Podcast Mindset Homeschooling Usia Dini

Belajar Parenting Forums Memulai Homeschooling Usia Dini Podcast Mindset Homeschooling Usia Dini

  • This topic is empty.
Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 19 total)
  • Author
    Posts
  • #4618
    Mira Julia
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #6870
    Anonymous
    Guest

    Pak Aar, sy jadi merasa bersalah ketika saat ini, anak sy (4 th) masih sering dan cenderung menyukai jajanan2 yg manis, sementara salah satu tujuan hs usia dini menjadikan anak memiliki pola makan yg sehat. Adakah saran untuk mengubah kesenangannya itu? Sisi baiknya dia sangat menyukai buah-buahan. Terimakasih.

    #6859
    Anonymous
    Guest

    Mba lala, sy mo tanya terkait pernyataan setiap anak itu unik. Anak kami dl wkt usia 4 thn(skrg usia 6 th)dia sekolah d TK A. Tujuan kami menyekolahkan utk sosialisasi dan cari kegiatan lain mengingat dia anaknya aktif. Di rumah kmi sdh mngajak dia bermain dan bkegiatan dan dia antusias sekali. Dia talkactive dan siciable.
    Tapi pas d skl, dia jarang mau berbaur dg yg lain. Pede sih dia dan kalau diajak ngobrol mau dan nyambung.Dia jg terkesan ga bisa mengikuti aturan. Misal saat diminta mewarnai, dia malah menggambar hewan kesayangannya, dino. Saat diminta pakai seragam hitam dia bilang ga mau karena ga suka warna hitam, dll. Bagi kami itu ga masalah dan mnganggap itu bagus(punya keinginan dan berani beda sama yg lainnya selama tdk mlanggar norma dan ajaran agama). Tapi bagi guru dan yg lainnya belum tentu memiliki persepsi yg sama, kan. Dia pergi k skl hy 3 x dlm 1 mnggu slm 1 semester, krn dlm perkembangannya anaknya kurang menikmatinya. Kmi berusaha memfasilitasi dan mdukung keinginan/kcenderungan anak.
    Kmren dia skl lg d tk A, dan daring. Relatif ga ada masalah krn kendali ada d kami dlm mjalani kgiatan.

    1. Nah, bgmn msikapi anak kami yg spt itu seharusnya?
    2. Bgmn kmi hrs mengkomunikasikannya kpd pihak sekolah(trutama jika sdhbluring) agar pihak skl mau menerima knyataan bhw setiap anak memang unik?
    3. Bgmn pihak skl seharusnya memfasilitasi anak yg spt itu, krn km di klrg mempunyai yayasan yg bergerak d bidang pendd usia dini dan km ingin mberikan ruang utk anak dg ootensi dan keunikkan masing². Terimakasih

    #6858
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Yulianti,

    Semua kelas di Rumah Inspirasi adalah kelas pembimbingan untuk menjalani homeschooling. Konteks materinya semuanya adalah anak dan orangtua/keluarga, bukan anak dengan sekolah.

    Kami mohon maaf tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda terkait sekolah (pertanyaan 2 & 3).

    Jika anak selalu menyatakan/bersikap berbeda dari yang diminta, ada kemungkinan dia sedang melakukan pemberontakan. Ada hal yang tak disukainya yang mungkin terakumulasi dan membuatnya tak berdaya. Tapi dia tak bisa mengelak karena harus menjalaninya. Sebagai reaksi, anak akhirnya tetap menjalani tapi dia melakukannya dengan suka-suka.

    Dalam konteks orangtua dan anak, kondisi ini perlu digali penyebab pemberontakannya agar anak bisa mendapatkan jalan yang untuk kesehatan mentalnya. Jika perlu menggunakan profesional (psikolog) untuk menggali dan mencari solusinya.

    Dalam konteks HS, semua hal ada dalam kontrol orangtua dan anak. Proses penyelesaiannya jauh lebih mudah karena orangtua tidak harus memaksa anak melakukan sebuah hal yag ditentang anak. Yang penting orangtua fokus pada tujuan belajar yang ingin dilakukan. Caranya dilenturkan dan disesuaikan dengan kesepakatan-kesepakatan bersama anak.

    Satu lagi, hal yang perlu ditingkatkan lagi adalah kualitas komunikasi dan bonding antara orangtua dan anak dengan banyak melakukan kegiatan santai bersama yang bikin happy seperti jalan pagi, masak bersama, dan melakukan kegiatan2 ringan yang sama-sama disukai.

    Demikian, kak.

    Mohon maaf jika tidak bisa menjawab sesuai harapan.

    #6851
    Anonymous
    Guest

    Baik Mas Aar terimakasih responnya.
    Kami juga pernah berprasangka bahwa tingkahnya yang seringkali beda dengan yang diharapkan(secara formal di sekolah) adalah salahsatu bentuk ‘pemberontakkannya.
    Namun, kami melihat bahwa dia melakukan semua(yang berbeda itu) tidak dengan kasar, uring2an, atau marah2. Dia ‘polos’ saja, nggeluyur gitu kayak ga ada beban. Saat ditanya kenapa tidak mau melakukan seperti yang lain, dia hanya menjawab enteng ‘aku ga suka.”
    Di rumah dia tidak menunjukkan sikap kontroversi atau hal2 menentang lainnya. Kami juga merasa bahwa dia memiliki waktu yang cukup bersama kami. Kami sering main bersama, dan hubungan kami cukup baik(minim sekali bentakkan), ya sejauh ini kami fikir hubungan kami baik2 saja, malah cenderung hangat, sih.
    Oia, belakangan kami menemukan dan membaca artikel terkait FITRAH INDIVIDUALITAS seorang anak( Bang Aad-Ust Harry Santoso). Disana dikatakan bahwa seorang anak yang fitrah individualitasnya TUMBUH BAIK itu salahsatu cirinya adalah anak menunjukkan sikap BERANI “berbeda” dengan yang lainnya.
    Kami berharap semoga demikian adanya dan seiring perkembangan usianya dia makin bisa “menyesuaikan” diri dengan lingkungannya.
    Meskipun begitu, kami harus tetap ‘waspada’ dan ‘mengobservasi” kemungkinan adanya ‘pemberontakkan’ yang dia tunjukkan melalui sikapnya tsb.
    Terimakasih Mas dan Mba..

    #6848
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih kak Yulianti atas tambahan informasi dan masukannya,

    Kalau dirasa “pemberontakannya” itu tidak mengganggu dan diyakini sebagai bagian dari pertumbuhan fitrah individualitas, tentu saja tak apa-apa.

    Pemberontakan yang saya maksud sebenarnya tidak selalu bermakna buruk. Pemberontakan di sini maksudnya adalah: anak mulai mempertanyakan nilai-nilai di luar dirinya, dia mulai bersikap kritis dan membangun nilai-nilanya sendiri. Ini kondisi alamiah dan membuat dunia ini terus bertumbuh.

    Setiap generasi membangun nilai-nilai yang terkait respon terhadap zamannya. Itulah sebabnya selalu ada gesekan dan dinamika antar-generasi.

    Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua?

    Hal yang paling bisa dilakukan orangtua adalah membangun trust dan kedekatan bersama anak. Itu akan membantu anak melewati proses transisi saat remaja dengan lebih mulus.

    #6846
    Anonymous
    Guest

    Baik, Mas. Terimakasih banyak insight2nya…

    #6833
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Linda,

    Kita semua berproses sesuai kapasitas dan proses bertumbuh kita, kak. Ketika ada pengetahuan dan wawasan kesadaran baru, kita mencoba merevisi wawasan lama dan berupaya menjadi lebih baik.

    Nah, prosesnya sesederhana itu. Yang penting fokus masa kini dan masa depan. Maju terus saja, kak.

    Untuk ke depan, yang penting mulai dipikirkan strategi dan prosesnya bersama anak.

    Pertama, ceritakan pada anak.
    “Eh, kak. Ternyata Bunda baru tahu kalau kita terlalu banyak makan makanan manis, itu tidak bagus buat tubuh kita. Jadi, kita akan sama-sama belajar mengelola gula yang kita makan. Kakak mau sehat terus, kan?”

    Kedua, kurangi secara bertahap. Jangan terlalu mendadak perubahannya. Awali dengan mengurangi frekuensi jenis asupan manis. Kalau biasanya setiap hari, menjadi dua hari sekali.

    Ketiga, sediakan alternatif pengganti makanan manis dari gula. Ganti dengan buah-buahan.

    Keempat, lakukan proses ini sebagai perjuangan bersama, bukan hanya untuk anak. Bangun kesadaran dan proses ini bersama pasangan sehingga menjadi nilai-nilai baru keluarga.

    Demikian kak, semoga membantu.

    #6581
    Tania
    Member

    Halo mas Aar dan mbak Lala

    Di podcast ini saya dengar kalau kita oerlu mengupdate diri dengan ilmu parenting. Apakah ada rekomendasi sumber parenting terpercaya yang bisa saya dengarkan ? Anak saya saat ini berusia hampir 2 tahun. Terima kasih. Tania

    #6579
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @nicesun

    Update ilmu parenting bisa dilakukan di mana-mana, kak. Kami tidak membatasi proses belajar parenting di sebuah tempat tertentu.

    Dan lain-lain.

    Semoga membantu.

    #5939
    Afifa
    Member

    Assalamualaikum mas Aar. Terima kasih atas ilmunya 😊

    Utk keterampilan dasar, anak saya 3 tahun sdh bisa makan, pipis sendiri. Tapi semenjak punya adik (7 bulan), jadi segala bilang ga bisa. Makan ingin disuapi, celana minta dipakaikan dsb.

    Saya coba penuhi tangki cintanya karena berpikir ia begitu utk meminta perhatian saja krna sy sibuk dengan adiknya.

    Tapi tetap masih kesulitan menangani kerengekannya yg ingin dilayani.

    Apa sikap yang bisa kami berikan utk anak pertama kami ya mas?

    Terima kasih 🙏🏻

    #5938
    Aar
    Keymaster

    Wa’alaikum salam wr wb

    Kak @nur-afifa-fajarina

    Perilaku anak sehari-hari adalah ekspresi dari kondisi emosi dan mentalnya. Karena dia belum terampil mengungkapkan diri tentang apa yang dirasakannya, maka ekspresinya terkadang hanya bisa disalurkannya melalui perilaku.

    Dari penjelasan kakak, yang saya tangkap anak mengalami problem emosi yang mungkin membuatnya merasa insecure atau merasa khawatir. Mungkin pemicunya kelahiran adik. Mungkin ada faktor2 lain yang memperburuk, misalnya dia dimarahi (yang kena ke hatinya) atau peristiwa2 lain.

    Masa2 seperti ini memang periode yang tidak mudah bagi semuanya, baik Ibu maupun anak. Ibu mungkin dalam kondisi yang secara fisik & emosional tidak stabil karena lelah (dan mungkin tekanan kondisi keseharian). Anak merasa kehilangan rasa aman dan nyaman yang biasanya dia peroleh.

    Secara umum, yang kakak lakukan sudah bagus; yaitu mengisi tanki cinta.

    Kondisi yang perlu digali lebih dalam adalah: apa yang membuat tanki itu tak kunjung penuh sehingga anak masih merengek dan belum selesai?

    Tanki penerima bocor

    ~ apakah ada kebocoran di tanki anak sehingga mudah habis dan terus kekurangan? Kebocoran pada anak terjadi karena anak belum menemukan kesehariannya yang mengasyikkan atau masih ada luka emosi yang belum sembuh & menguras isi tanki terus.

    Jika kondisi ini yang terjadi, berarti perlu mencarikan anak kegiatan yang asyik. Mungkin perlu bantuan pasangan/saudara/tetangga dalam konteks menemukan kegiatan yang asyik ini.

    Kualitas air yang disalurkan

    ~ apakah kualitas air yang disalurkan ke tanki jernih?

    Jika kualitas airnya kotor, kemungkinan efektivitasnya rendah walaupun tanki sudah diisi penuh. Kualitas air terkait dengan kualitas kesehatan emosi Ibu. Ini memang hal yang tak mudah karena Ibu mungkin merasa capek secara fisik & emosional saat menangani bayi & keseharian.

    Akan menjadi hal yang baik jika kondisi ini dikomunikasikan dengan pasangan dan keluarga. Mungkin Ibu perlu mendapatkan waktu istirahat yang cukup (sesekali) untuk menjaga kesehatan mental. Tidur yang kurang bisa jadi penyebab gangguan ini dan ini lumrah terjadi pada Ibu dengan bayi karena kacaunya pola tidur Ibu akibat bayi.

    Tapi jika disadari bahwa ini kemungkinan penyebabnya, solusi2nya bisa dipikirkan.

    Kualitas pipa penyalur

    ~ apakah suasana lingkungan keseharian di rumah kondusif?

    Saat berkegiatan, anak bukan hanya butuh ditemani secara fisik tapi energi kehadiran Ibu perlu dirasakan oleh anak. Ini tentu saja hal yang sangat berat untuk Ibu (karena kelelahan) dan susah dimengerti oleh anak sehingga anak selalu merasa kurang.

    Selain itu, lingkungan keseharian terkait juga suasana yang nyaman, tentang, terpola. Anak makan, mandi, dan berkegiatan secara teratur (tidak hanya disuruh melakukannya sendiri karena pondasi kemandiriannya masih sangat lemah). Jika dia belum bisa mandiri, sementara Ibu sedang keteteran dengan fisik, mental, dan adik; itu bisa memicu emosi Ibu yang akibatnya justru bisa menjadi spiral negatif bersama anak.

    Demikian kurang lebihnya, kak.

    Saran saya,

    • terimalah kondisi kakak sebagai kondisi temporer yang perlu dimaklumi. Jangan direspon dengan marah & kecewa. Turunkan ekspektasi pada kakak. Fokus dulu untuk survival dan menjalani keseharian dengan asyik (minim drama).
    • perkuat kesehatan fisik dan mental ibu. Ini akan menjadi kunci besar untuk daya tahan kakak mengelola dinamika keseharian.
    • jika memungkinkan, cari bantuan untuk meringankan beban Ibu sehingga Ibu bisa recover lebih cepat kesehatan fisik & mentalnya.
    • jika memungkinkan, carikan anak kegiatan yang disukainya bersama teman/tetangga (yang tidak tergantung pada Ibu)

    Semoga membantu 🙏

    #5935
    Afifa
    Member

    Masyaallah terima kasih mas Aar atas jawabannya 🙏🏻 Jadi semakin paham dan tercerahkan. Doa terbaik untuk mas Aar dan keluarga 🤲🏻

    #5674

    Selamat malam mas @Aar dan mba @Lala 🙏

    Izin bertanya,

    #Mengenai kejujuran

    Saat saya sedang menyalakan rice cooker. Kemudian kk bilang ‘ibu, bau gas’. Saya langsung pergi ke dapur. Benar bau gas, tapi tidak ada api yang menyala. Di rumah hanya ada saya, Kk (4th) dan ade (1th). Kemudian saya bertanya kpd Kk . Apakah Kk yang menyalakan kompor? Dan Kk jawab ‘iya’.

    Kk memang suka tertarik dengan kegiatan memasak, mencoba menyakan kompor. Dan pernah meniup api kompor yang sedang menyala.

    Respon saya atas kejadian di atas adalah marah dan kaget.

    Marahnya ketika saya bertanya bagaimana cara Kk menyalakan kompornya. Kemudian kk menjawab dengan pantat. Saya bilang k kk masa menyalakan dengan pantat coba tunjukkan caranya kpd ibu. Kemudian kk langsung nangis dgn emosi yang meluap2. Mungkin respon kk melihat saya yg marah juga.

    Dari kejadian itu saya sampaikan ke suami. Kt suami mungkin jawaban kk dalam pemikirannya dia menganggap ini adalah sebuah cara bermain dengan ibunya atau becanda kpd ibunya. Tapi ibunya selalu berpikiran hal yang logis.

    Yang membuat saya marah adalah menanggapi jawaban kk yg menurut saya tdk ‘jujur’. Tp saya pun menyadari sepertinya saya memberikan respon yang berlebihan kpd Kk. Saya pun menjelaskan k kk kenapa saya marah karena anggapan ibu kk bicara tidak jujur. Apakah ini terkesan menghakimi anak cara seperti ini.

    Mohon sarannya agar saya bisa mengevaluasi diri.

    Terimakasih mas Aar dan Mba Lala.

    #5673
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @vera-marsela,

    Terima kasih sharingnya. Reaksi spontan orangtua yang marah karena kaget dan takut kebakaran/anak terluka adalah hal yang wajar. Jangan terlalu dibawa ke dalam perasaan yang berlarut-larut.

    Yang penting direfleksikan adalah:

    Apakah pola respon kakak yang seperti ini berulang? Jika iya, berarti perlu dicari penyebabnya apakah ada kekhawatiran atau pengalaman personal yang membuat kakak merespon cukup keras atas peristiwa ini? Apa yang menjadi concern pemicu besar emosi: api (kebakaran), luka anak, atau kebohongannya?

    Membawa hal-hal yang ada di lapisan bawah sadar ke dalam kesadaran adalah salah satu upaya awal untuk membuatnya menjadi lebih terkelola.

    Meningkatkan Kualitas Respon

    Bagaimana cara meningkatkan kualitas respon terhadap kondisi seperti ini?

    1. Anak mencari aman

    Secara umum, pemandu aksi yang dilakukan oleh anak-anak bukanlah moral (bohong/jujur), tetapi respon yang mereka terima. Anak akan memilih aksi yang aman buat mereka.

    Jika anak jujur dan mendapatkan respon baik, maka dia akan memilih jujur. Jika respon jujur membuat dia dimarahi, maka dia tidak memiliki insentif untuk berkata jujur.

    Untuk membuat anak terbiasa berkata apa-adanya, penting bagi kita untuk membangun insentif yang menguntungkan anak. Jika dia berani berbicara apa-adanya, maka dia tidak akan mendapat kemarahan, bahkan diapresiasi. Maka, anak melihat bahwa jujur itu menguntungkan.

    2. Fokus pada petunjuk aksi

    Yang selalu menantang dalam proses menemani anak-anak adalah tidak mudah panik dan mengelola emosi kita. Jika kita marah dan kemudian memberikan komentar/petunjuk, hampir dipastikan yang diingat anak adalah kemarahannya. Petunjuk kita akan dilupakan. Dan itu akan membuat peristiwa yang sama kemungkinan besar berulang.

    Jika kita bisa tenang (dan ini susah), maka kita bisa fokus untuk memberikan petunjuk pada aksi:

    a. “Kakak tahu cara menyalakan kompor dengan aman? Begini caranya….!

    b. “Kakak coba sini belajar menyalakan kompor bersama mama.”

    c. “Kakak boleh menyalakan kompor bersama Mama, tapi tidak boleh sendirian. Tahu nggak kenapa? Apa bahayanya? (tunggu anak sendiri yang memberikan jawaban sebagai tanda dia mengerti aturan main dan bahaya menyalakan kompor tanpa ditemani Bunda)

    Demikian kak, semoga membantu.

    🙏

Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 19 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top