Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Dini › Podcast Memulai Homeschooling Usia Dini
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 21, 2019 at 11:47 am #4722
Mira Julia
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
February 10, 2020 at 12:04 am #7348Anonymous
Guestmau tanya kak, sy punya anak umur 2.5 thn…bagaimana cara saya mulai untuk dia belajar (bermain) yang tepat dan apa yang kami harus persiapkan sebagai orangtua untuk program homeschooling buat anak kami…terimakasih kak
February 10, 2020 at 1:56 pm #7347Mira Julia
KeymasterIni akan masuk dalam materi yang kita bahaskan di kelas online ini.
Pastikan hadir/membaca materi kulwap dan unduh ebook, podcast serta
tonton video yang ada di dalam kelas.February 15, 2020 at 7:52 am #7343Anonymous
GuestMau tanya kak..selama brp lama 3 kegiatam tsb akan terus dilakukan?
Terima kasihFebruary 15, 2020 at 1:55 pm #7340Aar
KeymasterTujuan dari latihan ini adalah:
– melatih mindfulness, berkegiatan sepenuh hati bersama anak
– berlatih menggunakan hal-hal sederhana sehari-hari untuk kegiatan bersama anak
– belajar melakukan pengamatan terhadap anakKegiatan ini adalah pondasi sekaligus praktek HS yang akan dijalani dalam HS Usia Dini.
Kalau mau HS Usia Dini, ya begini prakteknya. Kegiatan yang dilakukan bisa lebih atau kurang dari 3, tapi kurang lebih prosesnya seperti itu.
August 14, 2021 at 7:47 am #6828Anonymous
GuestMas Aar, maksudnya kegiatan yg tidak mengada-ada itu apakah termasuk kegiatan spontan sesuai keinginan anak waktu itu yg penting kita hadir secara utuh atau bagaimana ya mas?
August 15, 2021 at 2:07 pm #6827Aar
KeymasterKak Tri,
Betul sekali. Kegiatan yang tidak mengada-ada termasuk kegiatan spontan, kegiatan sesuai keinginan anak, kegiatan melalui keseharian, dan lain-lain. Yang penting dijalani dengan mindful. Kita (orangtua) hadir secara penuh, merasa nyaman, aktif mengobrol dua arah dan anak menikmati kegiatannya.
Jika dijalani, itu bisa menjadi stimulasi yang kualitasnya tinggi sekaligus membahagiakan (orangtua dan anak).
August 23, 2021 at 2:21 pm #6816Aar
KeymasterHalo kak Marchella,
Terima kasih sharingnya kak,
Bahagia membaca sharing dari kakak. Begitulah dinamika utama dalam proses homeschooling anak usia dini.
Apa yang utama? Membangun rasa aman dan nyaman pada anak. Pada 12 bulan pertama, anak sangat membutuhkan rasa aman dan nyaman itu sehingga mereka bisa mempercayai bahwa dunia sekitarnya adalah baik. Dia belajar mempercayai Ibu dan orang2 yang ada di dekatnya. Kalau anak merasa aman dan nyaman, dia bisa melanjutkan proses bertumbuhnya dengan optimal. Jika tidak, anak akan sibuk dengan kondisi rasa tidak aman (insecure) dan mengaktifkan otak survival yang bisa membuat proses bertumbuhnya tidak berkembang baik.
Dalam proses membangun rasa aman dan nyaman ini, yang utama adalah kualitas interaksi. Kunci besarnya adalah menjalani kegiatan (apapun) dengan mindful. Jenis kegiatannya bisa apapun.
Itu yang paling utama.
Seiring waktu, kakak nanti bisa melihat Checklist perkembangan anak untuk melihat hal-hal apa yang biasanya tumbuh dan berkembang serta perlu distimulasi sesuai rentang usia anak.
Selamat menikmat ya kak..
August 23, 2021 at 3:42 pm #6815Anonymous
GuestSalam, kak Aar-kak Lala, & teman-teman kelas HS Usia Dini.
Saya mau melaporkan tugas yg saya kerjakan terkait topik memulai HS usia dini.
Saya seorang working mom, tapi bekerja part-time. Saya bekerja 4 hari dalam seminggu, jam 6 sore-9 malam. Saat ini, usia anak saya 8 bulan 22 hari. Dikarenakan kerjaan saya yg part-time, bisa dibilang waktu saya lebih banyak di rumah dengan anak.
Sebenarnya hampir semua kegiatan saya, bersama dengan anak. & sebelum tugas ini diberikan, bisa dibilang saya sudah menerapkan tugas tersebut.
Ini beberapa kegiatan favorit anak saya bersama saya, yang kami lakukan hampir setiap hari:
– Anak saya sedang di fase suka bermain bola plastik warna-warni. Jadi, saya suka ajak main dengan sarana ini. Kegiatan kami antara lain: latihan mengambil bola, membenturkan 2 bola, menjatuhkan bola, menerima bola.
– Anak saya suka dengan segala sesuatu yang menimbulkan bunyi. & dia suka membunyikan apa saja yang dia lihat ada di dekat dia. Kegiatan kami antara lain: tepuk tangan, menepuk tangan ke kaki, pukul-pukul kaleng bekas, remas-remas plastik bekas bungkus tisu basah & kotak bekas bubur bayi.Terima kasih.
September 1, 2022 at 9:42 pm #5970Sulifeka Umbara
MemberMas Aar dan Mbak Lala, kalau misalkan anak sudah bukan usia dini, tapi
sudah usia sekolah (9th), dan prinsip2 yg dipelajari di course ttg HSUD
ini sya terlewatkan smua, apakah msh ada cara untuk memperbaikinya? saya
baru menyadari banyak kesalahan yg sya lakukan thd anak sya saat dia
masih berusia dni, misalkan sya jarang meluangkan wktu untuk menemani
dgn mindful, bonding yg tdk terlalu kuat, dan jg stimulasi2 yg kurang
sya berikan. Jujur saja anak pertama saya ini lbh banyak diasuh dgn
mertua dan yg trjadi memang sya rasakan, skrg sya kurang dkat dgn anak
pertama sya ini, sering mendebat saya dan sya jg sering tidak sabar
menghadapinya. padahal kami skluarga sdh menjalani HS dari dia kecil
smpai skrg (tidak pernah masuk sekolah umum) apakah bonding kami ini msh
bsa dselamatkan? terima kasih atas jawabannya.September 2, 2022 at 11:00 am #5969Aar
KeymasterKak @sulifeka.umbara
Selalu ada kesempatan dan peluang tidak pernah tertutup selama kita hidup. Prosesnya mungkin tidak mudah dan tidak ideal.
Tapi kita selalu bisa melakukan sesuatu untuk membuat kondisi tidak memburuk, bahkan menjadi lebih baik.
Bagaimana caranya?
a. Fokus pada yang bisa dilakukan
Jangan berharap anak berubah. Lihatlah perubahan anak sebagai dampak dari hal-hal yang bisa kita lakukan. Yang bisa kita lakukan adalah semua hal terkait diri kita sendiri: sudut pandang kita, harapan kita, sikap kita, alokasi waktu kita, cara kita merespon, pertanyaan kita, pilihan kegiatan kita, komentar kita, dll.
b. Mulai dengan komunikasi baru
Jika Anda memang punya tekad bulat, Anda bisa memulai dengan minta maaf kepada anak atas kesalahan yang pernah dilakukan. Anda bisa menyampaikan komitmen dan rencana Anda untuk perubahan yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
c. Mulai dengan mengurangi komentar/penilaian
Kurangi komentar buruk, emosi/kemarahan, dan penghakiman. Fokus dan cari cara untuk mengapresiasi. Ungkapkan secara lisan hal baik yang dilakukan setiap kali Anda menemukan hal baik yang dilakukan anak.
d. Bersikap lebih santai dan lebih banyak mendengarkan
Sebagai bukti perubahan, turunkan ekspektasi yang sering bikin Anda emosi. Bersikaplah lebih santai saat anak melakukan hal (yang menurut Anda bermasalah). Bertanyalah dan dengarkan anak dengan tulus. Jangan berkomentar. Fokus menjalin ulang hubungan dengan anak.
“Tadi ada apa?”
“Mengapa begitu?”
Jika anak menjawab, jangan mengomentari apapun. “O iya.. begitu yaa…”
Jika pola komunikasi semacam ini terus Anda lakukan, anak-anak semakin lama akan semakin lembut hatinya dan sedikit demi sedikit akan terbangun trust-nya kepada Anda.
“Bunda mau berubah. Bunda pengin kita bisa berkomunikasi yang enak tanpa marah-marah dan suara tinggi.”
e. Mengajukan pertanyaan reflektif
Jika Anda sangat berani, Anda bisa bertanya:
“Apa yang perlu Bunda perbaiki dari sikap Bunda sebelumnya supaya kita bisa lebih baik?”
Apapun yang dikatakan anak, dengarkan dan terima. Jangan dibantah dan dimentahkan,
Pertanyaan ini untuk menunjukkan itikad baik kita.
Dalam bentuk yang lebih netral, pertanyaan ini adalah:
“Apa yang bisa kita lakukan supaya kita bisa menjadi lebih baik? Apa yang perlu Bunda lakukan? Apa yang mau kamu lakukan?”
Demikian kak, Semua proses itu tidak instan. Butuh banyak aksi dan bukti untuk membangun jembatan agar jarak yang lebar semakin dekat. Semakin banyak aksi dan bukti, semakin terbangun trust dan hubungan.
Jangan lupa untuk memperbanyak canda dan mengobrol yang santai tentang apapun yang tidak berakhir dengan penilaian/penghakiman/nasihat.
Semoga membantu🙏
October 11, 2022 at 8:50 am #5933Arsita Putri
MemberSelamat pagi kak Aar,
saya tertarik sekali dg topik ini, tapi saya ingin cerita kasus saya
saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya agar saya tidak LDR dg suami, dan anak mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari Ayah dan Ibunya.
Namun ternyata, saya mengalami post power syndrom dari yang tadinya saya menitipkan anak saya di daycare dan sekolah, menjadi saya sendiri yang mengasuh. saya seperti merasa kelelahan dan stres menghadapi anak saya 24 jam. apa yang harus saya lakukan untuk menjadi mindfulness?
saat ini saya sedang menjalani pengobatan dg psikiater karena kondisi mental saya. apakah 10 menit atau beberapa menit mindfulness sehari cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka?lalu sisa waktunya bagaimana?sedangkan pada kenyataannya anak saya meminta perhatian saya 24 jam, dan itu yang membuat saya stres. saya jadi merasa bersalah sebagai ibu
October 11, 2022 at 4:22 pm #5931Aar
KeymasterHalo kak @arsita-putri,
Terima kasih sharingnya.
1. Menguatkan kesehatan Ibu
Walaupun anak bersama kita 24 jam, bukan berarti kita melakukan kegiatan 24 jam hanya mengurusi anak. Jika anak terus rewel dan minta perhatian tak ada habisnya, ada beberapa kemungkinan yang terjadi:
a. Anak dalam kondisi tidak sehat secara fisik
b. Anak merasa tidak nyaman dengan suasana di rumah
c. Ibu dan/atau orang di sekitar anak sedang berada dalam kondisi tidak nyaman dengan dirinya sendiri yang mempengaruhi energi yang memancar ke sekitar (dan dirasakan anak)
Kunci penting untuk proses menjalani HS, terutama HS usia dini, adalah kesehatan fisik & mental orangtua.
Jika orangtua memiliki kendala dalam aspek fisik & mental, maka proses itu perlu diselesaikan dulu.
Kakak sudah ada di track yang tepat untuk berkonsultasi dengan psikolog dalam penguatan kesehatan mental kakak. Proses ini perlu diteruskan hingga kakak merasa nyaman menjalani keseharian (untuk diri sendiri) maupun bersama anak.
Kalau kakak merasa sehat dan nyaman dengan keseharian yang kakak jalani, respon kakak kepada anak dan sekitar akan menjadi lebih baik. Ini akan menciptakan spiral positif untuk kesehatan kakak dan anak.
2. Kegiatan Harian
Tentang membersamai anak-anak, yang dimaksud kegiatan 30 menit/hari itu adalah waktu khusus yang dialokasikan untuk menemani anak berkegiatan. Dalam waktu 30 menit tersebut, Anda hadir sepenuh hati, tanpa distraksi, dan melakukan kegiatan aktif bersama anak. Bentuknya bisa mengobrol, bercerita, membacakan buku, kegiatan bikin2, jalan2, masak2, dll.
Di luar waktu itu, Anda dan anak2 melakukan kegiatan seperti biasa.
Anda mungkin memasak, beres2 rumah, olahraga, berkebun, belajar terkait hobi, melakukan hobi, dll.
Untuk anak2, sediakan alat2 berkegiatan yang sesuai dengan kesukaan mereka dan bisa Anda sediakan, misalnya: aneka jenis balok, kertas warna-warni, pensil warna, mainan, dll. Berikan anak keleluasaan melakukan kegiatan mereka secara mandiri.
Sambil Anda melakukan kegiatan pribadi, sesekali Anda mengobrol bersama anak, menanggapi anak, dll (tapi tidak perlu dilakukan secara terus-menerus bersama anak). Intinya, kegiatan harian Anda tetap terlaksana dan anak belajar mengelola kegiatannya sendiri.
Demikian kak, semoga membantu.
Jika ada pertanyaan lanjutan, dipersilakan. 🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.