Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Sekolah › eBook Perbandingan Homeschooling dengan Sekolah
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 22, 2019 at 3:22 pm #4687
Mira Julia
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
July 3, 2021 at 3:36 pm #6882Anonymous
GuestSebagai mentor/ fasilitator/ guru di HS apakah ada keharusan yang di capai? Jika guru-guru di sekolah ada minimal tingkat pendidikannya, training ini itu, bukankah kita sebagai kepala sekolah di hoemschool anak-anak kita juga harusnya meng-upgrade diri agar tidak tertinggal?
Jika iya boleh dong di- share resources (kalau bisa online) yang menjadi patokan kak Lala atau kak AAr buat kami orang tua yang masih baru menjajaki HS.
July 3, 2021 at 5:03 pm #6881Aar
KeymasterHalo kak Liza,
Karena homeschooling modelnya tidak standar dan sangat lebar, tidak ada sebuah kualifikasi tertentu yang mengatur apakah ada kualifikasi tertentu orangtua yang boleh menjalani homeschooling.
Di Amerika Serikat yang memiliki tradisi homeschooling lebih lama pun tidak ada sebuah kebijakan yang sama. Ada yang mensyaratkan minimal orangtua lulus SMA, lulus S1, tapi banyak juga negara bagian yang tidak mensyaratkan kualifikasi latar belakang pendidikan tertentu dan kualifikasi mengajar.
Informasi lebih jelas bisa dibaca di sini:
https://responsiblehomeschooling.org/research/current-policy/parent-qualifications/
Mengapa susah distandarkan, karena fokus homeschooling bukan mengajar. Proses homeschooling lebih kompleks karena banyak melibatkan parenting dan coaching (untuk anak remaja).
Dalam konteks parenting pun banyak sekali aliran. Oleh karena itu, kualifikasinya tidak bisa distandarkan.
Yang diperlukan dari orangtua homeschooling adalah:
~ orangtua yang penuh cinta
~ orangtua yang terbuka untuk terus belajar dan bekerja keras
~ orangtua yang berusaha mempraktekkan dan menjalankan proses pengasuhan yang baik.Ilmu-ilmu yang terkait dengan homeschooling antara lain:
~ parenting
~ psikologi perkembangan anak
~ ilmu praktis tentang gizi dan kesehatan anak
~ komunikasi
~ coachingJika dibawa rumit, proses homeschooling ini bisa rumit, kak. Melalui kelas Rumah Inspirasi dan proses coaching, kami ingin orangtua yang menjalani homeschooling memulainya dengan percaya diri, bukan minder dan ketakutan.
Bisa kok orangtua menjalani homeschooling. Prosesnya dimulai dengan praktik kegiatan yang mindful bersama anak-anak, menguatkan komunikasi bersama mereka, serta membangun bonding & connection.
Ilmu2 lain sangat bisa dipelajari seiring menjalani proses homeschooling.
Semua materi 9 kelas yang ada di Rumah Inspirasi ini merupakan kristalisasi dari kami tentang hal-hal yang bisa menjadi bekal orangtua untuk menjalani homeschooling.
Semoga membantu.
July 4, 2021 at 11:15 am #6880Anonymous
GuestTerimakasih atas pencerahannya mas Aar (izin ikutan kak Lala, panggil mas aja ya). Mulai sering mendengar podcast rumah inspirasi jadi lebih akrab di telinga.
Karena kami dari keluarga yang sebelumnya sekolah konvensional yang sedang memerdekakan diri setahun terakhir ini menjadi keluarga “home education”, sedikit banyak budaya sekolah konvensional masih melekat di keluarga kami.
Yang bikin penasaran saya.. apakah mas Aar dan kak Lala pernah mencoba untuk mengevaluasi anak-anak atau salah satu anak, seperti disitus Calvert yang menawarkan tes penempatan gratis untuk siswa sampai kelas delapan?
July 4, 2021 at 1:38 pm #6879Aar
KeymasterHalo kak Liza,
Pertanyaan Anda sangat difahami dan dimengerti, kak. No problem.
Ini proses belajar yang akan Anda jalani selama proses Coaching bersama Rumah Inspirasi.
Apakah kami melakukan evaluasi anak-anak?
Iya. Kami melakukan evaluasi dan refleksi. Kami sering melakukan refleksi untuk menjadi feedback memperbaiki proses yang kami jalani. Tapi kami jarang sekali melakukan proses evaluasi seperti anak sekolah.
Apakah kami melakukan evaluasi anak kami dengan dengan sistem sekolah seperti Calvert?
Evaluasi adalah membandingkan antara harapan dan realitas. Nah, kuncinya adalah menentukan harapan kita. Kalau kak Liza harapan dan acuannya Calvert, maka proses HS perlu mengikuti pedoman Calvert dan hasil anaknya dibandingkan standar Calvert. Kalau kak Liza menggunakan acuan lain, jangan bandingkan anaknya dengan Calvert karena itu pembandingan yang tidak tepat.
Nah, keluarga kami tak pernah membandingkan dengan Calvert dan sekolah.
Mengapa? Karena model homeschooling yang kami jalani tak seperti sekolah. Jadi tidak ada keperluan bagi kami untuk membandingkan proses dan hasilnya dengan anak sekolah, apalagi Calvert.
Homeschooling itu customized education, bukan standardized education. Homescooling dijalani berdasarkan visi pendidikan keluarga. Setiap keluarga unik dan perlu merumuskan tujuan/visi pendidikan yang ingin ditujunya dalam proses homeschooling. Ini PR besarnya.
Karena HS yang kami jalani tidak mengacu pada sekolah, pembanding dalam evaluasi kami adalah visi pendidikan keluarga kami; bukan sistem sekolah.
Secara sederhana, sekolah fokusnya pada penguasaan konten akademis. Sebagian besar 95% materi belajar adalah akademis, sisanya pengembangan diri. Penilaian utama diukur berdasarkan penguasaan materi akademis anak sesuai yang ada dalam kurikulum.
Sementara itu, keluarga kami menjalani homeschooling dengan “ramuan”: 10% akademis, 90% pengembangan diri dan keterampilan hidup. Jadi, evaluasi yang valid untuk evaluasi keluarga kami adalah mengecek apakah pengembangan diri anak-anak kami sudah bertumbuh sesuai harapan kami dan apakah anak-anak berkembang keterampilan hidupnya.
Demikian kak. Ini adalah bagian dari mindset homeschooling yang perlu dikenali oleh keluarga yang menjalaninya.
Semoga menjawab.
August 6, 2021 at 11:47 am #6837Anonymous
GuestKak Lala dan Kak Aar, saya mau bertanya, karena faktor orangtua cukup berperan penting disini, maka bagaimana jika sesuatu yang kurang, atau tidak ada pada orang tua.
Semisal,
– Sebagai orangtua ingin anak supel, mudah bergaul, gampang berkomunikasi dengan orang lain, tapi sebagai orang tua saya merasa agak introvert, untuk buka percakapan butuh energi, kadang kalo ngomong sama orang bahan/topiknya cepet habis. Nah itu gimana ya ?
– Ingin anak bisa bermain musik piano, saya ga bisa main kak, cuma seneng aja lihat anak orang jago piano, saya beliin dirumah keyboard buat latihan, kadang saya minta anak untuk pakai aplikasi atau nonton youtube, tapi sepertinya hanya bertahan seru sebentar, abis itu kalo disuruh latihan males malesan.
– Ajarin anak suka Alam, lah saya aja ga suka ke alam.
– Banyak hal lainnya model seperti itu.Kira kira kalo seperti itu gimana ya ?
Makasih.August 7, 2021 at 5:04 pm #6834Aar
KeymasterKak Rudi,
Homeschooling berawal dari kekuatan orangtua/keluarga, bukan kelemahannya. Kenali kekuatan Ayah dan Ibu, jadikan sebagai pijakan untuk proses menjalani homeschooling anak-anak.
Dalam kaitan dengan harapan terhadap proses homeschooling, jangan bertumpu pada yang tidak bisa dilakukan dan menjadi kelemahan orangtua. Pasti tak akan berjalan.
Jadi, kenali kekuatan Anda dan pasangan. Itulah pintu masuk terbesarnya.
Fokuskan pada hal-hal yang bisa dilakukan bersama keluarga berkaitan kebiasaan baik yang dibutuhkan anak untuk menjadi manusia yang berfungsi dalam kesehariannya.
Kenali apa yang harus dikuasai (must have) dan keren jika dikuasai (nice have). Contoh yang harus dikuasai adalah inisiatif, tanggung jawab, keingintahuan, kemandirian, dll. Yang nice to have misalnya belajar piano yang kalau tak dikuasai juga nggak apa-apa.
Sekali lagi, kenali hal-hal yang menurut Anda penting menjadi bekal hidup anak dan fokuskan yang utama di sana. Jadikan pengalaman hidup Anda dan pasangan sebagai sarana merefleksikan kapasitas penting untuk hidup yang baik (secara pribadi, sosial, dan profesional).
Lalu, bagaimana menyikapi kelemahan orangtua?
Pertama, sekali lagi jangan menjadikannya sebagai tumpuan pengembangan anak. Mulailah dengan membangun karakter anak, juga melakukan kegiatan berdasarkan kekuatan Anda dan pasangan.
Kedua, jika Anda merasa kemampuan itu penting, misalnya keterampilan komunikasi yang baik; maka proses pertama yang perlu dilakukan adalah kita sebagai orangtua meneguhkan diri untuk belajar memperbaiki kelemahan kita. Mengapa? Karena anak belajar paling cepat dengan meneladani sosok-sosok yang ada di sekitarnya.
Ketiga, dalam kaitan dengan keterampilan yang tak dikuasai orangtua, gunakan bantuan eksternal. Menjalani homeschooling bukan berarti kita mengajari semua hal. Kita adalah fasilitator, bukan guru. Dalam pengalaman keluarga kami, Tata belajar menggambar memakai aneka tutorial dan kelas online. Duta belajar catur dengan pelatihnya karena kami tidak menguasai ilmunya.
Keempat, jika Anda tidak suka alam, pilihannya 2: Anda belajar mencintai alam sehingga bisa mengajak anak-anak berkegiatan di alam bebas (karena Anda menganggap belajar di alam penting). Pilihan lain adalah mencari kegiatan lain yang bisa Anda lakukan.
Demikian kak, semoga membantu.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.