Membangun Budaya Belajar

Belajar Parenting Forums Menyiapkan Pembelajar Mandiri Membangun Budaya Belajar

  • This topic is empty.
Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 15 total)
  • Author
    Posts
  • #4624
    Aar
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #7021
    Anonymous
    Guest

    terimakasih pak aar.. materinya saangat inspiratif dan jleb bgt buat saya.. sy ibu rumah tangga dengan 2 anak, yang pertama usia 9 tahun.. benar yang terjadi saat ini anak saya mulai berontak atau menyuarakan ketidaksetujuannya dan tidak mau melakukan sesuatu, selain itu dia juga cenderung bergantung pada saya saat belajar khususnya sejak pandemic ini.. bagaimana cara melepaskan ketergantungan anak pada ortu ya pak aar/mba lala? sebenarnya mungkin tidak hanya belajar, apapun sedikit sedikit bunda.. bunda.. dan bunda.. saya rasa ada cara dan masih belum terlambat kan ya..

    #7019
    Aar
    Keymaster

    Kak Rachmayati,

    Coba ditelisik lebih jauh penyebab ketergantunagn yang terjadi, kak.

    Apakah dia benar-benar tidak tahu?
    Apakah dia capek dengan proses PJJ yang terjadi saat ini?

    Jika anak merasa fatique (lelah yang mendalam) tapi tidak bisa berbuat apapun karena keharusan, saatnya orangtua melakukan intervensi dengan memperbanyak ruang atau jalan anak melakukan pelepasan. Proses pelepasan anak bisa dilakukan dengan menambahkan kegiatan fisik yang bikin capek, jalan pagi, dan kegiatan2 yang disukainya bersama keluarga.

    Jika anak benar2 tidak tahu tapi malas berpikir, orangtua bisa meliath anak dengan mengajukan pertanyaan balik:
    “Menurut kakak apa?”
    “Yang belajar kakak atau Bunda?”

    Saat mengajukan pertanyaan balik ini, orangtua perlu “tega”. Artinya, jangan mengambil alih lagi proses dan tanggung jawab anak karena rasa kasihan. Sebaliknya, latihlah anak-anak untuk bertanggung jawab sendiri atas proses-prosesnya.

    #6840
    Anonymous
    Guest

    Yth Pak Aar.

    Ijin bertanya pak

    1. Bagaimana cara menentukan standart yang tinggi yang terkait dengan grit

    2. Cara memberi dan menyampaikan feedback yang baik utk anak…

    regards,

    tiara

    #6783
    Anonymous
    Guest

    Izin bertanya mas, mba Lala.
    Anak kami, tunggal, laki-laki 6y3m. Dia anak yang tipenya tuh, mudah diajak ngomong, tidak memaksakan kehendak, dan aktif bergerak.
    Kami selalu berusaha menemani dia berkegiatan dan dia juga selalu ingin ditemani. Jarang sekali dia berkegiatan sendiri. Masalah timbul saat kami memiliki deadline pekerjaan yang mesti dikejar, sementara anaknya selalu minta ditemani.
    Kami sudah ajak dia bicara tentang kesibukkan kami, namun sepertinya dalam hal ini dia kurang bisa menerima.
    Pertanyaannya:
    1. Bagaimana mensikapi keadaan seperti ini?
    2. Apa yang yang harus diperhatikkan dalam membesarkan/mendidik anak tunggal.
    Terimakasih.
    maaf, nih, kalau saya salah nulis pertanyaan begini disini heee

    #6782
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Ina,

    1. Membangun Grit
    Acuan standar ekspektasi tentang grit sebenarnya tidak ada. Kapasitas seseorang untuk meneguhkan diri mencapai tujuan juga berbeda-beda.

    Yang bisa kita lakukan adalah mencari cara agar potensi yang dimilikinya keluar secara maksimal. Caranya dengan:
    ~ membimbing anak agar memiliki tujuan yang sesuai dengannya (menantang, melebih kondisi sekarang, terjangkau)
    ~ menemani anak meraih tujuan tersebut
    ~ jika tidak tercapai, bisa terjadi karena targetnya terlalu berat (berarti target perlu diturunkan atau skill anak ditingkatkan)
    ~ jika tercapai terlalu mudah, biasanya terjadi karena tantangannya kurang susah (tantangan yang terlalu ringan tak akan melatih kekuatan anak untuk bertumbuh)
    ~ yang ideal adalah anak merasa bekerja keras untuk meraih target dan targetnya tercapai

    Itu yang secara langsung.

    Yang tidak langsung, paparkan anak aneka kegiatan yang menantang, misalnya: pramuka, OSIS, kepanitaan, mendaki gunung, perjalanan, dan aneka kegiatan lain yang mendorong anak berlatih beradaptasi dengan kondisi sekitar dan belajar menyelesaikan masalah.


    2. Memberi Feedback

    Agar feedback dirasakan efektif, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

    a. Cinta harus terasa oleh anak
    Pesan orangtua disampaikan dengan cinta, bukan untuk mengomeli dan memarahi anak. Pesan ditujukan untuk menguatkan anak, bukan untuk membuat anak patuh.

    b. Tulus
    Sampai dengan tulus apresiasi dan pendapat Anda apapun, bukan hanya untuk menyenangkan anak.

    c. Mulai dengan apresiasi
    Jangan langsung mengkritik. Mulai dengan apresiasi pada anak. Apresiasi bisa terkait usahanya, inisiatifnya, kebaikan hatinya, kerja kerasnya, perhatiannya, dll. Saat memberi apresiasi, jangan menggunakan kata “tapi” — kamu bagus inisiotifnya, tapi….

    Lakukan apresiasi dengan kalimat lengkap. “Kamu bagus inisiatifnya. Bunda tidak mengira kamu melakukan hal itu.”

    d. Dorong anak untuk refleksi
    Sebelum memberikan feedback, biasanya meminta anak untuk bercerita tentang hal yang dilakukannya dan mengapa dia melakukan hal itu. Juga, dorong dia untuk memberikan penilaian sendiri:

    ~ “Menurut kamu, apa yang sudah bagus dari karyamu?”
    ~ “Apa yang menurutmu perlu diperbaiki?”

    e. Masukan yang spesifik
    Jika ingin memberikan masukan, pastikan diberikan pada hal-hal yang spesifik untuk proses perbaikan di waktu lain.
    ~ “Menurut Bunda, masakannya agak terlalu asin. Nanti lain waktu dikurangi sedikit garamnya.”
    ~ “Kalau bagian ini dirapikan, kelihatannya tambah bagus, kak. Bagaimana menurutmu?”

    Demikian kak, semoga membantu.

    #6781
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Yulianti,

    1. Cinta yang berani
    Saat melakukan hal yang menurut kita baik untuk membuat anak mandiri, kuatkan hati. Jangan mundur karena anak merengek. Jika ada masalah, fokus mencari solusi teknis. Misalnya: sediakan alat kegiatan siap pakai (balok, kertas, gunting, dll yang bisa membantu anak mengisi waktunya berkegiatan sendiri).

    2. Mendidik anak tunggal
    Kondisi yang perlu diperhatikan pada pengasuhan anak tunggal adalah menyiapkan mereka untuk hidup secara baik di masyarakat.

    Itu berarti,

    a. Perlakuan adil dan memandirikan
    Anak mendapat perlakuan adil di rumah, tidak diistimewakan. Anak memiliki kewajiban2 terkait dirinya sendiri agar mandiri dan berkontribusi pada keluarga

    b. Mengasah keterampilan sosial
    Karena secara alamiah kondisi di rumah hanya dengan orangtua, anak butuh dipaparkan dengan kegiatan yang mengasah kemampuannya berinteraksi dengan orang lain. Kegiatan seperti ini harus dirancang dan diniatkan, bukan hanya dibiarkan mengalir saja.

    c. Tanggung jawab
    Ajari anak untuk bertanggung jawab pada hal-hal yang terkait dirinya sendiri. Latih anak-anak manajemen diri, misalnya: merencanakan kegiatan, membuat jadwal, melakukan pekerjaan rumah, dan lain-lain.

    Di luar itu, secara umum anak perlu dididik dengan tujuan-tujuan sama seperti anak lain.

    Demikian kak, semoga membantu.

    #6681
    Rara Fatima
    Member

    Hai kak Aar, jumpa lagi dengan pertanyaan saya.

    Dari materi, semua jelas dan sangat mudah diikuti dan bikin saya ngangguk-ngangguk sepanjang video 😅. Tapi saya punya pertanyaan yang sangat practical nih dalam penerapannya sehari-hari.

    Jadi saat ini saya sedang berhadapan dengan anak dengan curiosity yang sangat tinggi. Pertanyaan yang berbuntuk panjaaaaang sekali, bahkan kadang pertanyaannya itu seperti ini, misal dia sedang main figurine belalang, dan dia tau belalang itu tidak berenang, tapi justru dia memainkannya di air. Lalu dia akan tanya, “Ibu liat deh belalangnya berenang. Kenapa kok belalangnya berenang?” Jadi dia suka tanya hal yang sebetulnya jawabannya hanya dia yang tau. Ini kadang juga bikin saya overwhelmed kalau pertanyaannya gak berhenti-henti.

    Pertanyaannya, jika ada pertanyaan dari dia yang ‘sulit terjawab’, atau di luar pengetahuan saya, bagaimana saya harus merespon? Adakalanya saya berkata, “Wah, ibu juga gak tau. Coba nanti kita cari tau bareng ya..”. Ini kalau jawabannya masih mungkin dicari. Tapi kalau pertanyaan seperti paragraf sebelumnya, saya sering bilang, “Ya gak kenapa-kenapa. Karena Rashaan lagi bermain aja..”

    Tapi sepertinya justru yang “Gak kenapa-kenapa” ini yang menjadi boomerang. Setiap saya tanya ke dia, “Shaan, kenapa kok pilih warna biru?” dia akan jawab, “Gak apa-apa aja..”. Gimana ya kak, supaya bisa shifting kebiasaan jawaban itu supaya interaksinya tidak terputus?

    Lalu kedua, yang extra mile itu masih PR banget buat kami. Contoh masalah beres-berberes. Seringkali dia jadinya bete dan ekspresinya berubah ketika diajak bersih2. Atau justru dia akan bilang, “Ibu aja yang beresin..”. Ada masukkan ga ya kak, bagaimana membangun kebiasaan dia supaya mau menyelesaikan sesuatu sampai tuntas?

    Terima kasih banyak kak Aar.

    #6675
    Aar
    Keymaster

    Kak @rara.fatima

    Untuk mempertajam jawaban, jangan lupa menyertakan usia anak pada pertanyaannya ya kak. Supaya saya ingat, hehehe…

    Pertanyaan “mengapa” memang tricky, terutama untuk anak-anak usia dini.

    Jadi, kita perlu melihat pertanyaan itu dengan lebih santai. Kadang anak serius ingin tahu, kadang anak masih mencampurkannya dengan khayalannya.

    So, itu masih dalam batas yang wajar kak.

    1. Dunia nyata dan khayalan

    Kalau anak sedang berkhayal, tugas kita adalah mengikuti khayalannya dan ikut menjadikannya cerita seru.

    Jadi, belalang tak hanya dilihat dari sudut pandang sains, tetapi juga bisa dilihat sebagai tokoh cerita fiksi.

    “Wah, belalangnya berenang… seru ya! Di air dia ketemu siapa ya? Dia berenangnya di sungai atau laut?”

    Itu akan jadi cerita seru yang menstimulasi kapasitas bahasa dan kreativitasnya.

    2. Pertanyaan

    Obrolan dan diskusi bersama anak sebaiknya mengikuti pola dan cara berpikir anak, sesuai dengan kapasitasnya saat ini.

    Pertanyaan “mengapa” cukup tricky dan memang bisa memicu sikap defensif pada anak. Ada kalanya anak menjawab dengan “benar”, ada kalanya dia tidak mau menjawab atau menjawab suka-suka.

    Jadi, ikuti saja logika anak. Tidak perlu terlalu sering mengajukan pertanyaan “mengapa” saat mengobrol bersama anak.

    Demikian kak, semoga menjawab.

    #6674
    Rara Fatima
    Member

    Ohya maaf, usia anak 3 tahun kak..

    Jadi bisa saya simpulkan:

    1. Ada kalanya pertanyaan khayalan tidak perlu dijawab dengan jawaban, tapi bisa kita alihkan ke respon pengembangan cerita ya? Itu tidak membuat dia merasa diabaikan pertanyaannya ya kak?

    2. Kalau dari materi kan, justru anjurannya sering-sering bertanya. Berarti ini tidak applicable ke anak usia 3 tahun ya? Lalu apa ada saran agar kami bisa menumbuhkan inisiatif anak usia 3 tahun agar terbiasa berpikir kreatif? Apakah melalui pemberian pilihan? Seperti misalnya: mau main A atau B,?

    Lalu kak, kadang kalau dia pilih suatu permainan kan, kami ingin eksplorasi keingintahuannya ya. Cuma ada kalanya dia has no idea apa yang dia mau tau. Itu ga apa2 ya kak kalo kita stimulate dulu dengan ide dari kita? Contoh, anak sedang tertarik dengan volcano, saya inisiatif kembangkan seperti lokasinyadi Pulau Jawa, misalnya.

    Makasih banyak ya kak.

    #6671
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @rara.fatima

    1. Memaknai pertanyaan anak

    Ini perihal memaknai pertanyaan, bukan tidak menjawab.

    Jika pertanyaannya sudah jelas dan dia tahu: belalang tidak berenang, berarti pertanyaan “mengapa kok belalangnya berenang” itu memang bukan untuk mencari jawaban. Itu berarti memang anak sedang berimajinasi.

    2. Teknik Bertanya

    Jawaban saya adalah perihal cara mengajukan pertanyaan, bukan perihal tidak applicable, kak. Jangan diambil ekstrim applicable vs. tidak applicable.

    Ini tentang teknik mengaplikasikan dan mengajukan pertanyaan untuk anak usia sekitar 3 tahun. Bertanya itu bisa dilakukan untuk anak usia 3 tahun. Yang disebut sering-sering berarti jangan terlalu sering memerintah, tapi berikan ruang mengeluarkan pendapat/imajinasi/pengetahuannya. Jumlahnya juga perlu ditakar sesuai kondisi di lapangan.

    Jenis pertanyaannya jangan terlalu sering “why/mengapa”. Pertanyaan bisa diajukan dengan kata-kata yang lain, misalnya:

    • “terus?”
    • “lalu bagaimana?”
    • “warnanya apa?”
    • “perginya ke mana?”
    • “namanya siapa?”

    Kata2 tersebut lebih sederhana dan lebih mudah dipahami anak dibandingkan pertanyaan “mengapa”

    3. Inisiatif orangtua

    Tentunya orangtua boleh mengajukan inisiatif. Dua proses itu (dari anak & orangtua) sama-sama penting, kak.

    Untuk anak 3 tahun, fokuslah pada pengalaman asyik anak (bukan untuk menambah pengetahuan yang rumit). Dalam percobaan orangtua bercerita dengan bahasa sederhana, anak mencoba mengucapkan ulang, anak melakukan kegiatan dengan indera-inderanya yang aktif dan banyak memakai benda fisik.

    #5045

    Halo Mas Aar,

    Dalam materi ini, saya mohon arahan dari Anda terkait persoalan yang sedang saya hadapi. Adik saya homeschooling saat memasuki usia SMA, banyak hal yang tentunya harus jadi PR2 kami di rumah sebagai keluarga yang ingin membangun budaya belajar dan kemandirian pada adik kami ini. Bila dilihat dalam 4 tahap pembelajar Mandiri saja, dia mungkin baru pada tahap pembelajar tertarik. Sungguh sulit ya sebenernya ini, Mas.

    Di sini saya minta saran Mas Aar bagaimana kami dalam kondisi ini sebaiknya? Dimana kami juga merasa seperti dikejar deadline bahwa sebentar lagi dia juga akan memasuki masa belajar di bangku perkuliahan, apakah di sini lah tepatnya ketika Anda bilang “Cita2 tidak lagi berarti”? Bulan ini kami berencana memberi adik tes minat dan bakat, apakah ini tepat menurut Anda? Adakah langkah praktis yang lebih tepat lagi menurut Anda? Sampai usia berapa ya Mas anak itu bisa kita dampingi homeschooling?

    Saya juga ingin tahu, bagaimana pandangan Anda tentang urgensi melibatkan psikolog untuk kondisi seperti ini?

    Terimakasih

    #5042
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @dhiyan-fathiya

    Terima kasih pertanyaannya.

    Petunjuk yang ada biasanya bersifat generik, tapi perlu diadaptasi sesuai kondisi. Di sinilah pentingnya wisdom dari orangtua/pendamping anak-anak.

    Dalam konteks HS anak SMA, ada beberapa kondisi yang perlu diketahui:

    1. Anak berada dalam fase remaja dengan segala dinamikanya dalam proses membangun identitas diri.

    2. Pengaruh orangtua/orang lain semakin terbatas karena remaja mulai membangun otonomi dalam pengambilan keputusannya. Lingkungan pergaulan semakin berpengaruh pada anak dibandingkan orangtua dan keluarga (kecuali hubungan orangtua/keluarga dengan anak sangat kuat).

    3. Alasan memulai HS apakah berasal dari anak atau orangtua? Apakah anak tahu mau melakukan apa? JIka HS karena ada masalah di sekolah, apakah anak sudah bisa move on belajar mandiri atau masih terkendala dengan dirinya?

    4. Orangtua/keluarga biasanya khawatir karena karena waktu untuk anak dirasa semakin sedikit.

    Dengan kondisi yang cukup rumit tersebut, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

    1. Jangan berharap ideal

    Cari pendekatan-pendekatan praktis untuk mencari solusi yang paling memungkinkan untuk dilakukan. Jangan mengungkit masa lalu yang sudah lewat. Fokus pada hal yang bisa dilakukan saat ini dan ke depan.

    Mengharapkan anak bisa langsung menjadi pembelajar mandiri saat baru mulai HS di tingkat SMA terlalu berat. Mulai dari yang bisa dilakukan dulu untuk membangun keberhasilan. Keberhasilan akan memicu kepercayaan diri anak dan pendamping.

    2. Cari sumber kepercayaan diri anak

    :Lakukan hal-hal yang bisa membangun kepercayaan diri anak. Jangan fokus pada kelemahan anak. Cari kekuatannya yang bisa menjadi pintu keberhasilan dan kepercayaan dirinya.

    3. Manfaatkan bantuan eksternal

    Dari pintu kekuatan/minat anak, cari bantuan eksternal berupa kursus/les untuk mengasah kemampuannya. Cari proses yang terukur (misalnya ada output, ujian/sertifikat) sehingga anak & keluarga bisa melihat proses pertumbuhannya.

    Termasuk dalam upaya ini Anda dapat memanfaatkan jasa psikolog untuk melihat potensi anak. Tidak ada masalah.

    Sekali lagi, mulai dengan mencari keberhasilan-keberhasilan kecil yang membuat bahagia dan meningkatkan kepercayaan diri anak dan keluarga.

    Demikian kak, semoga membantu 🙏

    #4908
    Julia Sukma
    Member

    Mengenai budaya belajar ya Mas Aar..
    bagaimana sikap terbaik yang perlu kita lakukan bila kita sebagai orang tua, tidak memiliki poin-poin yang harus dimiliki sebagai pembelajar mandiri?

    apa kita tumbuh bersama anak.. atau kita harus memperbaiki diri sendiri terleih dahulu.

    PR diri sendiri juga ada

    #4905
    Aar
    Keymaster

    Kak @julia-sukma,

    Kita semua memiliki kekuatan dan sekaligus kekurangan yang senantiasa masih perlu terus kita perbaiki.

    Pada saat kita dikaruniai dan dititipi anak, bisa dipastikan kita juga masih jauh dari sempurna. Kekurangan dan ketidaksempurnaan bukan menjadi penghalang kita untuk memimpin anak dan pada saat bersamaan terus memperbaiki diri.

    Jadi, keduanya perlu berjalan parallel, kak.

    Satu sisi kita membimbing anak agar senang belajar dan terampil belajar.

    Pada sisi lain, kita juga terus belajar sehingga semakin terampil dan menunjukkan pada anak bahwa sebagai orangtua kita pun masih terus belajar.

    Selamat bertumbuh sebagai individu dan bersama keluarga, kak!
    🙏🤩

Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 15 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top