lebih begini:
- Berlatihlah membuat jadwal kegiatan bersama anak. Lakukan diskusi bersama anak, jangan dibuat sendiri oleh orangtua.
- Jelaskan kepada anak mengapa jadwal ini perlu dibuat. “Kita akan belajar bersama membuat jadwal karena kakak sudah besar dan kita bisa melakukan belajar bersama.”
- Masukkan jadwal-jadwal yang sudah biasa dilakukan anak, misalnya: mandi, sikat gigi, sarapan, dll
- Masukkan jadwal rutin eksternal yang sudah biasa dilakukan, misalnya: mengaji, les xx, kegiatan yy, dll
- Masukkan usulan Anda (orangtua) tentang kegiatan anak, misalnya hari Senin pagi membaca buku, hari Selasa masak2, dll
- Tanya anak tentang usulan kegiatan darinya. Masukkan di jadwal.
- Tuliskan kesepakatan ini (jika anak belum bisa membaca, gunakan gambar/ikon). Tempel di dinding
- Setiap selesai melakukan sebuah kegiatan, minta anak untuk menandai jadwalnya (sehingga dia tahu gunanya jadwal)
- Buat jadwal ini untuk 3 hari, maksimal 1 minggu.
- Rayakan pencapaian dalam satu siklus (apapun hasilnya). Jadikan itu sukacita dan kebahagiaan. Lalu refleksikan perjalanannya bersama anak dan buat jadwal baru lagi.
Demikian proses awalnya, kak. Semoga cukup jelas.
Selamat mencoba. Semoga membantu.
February 4, 2021 at 8:11 pm #6982Anonymous
GuestMalam mas aar dan mba lala.
Smoga smua sehat2 dan bahagia.Sy mo tny proses deschooling terkait perubahan budaya skolah menjadi budaya mandiri. Saat ini sy mencoba mengaktifkan anak sy yg memang sudah kena budaya skolah yg pasif, nerima dan pasrah. Boleh berbagi kiat2 para praktisi HS utk “membangunkan” anak?
Terimakasih.
February 5, 2021 at 3:50 pm #6978Aar
KeymasterKak Santi,
Yang penting di benak orangtua tahu goalnya:
~ anak tahu apa yang ingin dilakukan
~ anak bisa berinisiatif
~ anak & orangtua menemukan pola kegiatan yang cocok1. Mengambil keputusan
Anak perlu belajar mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Proses ini melibatkan 2 sisi:
~ orangtua memberikan ruang pada anak untuk belajar mengambil keputusan. Caranya adalah memperbanyak proses bertanya, bukan mengambil/membuatkan keputusan untuk anak.~ orangtua membimbing anak dan mengajari anak mengambil keputusan
“Apa rencanamu hari ini?”
“Sudah sampai di mana proses belajarmu?
“Apa yang kamu dapatkan dari kegiatan xx tadi?”
“Apa kesulitan yang kamu alami?”
“Bagaimana caramu menyelesaikan masalah itu?”
“Apakah kalau berhenti/berganti itu baik buatmu? Mengapa?”
“Mengapa masalah itu terjadi? Apa menurutmu jalan keluarnya? Bagaimana supaya tidak terjadi lagi?”2. Bikin rencana bersama
Buatlah rencana kegiatan anak yang disepakati bersama. Awalnya paduan antara yang dimaui anak dan orangtua. Seiring waktu, jumlah ide dari orangtua semakin dikurangi.3. Contohkan/kenalkan beragam pengalaman belajar
Belajar bukan hanya untuk menambah pengetahuan/wawasan, tapi juga berkaitan meningkatkan skills: bikin rangkuman, menulis, bikin gambar, foto, video, dll(Silakan pelajari materi Strategi Belajar Homeschooling)
4. Manfaatkan alat bantu eksternal
Gunakan kursus, student club, workshop eksternal sebagai alat bantu untuk mengisi kegiatan anak.5. Kesabaran & komunikasi
Kunci besarnya ada di kesabaran orangtua dan proses komunikasi yang terus menerus. Komunikasi saat merencanakan, komunikasi saat eksekusi, komunikasi saat menemani perkembangan, komunikasi saat refleksi.Anak kemungkinan akan bingung karena selama ini tidak pernah ditanya maunya apa. Dia juga tidak pernah memilih materi belajar dan mengenali keinginannya. Dia tidak tahu alternatif apa yang tersedia baginya. Dia mungkin takut salah.
Jadi, banyak masalah terjadi bukan karena malas, nakal, atau suka-suka; sebagian besar terjadi karena ketidaktahuan dan tidak terlatih. Jadi, kesabaran orangtua untuk membimbing sangat dibutuhkan.
Bayangkan ini seperti proses Anda membimbing anak untuk toilet training atau belajar berjalan pada saat kecil dulu.
Semoga membantu.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.