Belajar Parenting › Forums › Learning Skills › Apa yang diamati ortu vs minat anak
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
August 11, 2023 at 2:13 pm #4035
Zulhy Adham
MemberAssalaamu`alaykum…
Mas Aar, berkaitan dengan jendela belajar dan pengamatan, saya jadi tergelitik untuk bertanya.
Apakah memungkinkan ngobrol atau diskusi itu berlanjut, jika minat anak mungkin sedikit beda dengan orang tua?
Contohnya seperti ini.
Di meja makan, saya melihat kabel dan melihat ada peluang pembelajaran. Karna saya ada minat di komputer, maka tentu saja saya sudah mempunyai wawasan yang cukup mengenai kabel. Nah, ada kemungkinan kan, anak saya sama sekali tak tertarik dengan kabel.
Dalam kondisi seperti ini, apakah masih memungkinkan terjadi proses dialogis atau pembelajaran? Dalam posisi ini, saya bisa dianggap akan bersemangat menjelaskan, akan tetapi respon anak bisa jadi tidak sesuai harapan, karna dia tidak ada minat di sana.
Demikian, Mas Aar.
Terimakasih sebelumnya.
August 13, 2023 at 12:06 pm #5264TOYIBATUS SHOLIKHAH
MemberIni pertaanya hampir sama dgn apa yg saya alamii kak aarr ..trus bagaimna ..apa sudah terjawabb pertanyaan yg ini
August 13, 2023 at 3:02 pm #5253Aar
KeymasterHalo kak @zulhy-adham dan kak @toyibatus-sholikhah ,
Terima kasih pertanyaannya.
Kondisi yang kakak alami sangat dimengerti dan dialami oleh banyak orangtua: kapasitas pengetahuan/keahlian orangtua dan minat orangtua berbeda dengan anak. Bagaimana menyikapinya?
Mari kita lihat kondisi dengan beberapa sudut pandang.
1. Learning is about relationship
Komplikasi ini terjadi terkait proses menjalin hubungan. Belajar bukan hanya perihal konten materi belajar.
Komplikasi ini lebih rumit jika terjadi pada anak remaja.
Untuk remaja, isunya bukan hanya perihal konten materi yang diobrolkan, tetapi juga tentang “power dynamics”. Anak tidak suka orangtua yang terlalu dominan dan ingin membangun lingkaran minat/pengetahuan yang berbeda dari orangtuanya. Walaupun minat yang ingin dibahas dianggap selaras dengan anak, anak bisa mundur dan menjauh dari diskusi.
2. Kepentingan
Aspek lanjutan dari kondisi ini adalah tentang kepentingan.
Belajar itu tentang kepentingan siapa? Kepentingan orangtua yang ingin mencurahkan pengetahuannya pada anak? Atau kepentingan anak untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu sesuai kebutuhannya?
Kita (orangtua) merasa berkepentingan untuk menjalankan peran dengan sukses. Kita ingin berbagi ilmu dan “harta karun” yang kita miliki.
Keinginan ini walaupun baik sering menjadi penyebab masalah di lapangan.
Ketika orangtua terlalu bersemangat untuk berbagi keahliannya, anak tak tertarik. Ketika orangtua sangat ingin bercerita banyak, anak mundur teratur.
Kita kembali pada basic: belajar adalah perihal pengalaman yang dialami anak. Belajar bukan tentang kita, sorry.
3. Tantangan lapangan
Yang menjadi tantangan kita di lapangan adalah:
a. Memperluas wawasan kita sehingga semakin luas melihat peluang belajar
b. Melihat kesesuaiannya dengan anak. Sekali lagi, ini adalah untuk kepentingan anak, bukan kepentingan kita.
c. Mengelola energi kita agar tidak terlalu “bernafsu”. Caranya dengan mengajukan pertanyaan dan obrolan singkat. Jika anak tertarik, kita lanjutkan. Jika tak ada “chemistry”, kita berhenti.
4. Memanfaatkan keahlian/pengetahuan orangtua
Lalu, bagaimana caranya agar pengetahuan yang kita miliki bisa kita transfer pada anak?
Sayangnya tak ada jalan mudah. Yang menjadi ketertarikan anak mungkin berbeda dengan pengetahuan yang kita miliki.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
a. Mengenali aspek pengetahuan kita yang penting untuk kehidupan secara umum, tidak tergantung pada minat.
Misalnya, pengetahuan tentang listrik cukup sampai urusan: keselamatan, tidak terlalu teknis.
b. Mencari kaitan antara minat anak dan pengetahuan/keahlian kita. Jika bisa ditemukan, jadikan pengetahuan kita untuk memperkuat anak. Jadi, obsesinya kita geser dari keinginan berbagi yang kita miliki menjadi keinginan menguatkan anak dengan hal yang kita miliki.
Perbedaannya sedikit, tapi ini aspek yang cukup fundamental.
Jika pengetahuan/keahlian kita secara substansi berbeda dengan minat/area yang ditekuni anak, yang bisa kita lakukan adalah masuk ke area yang lebih umum: etos kerja, etika, dll.
Demikian kak, semoga membantu menjawab.
🙏
August 13, 2023 at 4:22 pm #5240TOYIBATUS SHOLIKHAH
MemberContoh nya bagaimana kak ..yg ikut masuk ke area etika etos ..sikap kita sebagai ortu bagaimana klau memang minat nya anak kurang semangat
August 13, 2023 at 6:14 pm #5224Aar
KeymasterHalo kak @toyibatus-sholikhah
Supaya bisa mempertajam jawaban saya ke kakak, boleh diberikan informasi tambahan:
1. Usia anak Anda:
2. Apa yang Anda amati?
3. Apa ide belajar yang Anda miliki dari pengamatan Anda?
4. Apa yang Anda lakukan pada anak?
5. Apa yang bikin anak tidak tertarik?
August 13, 2023 at 10:57 pm #5208Zulhy Adham
MemberTerimakasih Mas Aar.
Jawaban Mas Aar membuka wawasan saya.
Jadi sadar, bahwa pandangan saya tentang belajar bisa jadi harus direvisi dan dibangun ulang.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.