Belajar Parenting › Forums › Menyiapkan Pembelajar Mandiri › Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
October 27, 2023 at 6:14 am #4978
Winda Djohar
MemberHalo, Mas Aar.
Terima kasih sekali untuk penjelasannya yang mudah dipahami.
Pertanyaan saya:
Anak saya berusia 4 tahun dan ingin saya “ajarkan” matematika/berhitung. Selama ini saya paparkan dgn buku2 berhitung dgn konsep belajar sambil bermain, printables dri RI, counting beads ala Montessori, dan game di HP untuk berhitung (sekitar 10-15 menit, 2-3x seminggu). Ketika ada jadwal “Matematika”, saya membebaskan anak memilih mau belajar di HP atau di buku. Cenderungnya dia memilih di HP.
Ada kekhawatiran bahwa anak senang matematika krna ingin main HP, meskipun saya jg melihat sisi positif dri game di HP tersebut (misal jadi terdorong utk mau menulis angka). Sejak bayi, Anak saya ini tidak dibiasakan diberi screentime (kami tidak punya TV).
Nah, apakah usia 4 tahun ini tepat utk dikenalkan dgn matematika IXL (krna saya lihat permainannya lebih beragam dan komprehensif)?
Apakah cara saya mengenalkan matematika atau jadwal main HP utk belajar sudah baik?
Mohon pencerahannya, Mas.
Terima kasih.
October 28, 2023 at 9:51 am #4977Aar
KeymasterKak @winda-djohar
Untuk proses matematika, tahapannya secara umum adalah:
- Melalui benda fisik
- Secara visual (gambar)
- Abstrak (persamaan matematis)
Ini selaras bersama perkembangan fisiologi anak.
Lalu, apa goalnya pada anak usia dini?
Yang utama adalah “number sense”, konsep kuantitatif dan mengenal bentuk (geometri).
Jadi, sebenarnya goalnya sederhana kak. Tahapannya pelan2 karena ini proses jangka panjang. Ada aspek2 fisiologis dalam otak anak yang masih butuh berkembang, yaitu aspek logis. Pertumbuhan fisiologis ini tidak bisa digegas/dipercepat. Jadi, proses stimulasinya yang perlu menyesuaikan. Anak sih biasanya ikut saja dengan stimulasi yg kita berikan.
Untuk anak usia 4 tahun, prioritas tertinggi adalah menggunakan benda2 fisik dan kegiatan fisik2, seperti mainan, batu, daun, mobil, motor, dan benda2 lain di sekitar. Kegiatannya misalnya:
- menghitung (counting) benda apapun yang di sekitar
- aritmatika sederhana (tambah-kurang) menggunakan benda
- sama-beda
- perbandingan (lebih besar/kecil, tinggi/pendek, banyak/sedikit, dll
- mengenal angka (1-10)
Walaupun kelihatannya sederhana, ini proses yang esensial. Jika proses semacam ini diperkuat, ke depan proses logika dan belajar matematikanya akan lebih mudah dilakukan anak.
Tentang IXL Math, saya lebih cenderung untuk menunda hingga usia 5-6 tahun untuk menjaga kesehatan mata dan mental anak dari kelekatan pada gawai.
Demikian kak, semoga membantu.. 🙏
October 28, 2023 at 10:16 am #4976Winda Djohar
MemberWah… Baik, Mas Aar. Terima kasih atas penjelasannya.
Memang sepertinya anak saya masih perlu distimulasi dgn benda real untuk meningkatkan pemahamannya tentang jumlah, pengurangan dan penambahan, serta sama-beda.
Terima kasih.
Have a great day, Mas Aar dan Mbak Lala.
October 28, 2023 at 10:20 am #4975Aar
KeymasterDengan senang hati kak @winda-djohar .. selamat berakhir pekan dan berkegiatan bersama keluarga.. 🙏
November 24, 2023 at 11:55 am #4945Mira wulandari
MemberMembaca lagi, … Lagi…..lagi… Dan lagi, ke empat saran dari mas Aar. Terima kasih Atas sarannya.
mencoba lagi…lagi….lagi…dan lagi. Memang bukan hal yang mudah untuk dipraktekan sehari hari. Terima kasih atas ke empat sarannya.
Membangun kepemilikan: sangat mudah ketika mereka sendiri yang menuliskannya. Menulis bukan hanya mengingat apa yg ditulis, tapi juga muncul rasa kepemilikan Dan tanggung jawab.
Sekarang inkonsisten sudah mulai bergeser.
Terima kasih.
November 24, 2023 at 3:07 pm #4942Aar
KeymasterTerima kasih sharingnya kak @mira-wulandari
Ikut berbahagia dengan proses yang dijalani.
Betul sekali, ilmu homeschooling banyak sekali terkait dengan praktik, bukan hanya sekadar pengetahuan dan teori yang perlu diketahui.
Dari praktik, kita akan mendapatkan skills dan wisdom.
Yang kakak sampaikan tentang pentingnya anak menulis sendiri jadwal/kegiatannya juga sangat tepat. Hal yang kelihatannya sederhana itu adalah bagian dari proses untuk membuat anak merasa memiliki kegiatannya.
Selamat berproses dan bertumbuh ya kak..
🙏
February 29, 2024 at 10:42 am #4904heni soraya
MemberAssalamualaikum mas Aar,
Anak saya yang ke 2 (9th) dan ke 3 (7th) suka sekali belajar melalui internet, misalnya mengcreate sesuatu di minecraft, membuat animasi dengan mineimator, membuat/mengedit video dengan video maker, membuat mesin simulasi dengan algodoo, dll. Anak yang ke 2 juga senang menonton tutorial membuat prakarya di youtube dan mempraktekannya sampai jadi. Awalnya kami merasa itu adalah sesuatu yang positif karena mereka mempelajarinya secara mandiri dan menghasilkan output karya yang cukup baik untuk ukuran anak seusia mereka.
Sayangnya, karena terhubung dengan internet, lama2 mereka terpapar juga dengan aplikasi dan tontonan game. Awalnya memang kami perbolehkan dengan batasan. Tapi ya lama kelamaan makin menyita waktu mereka. Bahkan mengganggu aktivitas belajar mereka yang lainnya
Untuk totaly memutus mereka dari eksplorasi di internet rasanya tidak mungkin karena ada juga manfaatnya. Tapi kalo tetap dilanjutkan, kami belum menemukan cara yang pas untuk proses tarik ulurnya supaya mereka tidak kebablasan.
Apakah mas Aar dan mba Lala ada pengalaman dengan kondisi seperti ini dan bagaimana menghadapinya..
March 1, 2024 at 2:42 pm #4902Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Kak @heni-soraya
Terima kasih sharingnya.
Internet memang pisau bermata dua. Satu sisi bermanfat dan bisa menjadi alat belajar yang sangat luar biasa pada anak-anak. Di sisi lain dia memiliki banyak distraksi yang mempengaruhi kesehatan mental dan kemampuan anak untuk fokus.
Kunci dari penggunaan mental adalah disiplin.
Dan disiplin adalah proses yang sangat menantang untuk dibangun. Apalagi terkait Internet karena banyak sekali distraksi yang muncul saat memakai Internet.
Untuk membangun disiplin, ada 2 kunci penting yang perlu diperhatikan:
1. Orangtua memimpin
2. Aturan main yang ditegakkan secara konsisten
Tanggung jawab penggunaan gawai ini ada di orangtua. Anak belum bisa diandalkan. Jadi, jangan menggantungkan pada anak.
Kedua, jangan menggunakan belas kasihan sebagai basis penegakan aturan. Jika disepakati satu jam, maka gunakan timer waktu satu jam. Tegakkan aturan main secara kaku. Memang tidak enak, tapi ini adalah kunci awal untuk membangun disiplin. Jika aturan selalu bisa dinegosiasikan, maka aturan itu tak bermakna.
Buat konsekuensi jika aturan dilanggar yang dimengerti dan disepakati bersama anak. Misalnya: jika saat bekerja terdistraksi menonton yang lain, maka “kesenangan anak dikurangi”. Jika berulang, makan dicabut.
Di keluarga kami, rule is rule. Jika pagi adalah kegiatan berkarya memakai komputer Internet/komputer, maka waktu digunakan untuk berkarya. Menonton hiburan dialokasikan hari Sabtu & Minggu.
Jika dilanggar, maka besok tidak boleh memakai komputer. Rugi karena nggak bisa belajar/berrkarya? Tidak apa-apa. Itu ongkos yang harus ditanggung untuk menegakkan disiplin.
Jika berulang, maka jatah nonton/main di hari Sabtu/Minggu dikurangi, bahkan bisa dicabut.
Di lapangan, anak akan “mengetes” apakah orangtua bersunggung-sungguh dan tega?
Dan kami tega.
Ada peristwa Duta tidak bisa main/nonton di hari Sabtu/Minggu. Ada momen lain bahkan di hari2 biasa (weekdays) kami cabut hak memakai komputer karena terdistraksi berulang dan emosinya tidak stabil.
Momen itu hanya terjadi sekali-kali, tapi membekas. Anak-anak jadi tahu bahwa orangtua bersungguh-sungguh menegakkan aturan main dan kesepakatan, bukan hanya mengancam saja.
Demikian kak. semoga membantu.. 🙏
March 1, 2024 at 9:04 pm #4900heni soraya
MemberTernyata aturan yang kami terapkan selama ini masih terlalu kendor..
Terima kasih penjelasannya mas Aar.. semoga kami bisa menerapkannya dengan konsisten dan persisten.. terutama di awal2 pendisiplinan karena pasti respon mereka akan menguji keteguhan kami dalam menerapkan aturan..
March 2, 2024 at 7:04 pm #4899Aar
KeymasterAmin kak @heni-soraya,
Yang sering membuat proses mengelola gawai ini sulit karena anak biasanya selalu menguji kita dan menggunakan semua yang dimilikinya untuk mendapatkannya, mulai kalimat manis, mata berkejab-kejab, merengek, menangis, mengancam, dan lainnya.
Juga, anak semakin tahu “hot button” yang menjadi kelemahan orangtua yang membuat susah menolak permintaan mereka terkait gawai.
Memang menantang ini, kak..
Semoga dilancarkan prosesnya yaa.. 🙏
August 5, 2025 at 6:09 am #4785Ade Yulida
Membermas aar mengatakan bahwa membuat budaya belajarnya itu memfasilitasi segala keingintahuan anak, tapi bagaimana jikalau banyaak sekali yg diingintahui Dan kompleks sekali yg ingin dijelaskan sehingga waktu kita habis Dan Tidak seksual dengan tujuan pembelajaran?apakah kita Tidak usah turuti?atau bagaimana
August 13, 2025 at 9:39 am #4781Aar
KeymasterHalo kak @ade-yulida,
Memfasilitasi keingintahuan bukan berarti memperturutkan apapun yang ingin diketahui anak.
Tugas orangtua adalah mencari keseimbangan antara mengikuti rasa ingin tahu anak dan menjaga arah tujuan belajar yang sudah kita tetapkan.
Ada beberapa masukan yang bisa saya berikan untuk mengelola 2 hal ini:
-
Bedakan “menghargai” dan “mengikuti sepenuhnya” rasa ingin tahu anak.
-
Menghargai artinya mengakui pertanyaannya penting dan layak dicatat.
-
Mengikuti sepenuhnya artinya langsung berhenti dari agenda dan membahas panjang lebar—ini tidak selalu perlu dilakukan saat itu juga.
-
-
Gunakan teknik “parking lot” atau “bank pertanyaan.”
-
Catat pertanyaan yang tidak bisa dijawab sekarang di papan, buku catatan, atau sticky note.
-
Tentukan waktu khusus untuk membahasnya, misalnya di sesi “waktu eksplorasi” mingguan.
-
- Prioritaskan pertanyaan yang relevan
-
Tidak semua rasa ingin tahu harus dipenuhi saat ini juga. Jika kakak merasa pertanyaan itu penting dan relevan, kakak bisa langsung jawab. Gunakan jawaban pendek-pendek untuk melihat pemahaman anak dan ketertarikannya.
-
Latih anak untuk ikut mengelola rasa ingin tahunya.
-
Ajak dia memilih, “Mau bahas sekarang atau simpan untuk waktu khusus?”
-
Ini melatih keterampilan manajemen waktu dan fokus.
-
Demikian, kak. Menunda respon, mencatat pertanyaan, dan tidak mengikuti langsung semua pertanyaan anak bukan berarti mengabaikan keingintahuan anak.
Saat keingintahuan dikelola, itu juga merupakan proses belajar bagi anak.
🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.