Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Dini › Podcast Miskonsepsi & Realita Homeschooling
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 20, 2020 at 5:38 pm #4619
Mira Julia
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
January 18, 2021 at 8:42 am #7045Anonymous
GuestBismillaahirrahmaanirraahiim
Hallo lagi, Mas Aar/Mbak Lala
Setuju sekali mengenai kesiapan anak dan penguatan rasa percaya diri pada anaknya. Jika anak sudah siap dan memiliki rasa percaya diri yang baik, maka anak akan dengan mudah nantinya menerima dan menyerap pengajaran materi yang terkonsep.
January 18, 2021 at 3:03 pm #7044Aar
KeymasterBetul kak Indriana,
Hal-hal yang kelihatannya sederhana seperti membangun kepercayaan diri adalah pondasi-pondasi penting untuk perkembangan anak dalam jangka panjang.
January 30, 2021 at 5:16 pm #7009Anonymous
GuestHalo lagi mas Aar dan mbak Lala, saya ada pertanyaan terkait calistung. Anak saya K umur 2,5 Tahun saat ini sudah mengenal beberapa huruf dan angka dengan proses yang tidak dipaksakan, misalnya dengan bermain puzzle huruf dan angka, atau sambil saya memasak bernyanyi ABC. Berdasarkan materi di atas, fokus HS bukan ke calistung, dengan ini apakah perlu dialihkan kemampuan yang sudah dimiliki tadi dengan fokus keamanan, kenyamanan, dan kebiasaan baik?
January 31, 2021 at 3:11 pm #6998Aar
KeymasterHalo kak Trisa,
No problem kak untuk proses yang sudah berjalan.
Untuk selanjutnya, proses bersama anak diperkaya dengan beragam stimulasi yang tidak fokus pada calistung, sebab fokus pendidikan anak usia dini memang bukan itu.
Ketika anak bisa membaca cepat, kita menduga anak akan menjadi sangat cerdas dan berkembang pesat. Ternyata yang terjadi tidak demikian.
Kegiatan belajar membaca membutuhkan kesiapan perkembangan otak kiri/logis dan otak kanan/visual anak. Otak kiri baru tersambung dengan otak kanan di usia sekitar 7 tahun. Itulah sebabnya, para ahli menyarankan anak-anak belajar membaca saat usia 7 tahun. Jika anak belajar membaca sejak usia 7 tahun bukan berarti mereka akan bodoh dan ketinggalan.
Risiko anak yang terbiasa membaca secara visual dan tidak terlatih membaca secara logis adalah masalah untuk memahami teks dan gagasan-gagasan yang kompleks. Tentu saja kita tidak mengharapkan anak-anak kita seperti itu.
Untuk proses selanjutnya, Anda bisa mulai berfokus pada “kebahagiaan” saat berkegiatan. Juga membangun kebiasaan-kebiasaan baik bersama anak.
Aneka stimulasi yang sesuai dengan usia bisa dicek dari checklist perkembangan anak: https://member.rumahinspirasi.com/courses/memulai-homeschooling-usia-dini/lessons/kurikulum-homeschooling-usia-dini/topic/checklist-parameter-perkembangan-anak-diknas/
Mudah-mudahan proses ini membuat hati kakak lebih ringan dan bahagia saat menjalani kegiatan bersama anak-anak.
February 26, 2021 at 7:18 pm #6943Anonymous
Guesthalo mas aar, boleh jelaskan ttg membaca secara logis yg disebut diatas? trims..
February 27, 2021 at 3:21 pm #6940Aar
KeymasterKak Dian,
Ada 2 proses yang biasanya dilakukan anak saat belajar membaca. Yang pertama adalah proses decode (melafalkan lambang huruf/suku kata/kata menjadi bunyi). Yang kedua adalah memahami makna dari teks.
Jika anak belajar terlalu dini, biasanya prosesnya hanya berhenti di proses pertama: anak bisa melafalkan menjadi bunyi. Ini yang sering difahami sebagai sudah bisa membaca (walaupun anak belum mengerti makna bunyi-bunyi yang diucapkannya).
Sayangnya orangtua sering merasa bangga dan berhenti pada jenjang ini. Padahal ada satu proses lagi yang dibutuhkan berkaitan dengan literasi yaitu memahami teks yang dibaca (ini yang disebut membaca secara logis). Kalau langkah kedua ini tidak dilakukan, anak hanya akan menjadi seperti “beo” dan bisa mengalami kesulitan saat membaca teks yang kompleks.
Untuk bisa memahami kata-kata yang diucapkan, dibutuhkan bagian lain dari otak yaitu otak logis yang biasanya baru tersambung dengan otak visual pada saat anak berusia sekitar 7 tahun.
Itulah sebabnya, kita perlu bersabar saat mengajari anak membaca karena ada kondisi fisiologis otak anak yang juga perlu kita perhatikan.
Semoga menjawab dan membantu.
February 27, 2021 at 10:30 pm #6939Anonymous
GuestHalo mas Aar, mau bertanya stimulasi apa saja yang bisa di lakukan agar anak memahami isi bacaan, anak saya hampir 8 tahun, jika dibacakan buku tampak memahami sekali isi bacaan, tetapi jika bacaan di baca sendiri, ia sama sakali tidak paham apa isi bacaannya bahkan untuk bacaan yang sederhana sekalipun, terimakasih sebelumnya 😊🙏🙏
February 2, 2022 at 9:07 pm #6696Anonymous
GuestAda pendapat dimasyarakat mengapa mengirimkan anak2 ke preschool daripada homeschooling,bahwa pengajar di lembaga2 utk anak2 usia dini punya latar belakang pendidikan guru atau psikolog anak, kemudian cara belajar juga berbeda,
Kalo anak tidak mengikuti akan ketinggalan. Contohnya anak skrg TK uda lancar berbahasa inggris.Jadi bagaimana ya dgn hal ini? Tentu banyak ortu yg kuatir akan hal ini (termasuk sy) dan menjadi pertimbangan utk hs anak atau tidak diusia dini
February 2, 2022 at 9:08 pm #6695Aar
KeymasterKak Dewi,
1.
Pendapat di masyarakat sangat banyak dan beragam. Kita akan kelelahan kalau harus memperhatikan dan menjawab semua pendapat orang lain.Biasakan untuk mencari mana yang paling tepat untuk anak dan mengabaikan pendapat orang lain. Agak keras kepala? Iya mungkin. Kita fokus pada hal yang terbaik bagi anak-anak.
Salah satu kunci HS adalah keyakinan orangtua bahwa kita (orangtua) sanggup mendidik anak-anak kita. Di podcast lain, saya sudah membahaskan bahwa ada 2 aspek dalam pendidikan dan pengajaran, yaitu: pengasuhan dan pengajaran. Porses dalam HS Usia Dini terutama berkaitan dengan pengasuhan: memberikan rasa aman dan nyaman pada anak sehingga mereka bisa berkembang optimal dalam jangka panjang.
Pendidikan juga bukan untuk mengkompentensi anak menjadi jago pada hal-hal akademis karena kita baru akan memetik buah pendidikan saat anak remaja dan dewasa.
Tidak ada orang lain yang bisa menjawab kekhawatiran Anda.
Pertanyaan yang perlu Anda jawab sendiri adalah: apakah yang dipelajari anak-anak itu betul-betul penting dan bermanfaat dalam pendidikan usia dininya? Apa konsekuensi terburuk kalau anak tidak mempelajarinya?
2.
Bahasa adalah alat berpikir dan mengungkapkan perasaan. Bahasa adalah alat komunikasi. Karena itu, pelajaran bahasa adalah keterampilan praktis yang harus diselaraskan dengan kondisi tempat lingkungan anak berada. Jika lingkungan kehidupan anak tak selaras dengan yang dipelajari, anak justru akan memiliki kebingungan dalam bahasa.Oleh karena itu, bahasa pertama yang perlu dikuasai anak dengan baik adalah bahasa Ibu (bahasa yang digunakan sehari-hari dalam hidupnya). Bahasa lain bisa dipelajari jika memang bahasa tersebut sering digunakan dalam keseharian anak dan keluarga.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini, itu prinsipnya.
Anak perlu belajar khusus bahasa Inggris jika memang keluarga dan kesehariannya berbahasa Inggris. Anak perlu belajar secara khusus Mandarin jika memang keluarga dan lingkungan kesehariannya menggunakan bahasa Mandarin.
Jika tidak, maka proses belajar bahasa cukup dengan seringnya memaparkan anak dengan bahasa tersebut, misalnya dengan menonton film, membaca buku, dan lain-lain.
February 2, 2022 at 9:08 pm #6694Anonymous
GuestIzin bertanya Pak Aar,
Jika orang tua ingin anak menghafal Quran di usia dini, apakah itu termasuk mengejar materi akademis?
terima kasih
February 2, 2022 at 9:09 pm #6693Aar
KeymasterMbak Panny,
Bagi umat Islam, kebutuhan anak untuk menghafal Al Quran dan doa adalah sebuah kebutuhan karena digunakan dalam ibadah sholat dan kegiatan ibadah lainnya.
Ada 2 sudut pandang terkait kegiatan menghafal untuk anak usia dini:
a. Itu adalah sebuah hal yang baik karena berkaitan dengan ajaran Allah dan oleh karena itu perlu dilakukan. Anak perlu dibiasakan untuk menghafal Al Quran sejak dini. Ini pandangan yang paling umum di masyarakat.
b. Karena cara berpikir anak usia dini masih konkrit (bukan abstrak), anak sebenarnya belum memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan pahala, akhirat, dan sebagainya. Proses yang dijalani anak hanya meniru contoh yang dilakukan orang dewasa. Oleh karena itu, proses belajar menghafal Al Quran perlu dilakukan dengan menyediakan lingkungan yang kondusif (misalnya: anak sering mendengarkan murottal atau meniru orangtuanya berdoa/mengaji).
Dari sudut pandang pengasuhan, proses penting yang perlu dijaga adalah suasana dan proses belajar anak agar berlangsung menyenangkan, bukan dengan cara formal yang menekankan pada hasil. Proses yang membahagiakan lebih berdampak baik dalam pengalaman anak jangka panjang..
Yang kedua, proses belajar harus menempatkan anak sebagai subyek. Proses belajar jangan dilakukan dengan menjadikan anak sebagai obyek untuk kebanggaan orangtua, tetapi memang demi kebaikan anak. Itu yang perlu menjadi perhatian dan kehati-hatian orangtua.
February 2, 2022 at 9:09 pm #6692Anonymous
GuestBaik, terima kasih banyak penjelasannya Pak Aar
Jadi tidak mengapa kita mengajarkan sejak dini namun yang harus diingat bagikita sebagai orang tua adalah bukan banyaknya hafalan yg anak kita bisa capai, tapi seberapa bahagia si anak dengan proses menghafalnya. Begitu ya Pak?
February 2, 2022 at 9:09 pm #6691Aar
KeymasterBetul kak Panny
February 4, 2022 at 7:11 am #6680Vendryana –
MemberTerima kasih atas materinya Mas Aar.
Saya ingin bertanya, di usia anak pertama Mas Aar & Mbak Lala yang sudah kuliah, apakah boleh cerita apa yang ia rasakan dari full homeschooling lalu sekarang masuk dunia perkuliahan dan belajar bersama banyak orang? Apakah ia perlu waktu untuk adaptasi dulu dan bagaimana saat di kondisi harus belajar bersama? Apakah anak homeschooling in general (atau berdasarkan pengalaman) lebih punya inisiatif dan leadership dalam kegiatan berkelompok?
Dan di podcast dijelaskan, pendidikan usia dini bukan untuk kompetensi tp untuk dipetik nanti. Apakah Mas Aar dan Mbak Lala sudah merasakan hasilnya sekarang di anak pertama atau bahkan sampai anak ke-3? Hasil apa yang paling bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan bersosialisasi anak?
Terima kasih sebelumnya, maaf kalau nanyanya tentang anak Mas Aar dan Mbak Lala sendiri. Saya dan suami masih butuh penguatan dan masukan untuk menentukan rencana anak kami ke depannya. 🙂
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.