Model & Metode Homeschooling

Belajar Parenting Forums Memulai Homeschooling Usia Sekolah Model & Metode Homeschooling

  • This topic is empty.
Viewing 14 posts - 1 through 14 (of 14 total)
  • Author
    Posts
  • #4694
    Aar
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #7252
    Anonymous
    Guest

    Bgmn kl anak masih blm mau homeschooling(anak kls 8)?tp sy ingin skl anak sy homeschooling?

    #7249
    Aar
    Keymaster

    Kaka Emilia,

    Bgmn kl anak masih blm mau homeschooling(anak kls 8)?tp sy ingin skl anak sy homeschooling?

    Untuk anak usia sekolah, apalagi remaja, keputusan HS sebaiknya merupakan keputusan bersama antara orangtua dan anak. Prosesnya perlu dilakukan melalui diskusi bersama.

    Jika orangtua yang berkeinginan melakukan HS, orangtua perlu meyakinkan bahwa HS lebih asyik daripada sekolah. Orangtua perlu memiliki jawaban/solusi untuk keberatan anak, biasanya pertemanan.

    Nah, pertanyaannya: apa keberatan anak Anda atas usulan HS? Apa tawaran solusi Anda untuk keberatan anak tersebut?

    (Salah satu ide yang bisa digunakan untuk memberikan gambaran tentang HS pada anak adalah dengan meminta anak membaca buku “Pembelajar Mandiri” karangan Yudhistira)

    #7003
    Anonymous
    Guest

    Dear Mba Lala&Mas Aar…dr isi podcast ini artinya sah2 saja, bahkan mutlak bagi setiap keluarga untuk memiliki kuasa atas model&metode pendidikan untuk anak. Bahkan sifatnya dinamis ya, bisa berubah sewaktu2 tergantung dr kondisi&kebutuhan anak/keluarga.
    Bolehkah share pengalaman bagaimana menjaga visi misi keluarga agar ttp on track di tengah ke-dinamis-an kondisi dalam HS nanti? Atau malah visi misi bs berubah jg y? Hehehehe.
    Kami sendiri sdh mulai mencari&tertarik dengan bbrp metode pendidikan dan seperti yg Mas Aar share bahwa kami pun sepertinya akan “mencomot-mencomot” dulu dr metode tsb untuk disesuaikan dgn kebutuhan kami.
    Yang terakhir, kami sdh mulai sounding kpd anak bagaimana jika ia sekolah di rumah bersama kami dan jawabannya masih berubah2. Hal itu kadang membuat saya ragu u/memantapkan diri. Bagaimana y cara menghadapi persoalan tsb?
    Terimakasih sblmnya 🙂

    #6999
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Kartika,

    Betul. Setiap keluarga perlu memiliki harapan dan tujuan dari proses homeschooling yang dijalaninya karena itu akan menjadi pemandu dalam proses homeschooling. Jadi, kita tidak berangkat dengan standar/kurikulum eksternal, tetapi memulai dari kebutuhan/harapan/nilai-nilai kita dahulu.

    Visi tentu saja idealnya relatif tetap. Dalam kenyataannya berubah seiring waktu tidak apa-apa seiring bertambahnya wawasan orangtua. Yang penting Anda memiliki arah dan memiliki kriteria untuk menyaring aneka jenis tawaran kegiatan yang ada.

    Kenali pendidikan yang baik itu apa menurut Anda dan pasangan. Kapasitas apa yang perlu dimiliki anak agar hidupnya baik?

    Anaknya usia berapa, kak?

    Jika anak usia dini, anak sudah pasti ikut pilihan orangtua.

    Untuk usia SD, perlu diajak diskusi tapi mereka biasanya juga ikut saja. Yang penting kita bisa membuktikan pada anak melalui kegiatan2 yang asyik bersama mereka sekaligus membuat mereka berkembang.

    Untuk usis SMP/SMA, wajib diskusi bersama anak, mendengarkan pandangan mereka dan mencari solusi bersama jika keputusan HS akan diambil.

    Semoga membantu.

    #6931
    Anonymous
    Guest

    Mhn masukannya. Sjak suami pindah tugas.anak pertama kami klas 1 smester 2. Dan sdah 1 thun berjalan blm saya daftarkan lagi skolah, slain krn pandemi. Saya memutuskan dan sharing dg suami bukankah sbaiknya HS aja. Tp stlah saya lihat bbrapa PKBM spertinya nggak jauh beda dg skolah pada umumnya ttap teikat waktu dan tempat. Sdang maksd saya persis sperti yg mba lala maksud dlm kputusan HS. Dg karakter anak2 yg berbeda2 mereka mempunya kesukaan bakat dan minat yg pasti berbeda juga. Mngingat tentang PKBM untuk plan dan persiapan untuk memdptkan ijasah (krn saya nggak mau stlah anak2 besar mereka mnyalahkan kami krn mereka tak bersekolah). Bisa bantu beri referensi PKBM mba lala atw pak aar dmn barangkali bisa online atw bsa lbh memudahkan kami dlm menjalankan HS. Krn sampai saat ini jd berfkir jika PKBM sstem nya sama sperti skolah saya lbh baik dmaskkan k akolah saja. Tp hati saya lbh tenang jk HS.

    #6930
    Anonymous
    Guest

    Dear Mbak Lala dan Mas Aar,
    saya sedang menimbang apakah nanti anak saya ketika usia 6 tahun terus lanjut homeschooling atau masuk sekolah biasa. Saya khawatir mengenai dampak homeschooling terhadap proses perkembangan sosio-emosional anak. Apakah Mbak Lala dan Mas Aar bisa beri referensi atau hasil riset terkait dampak homeschooling atas sosio-emosional anak? Anak saya sendiri sudah saya tanya dan dia merasa bahagia learn from home. Namun, saya kok merasa perlu ada dukungan saintifik paper yang membahas dampak homeschooling atas sosio-emosional anak (untuk anak usia 6-12 tahun) supaya saya tahu potential risks. Terima kasih sebelumnya untuk bantuak Mbak Lala dan Mas Aar.

    salam,
    Dame

    #6929
    Aar
    Keymaster

    Kak Rahmi,

    Betul kak. Kondisi PKBM itu sangat beragam. Ada yang mirip sekolah, ada yang administrasinya sangat sederhana, dll. Ada yang mensyaratkan pertemuan, ada yang tidak.

    Saat ini anak-anak kami tergabung di PKBM Piwulang Becik (http://www.piwulangbecik.com). PKBM ini lokasinya di Salatiga. Semua proses kegiatan belajar secara online. Pesertanya keluarga HS dari berbagai kota.

    Kami memilih PKBM ini karena pendirinya praktisi homeschooling. Proses belajarnya fleksibel dan menerima portofolio sebagai salah satu bukti belajar anak.

    Konsekuensinya, jika nanti Ujian Paket bisa jadi harus ke Salatiga. Kami melihatnya itu sebagai kesempatan untuk sekaligus jalan-jalan dan bertemu keluarga HS yang lain. Tapi dalam masa pandemi ini, semua proses terkait ujian berlangsung secara online.

    Semoga membantu.

    #6928
    Aar
    Keymaster

    Kak Dame,

    Di Indonesia belum banyak riset tentang homeschooling karena jumlah praktisinya masih sedikit.

    Kalau riset di Amerika ada dan lebih banyak.

    Situs yang memuat riset tentang homeschooling adalah: NHERI (National Home Education Research Insititue): https://www.nheri.org/

    Salah satu riset NHERI adalah tentang kepercayaan diri dan sosialisasi: https://www.nheri.org/home-school-researcher-self-esteem-and-home-schooling-socialization-research-a-work-in-progress/

    Ini juga salah satu riset tentang Social Skills anak HS: https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED573486.pdf?fbclid=IwAR2XFYDbbA2nulW4L71GtIKGeLYkFuL_pqff-9YkRxTXDJ9HmSEg0KvpjXY

    Semoga membantu.

    #6927
    Anonymous
    Guest

    Terima kasih Mas Aar untuk link-nya. Saya sedang mempelajari beberapa link yang Mas Aar kasih beserta rujukan lain terkait.

    salam,
    Dame

    #6803
    Anonymous
    Guest

    Siang kak Lala dan mas Aar, saya ingin bertanya. Bagaimana bila saya ingin menjalankan homeschooling tanpa kurikulum, tapi saya ingin mendaftar PKBM agar bila sewaktu2 saya ingin anak saya mempunyai ijasah, dan bisa ikut paket C. Yang jadi pertanyaan dengan mendaftar PKBM otomatis saya harus mengikuti kurikulum dari PKBM tersebut? Saya tidak bisa menjalankan homeschooling tanpa kurikulum? Anak saya memiliki gangguan belajar dan belum bisa membaca berhitung. Mohon masukannya. Terima kasih

    #6802
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Dewi,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Kita bisa memilih keputusan apapun, tetapi kita tidak bisa melepaskan diri dari konsekuensi dari keputusan yang diambil.

    Melakukan homeschooling tanpa kurikulum dan mendaftar PKBM (menjalani belajar dengan kurikulum) adalah 2 hal yang saling bertolak-belakang. Jika ingin menjalani HS tanpa kurikulum dan belajarnya “suka-suka”, maka tidak akan bisa mendapat ijazah. Kalau mau ijazah, anaknya dinilai dari kemampuan apa?

    Jika ingin mendapatkan ijazah, berarti pasti ada materi belajar seperti “sekolah” yang perlu dilakukan.

    Jadi, proses yang perlu dilakukan adalah mencari titik temu yang memungkinkan.

    1. Cari PKBM yang fleksibel
    Jika mau mencari ijazah Paket, anak perlu didaftarkan ke PKBM. Cari PKBM yang fleksibel dan tidak ketat dalam hal proses belajar dan penilaian. Jangan pilih PKBM yang ketat dan prosesnya seperti sekolah. Syukur2 jika PKBM bisa menerima portofolio/dokumentasi kegiatan belajar, bukan hanya kelas online dan mengerjakan soal. Salah satu yang bisa dijajagi adalah PKBM Piwulang Becik. PKBM lain mungkin banyak.

    Jadi, tugas pertama Anda adalah mencari PKBM yang fleksibel.

    2. Jelaskan kondisi Anda
    Mendapatkan pendidikan 9 tahun adalah hak setiap anak. Jadi, proses terdaftar di PKBM mestinya tidak masalah. Demikian pun proses mendapatkan ijazah.

    Agar PKBM bisa memfasilitasi anak Anda, jelaskan kondisi anak Anda yang mengalami gangguan belajar. Jelaskan bagaimana caranya supaya anak tetap bisa terdaftar dan berproses hingga nanti mendapatkan ijazah Paket.

    3. Fokus pada stimulasi anak
    Lakukan proses stimulasi anak. Bimbing anak untuk terampil dan mandiri mengurusi dirinya. Belajar itu bukan hanya tentang mata pelajaran. Berikan anak bekal hidup yang membantunya untuk nanti hidup di masyarakat.

    Paparkan anak dengan hobi dan aneka kegiatan. Bekali anak dengan keterampilan hidup (life skills). Kenali kekuatan anak dan terus fokus menstimulasi kekuatan anak (bukan kelemahannya).

    4. Dokumentasikan
    Dokumentasikan proses dan hasil belajar dan kegiatan anak. Catat kegiatannya, apa yang dilakukan anak, output dan pertumbuhannya. Laporkan dokumentasi kegiatan belajar anak ini ke PKBM.

    Demikian kak, semoga membantu.

    #5426
    Dewi
    Member

    Halo Mas Aar, saya kok pingin tahu lagi. Bagaimana ya caranya orang tua ini uncschooling? Saya kok kayaknya perlu ini lagi. Haha. Mungkin apa perlu refleksi mendalam aja ya? Thank you Mas, maafkan ya ini galau kok malah curhat di sini.

    #5421
    Aar
    Keymaster
    1. Halo kak @ratnasari-dewi

    Unschooling menggunakan alat yang sangat sederhana (yang menjadi keunggulan sekaligus kerumitannya) yaitu lingkungan.

    Ada asumsi2 yang sangat dipengaruhi oleh keyakinan dan tata nilai, misalnya:

    • keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi kebaikan dan keinginan alamiah untuk belajar (bertumbuh)
    • hal itu berkelindan dengan keyakinan bahwa intervensi orangtua untuk mengarahkan anak biasanya justru kontra-produktif pada tumbuhnya motivasi dan pertimbangan-pertimbangan internal anak

    Dengan keyakinan itu, orangtua unschooling mempengaruhi proses anak secara tidak langsung melalui lingkungan. Jadi, yang dikelola dan diarahkan bukan anak, tetapi lingkungan. PR terbesar dalam unschooling adalah menyediakan lingkungan (fisik & psikologis) yang berkualitas yang memungkinan anak belajar melalui interaksi dengan lingkungannya.

    Dalam pandangan personal saya, kecocokan dengan sebuah metode HS (misalnya unschooling) sangat dipengaruhi oleh karakter, tata nilai, dan cara hidup orangtua.

    Orangtua yang merasa punya ideal-ideal tertentu tentang apa yang harus dilakukan anak (yang jumlahnya banyak dan cenderung kaku) akan sulit menjalani HS. Orangtua semacam ini mungkin lebih cocok menggunakan model yang lebih metodis.

    Jadi, pertanyaan basic-nya adalah: apa nilai2 dan pola berpikir/pengambilan keputusan personal kita (dan pasangan kita)? Apakah nilai2 tersebut selaras dengan unschooling?

    Demikian kak, semoga membantu 🙏

Viewing 14 posts - 1 through 14 (of 14 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top