Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Sekolah › eBook Membuat Rancangan Homeschooling
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 22, 2019 at 3:56 pm #4685
Mira Julia
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
June 14, 2020 at 9:22 am #7199Anonymous
GuestHalo mbak Lala dan mas Aar, mengenai jalur home schooling yg secara umum dibagi menjadi 3, akademik, profesional dan bisnis. Menurut saya ketiganya ttp mengarah pada jalur profesional karena untuk menjadi seorang profesional bth proses pembelajaran akademik (sekaligus ijazah/sertifikasinya) sebagai bagian dari pengakuan dari komunitas serta legalitas pada beberapa profesi. Selain itu seorang profesional di bidangnya mau tidak mau harus membuka mata akan peluang bisnis dr profesinya untuk mendapatkan keuntungan finansial. Mohon pencerahannya mbak Lala dan mas Aar Krn saya baru akan memulai dan masih meraba-raba untuk menentukan jalur home schooling untuk anak-anak saya.
June 15, 2020 at 3:03 pm #7196Aar
KeymasterHai kak Ummu Zuhri,
Pengkategorian 3 jalur HS ini kami buat untuk membuat differensiasi dan memudahkan orangtua di Indonesia memahami keragaman HS bahwa HS itu tak hanya mengikuti jalur sekolah: SD-SMP-SMA-Kuliah-Kerja.
Mengapa?
Karena kita (orangtua) merupakan produk sekolah dan profesi-profesi yang kita kenal biasanya menempel dengan sistem persekolahan (SD-SMP-SMA-Kuliah) baru masuk ke dunia profesi, seperti: ahli farmasi, akuntan, pengacara, dsb. Jadi, yang maksud jalur akademis adalah jalur profesi yang mensyaratkan ijazah SD-SMP-SMA (+ kuliah).
Nah, di era saat ini, semakin berkembang profesi-profesi yang tidak berbasis ijazah, tetapi berbasis portofolio karya/output. Profesi ini biasanya ada di area teknologi/kreatif, misalnya: fotografer, videografer, penulis, internet marketer, desainer, dsb. Nah, syarat untuk masuk dunia profesi ini berbeda dengan dunia profesi sebelumnya sebelumnya. Yang diandalkan bukan ijazah, tapi portofolio karya & sebagian lagi sertifikasi. Di wilayah profesi ini, tak penting apakah seseorang memiliki ijazah S1 karena ijazah S1 bukan syarat untuk memasuki “profesi baru” ini.
Sebagai contoh, seorang fotografer & videografer tidak akan ditanya lulusan mana, tetapi akan ditanya portofolionya karyanya & kolaborasi yang pernah dilakukannya. Internet marketer tak ditanya lulusan mana, tapi pengalaman dan kinerjanya. Penulis akan ditanya buku apa saja yang pernah ditulisnya. Vloggger akan ditanya channel-nya. Dst.
Jadi, profesi2 baru itu tak menuntut ijazah dan pembelajaran akademis yang ketat mengikuti jenjang konvensional (SD-SMP-SMA-Kuliah), tetapi menuntut keahlian berkaya dan berkontribusi secara nyata. Dengan tujuan yang berbeda dari sebelumnya, proses-proses belajar yang dijalani oleh anak-anak yang berorientasi pada profesi baru ini pun akan berbeda. Ijazah menjadi hal yang opsional bagi mereka, tetapi mereka fokus pada keahlian praktis pada bidang-bidang yang ditekuninya.
Demikian juga pebisnis. mereka tak tak harus memiliki standar ijazah/sertifikasi tertentu. Yang akan ditanya dari pebisnis adalah dia punya bisnis apa saja, berapa omzetnya, karyawannya, strateginya, dsb. Apakah jika anak diorientasikan menjadi pebisnis harus menempuh proses belajar seperti jenjang yang konvensional: SD-SMP-SMA-Kuliah? Tidak harus. Anak-anak bisa sejak awal belajar berbagai aspek bisnis, mulai: selling, marketing, produksi, manajemen manusia, strategi, dsb. Proses-proses belajar yang dijalani anak bukan dengan duduk diam mendengarkan penjelasan, antara lain melalui keterlibatan langsung, memgobrol, diskusi, magang dan mentoring.
Semoga jawaban ini bisa memberikan informasi tambahan.
Jika masih ada yang ditanyakan, dipersilakan kak..
July 23, 2021 at 2:03 pm #6850Anonymous
GuestHallo Mba lala & Mas Aar
Anak saya usia 7y, kami ingin fokuskan ke jalur profesional yang sesuai dengan minat dan bakat nya.
saat ini saya belum tau pasti apa yang jadi minat dan bakat nya, tapi dia setiap hari membangun ruang/gedung/stasiun dengan peralatan apa saja yang ada di rumah, seperti dengan kardus bekas minta di buatkan rumah, rumah nya di buat seperti rumah panggung dengan menggunakan balok, ada orang nya, orang nya bisa menggunakan botol kecil bekas, dll
kalau lego pun tertarik, tapi seperti nya suka dengan yang bentuk nya besar, ya itu dengan barang-barang yang dia rangkai bisa menjadi kota/ komplek gedung.atau dia senang menggambar, tapi yang di gambar orang, macam-macam karkter orang, gedung dan kereta, seperti nya suka nya dengan itu.
kalau menurut pengalaman Mba lala & Mas Aar untuk mengasah minat nya itu ke arah profesional dengan cara apa, atau ada permainan apa kah?
terima kasihJuly 23, 2021 at 3:14 pm #6849Aar
KeymasterHalo kak Ina,
Terima kasih pertanyannya,
Proses pengembangan minat dan bakat itu panjang prosesnya, kak. Proses-proses awalnya lebih banyak eksplorasi dan pengenalan, serta penjajagan. Seiring penjajagan, anak belajar mengasah dan meningkatkan kualitas skills-nya.
Proses stimulasi yang bisa dilakukan ada yang terkait budaya belajar/bekerja, misalnya:
~ bekerja dengan rapi
~ bekerja sampai tuntas
~ membereskan alat kerja setelah dipakaiProses stimulasi yang terkait dengan keterampilan belajar/berkarya:
~ anak belajar mengikuti tutorial
~ anak ikut kelas online
~ anak mencoba dan mengasah skills baru yang diajarkanDalam pengalaman kami, proses yang penting di usia 7 tahun adalah banyak praktek. Sediakan kertas dan alat gambar, lalu berikan ruang yang luas dan apresiasi untuk proses anak menggambar.
Jika dia sudah siap ikut kelas, baru tawarkan dan ikutkan anak ke kelas menggambar untuk menaikkan skillsnya.
Itu proses yang biasanya terjadi, kak. Proses ini bisa berlangsung bertahun-tahun.
Dalam pengalaman Tata, proses kesenangannya menggambar ditekuni selama 9 tahun (jika dihitung sejak usia 7 tahun) sehingga akhirnya berbuah kelas online Kreasita.com
Dinikmati dulu prosesnya ya kak..
October 5, 2021 at 10:58 pm #6787Anonymous
GuestMas Aar.. Anak saya usia 8 dan 6th kami tertarik untk menerapkan HS d keluarga kami. Saya dan suami punya harapan atau mimpi anak kami jika sdh besar bisa kuliah di luar negeri, anak laki-laki kami yg suka dgn segala macam science, harapannya bisa menjadi ilmuwan atau inventor dan yg satunya, scr kemampuan berbahasa (tertarik dgn bbrp mcm bahasa dan jg geografi) mgkn kami harapkan akan kuliah di luar negeri juga dan yang kebayang mgkn jadi diplomat gtu, yg saya tnykan dgn harapan kami yg spt itu apakah masih bisa kami capai melalui jalur HS?
October 6, 2021 at 3:14 pm #6785Aar
KeymasterHalo kak Anne,
Terima kasih pertanyaannya.
Bagus jika kakak sudah bisa mengidentifikasi harapan dan mimpi tentang pendidikan anak yang ingin dikejar. Dari mimpi seperti inilah proses-proses yang lebih detil bisa diturunkan.
1. Legalitas
Dari sisi sistem, tak ada masalah untuk mengejarnya melalui HS maupun sekolah konvensional.Mengapa?
Kalau mau kuliah di luar negeri berarti anak perlu memiliki ijazah setingkat SMA. Ijazah itu bisa diraih melalui sekolah atau Paket C. Atau, bisa juga mengikuti ujian Cambridge IGCSE/A Level sesuai kriteria yang diminta perguruan tinggi di luar negeri yang diminatinya.
Itu dari sisi legalitas.
2. Sistem Pendukung
Isu selanjutnya adalah proses menuju ke sana. Bagaimana menurunkan harapan itu ke dalam langkah-langkah yang lebih operasional.Hal yang perlu dikenali dan diturunkan misalnya:
~ kalau mau jadi inventor atau scientist, kapasitas apa saja yang dibutuhkan? Proses apa yang perlu dilakukan untuk mengejar kapasitas itu? Kegiatan belajar dan materi belajar apa saja yang perlu dilakukan? Siapa yang akan membimbing anak Bagaimana strategi keluarga melakukannya?~ kalau mau jadi diplomat, kapasitas apa saja yang dibutuhkan? Proses apa yang perlu dilakukan? Kegiatan belajar dan materi belajar apa saja yang perlu dilakukan? Siapa yang akan membimbing anak? Bagaimana strategi keluarga melakukannya?
3. Keunikan Anak
Harapan orangtua perlu dipadukan dengan kenyataan di lapangan terkait kapasitas dan kecenderungan anak.
~ Apakah minat anak selaras dengan harapan orangtua?
~ Apakah anak memiliki kapasitas cukup besar di bidang itu?
~ Bagaimana jika minat anak berubah seiring pertumbuhan usianya?
~ Bagaimana jika kondisi lapangan tak seperti yang diharapkan? Apakah orangtua siap melenturkan diri mengubah skenario2 di lapangan?4. Kapasitas pendampingan
Faktor penting yang krusial dalam proses HS adalah peran dan kapasitas orangtua.
~ Apakah orangtua memiliki kapasitas untuk mendampingi proses anak?
~ Apakah orangtua memiliki strategi proses yang dilakukan sendiri dan menggunakan bantuan pihak ke-3?Demikian kak. Secara prinsip jawabannya bisa. Setelah itu, isunya adalah titik-titik kritis yang perlu dikenali sebagai konsekuensi menjalani HS.
Semoga membantu.
Jika ada pertanyaan lanjutan, dipersilakan.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.