Belajar Parenting › Forums › Menyiapkan Pembelajar Mandiri › Konsep Dasar tentang Pembelajar Mandiri
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 25, 2019 at 8:47 am #4629
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
April 15, 2021 at 10:40 am #6921Anonymous
Guestmba, disini mas aar menyarankan orang tua untuk banyak bertanya ke anak. ya Allah, masa aku sendiri bingung, apa lagi yang bisa ditanyakan ke anak terkait keinginan kegiatan mereka. saat aku tanya ke anakku, kk mau ngapain hari ini? dia cuma jawab mau main. trus mau apa lagi? udah. ga tau mau apa lagi. aku sendiri bingung….
gmn y mba…mohon saran mba,April 16, 2021 at 3:04 pm #6920Aar
KeymasterKak Athia,
Ada beberapa hal yang perlu diketahui berkaitan dengan proses bertanya bersama anak:
1. Membangun koneksi
Proses awal yang perlu dilakukan dan dilatih orangtua adalah mengobrol apapun bersama anak. Tak penting temanya apa, yang penting menjalin hubungan bersama anak.2. Bukan hanya bertanya
Proses interaksi bersama anak jangan hanya bertanya, tetapi juga bercerita dan membahaskan apa saja, baik yang terjadi sehari-hari maupun pengalaman hidup orangtua sebagai bahan cerita dan obrolan bersama anak. Jangan sampai anak merasa diinterogasi.Mengapa kami mendorong orangtua banyak bertanya? Karena banyak orangtua yang hanya menyuruh anak dan tidak bertanya.
3. Orangtua tahu tujuan pertanyaan
Mengajukan pertanyaan bukanlah untuk sekadar mengajukan pertanyaan, tapi ada tujuannya. Apa tujuannya?~ melatih anak menjelaskan.
Jika anak menjawab “Aku mau main.”, orangtua perlu melanjutkan dengan pertanyaan lanjutan “main apa?”, “berapa lama kamu mau main?”, “apa rencanamu selain main?” ~ melatih anak berpikir
“Mengapa kamu bermain?”
“Apa yang perlu kamu lakukan untuk dirimu selain bermain?”
“Bagaimana caranya kamu mengasah dirimu?”~ memberikan alternatif
Jika anak belum tahu alternatif kegiatan, tugas orangtua menjelaskan dan memberikan pengalaman aneka jenis kegiatan.
“Yuk melakukan kegiatan xxx”
“Kamu ada kegiatan A, B, C. Mana yang mau kamu lakukan?”~ mengambil keputusan
“Mengapa kamu melakukan ini?”
“Mengapa kamu tidak melakukan itu?”Dst.
Semoga membantu ya kak
February 2, 2022 at 5:37 pm #6711Rara Fatima
MemberHalo kak Aar, terima kasih atas introduction tentang pembelajar mandiri. Sangat membuka wawasan saya dan benar2 mudah dipahami penjelasannya, baik konsep dan praktiknya. Jika saya tidak salah pemahaman, berarti memulai sistem homeschooling dari anak usia dini ini adalah melatih inisiatif mereka akan kegiatan reguler yang biasa ortu lakukan ya? Seperti contoh yang Kak Aar berikan tadi: memasak.
Usia anak saya 3 tahun, Dulu ketika usia anak saya 2 tahun, pernah saya ajak beberapa kali untuk membantu masak dan mengenalkan rempah2 yang biasa dipakai di dapur. Namun ini tidak bertahan lama, entah dia bosan, entah dia memang tidak tertarik.
Pertanyaan saya:
1. Apakah garis besar konsep mempersiapkan pembelajar mandiri ini dapat diterapkan untuk usia 3 tahun atau kurang, atau memang bisa namun sulit, atau justru untuk usia lebih dari 3 tahun?
2. Sejauh ini, hal yang membuat ia tertarik itu adalah hewan ikan. Saya sbg ortu sejauh ini hanya mampu memfasilitasi apa yang menjadi ketertarikannya. Saya coba berbagai macam kegiatan yang biasa kami (ortu) lakukan di rumah ke dirinya, namun sepertinya belum ada cukup antusiasme. Seperti masak, berkebun, dsb. DIa hanya nampak antusias dan senang terlibat jika yang dikerjakan adalah hal favoritnya (ikan, serangga). Saya jg sering bertanya ‘mau main apa hari ini?’ dan jawabannya relatif tidak variatif :)). Apa ada saran bagaimana untuk mengundang daya tarik anak untuk berkegiatan lain?Terima kasih banyak kak.
February 2, 2022 at 10:55 pm #6688Aar
KeymasterKak @rara.fatima
Proses menyiapkan anak menjadi pembelajar mandiri membutuhkan waktu bertahun-tahun, dengan proses yang terjadi selapis demi selapis.
Bagus sekali jika Anda sudah menyiapkan anak sejak usia dini. Dan sebaiknya prosesnya memang tidak menunggu anak besar.
1. Proses persiapannya sudah bisa dilakukan sejak anak usia dini. Bentuknya tentu saja masih sangat sederhana. Yang penting dilakukan adalah menjaga agar ekspektasi orangtua tidak tinggi.
Saat anak usia dini, prosesnya masih seputar membangun budaya belajar dan kebiasaan-kebiasaan baik terkait belajar.
Anak merasakan bahwa belajar itu seru dan asyik. Anak bahagia melakukan kegiatan bersama orangtua. Anak menikmati aneka pengalaman yang dilakukan bersama orangtua.
Ini kelihatannya sederhana, tapi menjadi pondasi penting untuk pembelajar mandiri.
Pondasi penting lain untuk anak2 usia 3-5 tahun terkait pada kemandirian di bidang lain, misalnya: BAB, BAK, mandi, makan, minum, memakai baju, celana, sepatu, dll. Kemandirian adalah proses membangun perasaan berdaya dan berkemampuan pada anak.
2. Pintu masuk belajar anak bisa macam-macam, disesuaikan saja dengan kondisi anak dan lapangan. Yang baik adalah yang bisa dilakukan. Cari yang paling cocok dengan kondisi Anda.
Jika pintu masuknya adalah ikan, lakukan aneka kegiatan terkait ikan untuk memelihara keingintahuan anak dan menambah pengalamannya. Menghitung ikan, mengenal warna melalui ikan, nama/jenis ikan, mewarnai ikan, membacakan buku cerita tentang ikan, menonton film tentang ikan, dsb.
3. Karena wawasan anak masih terbatas, proses berkegiatan tak harus dimulai dengan pertanyaan kepada anak “Kakak mau ngapain?”
Orangtua juga boleh berinisiatif dan menawarkan kepada anak untuk memberikan berbagai pengalaman baru dan berharga untuk anak.
“Kak, nanti siang kita jalan2 ke penjual ikan hias yaa…”
“Bunda punya buku cerita tentang ikan. Kita baca bareng-bareng yuk… “
“Bunda mau gambar2 dan mewarnai ikan. Kakak mau ikutan, nggak?”
Dst
Demikian, semoga membantu.
February 3, 2022 at 4:29 pm #6682Rara Fatima
MemberWaah, terima kasih banyak kak atas jawabannya. Langsung saya praktikkan di rumah besok sambil menyiapkan bahan ajarnya bersama2 si kicik.
🖤🖤🖤
February 4, 2022 at 11:36 am #6677Aar
KeymasterSama-sama kak @rara.fatima
Selamat berkegiatan! 🤩
February 20, 2022 at 2:30 pm #6615Amanda
MemberSelamat siang mas Aar..
Yang menjadi keresahan saya sebagai orang tua yg dulunya dididik dengan pola pendidikan konvensional itu budaya harus patuh. Walaupun berbagai artikel,workshop dan seminar sudah saya kunyah tetap saja dalam prakteknya saya keseleo lagi secara tidak sengaja menerapkan apa yang saya dapat dahulu. Entah itu respon saya terhadap pertanyaan atau inisiatif anak atau pola pikir dan sikap saya. Muncul rasa sesal ketika sadar “duh salah nih responnya saya tadi anak jadi males kan nih nanya lagi” dll
Bagaimana cara mengerem hal-hal seperti ini ya mas Aar?
February 21, 2022 at 10:16 pm #6611Aar
KeymasterHalo kak @Manda
Betul sekali, kita dipengaruhi oleh nilai-nilai dan pengalaman hidup yang pernah kita jalani.
Tak ada cara instan untuk mengubah budaya lama.
Yang bisa kita lakukan adalah terus membangun upaya sadar untuk menggeser nilai-nilai:
1. Dari kepatuhan ke logika
Jelaskan alasan mengapa sebuah hal dilakukan. Mengapa itu penting bagi anak? Apa manfaatnya bagi anak? Apa yang perlu dilakukannya
2. Dari kepatuhan ke kemandirian
Geser tujuan Anda dari menuntutkan kepatuhan anak menjadi proses membimbing anak agar mandiri. Anak yang terbiasa patuh, akan mencari orang yang dipatuhi di luar. Anak yang terbiasa mandiri akan terampil menjaga dirinya di luar.
3. Perbanyak mengobrol, bertanya, dan mendengarkan
Secara sadar, mulai bangun pola komunikasi yang lebih horizontal. Perbanyak mengobrol tentang hal2 yang remeh tanpa memberikan nasihat. Obrolan tentang makanan kesukaan, cuaca, film, buku, cuaca, binatang, dll.
Perbanyak bertanya dan menunggu anak menjawab. Belajarlah untuk mendengarkan jawaban/cerita/pendapat anak dengan antusias tanpa menghakimi.
Demikian kak, semoga membantu.
January 26, 2023 at 6:15 am #5698Nongki Sakinah
MemberBismillah, izin bertanya, belajar itu kan di mana saja dan kapan saja ya. Sesederhana mengajak anak ke pasar tradisional, itu pun belajar. Nah apakah dalam pelaksanaanya sehari-hari, kita perlu melabeli kegiatan tersebut sebagai “kita sedang belajar” kepada anak, atau biarkan saja berjalan alamiah.
Misal sebelum melakukan aktivitas apapun, perlukah kita menyampaikan dulu “sekarang kita akan belajar A ya, Nak”. Perlukah anak tahu bahwa ya itu sedang belajar bukan cuma melakukan kegiatan rutin sederhana. Atau sebaiknya seperti apa?
January 26, 2023 at 9:56 am #5697Aar
KeymasterTerima kasih pertanyaannya kak @nongki-sakinah,
Sebuah kegiatan dirasakan biasa saja atau keren tergantung pada pemaknaan. Realitasnya sama, tapi dengan pemaknaan yang berbeda akan menghadirkan rasa dan emosi yang berbeda. Emosi yang berbeda akan memicu sikap dan aksi lanjutan yang berbeda pula.
Kesadaran penting yang perlu kita miliki adalah: membangun makna yang memberdayakan.
Kegiatan rutin yang berulang bisa dilihat dengan 2 makna:
- kegiatan gitu2 aja yang bikin kita bosan dan tidak percaya diri
- ini rutinitas penting sebagai latihan menguatkan otot belajarmu
Dua makna tersebut menghasilkan rasa yang berbeda, kan?
Misalnya lagi pergi ke pasar untuk berbelanjan. Kegiatan tersebut dapat dimaknai:
- anak melakukan kegiatan sederhana dan dipekerjakan
- anak sedang berlatih keterampilan komunikasi, matematika uang, dan menguatkan stamina bekerja
Nah, tugas kita sebagai orangtua adalah:
1 . Memaknai kegiatan yang positif dan memberdayakan
2. Mengkomunikasikannya kepada anak sehingga mereka tahu bahwa kegiatannya itu keren
Mengapa perlu mengkomunikasikan makna kegiatan?
- supaya anak menikmati dan melakukan kegiatan dengan mindful
- supaya anak (dan orangtua) bisa melihat bahwa belajar itu bisa dilakukan dengan banyak cara (bukan cuma mengerjakan worksheet)
- supaya anak (dan orangtua) bisa memanfaatkan dunia yang luas untuk belajar
Demikian kak, semoga menjawab 🙏
September 11, 2023 at 8:53 pm #5005Mira wulandari
MemberTerima kasih Mas Aar, penjelasannya. Step yang lumayan merubah gaya hidup, menuliskan. Seperti menyusun jadwal. Memang, anak anak akan mencontoh orangtuanya. Nah, seringkali saya ‘konsisten untuk tidak konsisten’, hehehehe. Ini memang sisi buruk saya terutama, konsisten membuat jadwal dan mematuhi jadwal. Bahan dari Mas Aar dan Mba Lala sudah saya unduh. Tapi masih ragu untuk melaksanakannya. Sepertinya harus bicara dengan anak, supaya mereka juga jadi alarm untuk saya mematuhi jadwal. Hahahaha…..
Anak saya yg di rumah ada 2, satu Fatima 12 tahun, Dan Muhsin 10 thn. Kami baru menjalani homeschooling, sebelumnya mereka full di pesantren.
Ada tips nggak untuk kami yang sering “angin-anginan”?
Makasih Mas Aar dan Mba Lala yg sedang menjalani hidup ‘sarang kosong’. Semoga lancar dan memberkahi. Saya tunggu jawabannya.
September 12, 2023 at 9:32 pm #5004Aar
KeymasterKak @mira-wulandari,
Selamat datang di dunia homeschool.
Konsistensi adalah salah satu faktor penting untuk keberhasilan di bidang apapun. Pada saat bersamaan, kondisi sebagian besar orang adalah sulit untuk konsisten, apalagi dalam jangka waktu panjang.
Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan untuk meningkatkan konsistensi kita:
1. Memastikan meresapi kepentingan
Konsistensi meningkat jika kita tahu bahwa sebuah hal/kegiatan perlu dilakukan dan itu penting untuk kita. Misalnya: bekerja mencari uang, menyediakan makanan untuk keluarga, beribadah, dll.
Karena kita tahu itu penting, maka kita melakukannya baik saat suka maupun duka.
Dalam konteks homeschooling, pastikan bahwa jika Anda tak berhasil, risikonya adalah masa depan anak-anak.
2. Komitmen dengan pihak luar
Jika kita bekerja dan berurusan dengan orang lain, kemungkinan besar kita akan berkomitmen lebih baik.
Manfaatkan kondisi ini dengan melibatkan anak-anak dengan kegiatan luar, misalnya: kursus, klub, kegiatan komunitas, dll.
3. Bangun rasa kepemilikan
Libatkan anak-anak dalam aneka proses kegiatan homeschool, misalnya menentukan jenis kegiatan, materi yang digunakan, cara belajar, jadwal belajar, target-target yang ditetapkan.
Buatlah kesepakatan secara periodik, misalnya mingguan. Setiap hari Minggu kesepakatan dievaluasi dan direfleksikan bersama.
4. Buat menjadi terlihat
Tuliskan kesepakatan di kertas besar dan tempelkan di tempat yang mudah terlihat. Setiap pagi, saat sarapan, diskusikan bersama jadwal kegiatan hari tersebut bersama anak-anak.
Dengan mendiskusikan jadwal kegiatan setiap pagi, awareness akan terbangun untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti yang direncanakan.
Demikian masukan dari kami, kak. Semoga membantu mengawali proses homeschooling.
Selamat menjalani petualangan belajar bersama anak-anak.
🙏🤩
October 13, 2023 at 10:04 pm #4991Indah
Membermau bertanya kalau melihat dari proses anak untuk mandiri tentunya tidak terlepas dari mtivasi anak makanya mereka sampai mau melakuka atau mau belajar mandiri apa sih yang menjadi atau memotivasi anak” mas Aar sampai mau belajar contohnya misalnya mereka mau belajar dalam hal memasak atau memabantu ortu ?
October 19, 2023 at 10:26 am #4987Aar
KeymasterKak @annisa-sidqia-nahdah,
Untuk membangun motivasi internal anak, itu dipengaruhi oleh banyak variabel, bukan hanya dengan kata-kata saja. Pada orangtua, kuncinya adalah imajinasi dengan mengaitkan sebuah kegiatan dengan kepentingan anak (bukan kepentingan kita).
Misalnya:
Membantu orangtua
Harapan untuk membantu orangtua itu kepentingan kita. Kita sulit untuk memotivasi anak agar peduli dengan kita karena itu kepentingan kita, bukan kepentingan anak. Secara umum, anak-anak hanya peduli dengan dirinya sendiri dan sedikit peduli dengan sekitarnya.
Idenya perlu digeser bukan membantu orangtua, tapi menjadi tim keluarga dan belajar mengelola rumah bersama. Berarti, ini proyek untuk seluruh keluarga, bukan hanya tugas anak. Termasuk Ayah terlibat juga sebagai bagian dari tim keluarga.
Setelah itu, baru ngobrol: “Urusan rumah ini bukan cuma urusan Bunda. Kita perlu saling bekerjasama untuk mengurus rumah. Buat kakak, ini latihan nanti kalau kakak ke luar negeri atau kuliah di luar kota jadi semakin terampil.”
Untuk menambahkan kekuatan persuasi, ceritakan pengalaman pribadi Ayah/Ibu saat kuliah, tinggal di luar kota/di luar negeri, dst.
Memasak:
Hal pertama yang dijaga adalah ekspektasi orangtua. Ini untuk kepentingan anak dan membantu anak berlatih, bukan untuk meringankan beban kita. Jika suatu saat anak terampil dan bisa membantu orangtua, itu bonus.
Proses yang utama dalam hal memasak bukan motivasi, tetapi sering bikin makanan2 kesukaan, recreate makanan enak yang ada di luar, dsb. Bundanya sendiri perlu menunjukkan kesenangan memasak dan mengobrolkan tentang manfaat bisa memasak.
Termasuk, perlu mengantisipasi jawaban anak: “Gofood aja, ngapain masak? Capek!”
Kesadaran itu dibangun melalui pengalaman nyata dan cerita yang dibahaskan.
Misalnya:
- membeli ayam di pedagang sayur, kemudian dimasak. Dihitung biaya per potong dan dijadikan obrolan. Bandingkan dengan pengalaman membeli melalui GoFood yang jauh lebih mahal.
- Lakukan proses memasak ulang makanan yang dibeli di luar. Misalnya, makan steak. Beli di luar biayanya: Rp 150K, ternyata ketika bikin sendiri biayanya cuma: Rp 60K. Uang yang sama bisa dapat lebih banyak makanan.
- “Menjadi orang yang terampil itu menambah fleksibilitas. Kita menjadi punya pilihan. Jika tak bisa memasak, kita terpaksa harus beli berapapun harganya. Jika kita terampil memasak, kita bisa pilih beli atau uangnya dihemat untuk beli yang lain. Juga, kita bisa bikin makanan kesukaan yang kita inginkan.”
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.