Checklist Parameter Perkembangan Anak Diknas

Belajar Parenting Forums Memulai Homeschooling Usia Dini Checklist Parameter Perkembangan Anak Diknas

  • This topic is empty.
Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 15 total)
  • Author
    Posts
  • #4711
    Mira Julia
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #7336
    Anonymous
    Guest

    Ceklist yang kedua di bagian materi (diknas ) apa sudah terintegrasi dengan ceklist yang pertama (dari buku Slow and Steady)? Atau baiknya dipakai kedua-duanya saja?

    #7333
    Aar
    Keymaster

    Kedua ceklist itu berdiri sendiri-sendiri kak, karena ada landasan berpikir masing-masing. Itulah yang kami bahaskan dalam podcast lain bahwa ada beragam sudut pandang tentang anak dan beragam jenis kurikulum.

    Nah, lalu apa yang bisa kita lakukan?

    Kita boleh memilih salah satu yang cocok dengan kita. Kita boleh memilih semuanya. Atau kita boleh menggabungkannya.

    Inilah kesempatan sekaligus kerumitan dalam proses homeschooling. Kita tidak diharuskan mengikuti sebuah panduan tertentu. Kita bebas memilih yang paling sesuai dengan kita. Tapi kebebasan itu kadang justru membuat kita bingung karena kita sudah terbiasa diarahkan, hehehe

    Dalam pengalaman keluarga kami, kami dulu hanya memakai checklist slow and steady dan memperkaya dengan hal-hal lain yang kami temukan sepanjang proses belajar kami tentang parenting dan homeschooling.

    #7128
    Anonymous
    Guest

    halo usia 7th keatas ada? thx

    #7127
    Aar
    Keymaster

    Kak Nissa,

    Untuk anak usia di atas 7 tahun tidak ada sebuah standar perkembangan anak. Sebab, keunikan anak, stimulasi dan keunikannya membuat setiap anak mengalami pertumbuhan yang berbeda-beda sehingga tidak bisa distandarkan.

    Untuk anak usia 7 tahun tergantung pada visi pendidika apa yang ingin dikembangkan. Itu yang menjadi basis untuk proses stimulasi untuk anak.

    #7063
    Anonymous
    Guest

    Selamat Pagi, selamat Tahun Baru hari ke 3, bagaimana cara membiasakan anak menggunakan kata ganti “aku” , selama ini dia menyebut “aku” dengan “nama” , tapi kadang2 pas ditanya “siapa nama nya” dia jawab “aku Wirat” , tapi hanya sebatas itu .
    Dan bagaimana mengajarkan tentang jenis kelamin ya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
    kemarin dia potong rambut , dipotong mba mba , pas udah selesai dia bilang “terima kasih mas “ hihi ,
    terima kasih sebelumnya

    #7062
    Anonymous
    Guest

    Anak kami masih Batita mas , semalam saya isi ceklist yang Indikator Perkembangan Anak usia 2-3 tahun itu , karena saya asing dengan Bab Bahasa point B no 3 itu “menggunakan kata ganti “aku”” jadi saya tanyakan, karena dikeluarga kami “ternyata” jarang kami menyebut diri dengan aku pasti dengan nama ( setelah baca balasan mas Aar) , terima kasih pencerahan nya.

    untuk point 2 sudah mulai kami lakukan dan alhamdulillah ternyata cara nya sesuai, terima kasih banyak , dengan begini saya semakin percaya diri , karena semakin merasa mampu untuk berproses membersamai anak , 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

    #7060
    Aar
    Keymaster

    Kak Citra,

    Selamat tahun baru 2021, kak.

    Kak Citra putranya usia berapa?

    Apa yang membuat Anda sangat peduli dengan penggunaan “aku” dan “nama”? Apakah ada nilai-nilai yang penting terkait penggunaan kata tersebut yang membuat Anda perlu mengarahkan ke jenis penggunaan kata tertentu? Apakah ada contoh di sekitar Anda (kakek, nenek, tontonan, saudara) yang menggunakan bahasa seperti yang digunakan anak?

    Jika saya asumsikan usia anak masih di bawah 5 tahun, proses ini sebenarnya biasa saja. Anak sedang mengeksplorasi bahasa dan belajar dari lingkungan sekitarnya. Dia belajar melihat respon sekitarnya ketika menggunakan kata/istilah tertentu. Penggunaan istilah tertentu ini akan semakin jelas polanya saat anak semakin besar. Jika ada hal menurut Anda penting, contohkan dengan jelas kepada anak karena anak adalah peniru ulung.

    2.
    Pengenalan jenis kelamin biasanya berjalan alamiah ketika anak usia 3-6 tahun. Anak melihat bahwa dirinya berbeda dengan teman-temannya dan orangtuanya.

    Untuk mengenalkan jenis kelamin bisa dilakukan saat anak mandi bersama orangtua, menjelaskan perbedaan dia dengan ibu/bapaknya. Menunjukkan dan mengetahui nama alat kelamin yang membedakan laki-laki dan perempuan: susu, penis/vagina beserta fungsinya: “Susu untuk mimik adik bayi. Penis/vagina untuk pipis.”

    Jelaskan juga tentang panggilan. Mas/pak untuk laki-laki, mbak/ibu untuk perempuan.

    Proses ini juga bisa dilakukan dengan tebak-tebakan pada orang di sekitar: xxx laki-laki atau perempuan?

    Begitu, kak. Semoga membantu.

    #7059
    Aar
    Keymaster

    Noted kak,

    Ceklist adalah alat bantu, kak. Dia bukan kitab suci. Variasi di lapangan bisa sangat beragam, baik disebabkan karena keunikan anak (yang memang tidak bisa distandarkan). Juga dipengaruhi oleh nilai-nilai ada di keluarga dan masyarakat tempat tinggal anak.

    Kami ikut berbahagia dengan proses kak Citra. Semoga kepercayaan diri kakak menjadikan kakak semakin rileks menjalani keseharian bersama anak-anak. Semakin nyaman interaksi bersama anak, biasanya semakin berkualitas pula proses-proses yang dialami oleh anak.

    #5695

    Dear kak Aar dan kak Lala,

    Kapan saat yang pas untuk mengisi ceklis perkembangan anak? apakah setiap bulan atau bagaimana kak? Mohon sarannya.

    Terima kasih

    #5694
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @indah-susanti-3380

    Sebenarnya tidak ada standar kapan waktu yang tepat untuk mengecek perkembangan anak.

    Tapi karena kita biasanya butuh pola untuk memudahkan kegiatan kita, prosesnya pengecekan bisa dilakukan sebulan sekali, di akhir bulan.

    Setiap akhir bulan, cek perkembangan anak sesuai checklist. Dengan mengecek perkembangan, kita jadi disegarkan kembali tentang aspek apa yang perlu kita stimulasi untuk bulan berikutnya.

    Jadi, fungsi checklist bukan hanya untuk membandingkan dengan kondisi anak (yang sudah terjadi), tapi bisa menjadi sumber inspirasi untuk stimulasi (rencana ke depan).

    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

    #5690

    halo mas aar mba lala, saya sedang mencoba mengisi cek list ini untuk anak saya usia 2,5 tahun.

    saya sebenernya lebih ke curhat aja ini, dan kurang percaya diri. anak saya belum bisa makan mandiri sehingga poin sosial emosional D bagian 4. tidak bisa tercentang.

    namun di poin kognitif e, ada di sebutkan makan sendiri dengan bantuan.

    perihal makan ini, memang konsen ke anak kami. meski yang kecil ini terbilang ‘mudah’ namun kami cukup “struggling” di anak pertama. sehingga, anak kedua kami jadi terbawa. misal, saat saya mau meminta adeknya makan sendiri, sementara kakaknya harus di suapin karena kondisi medis, nah, si adek jadinya minta juga disuapin.

    kira-kira metode apa ya yang bisa saya terapin, saya suka nih istilah selapis demi selapis. sy juga berharap sekali anak saya yang pertama bisa lahap makan apa saja dan mandiri hehe.

    terimakasih ya mas dan mbak, tuhan memberkati.

    #5689
    Nora Teresa
    Member

    Halo Kak Aar,

    Bila ada indikator yang belum dilakukan / terpenuhi pada saat usianya menjelang 4 thn (bln Feb), terutama kegiatan motorik masih banyak yg anak saya belum, nanti ketika dia usia 4 thn difokuskan perkembangan motoriknya terpenuhi semua dulu untuk yg usia 2-3 thn ya Kak?

    Apakah semua indikator normalnya harus dpt dilakukan semua? Atau bila ada bbrp point yg belum bisa tetap dilanjutkan evaluasi untuk indikator pada usia berikutnya?

    Terima kasih sebelumnya

    #5688
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @nora-teresa,

    Poin penting saat melakukan menemani tumbuh kembang anak usia dini adalah orangtua tidak panik, hehehe… Gimana caranya jadi orangtua yang santai, tidak tegang, dan asyik.

    Kondisi paling umum, ada checklist pertumbuhan yang melampaui usianya. Ada beberapa yang di bawah. Itu hal yang normal, kak. Jangan dibawa panik.

    Ada bagian yang terlewat stimulasinya? No problem.

    Proses stimulasi bisa ditambahkan.

    Kunci dari proses stimulasi anak usia dini (khususnya terkait motorik kasar) adalah kesediaan orangtua untuk aktif bergerak dan tidak mager. Proses stimulasi sangat bisa dilakukan dengan proses-proses sederhana yang diintegrasikan dalam kegiatan keseharian seperti jalan pagi ke taman/lapangan.

    Sambil jalan pagi, kena hangatnya matahari pagi, ngobrol2 dan cerita (stimulasi bahasa), sambil memperhatikan sekitar mengenali nama-nama benda (stimulasi keingintahuan), menghitung benda2 yang dilihat, sambil jalan, lari, lompat, injak batu, dll; di lapangan main bola, dst.

    Satu kegiatan, banyak stimulasi yang didapatkan anak.

    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

    #5687
    Aar
    Keymaster

    Kak @dina-oktaviana,

    Terima kasih untuk curhatnya. Saya kebayang strugging emosi yang sedang dihadapi. Memang tidak mudah jika ada anggota keluarga yang dalam kondisi terbatas, misalnya sakit. Kondisinya akan mempengaruhi emosi dan pola pertumbuhan anggota keluarga yang lain.

    Saat kondisi kakak sakit dan perlu disuapi, adik kemudian ingin disuapi juga. Mengapa? Karena dia belum bisa memahami sepenuhnya apa yang terjadi.

    Ada beberapa strategi dasar yang bisa dilakukan:

    1. Menerima dengan ikhlas

    Ini pondasi paling penting untuk menstabilkan emosi kita. Tak ada kehidupan yang sempurna. Setiap keluarga punya perjuangan dan struggling-nya masing-masing. Jadi, kita perlu menggeser sudut pandang dengan mengubah masalah menjadi pintu pertumbuhan berbeda yang sedang disediakan Tuhan untuk keluarga kakak.

    2. Menjaga kestabilan emosi

    Dengan keikhlasan dan kestabilan emosi, banyak hal baik yang akan terjadi. Kita bisa berpikir lebih jernih. Kita tak memperburuk masalah.

    Kakak jadi bisa berkomunikasi dengan baik bersama anak pertama maupun kedua. Kakak tidak mudah terpancing amarah, kesal, dan merasa gagal.

    Dengan ketenangan kakak, semoga kondisi lapangan ini bisa lebih mudah ditangani.

    3. Mengenali pintu yang terbuka

    Ketika satu pintu tertutup, pintu yang lain terbuka. Kuncinya adalah kita tak fokus hanya pada pintu yang tertutup, tapi membuka diri untuk melihat pintu lain yang sedang terbuka.

    Apa pembelajaran yang bisa dilakukan? Ini pertanyaan yang perlu kakak refleksikan dengan kondisi yang ada saat ini.

    Saat pintu kemandirian masih tertutup, kita mungkin perlu mencari jalan melingkar dan melihat pintu pertumbuhan lain.

    Mungkin pintu pertumbuhan terkait kemandirian makan sedang tertutup, tapi pintu komunikasi dan empati mungkin sedang terbuka lebar.

    4. Mengobrol sebagai pintu belajar

    Untuk mengetuk dan membuka pintu komunikasi dan empati, proses terpenting adalah mengobrol dengan santai bersama anak (bukan dengan nada emosi).

    “Adik tahu nggak kenapa kakak perlu disuapi? Itu karena kakak sedang sakit… bla bla bla… Kalau kakak sehat, pasti kakak akan makan sendiri. Kalau adik sehat atau sakit?”

    “Nah, semua orang yang sehat pasti makan sendiri. Untuk anak yang masih kecil seperti adik, sesekali boleh disuapi Bunda. Tapi adik juga perlu belajar makan sendiri. Bisa makan sendiri itu tanda anak yang sudah besar dan anak yang keren. Adik mau jadi anak yang keren?”

    “Eh, apa ya yang bisa dibantu adik untuk menolong kakak? Adik bisa bantu xxxxx?”

    Itu kurang lebih ide obrolan bersama adik untuk menstimulasi keterampilan berkomunikasi, memahami kondisi sekitar, empati, dan menolong kakak.

    Demikian kak, semoga membantu 🙏

Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 15 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top