Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Dini › eBook Pola Kegiatan Homeschooling Usia Dini
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 21, 2019 at 8:20 pm #4701
Mira Julia
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
February 22, 2021 at 1:53 pm #6951Anonymous
GuestHai Mas Aar dan Mbak Lala
Untuk pendekatan tematik, biasanya dilakukan untuk 1 minggu bermain dgn 1 tema? Atau boleh memilih tema tertentu setiap harinya?
Mohon penjelasannya ^^
February 22, 2021 at 3:32 pm #6949Aar
KeymasterKak Shintari,
Durasi kegiatan untuk anak usia dini dilihat dari kesiapan anaknya, kak. Kalau bisa kegiatan tematik dibuat modular. Maksudnya, satu kegiatan bisa berdiri sendiri tidak tergantung pada kegiatan lain. Jadi, sekali duduk dan melakukan kegiatan langsung selesai.
Besok dilihat lagi apakah anak masih tertarik melakukan kegiatan dengan tema tersebut. Kalau anak masih semangat, kegiatan dengan tema yang sama bisa dilanjutkan dengan jenis kegiatan baru. Proses ini dilakukan setiap hari. Jika anak masih tertarik, biasanya tema yang sama bisa berjalan berhari-hari.
Tapi kalau anak sudah tidak tertarik atau mau melakukan kegiatan lain, sebaiknya kegiatan tema sebelumnya tidak dilanjutkan. Kegiatannya bisa ditunda untuk dilakukan di waktu yang lain.
Mengapa pendekatan seperti ini dilakukan?
Karena tujuan penting yang ingin diraih dari kegiatan anak usia dini adalah pengalaman belajar yang mengasyikkan, bukan penguasaan isi materi belajarnya. Jika anak menikmati proses kegiatannya, mereka akan minta diulang lagi dan ingin terus belajar lagi.
Proses seperti inilah yang dicari. Kalau materi penguasaan materi tidak terlalu didapat, selalu ada peluang untuk mengulanginya di waktu lain jika anak menikmati proses dan pengalamannya berkegiatan.
Semoga membantu.
August 18, 2021 at 9:55 pm #6823Anonymous
GuestHi Mas Aar dan Mba Lala,
Ank saya berumur 29bln, saat ini dia bisa mengungkapkan perasaan terutama perasaan takut. Ia sering minta pulang jika kami hanya berkeliling keluar, apakah pengaruh masa PPKM? krn kami jarang sekali keluar rumah semenjak itu. kemudian keluarga sering menakuti ank sy jika ia tidak mau nurut, misalnya tidak mau membereskan mainan, tidak menjawab ketika dipanggil berkali-kali dll. cara menakutinya misalnya mainan dikasih ke om (luar) atau bibi yang diluar.
Scr piskologis sy khawatir, sy juga sibuk mengasuh adiknya yang berumur 6bln.
Mohon pencerahannya.
Thanks
August 19, 2021 at 3:34 pm #6821Aar
KeymasterHalo kak Sherly,
Terima kasih sharing dan pertanyaannya.
Secara umum, tahap awal perkembangan psikososial anak adalah: membangun kepercayaan (trust) pada sekitar dan otonomi. Pada tahap ini, anak membutuhkan rasa aman dan nyaman dari lingkungannya. Saat dia membutuhkan sesuatu, ada orang lain (Ibu & pengasuh) yang datang dan memenuhi kebutuhannya. Jika kebutuhan ini dipenuhi, anak akan melihat dunia sekitarnya aman, orang-orang bisa dipercayai, dan dia bisa menjelajah sekitar dengan nyaman.
Selanjutnya, anak juga ingin mengeksplorasi sekitar dan mencoba-coba. Di dalam fase pertumbuhan ini, penting bagi orangtua dan lingkungan untuk memberikan kepercayaan diri pada anak bahwa dunia sekitar aman dan dia bisa menjelajahinya sendiri.
Itu dua fase penting di 3 tahun pertama anak.
Ketika anak sudah bisa mengungkapkan rasa takut, itu adalah sebuah pertanda bagus bahwa anak terstimulasi dengan baik aspek komunikasinya sehingga terampil mengungkapkan perasaan/pikiran. Yang perlu digali adalah penyebab rasa takutnya. Faktor PPKM (merasa asing dengan lingkungan luar) dan ditakut2i mungkin memberikan pengaruh.
Dalam kondisi seperti ini, pintu perbaikannya masih terbuka sangat lebar.
Beberapa fokus penting yang bisa dan perlu Anda lakukan:
1. Perkuat bonding
Cari waktu untuk menguatkan hubungan Anda dengan anak. Jenis kegiatannya tidak terlalu penting. Yang penting adalah hubungan hati antara anak dan Anda. Anak merasa aman dan nyaman karena ada Anda. Cari waktu untuk menunjukkan bahwa dia juga spesial dan di hati Anda.2. Stimulasi fisik
Perbanyak stimulasi fisik dalam bentuk senyum, usapan kepala, pelukan dan kata-kata yang lembut kepadanya.3. Dengarkan
Saat anak bercerita tentang ketakutannya, dengarkan dengan sepenuh hati dan turuti, jangan paksa untuk berani. Jika suasana hatinya sudah tenang, gali dan tanyakan apa yang menjadi kekhawatirannya. Jika memungkinkan, perbanyak momen di mana anak bisa bercerita kepada Anda. Proses ini tidak harus dalam waktu khusus, bisa dilakukan sambil Anda mengurusi adiknya.4. Libatkan
Libatkan anak untuk membantu mengurus adik sehingga dia tahu bahwa dia bisa berkontribusi yang bermakna. Jangan lupa mengapresiasi kontribusi yang dilakukannya.5. Ingatkan
Ingatkan kepada anggota keluarga lain untuk tidak menakut-nakuti anak. Sebagai gantinya, minta mereka menjelaskan secara rasional kepada anak tentang larangan/perintah kepada anak, misalnya: jika mainan tidak dirapikan akan berantakan dan bikin orang tersandung, mainan hilang, dsb.Demikian kak, semoga membantu.
February 22, 2023 at 11:05 pm #5631Vera Marsella
MemberSelamat malam Mas @Aar dan Mba @Lala,
Tentang prinsip belajar dan bermain di lingkungan sekitar.
#Kasus ke 1.
Jika kakak dan adik sedang bermain kemudian mereka rebutan mainan atau kakak (perempuan, usia 4th 7bln) becandain adiknya (perempuan usia 1thn 10 bln) sampai menangis. Bagaimana sikap orang tua hadir menanggapi konflik tersebut?apakah membiarkannya, agar mereka belajar menyelesaikan konflik atau ada cara lain yang lebih bijaksana sehingga tidak melukai perasaan kedua anak2 tsb. Apalagi jika kondisinya konflik tersebut terjadi ketika orang tua tidak melihat langsung kejadiannya. Misalnya saat ibu sedang memasak, anak2 bermain kemudian rebutan mainan.
#Kasus ke 2.
Jika anak bermain bersama teman atau sepupu (laki2, usia 4th 2bln) kemudian rebutan mainan. Misalnya mainan tersebut bukan milik mereka. Tetapi mainan yang disediakan oleh neneknya untuk dipakai oleh mereka ketika cucu2nya sedang berkunjung ke rumah neneknya. Rebutan tersebut dibumbui dengan memukul duluan oleh sepupu. Lalu bagaimana saya harus menanggapi kejadian tersebut?
Saat pertama kejadian tsb anak saya saat dipukul langsung diam tidak membalas. Tetapi saat kejadian berulang anak saya bisa membalas memukul. Apakah tepat jika saya bicara ke anak saya. “Ketika ada yang memukul balas saja apalagi jika kita tidak bersalah. Memukul itu tidak boleh tetapi jika ada yang berbuat tidak baik ke kita (sebagai usaha pertahanan diri) boleh kita memukul. Misalnya ada orang asing mau memegang area intim kita. Kita boleh berteriak dan memukul orang tersebut. Terus kasusnya ketika rebutan mainan, jika ada yang memukul duluan boleh balas memukul. Asal sebelum bermain kita buat kesepakatan. Mainan bergantian diberi waktu. Semisal ada yang melanggar terus ternyata malah memukul. Kamu boleh balas memukul. Sebaliknya jika terjadi pada anak saya yang duluan memukul dan melanggar. Saya bilang kepada anak saya harus mau meminta maaf.”
Tujuannya :
1. Bermain ada kesepakatan
2. Jika tidak bersalah kemudian dipukul, boleh mempertahankan diri
3. Jika bersalah harus berani meminta maaf
Selain itu, sebagai bentuk menyediakan lingkungan yang kondusif bagi anak2. Kami menarik diri/mengurangi waktu berkunjung ke keluarga besar yang memiliki anak yang suka memukul dan berbicara kasar. Mengingat anak saya masih mudah terpengaruh dengan lingkungan luar jika terpapar terlalu lama. Maka kami perkuat bonding dahulu dengan anak dan contoh sikap2 baik di rumah. Agar saat mereka berada di luar rumah, karakter mereka sudah kuat.
Jika ada sikap saya yang keliru dan itu tidak baik untuk psikologis anak terhadap kedua kasus di atas. Mohon sarannya Mas Aar dan Mba Lala.
Salam dan terimakasih.
February 23, 2023 at 3:23 pm #5630Aar
KeymasterHalo kak @veramarsella,
1. Penyelesaian konflik
Jika kakak-adik terlibat konflik, idealnya mereka belajar menyelesaikan sendiri. Pastikan orangtua memastikan bahwa tidak ada kekerasan fisik yang terjadi. Juga, pastikan penyelesaiannya adil (fair) sehingga tak ada dendam yang tersisa. Jika ada cara penyelesaian yang menurut kakak kurang tepat, kakak boleh melakukan intervensi dan memberikan petunjuk bagaimana sebaiknya konflik itu diselesaikan.
Bantu anak2 untuk membuat aturan main untuk mencegah kejadian konflik serupa berulang.
2. Menangani konflik fisik
Panduan yang kakak berikan pada anak sudah bagus.
Anak belajar untuk bisa mempertahankan diri dan pada saat bersamaan dilatih untuk minta maaf jika bersalah.
Lanjut kak!
👍 🔥
February 24, 2023 at 10:45 pm #5623Vera Marsella
MemberTerimakasih Mas @Aar sudah memberikan respon yang membangun bagi saya.
Salam
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.