Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Dini › Podcast Panduan Sederhana HSUD
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 21, 2019 at 1:33 pm #4719
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
January 23, 2023 at 3:06 pm #5716Semi Asih
MemberBagaimana cara membujuk anak yg sudah bisa melakukan sendiri (makan sendiri, pipis sendiri) tapi tidak mau melakukan nya, selalu minta bantuan.
Jadi bukan anak tidak bisa tapi anak tidak Mau melakukannya
Bagaimana seharusnya kita bersikap?
January 23, 2023 at 5:03 pm #5715Aar
KeymasterHalo kak @semi-asih,
Terima kasih pertanyaannya.
Pertanyaan yang disampaikan ini sangat luas sehingga saya agak kesulitan untuk memahami konteksnya.
Mengapa perlu konteks?
Sebuah masalah yang terjadi pada anak adalah sebuah simptoms (tanda) bahwa ada proses-proses yang kurang pas yang sedang terjadi. Kurang pas itu bisa terjadi karena ada gangguan pertumbuhan pada anak (misalnya, sakit), bisa pula terjadi karena ada lingkungan yang tidak nyaman, atau pola hubungan antara anak dan sekitar (orangtua dan/atau orang lain) yang tidak pas.
Dalam konteks ini, mungkin bisa diinformasikan:
1. Berapa usia anak saat ini?
2. Apakah masalah terjadi baru-baru saja? Artinya, sebenarnya dia sudah pernah makan sendiri dan pipis sendiri, tapi beberapa waktu terakhir berubah. Jika masalah baru terjadi, apa peristiwa yang kira-kira memicu anak melakukan perubahan ini?
3. Apakah masalah ini terjadi lama? Artinya, anak memang sudah dilatih pipis sendiri dan makan sendiri, seharusnya sudah bisa, tapi tetap tidak mau melakukannya sendiri.
Dalam konteks kakak, yang terjadi adalah yang ke-2 atau ke-3?
Jika ada cerita lebih lengkap tentang perkiraan kakak tentang kondisi yang menyebabkan masalah, itu akan sangat membantu saya memahami sehingga bisa memberikan masukan yang lebih sesuai.
Terima kasih ya kak.. 🙏
January 24, 2023 at 9:33 pm #5712Semi Asih
MemberMaaf jika pertanyaan nya tidak detail
Usia anak 4th dan merupakan anak pertama. Mulai diajari makan sendiri dan pipis sendiri setelah adek nya lahir (anak kedua, sekarang 1.5th)
Dari awal setiap diajari makan ato pipis sendiri selalu minta dibantu/disuapi padahal saya tau kalo dia sudah bisa (terlihat dr sesekali mau pipis ato makan sendiri 1/2 suap)
Bahkan lepas celana pun minta dilepaskan..
Bagaimana baiknya kami menyikapi hal tersebut?
January 25, 2023 at 10:40 am #5710Aar
KeymasterTerima kasih tambahan informasinya kak @semi-asih,
Dari informasi tambahan yang kakak sampaikan, saya menduga ada isu non-teknis terkait kemandirian kakak.
Isu non-teknis itu terkait hal-hal yang lebih basic yaitu aspek emosional. Tantangan emosional ini tidak terlihat langsung, tidak terucapkan, biasanya dikenali melalui tanda (symptoms) terkait masalah perilaku anak.
Beberapa kondisi yang mungkin terjadi antara lain:
- anak merasa kehilangan perhatian ibunya karena kelahiran adik baru dan kondisi Ibu yang mungkin lelah/kurang sehat
- anak merasa insecure dengan dirinya. Ada perubahan-perubahan yang terjadi di keluarga yang tidak dapat dipahaminya dengan pikiran sederhana. Dia merasa takut dan khawatir sehingga mencari cara untuk mendapatkan rasa aman (dengan mendekat pada Ibunya)
- anak mencari perhatian dan belum/tidak bisa mengungkapkan kebutuhannya sehingga responnya adalah minta tolong. Kadangkala wujud mencari perhatian ini adalah kenakalan. Dengan cara2 seperti ini, anak merasa mendapatkan kebutuhannya akan perhatian
- karena ada adik baru, secara alamiah perhatian Ibu terpecah, ibu lebih banyak mengurus adik. Kondisi ini bisa diperburuk jika kesehatan ibu turun dan tidak ada anggota keluarga lain yang bisa membantu kakak melewati perubahan ini dengan lebih mulus
Sebagai orangtua, kita berharap anak sudah mengerti akan kondisi ini. Yang sering terjadi di lapangan, kapasitas anak masih terbatas untuk mengerti sehingga aspek emosinya terusik dan mengganggu perkembangannya.
Apa yang bisa dilakukan jika kondisinya seperti ini?
Pertama, kondisi saat ini memang susah, tapi perlu diterima dengan lebih sadar. Memang sedang ada 2 manusia kecil yang membutuhkan perhatian. Kondisi ini memang tidak mudah. Semakin kita ingin mendorong kemandirian sang kakak, biasanya emosi kita menjadi mudah terpantik, resistensinya semakin tinggi. Kemungkinan akan terjadi banyak “drama emosi” dalam hubungan Ibu-anak.
Kedua, cari cara agar kakak semakin meningkat kapasitas energinya sehingga cukup untuk menangani 2 anak yang sama-sama membutuhkan perhatian. Secara teknis saya tidak tahu apa yang bisa dilakukan; mungkin kakak butuh bantuan pasangan, ART, nenek/saudara. Minimal adalah upaya agar pasangan bisa membantu. Juga, cari cara agar bisa memperbaiki kualitas tidur. Ini hal yang kelihatannya tak berhubungan secara langsung, tapi berpengaruh besar.
Ketiga, bantu anak secara teknis jika dia minta bantuan. Jangan dipermasalahkan dan dimarahi. Justru, berikan komentar untuk menunjukkan bahwa Anda mengetahui dan menerima masalah emosinya.
“Kamu kangen dibantuin Bunda, yaa… OK nggak apa2 Bunda sekarang bantuin”
Keempat, cari cara untuk memberikan perhatian spesial pada anak untuk memenuhi kebutuhan emosi rasa aman dan nyaman di hatinya. Ngobrol bareng, makan es krim sambil ngobrol, dan hal-hal asyik lain yang biasanya Anda lakukan bersamanya dan disukainya. Perbanyak komentar2 yang santai dan tertawa bersama anak.
Saat emosinya sudah lebih tenang dan kebutuhannya terpenuhi, anak biasanya tidak rewel dan akan lebih rileks.
Jika sudah rileks, stimulasi tumbuh kembang dan kemandiriannya biasanya akan berkembang normal kembali.
Demikian kak, semoga membantu.
🙏
March 3, 2023 at 9:29 am #5613Karina
MemberHalo kak Aar,
Saya ibu yang bekerja (saat ini lebih banyak WFH) dan sedang kuliah. Saya memiliki 2 anak. Yang pertama usia 6,5 tahun dan yang kedua usia 16 bulan.
Anak saya yang pertama sulit sekali tidur awal (di bawah jam 9), seringnya tidur jam 10 atau 11. Akibatnya dia sering bangun siang (paling cepat bisa bangun jam setengah 8). Awalnya memang karena ketika zaman pandemi 2 tahun yang lalu, saya sering sekali zoom meeting pada malam hari (dengan dosen pembimbing). Anak saya ini tidak bisa tidur kalau saya tidak ikut tidur dengan dia, jadinya dia sering ikut begadang, walau akhirnya ketiduran sendiri sekitar jam 10 atau 11. Kalau sekarang sejak dia bisa membaca, dia tidur malam karena ingin membaca buku hingga selesai (anak saya sudah suka membaca novel tebal). Kalau tidak membaca, dia suka menonton di tablet. Ini sudah sering dilarang oleh saya dan ayahnya, sampai tabletnya disembunyikan atau kita pasang timer.
Bagaimana ya kak, supaya dia bisa tidur lebih awal sehingga bisa bangun awal, karena usianya sudah mendekati 7 tahun. Saya ingin dia bisa bangun subuh untuk membiasakan solat Subuh.
Terima kasih kak.
March 3, 2023 at 10:45 am #5612Aar
KeymasterHalo kak @karina-rahmadia-ekawidyani
Terima kasih pertanyaannya. Terbayang dinamika yang terjadi pada anak terkait pola kegiatan malam dan tidur anak-anak.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pengaturan pola kegiatan anak:
1. Anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan
Sebagaimana anak beradaptasi dengan kondisi berjaga malam (bangun) saat Ibu aktif berkegiatan malam pada waktu yang dulu, anak juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi baru yang diharapkan. Perubahan tidak akan bisa berlangsung dramatis. Perubahan membutuhkan pengaturan lingkungan.
2. Prioritas anak = prioritas keluarga
Prioritas anak tergantung pada prioritas keluarga. Kita sulit mengharapkan pengaturan yang hanya fokus pada anak saja tanpa mengatur pola malam yang dimiliki oleh keluarga. Jadi, orangtua memang perlu melakukan penyesuaian jika tidur cepat memang menjadi prioritas penting untuk anak.
3. Slowing down
Hal yang khusus terkait anak adalah melakukan manajemen energi anak. Pola pengaturan bisa dimulai dengan melakukan kegiatan aktif pada siang/sore hari yang sifatnya kegiatan fisik. Kemudian irama tubuh keluarga mulai diturunkan saat usai makan malam.
Kegiatan dilakukan di kamar, kegiatan santai (tidak banyak aktivitas fisik), tidak berisik, dan lampu diturunkan intensitasnya.
4. Tidur bersama
Jika dirasa sangat mendesak, ada pola ekstrem yang perlu dibangun juga sebagai pemicu awal yaitu semua keluarga tidur lebih cepat. Lampu kamar dimatikan, pintu dikunci dan semuanya tidur.
Pola orangtua juga digeser menjadi bangun lebih pagi. Kegiatan yang biasanya dilakukan malam hari digeser ke pagi.
Hal ini dilakukan konsisten untuk membangun pola baru keluarga (sebagaimana pola tidur malam terbentuk pada saat pandemi).
Pola semacam ini biasanya mempercepat adaptasi anak untuk beralih pada pola baru. Tantangan besarnya ada di orangtua yang perlu mengubah pola kesehariannya.
5. Berdamai
Bangun pagi memang menjadi tantangan besar untuk anak-anak. Salah satu tips-nya adalah dengan menjadi kegiatan pagi sebagai pola keluarga. Bangun pagi bukan hanya untuk kepentingan sholat Subuh, tapi memang pola keluarga dilakukan sejak pagi.
Ada keluarga2 yang menjalani pola sejak Subuh (bahkan ada yang sejak sebelum Subuh), anak dibangunkan dengan dicium2, kemudian ikut sholat jamaah ke masjid, setelahnya jalan pagi, beli2 hal yang disukai anak, dst.
Awalnya berat, tapi karena seluruh keluarga melakukannya dan ada hal membahagiakan yang didapatkan anak, maka lama2 mereka menikmatinya.
Demikian kak, semoga membantu.
🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.