Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Dini › Podcast Membangun Kebiasaan Baik Anak
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 21, 2019 at 2:17 pm #4712
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
February 29, 2020 at 10:20 am #7330Anonymous
GuestMba lala dan mas aar, saya ibu dari 4 org anak yg semuanya hs. Tantangan terbesar saat ini, saya masih kesulitan menumbuhkan dan menerapkan kedisiplinan pd anak2 saya. Dua anak saya hsus dan 2 lainnya hsud. Kami baru 2th menjalani hs. Si sulung dl sekolah formal, skr hs. Seringkali anak sy yg usia sekolah cenderung tidak disiplin dalam kesehariannya. Soal jadwal sampai skr msh kacau balau. Seolah mentang2 mrk sekolahnya drmh jd merasa bebas. Padahal dl saat sekolah dia cukup disiplin, soal bangun, belajar, tidur, dll. Nah yg ingin sy tanyakan bagaimana cara menumbuhkan dan menerapkan kedisiplinan pd anak usia dini, agar saat usia sekolah kedisiplinannya mulai terbentuk? Dan bagaimana utk si kakak agar tetap disiplin dan tidak merasa “mentang2” sekolahnya dirumah? Terima kasih utk jawabannya…
March 2, 2020 at 3:56 pm #7329Aar
KeymasterKak Isma,
Proses membangun kedisplinan memang bukan sebuah hal yang mudah. Bahkan orang dewasa pun banyak yang sulit menegakkan disiplin.
Disiplin berarti menepati hal yang sudah ditetapkan.
Problemnya, manusia bukan robot dan kehidupan berjalan dinamis sehingga komitmen untuk menepati yang sudah ditetapkan bukanlah hal yang mudah.
Pertanyaan yang perlu digali, siapa yang menetapkan perintah untuk ditaati?
Dalam sistem yang umum, kekuasaan eksternal digunakan untuk memaksa orang untuk tunduk dan disiplin. Sekolah menegakkan disiplin dengan paksaan dan anak harus menurutinya. Jika tak menuruti, maka dia akan dihukum atau dikeluarkan dari sekolah.
Nah, dalam HS proses penggunaan kekuasaan eksternal bukan hal yang mudah. Orangtua tidak bisa membuat aturan/jadwal yang dipaksakan pada anak dan memaksa anak mengikutinya. Ini harapan palsu yang pasti gagal dalam pelaksanaannya. Apalagi jika anak semakin besar dan sudah memiliki pilihan. Sebab, hubungan orangtua-anak bukan formal dan tidak bisa diformalkan.
Oleh karena itu, disiplin dalam proses HS dilakukan dengan basis kesepakatan dan pembiasaan (untuk anak usia dini).
Orangtua harus menggunakan pendekatan berbeda dengan model yang digunakan di sekolah.
Untuk anak usia dini, lakukan proses pembiasaan dan penjelasan mengapa sebuah hal dilakukan. Jelaskan manfaat dan kepentingannya untuk anak.
Untuk anak yang lebih besar, mulailah dengan membuat kesepakatan-kesepakatan tentang jadwal dan aturan main lainnya. Sertakan juga konsekuensi jika tak melakukan. Konsekuensi paling efektif biasanya berkaitan dengan mengurangi kesenangan anak (bukan hukuman), misalnya: jam main game dikurangi, uang jajan ditunda, dll.
Nah, tugas orangtua adalah menemani anak melakukan proses:
~ membuat kesepakatan
~ membuat konsekuensi
~ menuliskan kesepakatan dan konsekuensi
~ melakukan review secara periodik (berdiskusi tentang praktek di lapangan, apa yang bekerja dan apa yang tidak bekerja, mengapa ada masalah, dll)
~ menegakkan konsekuensiIni PR besar orangtua dan memang butuh pendampingan. Nah, pada saat anak usia dini proses2 semacam ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya: aturan main makan, mandi, tidur, dll. Itu yang disepakati bersama anak, diperjelas, dan ditegakkan. Jika ada masalah, fokusnya bukan sekedar menegakkan disipling, tapi membantu anak memahami “why”, mengapa kesepakatan itu perlu dan baik untuk kepentingannya (kepentingana anak).
June 15, 2020 at 2:28 am #7198Anonymous
GuestMenanggapi jawaban Mas Aar, saya ingin bertanya, apakah pembuatan kesepakatan bisa dimulai dari anak yang usianya masih 5 tahun? Karena saya memiliki problem yang hampir sama. Sebelumnya anak di daycare saat kami berdua kerja. Anak hanya boleh menonton TV saat weekend. Namun karena pandemi ini, anak-anak di rumah dan awalnya karena kami biarkan, jadi keterusan sampai sekarang.Terimakasih mas.
June 16, 2020 at 3:57 pm #7193Aar
KeymasterDear kak Rianita,
Ukuran yang bisa dilakukan adalah saat anak bisa berdialog dan melakukan negosiasi dengan kita. Anak usia 5 tahun mungkin sudah bisa, tapi masih sangat terbatas.
Jika ada belum terampil, maka orangtuanya yang memimpin proses.
Supaya kita tak jatuh pada ekstrem membiarkan-sesukanya dan larangan-sepenuhnya, maka orangtua perlu membuat aturan main, misalnya: setiap hari jam berapa dan/atau kapan boleh nonton TV.
Nah, aturan itu disampaikan ke anak dan dijelaskan “why” atau alasannya untuk kepentingan anak. Pada awalnya anak kemungkinan akan menolak dan memberontak atau menawar. Di sini pentingnya orangtua untuk lembut sekaligus tegas.
Jika anak memaksa, tetap bersikukuh lah dengan kesepakatan dan aturan waktu. Sebagai solusi, berikan ide dan dampingi anak melakukan kegiatan lain.
Semoga membantu.
June 17, 2020 at 6:39 am #7187Anonymous
GuestTerima kasih Mas Aar. Akan dicoba 🙂
June 17, 2020 at 2:33 pm #7182Aar
KeymasterSama-sama kak Rianita
June 21, 2020 at 1:37 pm #7172Anonymous
Guestsaya ingin bertanya, menurut mas aar mulai usia berapa anak2 sudah bisa diberi uang jajan? selama ini anak saya yang paling sulung(9th) & tengah(7th) tdk pernah dibekali uang jajan bila ke sekolah karna dari kami selalu menyiapkan bekal makan dan kudapan untuk d sekolah. dan bila mereka menginginkan belanja snack kami menjadwalkan belanja bulanan distu anak2 boleh ikut berbelanja snack yg mereka sukai, juga saat mereka mampu menyelesaikan melakukan sesuatu hal yang telah disepakati misalnya puasa ramadhan kemarin mereka mampu menyelesaikan 30hr full tanpa absen maka kami memberi mereka reward boleh membeli mainan yang mereka inginkan..
saat ini saya berpikir ingin memberikan mereka langsung uang jajan mingguan agar mereka bisa belajar mengelola sendiri uang yang mereka miliki.. menurut mas aar apakah ini hal yang baik? atau apakah mereka harus melakukan sesuatu hal penting dulu untuk bisa dapatkan uang jajan?
June 22, 2020 at 3:58 pm #7171Aar
KeymasterKak Fara,
Sebenarnya tak ada benar dan salah berkaitan uang jajan atau uang saku. Semuanya tergantung konteks dan tujuan orangtua. Bagaimana kondisinya? Apa yang ingin dibangun.
Tentang Uang Saku, selengkapnya begini:
Salah satu kebiasan yang cukup banyak dilakukan oleh orangtua di Indonesia adalah memberikan uang saku.
Sebelum membahas teknis tentang kapan diberikan dan seberapa besar nilainya, saya ingin membahas gagasannya dulu.
Mengapa ada orangtua memberi uang saku pada anaknya? Mengapa ada orangtua tidak memberi uang saku pada anaknya?
Pahami Konteks, Alasan, dan Tujuannya
Memberi dan tidak memberi uang saku tentu saja ada alasannya. Bukan semata harus memberi karena semua tindakan kita berkaitan uang saku adalah pilihan, bukan keharusan. Tidak ada yang mewajibkan memberi uang saku, kan?
Jadi, yang pertama orangtua perlu memahami konteks dan alasan pemberian uang saku.
Alasan memberi uang saku
Ada orangtua yang memberikan uang saku karena anaknya butuh uang untuk membayar kendaraan pulang-pergi rumah-sekolah.Ada orangtua yang tidak sempat memberikan bekal sehingga memberikan uang saku agar anaknya bisa jajan di sekolah.
Ada orangtua yang memberi uang saku karena ingin anaknya bisa bergaul dan main dengan teman-temannya di kantin.
Ada orangtua yang memberikan uang saku karena ingin mengajari anak untuk mengelola uangnya sendiri.
Alasan tidak memberi uang saku
Di sisi yang berbeda. Ada orangtua tidak memberi uang saku karena tidak ada biaya transportasi ke sekolah (bus sekolah, diantar, dll).Ada orangtua tidak memberi uang saku karena anak sudah membawa bekal makanan dan berpandangan makanan di sekolah tidak higienis.
Ada orangtua yang tidak memberi uang untuk mengajari anak keuangan dan self control. Anak dibiarkan berpikir untuk mencari uang sendiri buat jajan. Jika anak butuh uang, dia diminta membuat proposal dan pasti diberi sesuai kebutuhan.
Mana yang benar?
Dua-duanya (memberi dan tidak memberi) benar sesuai konteks masing-masing.Ukuran benarnya adalah menyelesaikan masalah, cocok dengan kondisi di lapangan, tujuan yang diharapkan tercapai.
Jadi, strategi dasarnya adalah:
~ Kenali kondisi Anda dan kondisi anak berkaitan dengan kebutuhan uang saku
~ Kenali tujuan Anda
~ Coba sebuah kebijakan yang paling cocok.
~ Secara periodik evaluasi implementasi dan dampaknyaJadi, jika Anda ingin mengajarkan anak untuk belajar mengelola uang sendiri, maka tak ada salahnya untuk dicoba.
April 20, 2022 at 4:53 pm #6357Tania
MemberHalo mas Aar saya mau bertanya mengenai habit of obedience. Anak saya berusia hampir 2 tahun. Anak saya suka memukul atau menendang jika keinginan tidak diturutin. Apakah mas Aar ada pengalaman tentang ini ? Terkadang saya tidak bisa mengendalikan diri jika dipukul di area muka. Sebelum saya mengajari anak self control, saya ingin menjaga self control saya sendiri. Terima kasih.
April 21, 2022 at 11:05 am #6349Aar
KeymasterHalo kak @Taniags
Ada beberapa penyebab yang mungkin terjadi saat anak usia 2 tahun memukul dan menendang jika keinginannya tidak dituruti:
- anak belum terampil mengekspresikan emosinya
- anak terbiasa mendapatkan keinginan dengan cara tersebut
- anak mencari perhatian orangtuanya
Ada solusi jangka pendek dan jangka panjang bisa dilakukan.
Solusi jangka pendek
Solusi jangka pendek adalah terkait mencegah perilakunya secara langsung. Kuncinya ada di aturan main dan kepemimpinan orangtua.
- orangtua perlu menjelaskan kepada anak bahwa memukul dan menendang adalah ekspresi yang tak diperbolehkan.
- jika anak melakukan hal tersebut (memukul & menendang), cegah dan jangan biarkan anak melakukannya. Bawa anak ke kamar (tempat aman) dan jaga jarak.
- “kamu boleh menangis dan marah-marah, tapi tidak boleh memukul dan menendang. Bunda tidak mau kamu melakukan itu.”
- pastikan Anda menjaga jarak dan tidak terkena pukulan dan tendangan.
- proses ini membutuhkan ketegasan dan konsistensi. Orangtua biasanya suka mengalah karena kasihan, ingin urusan cepat selesai kemudian menuruti permintaan anak. Sikap seperti ini bisa memperburuk perilaku dalam jangka panjang.
Solusi jangka panjang
Solusi jangka panjang terkait keterampilan mengekspresikan emosi dan regulasi diri.
- jika anak minta sesuatu, pastikan keputusannya dilakukan secara rasional. Biasakan menjelaskan kepada anak mengapai permintaan/kegiatan xxx diizinkan dan mengapa permintaan/kegiatan yyy tidak diizinkan. Pastikan hal yang diizinkan dan tidak diizinkan ini berlaku konsisten.
- untuk emosi-emosi yang lebih sederhana, lakuka validasi emosi dan ajarkan cara mengelola emosi.
“Kakak lagi marah? Bunda ngerti kok kakak marah karena xxx… ” (dimengerti tapi tidak dituruti)
“Kalau kakak marah, kakak boleh nangis dan teriak, tapi tidak boleh mukul atau menendang.” (ajarkan cara mengekspresikan)
“Kalau kakak ingin mukul, kakak boleh pukul tempat tidur, tapi tidak pukul orang.” (ajarkan cara ekspresi yang aman dan bisa ditolerir)- perbanyak kegiatan-kegiatan santai yang membangun bonding dan koneksi anak, yang membuat anak merasa nyaman dan terpenuhi kebutuhan cintanya. Jalan bareng, ngobrol2, nonton bareng, dongeng, tebak-tebakan, makan es krim, dll.
Demikian kak, semoga membantu.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.