Belajar Parenting › Forums › Tempat Ngeriung › PDKT-in suami tentang homeschool & Support komunitas.
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
July 17, 2025 at 4:16 am #3969
Sriwulan WP
MemberSelamat pagi mas @Aar,
Semoga selalu dalam keadaan sehat sekeluarga.
Perkenalkan saya Ulan domisili Majalengka. Punya dua anak, paling besar laki-laki (10 tahun), yg kecil perempuan (3 tahun). Sebetulnya sudah lama saya mempertimbangkan hs, tapi beberapa bulan ke belakang makin kepikiran apalagi sekarang ketika si sulung kenaikan kelas 4.
Sebelumnya, saya memasukkan anak laki-laki saya ke sekolah, yang mana opsi yang tersedia dan terjangkau bagi keluarga kami adalah sekolah negeri. Selain sekolah, anak saya juga rutin les renang dua kali seminggu. Anaknya ekstro banget. Dan sebetulnya hampir selalu semangat dan enjoy kalau sekolah.
Pertanyaannya, apakah mas Aar punya tips jitu buat pdkt-in suami perihal pindah homeschool? Soalnya yang ragu perihal ini justru suami, dia masih mikir krn anaknya udah terlanjur sekolah dan temannya udah banyak, apa gak kasian nantinya. Saya masih kepayahan ngejelasin perihal sosialisasi ini sama dia.
Oh iya, saya juga termasuk pendatang disini meski sebetulnya ini adalah kampung halaman Ibu saya dan juga suami. Saya lahir dan besar di Depok, jadi circle pertemanan saya beneran minimalis banget sekarang, sesekali cuma main aja di rumah keluarga bibi/sepupu yang jaraknya gak terlalu jauh.
Pertanyaannya adalah, seberapa penting keberadaan komunitas sesama hs di daerah yang sama? Apakah komunitas online saja cukup? Soalnya saya cari2 belum nemu yang di Majalengka (barangkali disini ada, boleh dong kenalan :D)
Untuk anak kedua, alhamdulilah kami sepakat putuskan untuk homeschool. Suami setuju mumpung anaknya belum kecemplung ke sekolah.
Sekian mas, maaf kalau kepanjangan hehe
Terimakasih banyak sebelumnya.
July 18, 2025 at 5:48 pm #4791Aar
KeymasterKak @sriwulan-wp
Terima kasih pertanyaannya.
Selamat untuk proses HS yang dijalani untuk anak kedua. Selamat atas izin pasangan dan sekarang saatnya berproses bersama anak untuk mewujudkan hal2 yang ada di dalam kepala menjadi aksi keseharian yang asyik bersama anak-anak.
1. Meyakinkan Pasangan
Dalam konteks HS untuk anak yang sudah pernah bersekolah, salah satu isu besarnya memang pertemanan. Ini bukan hanya isu untuk pasangan, yang terutama justru pada anak.
Anak sudah mengenal teman dan menganggap pertemanan adalah hal yang sangat penting. Sekolah dilihat sebagai kesempatan untuk main bersama teman yang banyak. Pertemanan sering dianggap lebih penting daripada urusan pelajaran.
Nah, kondisi ini yang membuat proses pengambilan keputusan HS terkait anak yang sudah bersekolah menjadi lebih rumit. Yang dibutuhkan bukan hanya meyakinkan pasangan, tetapi juga anak.
Itu berarti, Ibu (siapapun yg berinisiatif mau HS), perlu memikirkan rencana aksi terkait:
- kegiatan belajar yang asyik dalam keseharian
- cara anak mendapatkan teman dan mengasah keterampilan sosialnya
Hal-hal seperti ini didiskusikan bersama anak dan dipraktekkan.
Misalnya, orangtua sering mengadakan kegiatan belajar melalui memasak, percobaan, traveling, dll (di hari libur) sehingga bisa mengatakan kepada anak: “Nanti kalau HS kita akan sering melakukan kegiatan seperti ini.”
Terkait sosialisasi, buatlah pilihan yang ada yang bisa dilakukan dan diskusikan bersama pasangan & anak.
Demikian, kak.
Proses pengambilan keputusan dalam HS sangat krusial, terutama untuk anak usia sekolah dan pasangan. Jika kakak bisa membuat prosesnya berjalan mulus, itu akan mempermudah proses HS di dalam tahapan-tahapan selanjutnya.
Terkait pasangan, setiap orang memiliki concern yang berbeda-beda.
Proses meyakinkan yang paling efektif adalah bertemu dengan praktisi HS dan melihat anak2 HS. Ini bisa dilakukan dengan cara ikut kegiatan2 yang ada keluarga HS-nya sehingga ada kesempatan mengobrol dan sekaligus melihat interaksi sosial anak2 HS.
Contohnya, mencari informasi ttg kegiatan pramuka HS di Bandung atau kegiatan lain; kemudian menyempatkan diri untuk hadir dan bersilaturahmi dg praktisi yg dikenal.
Proses semacam ini, walaupun tidak bisa dilakukan setiap saat, biasanya sangat efektif untuk menjadi input dalam proses pengambilan keputusan terkait HS.
2. Komunitas HS
Proses menjalani homeschooling tidak harus berkomunitas dengan sesama praktisi HS. Keluarga kami pada awal menjalani HS menjalaninya dengan siapapun, tidak dengan komunitas HS. Bahkan, pada waktu itu komunitas online juga belum ada.
Tapi kami terus berupaya mencari teman secara bertahap, salah satunya dengan membuat Yahoogroups sekolahrumah (saat ini sudah tidak ada). Dari sana kami bertemu teman2 online, yang selanjutnya menjadi teman offline ketika bertemu.
Kami baru mulai berjejaring dan mencari teman2 HS secaran offline setelah sekitar 10 tahun menjalani HS. Caranya adalah dengan membuka rumah dan membuat kegiatan bersama. Kami juga sering jalan main mengikuti kegiatan2 bersama praktisi HS satu kota atau main ke kota lain.
Jadi, komunitas HS ini fungsinya adalah menguatkan kita. Silakan ditimbang sesuai kondisi. Jika komunitas online dirasa masih mencukupi, tentu saja tak apa-apa. Apalagi jika dari interaksi online kemudian Anda bisa menjalin persahabatan dg praktisi lain.
Nah, dari persahabatan online itu, biasanya akan menjadi semakin dekat saat ada kesempatan bertemu dan bertatap muka.
Demikian kak, semoga membantu.
🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.