Belajar Parenting › Forums › Manajemen Keseharian Homeschooling › Mengelola Jadwal Anak
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 23, 2019 at 1:01 pm #4667
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
June 16, 2020 at 7:02 am #7194Anonymous
GuestKapan harus mendaftar di PKBM? Apakah satu tahun sebelum ujian paket atau kesetaraan ? Atau ketika anak mulai masuk usia sekolah ? Posisi anak pra sekolah mulai homeschooling.
June 30, 2020 at 12:16 pm #7161Anonymous
GuestAdakah tips dr pak aar dlm memilih PKBM? Karna yg saya liat di sekitar saya terutama pekalongan…. PKBM tp berpromosi homeschool
July 1, 2020 at 4:08 pm #7160Aar
KeymasterKak Dwi,
Bagaimana cara memilih PKBM untuk HS? Apa kriterianya?
Cari yang tidak berlabel homeschooling ya…
Beberapa kriteria penting untuk PKBM yang ramah dengan HS, antara lain:
1. Fleksibilitas proses belajar
Tidak mensyaratkan kehadiran tatap-muka.2. Dukungan belajar online
PKBM menyediakan dukungan dalam bentuk materi belajar/kegiatan secara online, minimal dalam bentuk modul belajar dan mekanisme penilaian.3. Memiliki NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional)
~ Cek NPSN PKBM: https://referensi.data.kemdikbud.go.id/index31.php4. Bisa mengadakan ujian Kesetaraan sendiri (tidak menumpang)
5. Dukungan tutorial dan kegiatan siswa secara online (optional)
6. Pertanyaan ke PKBM
Berikut ini beberapa pertanyaan yang bisa diajukan ke PKBM:
1. Apakah PKBM punya NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional)?
2. Apa akreditasi PKBM?
3. Apakah PKBM berhak mengadakan Ujian Paket sendiri (tidak menumpang ke PKBM lain)?
4. Apakah ada syarat kehadiran fisik di PKBM? Kapan siswa harus hadir?
5. Layanan apa saja yang diberikan oleh PKBM? Modul, tutorial, dll?
6. Apakah ada pembelajaran online? Apakah anak bisa belajar mandiri?
7.Apakah ada student club atau klub kegiatan anak?
8. Berapa biaya? Apa komponen biaya yang harus dibayar?
9. DllUntuk mendaftar, tidak harus PKBM di kota Anda. Anda bisa memilih PKBM di luar kota.
Sebagai informasi berdasarkan pengalaman, anak2 kami terdaftar di luar kota tempat kami tinggal. Saat ini anak kami terdaftar di PKBM Piwulang Becik (http://www.PiwulangBecik.com). Ini hanya salah satu contoh saja.
July 21, 2020 at 10:41 pm #7134Anonymous
GuestSebagai orang dewasa tentu kita dihadapkan pada situasi mengelola diri sendiri, keluarga ataupun di luar itu semua seperti pekerjaan. Tentu framing di kepala kita yang bekerja, manajemen di kantor yang mau diterapkan di manajemen homeschooling kita, seperti jadwal yang teratur (8-12), disiplin mengerjakan soal, dsb, dsb. Sehingga aspek fleksibelitasnya bisa jadi malah tidak ada karena mungkin framing di pola pikir kita ya akhirnya seperti sekolah ataupun aktivitas di kantor.
Bagaimana menyiasatinya dari sisi orang tua sebagai manajer homeschooling karena nanti anak pasti akan protes: koq sekolah di rumah gak asyik, terlalu banyak tugas, misalkan.
July 23, 2020 at 9:44 am #7131Mira Julia
KeymasterBetul sekali, kak Aditya,
Oleh karena itu, memang dibutuhkan pergeseran mindset pada orangtua. Bayangan jenis perusahaan/kantornya jangan pabrik dengan jadwal tetap, pengawasan ketat, otonomi yang rendah pada pegawai, sistem ban berjalan.
Bayangkan Anda bekerja sebagai manajer atau menjadi pemilik perusahaan kreatif (advertising, artis, media). Anda perlu mengenali tujuan serta membangun suasana kerja yang nyaman bagi tim sehingga kreativitas mereka terjaga dan bisa mengeluarkan yang terbaik dari dirinya. Jadi, fokusnya bukan para prosedur yang ketat, tapi pada tujuan yang ingin dicapai dengan proses-proses yang lebih fleksibel.
Semoga mindset ini bisa membantu.
February 16, 2021 at 3:27 pm #6958Anonymous
GuestHalo kak Aar&Kak Lala,
Kondisi keluarga kami yg lbh banyak waktu luang adalah saya sbg Ibu. Namun ttp saja saya&suami sepakat ada bbrp hal yg memerlukan keterlibatan aktif suami dgn anak langsung dlm proses belajar.
Selanjutnya, saya adalah tipe yg suka dan butuh jadwal. Sementara suami adalah tipe yang go show, mengingat jam kerjanya juga tdk tetap.Saya kepikiran u/mencari titik temu dmn anak ttp dibuatkan jadwal keseharian terutama kegiatan bersama saya. Lalu u/kegiatan bersama suami, dilakukan secara spontan.
Jika seperti itu apakah ada pengaruhnya kpd anak? Apakah anak bs menjadi bingung/tidak?
Trmksh banyakFebruary 17, 2021 at 9:45 am #6957Aar
KeymasterKak Kartika,
Tidak apa-apa kak. Proses yang Anda jalani sangat wajar dan biasa terjadi di keluarga praktisi homeschooling.
Yang penting Anda merasa nyaman dengan pola kegiatan yang ada. Suami juga bisa terlibat kapan pun kondisi memungkinkan. Akan sangat baik jika Anda dan suami bisa bersepakat waktu tertentu yang dialokasikan bersama suami, tapi jenis kegiatannya bebas.
Biasanya tak masalah dengan anak.
Jika pola itu diterapkan, anak biasanya akan beradaptasi dan menyesuaikan dengan pola yang dimiliki oleh Ayah & Ibunya. Untuk pola rutin, anak akan mengacu pada Ibu. Anak juga bisa menikmati kegiatan spontan bersama Ayah.
Supaya Anda lebih tenang, pola ini bisa dicoba selama 1 bulan dan kemudian direfleksikan hasil dan dampaknya. Dari refleksi ini bisa dilakukan penyesuaian sesuai dengan hasil refleksi.
June 17, 2021 at 9:41 am #6895Aar
KeymasterKak Dwi,
Dulu, pendaftaran untuk Ujian Paket bisa dilakukan setahun sebelum ujian. Tapi dalam aturan yang ada pada saat ini, proses pendaftaran perlu dilakukan sejak awal Kelas 1.Tantangan di lapangan, tidak semua PKBM membuka pendaftaran sejak kelas 1. Banyak PKBM yang baru membuka pendaftaran sejak kelas 4 karena data anak baru masuk ke sistem Dapodik (Data Pokok Pendidikan) mulai kelas 4.
Jadi, banyak PKBM yang menerima pendaftaran sejak kelas 4. Bahkan, masih ada yang menerima pendaftaran setahun sebelum ujian Paket. Itu realitas di lapangan.
Jadi.
1. Kalau mau aman, daftar sejak kelas 1 di PKBM
2. Lakukan survey dan cek PKBM yang Anda tuju dan tanyakan proses pendaftarannya. Ikuti aturan di PKBM yang menjadi preferensi AndaFebruary 4, 2022 at 10:55 am #6679Amanda
MemberHalo Mas Aar dan Mba Lala.. setelah selama 6 bulan menjalani HS mulai terbentuk kebiasaan2 baik pada anak saya yang memang sengaja saya biasakan seperti morning routine.Tetapi dalam prosesnya anak sering mengeluh dan menanyakan hal yang sama berulang kali kenapa dia harus melakukan kebiasaan2 tersebut. Berulang kali juga saya jawab dan jelaskan dari yang sabar sampai kadang juga saya emosi 😅 beberapa kali saya kelepasan membandingkan bahwa kebiasaan2 yang dia lakukan ini masih jauh lebih mudah dibanding dia bersekolah (kebetulan memang anak saya yg memilih ingin HS). Drama2 seperti ini yang membuat saya merasa tidak nyaman dan pastinya anaknya pun tidak nyaman. Tapi di lain hari saya menemukan dia melakukan kebiasaan tanpa complain dan benar mengerjakannya. Disitu saya merefleksikannya sebagai oh ini memang prosesnya kali ya,anak tidak selalu bahagia mengerjakan berbagai kewajiban,sebagaimana juga orang tua yg kadang jenuh atau cape melakukan kewajiban. Morning routine ini sudah dibuat dari hasil diskusi bersama anak. Saya menyelipkan tugas rumah tangga di dalamnya yang saya pikir mampu dia kerjakan dan saya ajarkan dulu sebelumnya kemudian membiarkan anak memilih mana yg dia bersedia melakukannya. Sehabis morning routine lanjut ke sesi akademis. Disini juga dia seringkali mempertanyakan kenapa sih harus belajar math bu? Pertanyaan itu terus berulang 😅 sampai2 kami berganti terus sumber belajar. Awalnya dia setuju untuk belajar di IXL di tengah jalan dia mengeluh dan ingin cari sumber yg lain. Saya ikuti semua keluhannya dan memcarikan solusi yang lain. Tapi rasanya dia tidak termotivasi juga. Padahal sesuai visi keluarga yang sudah dirumuskan dengan pasangan bahwa anak tetap harus belajar matematika setiap harinya. Saya merefleksikan kembali apa morning routine dia terlalu banyak,ahirnya sesi akademisnya saya buat tidak terjadwal sesuai dia saja mau melakukan kapan saja,tidak harus setelah morning routine. Setelah diubahpun anak tidak termotivasi untuk belajar matematika dan selalu kembali menanyakan kenapa harus belajar itu. Yang ingin saya tanyakan bagaimana jika kondisinya seperti ini apakah harus merubah visi pendidikan keluarga disesuaikan kondisi anak dalam perkembangannya? Terimakasih
February 4, 2022 at 11:49 am #6676Aar
KeymasterHalo kak @Manda
Proses Anda masih awal sekali. Take it easy and enjoy the journey, kak.
Jangan terlalu ngegas dan jangan terlalu tinggi ekspektasinya.
Berapa usia anak kak Amanda?
1. Proses awal HS
Karena kita mau marathon, kunci pertama yang perlu dipegang dalam proses HS adalah:
- anak menikmati prosesnya (concern anak biasanya cara)
- orangua menikmati prosesnya (concern orangtua biasanya kualitas hasil)
Dua hal tersebut akan menjadi dinamika yang terus terjadi sepanjang proses HS.
Jadi, jangan terlalu berkeras dengan target, tapi bangun pola keseharian yang asyik dulu. Kurangi drama.
Jika dramanya terlalu besar, refleksikan apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi drama:
- mungkin ekspektasi orangtua terlalu tinggi
- mungkin anak mengalami kesulitan
- mungkin stamina anak masih terbatas
- mungkin anak masih butuh waktu beradaptasi
- dll
Mulailah dengan hal sederhana yang bisa dilakukan rutin dan asyik daripada hal yang besar/banyak tapi dilakukan dengan perasaan terbebani. Ini akan membuat anak ingin segera menanggalkan kebiasaan/pola itu.
Jadi, carilah titik temu yang bisa dikompromikan bersama anak.
2. Problem lapangan
Problem lapangan tidak selalu terkait motivasi. Mungkin problemnya teknis sehingga solusinya pun harus teknis (bukan motivasi).
Misalnya anak mengalami kesulitan matematika, solusinya bukan hanya dicarikan alat belajar lain atau dimotivasi. Solusinya bisa jadi teknis: Anda perlu menemani anak untuk membantu menjelaskan materi matematika yang perlu dipelajarinya. Jika bukan Anda, mungkin anak perlu bantuan orang lain untuk menjelaskannya supaya dia mengerti.
Jika ada masalah lapangan, jangan ditarik terlalu jauh dengan mengubah visi pendidikan keluarga.
Yang perlu diperbaiki dan direvisi mungkin ekspektasi, strategi belajar, pendampingan, dll yang sifatnya lebih teknis.
Demikian kak, semoga membantu.
February 4, 2022 at 1:03 pm #6673Amanda
MemberAnak saya umur 12 mas.. Berarti memang harus dikaji ulang ni mas ekspektasj,strategi belajar dll yang bersifat teknis ya, Noted mas Terimakasih pencerahannya lega jadinya ☺️😊
February 4, 2022 at 4:04 pm #6672Aar
KeymasterSama-sama kak @Manda .. untuk permainan jangka panjang, memang lebih baik dimulai dari kecil.
Mungkin yang kecil itu memang lebih sederhana dibandingkan ekspektasi kita, Tapi tak apa. Anggaplah itu titik start yang nyata dalam proses HS. Dari sana dimulai semua perjalanan bertumbuh menuju lebih baik.
May 11, 2023 at 10:23 pm #5506Vera Marsella
MemberSelamat malam Mas @Aar dan Mba @Lala…<div>
Jika anak usia dini merasa bosan. Ingin melakukan aktifitas A. Setelah dilakukan ternyata kurang memuaskan hasrat mainnya. Kemudian ingin B. Apakah itu karena model Hs yang dijalankan harus ada yang dimodifikasi lagi atau kegiatan bersama anak kurang mindful?
karena saat ini memang saya belum secara khusus belajar secara dalam tentang model2 HS . Alasannya karena saya ingin fokus memperbaiki kualitas mindful parenting agar bonding dengan anak2 terjaga, tumbuh kembang yang optimal. Maka saya seperti menunda untuk belajar model2 HS tsb. Dalam pikiran saya ‘pengasuhan saya pun masih belum baik, untuk anak bisa main happy saya nya ikut happy juga kemudian bisa menjalankan aktifitas rumah tangga dengan ringan , ngobrol santai dengan pasangan pun perlu energi yang cukup banyak buat melakukannya. Maka sampai saat ini kami berkegiatan ada yang terpola urutannya misalnya bangun tidur-sarapan-mandi/main dan ada juga kegiatan yang dilakukan secara spontanitas misalnya traveling dadakan, main dengan aktifitas tanpa direncanakan sebelumnya misalnya ide dari anak mau main tanah padahal semalam ada rencana mau membuat roti.
Terimakasih
</div>
May 12, 2023 at 10:31 am #5499Aar
KeymasterHalo kak @vera-marsella
Terima kasih pertanyaannya.
Tak apa kakak untuk menunda belajar tentang model HS dan lebih fokus menjalani keseharian bersama anak dengan mindful.
Tentang kebosanan, ada beberapa hal yang perlu dilihat lebih mendalam:
Durasi kegiatan
~ apa yang dimaksud kebosanan? Apakah berarti anak berpindah dari kegiatan yang direncanakan/disepakati? Berapa lama durasi anak berkegiatan?
Untuk diketahui, fokus anak biasanya bisa diukur selaras dengan usianya. Tahun usia selaras dengan durasi fokus.
Durasi fokus: (tahun x 2) menit
Misalnya, anak usia 2 tahun, kemampuan fokusnya baru sekitar 2-4 menit (tahun usia dikalikan dua). Anak usia 3 tahun, durasi fokusnya 3-6 menit.
Jika anak usia 3 tahun beralih kegiatan setelah 6 menit, itu hal yang wajar.
Mengenali penyebab kebosanan
~ Pada jenis kegiatan apa anak bosan? Apakah kegiatan itu dipilih oleh anak atau dipilih orangtua? Apakah anak tahu/sudah pernah melakukan kegiatan tersebut?
Proses penting yang perlu dilakukan orangtua adalah mengenal lebih mendalam tentang hal yang menyebabkan anak merasa bosan:
- ekspektasi tentang durasi kegiatan terlalu tinggi (ini poin yang dibahas di atas)
- anak hanya asal memilih kegiatan (dia tidak benar2 menginginkan kegiatan itu, tapi merasa perlu menjawab karena ditanya orangtuanya). Di tengah jalan kemudian di berubah pikiran.
Jika ini kondisi yang terjadi, perubahan yang perlu dilakukan adalah:
- anak tidak harus selalu menjawab jenis kegiatan yang akan dilakukan
- jika anak belum punya rencana, biarkan anak melakukan kegiatan bebas
- anak usia dini belum bisa berkomitmen dan cenderung spontan. Kita perlu menyesuaikan diri dengan kondiisi dan kesiapan anak.
~ orangtua sudah mengalokasikan waktu untuk anak sehingga merasa perlu melakukan kegiatan yang terstruktur. Padahal anak belum siap atau sedang tidak mau melakukan kegiatan terstruktur dengan komitmen durasi tertentu.
Jika ini kondisi yang terjadi, perubahan yang perlu dilakukan adalah:
- sebagian besar pola kegiatan anak usia dini adalah kegiatan spontan. Jika anak belum bisa mendefinisikan kegiatan yang ingin dilakukannya, tidak apa-apa. Lepaskan dulu ekspektasi. Nikmati kegiatan spontan bersama anak.
Demikian kak, semoga membantu 🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.