Pengantar Homeschooling Usia Sekolah

Belajar Parenting Forums Memulai Homeschooling Usia Sekolah Pengantar Homeschooling Usia Sekolah

  • This topic is empty.
Viewing 14 posts - 1 through 14 (of 14 total)
  • Author
    Posts
  • #4699
    Aar
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #7067
    Anonymous
    Guest

    Selamat siang Mas Aar & Mbak Lala..saya termasuk newbie untuk HS, yang sepakat bersama pasangan untuk memindahkan anak dari sekolah formal ke HS. Saat ini anak saya sudah kelas 2 SD.Bagaimana untuk memantapkan hati kami bahwa kami akan mampu bertanggung jawab dalam pendidikan anak kami? Terima kasih

    #7066
    Aar
    Keymaster

    Kak Novia,

    Ada beberapa sumber keyakinan dan kemantapan yang bisa menjadi menguatkan kak Novia.

    ~ memahami konsep homeschooling dan cara kerjanya
    ~ memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pribadi
    ~ memiliki bayangan rencana masa depan yang diyakini
    ~ memahami risiko dan merasa bisa menerima/mengantisipasi risiko
    ~ membangun spiral keberhasilan kecil dalam praktek keseharian
    ~ melihat pertumbuhan anak berjalan optimal

    Jadi, sumber keyakinan itu ada di titik pengetahuan dan keyakinan. Pengetahuan bisa dipelajari. Keyakinan perlu dialami.

    Kak Novia perlu mendapatkan pengalaman pribadi yang meneguhkan sepanjang perjalanan menemani proses anak-anak.

    #7029
    Anonymous
    Guest

    terima kasih untuk penjelasan mas Aar di topik ini. Pertanyaan saya, pernahkan ada kejadian setelah beberapa waktu pelaksanaan, ternyata perjalanan HS tidak lancar sehingga anak harus kembali ke sekolah formal?

    Semisal anak hingga usia 10 tahun menjalani HS, pada kelas berapa ia akan masuk sekolah formal?

    Terima kasih

    #7025
    Aar
    Keymaster

    Kak Lis,

    Secara legal, perpindahan anak dari jalur informal (HS) dan non-formal (PKBM) ke jalur formal (sekolah bisa dilakukan kapan pun. Syaratnya adalah rapor dari PKBM dan placement test di tempat baru.

    Tetapi kondisi di lapangan masih relatif jarang.

    Yang relatif lebih mulus biasanya perpindahan setelah Ujian Paket. Setelah anak mengikuti Ujian Paket A (setara SD) saat usia 12 tahun, anak meneruskan ke jenjang SMP di sekolah.

    Hanya saja, karena jadwal Ujian/keluar Ijazah di PKBM dan sekolah sering tidak sinkron, orangtua perlu mengantisipasi bahwa anak tidak bisa masuk ke sekolah favorit. Anak mungkin meneruskan di SMP swasta yang memiliki kursi kosong. Jika diinginkan, dari sini, orangtua baru pindah ke sekolah lain yang dirasa lebih baik melalui proses mutasi/perpindahan antar-sekolah.

    Begitu kondisi teoritis dan praktik di lapangannya, kak

    #6791
    Anonymous
    Guest

    Mba Lala dan Mas Aar, ijin bertanya.
    keluarga kami baru 1,5 tahun menjalani HS dan sampai saat ini masih meraba-raba metode yang pas untuk keluarga kami.
    Di webinar HSUS, salah satu proses penting dalam HS adalah refleksi. hal ini rupanya jadi sesuatu yang hampir selalu terlewat dalam proses belajar anak-anak. kami memang membiarkan anak2 mengeksplor banyak hal, tapi kami hampir tidak pernah melakukan refleksi atas apa yang dilakukan (ini berlangsung dari sejak anak-anak bisa berekplorasi sampai sebelum belajar tentang HS).
    sehingga ketika sekarang kami mencoba melakukan proses refleksi, mereka enggan sekali untuk menjalaninya. padahal rasanya saya nanya2nya juga santai, ga menelisik ataupun menjudge. mereka enggan menjawab dan enggan memikirkan apa yang mau mereka perbaiki dari proses yang mereka jalani. tapi mereka senang jika melaporkan apa yang mereka alami. hanya saja ketika saya coba tanya-tanya lebih jauh, seringkali mereka menolak untuk membahasnya.

    kira-kira, apa yang harus saya lakukan agar proses refleksi ini bisa jadi habit di rumah?
    terima kasih atas jawabannya.

    salam,
    puti

    #6789
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Puti,

    Terima kasih pertanyaannya.

    Secara umum, anak memang tidak suka jika ditanya-tanya. Mereka berpikir itu hanya sekadar “kepo” atau keisengan saja. Itu yang menyebabkan anak resisten atau tidak mau menjawab.

    Untuk mengubahnya, dibutuhkan proses untuk membuat refleksi menjadi aktivitas “wajib” dan sadar, sebagai bagian dalam homeschooling. Caranya dilakukan melalui sesi obrolan serius bersama anak:

    1. Sediakan waktu khusus
    Cari momen yang santai tapi serius. Pilih sesuai kebiasaan keluarga. Jika Anda sudah punya momen mengobrol rutin bersama, misalnya saat sebelum tidur atau saat makan bersama, gunakan waktu tersebut.

    “Kak, kita sudah menjalani homeschooling 1.5 tahun. Mama mau mengobrol sebentar tentang proses homeschooling yang sudah kita jalani. Menurut Mama, kita sudah menjalani homeschooling ini dengan asyik. Mama suka karena …. (sebutkan hal2 baik yang terjadi dalam homeschooling Anda).”

    “Bagaimana menurutmu?” – (dengarkan pendapat anak)

    “Tapi Mama merasa ada banyak hal yang masih bisa kita perbaiki dan tingkatkan supaya proses homeschooling kita bisa berlangsung dengan baik.”

    2. Jelaskan pandangan Anda tentang refleksi

    “Setelah Mama belajar tentang homeschooling, ada satu proses yang perlu kita lakukan bersama, yaitu refleksi. Refleksi itu menceritakan ulang dan menilai sendiri yang dilakukan/dipelajari/ditonton. Apa sih yang kita dapat?”

    “Nah, kalau di sekolah kan biasanya ada quiz dan ujian. Dalam homeschooling juga ada ujian di PKBM, tapi nggak banyak. Supaya kualitas belajar kakak tetap bagus, ujiannya diganti dengan refleksi.”

    “Tujuan refleksi adalah untuk mengkristalkan pemahaman yang sudah kakak miliki. Refleksi juga proses belajar kakak untuk menilai diri sendiri. Jadi, kakak belajar menilai sendiri supaya proses belajar kakak jadi lebih baik.”

    “Contoh refleksi itu begini: bla bla bla…(Anda berikan contoh pertanyaan dan kegiatan refleksi yang Anda lakukan)”

    “Jadi, kalau Mama nanya-nanya, itu bukan iseng pengin tahu. Itu juga adalah proses belajar dalam homeschooling.”

    “OK, sampai di sini kakak ngerti?”

    3. Buat kesepakatan teknis
    “Nah, mulai sekarang Bunda akan menemani kakak belajar melakukan refleksi yaa… Nggak setiap saat kok Bunda tanya-tanya.”

    “Untuk di awal, kita akan lakukan refleksi pada … (tentukan waktu yang disepakati)”

    4. Praktekkan
    Proses formalisasi refleksi itu untuk membawanya ke dalam kesadaran bersama. Setelah dijalani berulang kali selama berbulan-bulan, nanti prosesnya bisa dibuat lebih santai dan longgar.

    Demikian kak, semoga membantu.

    #4895

    Selamat pagi Mas @Aar dan Mba @Lala . Materi ini bisa merubah mindset saya tentang Hs. Saat awal mendengar materi ini tahun lalu. Hati rasanya lega. Ketika ada niatan memilih HS sebagai alat pendidikan keluarga kami. Ketika mendengarkan ulang. Perasaan tetap sama yaitu lega. Hanya ditambah beberapa pertanyaan baru. Mengingat usia anak semakin bertambah, praktik2 yang dilakukan melalui keseharian. Mengenai kegiatan anak2. Saat ini kami masih banyak kegiatan yang terintegrasi dengan keseharian. Karena usia kakak tahun ini akan masuk 6 tahun. Saya mencoba membuat jadwal. Jadwal datang dari saya berdasarkan apa yang ingin kami bangun dalam keluarga kami yang dirasa perlu sebagai bekal anak2, bersadarkan hasil pengamatan melihat ‘anaknya masih butuh kegiatan ini’ misalnya aktivitas sensori. Kemudian baru diobrolkan ke anak. ‘Ini lho kak, ibu sudah buatkan jadwal buat kakak.’ Respon anak saat ada jadwal tertulis suka bertanya ke saya “Bu, hari ini jadwal kakak apa?”. Di jadwal saya memasukan kegiatan literasi (bahasa inggris, huruf hijaiyah, numerasi/logic). Kemudian saya berencana menggunakan media belajar 1. aplikasi online, 2 kegiatan yang terintegrasi dengan rutinitas harian. Aplikasi online ini masih free. Karena tujuan saya ingin melihat apakah media ini cocok buat anak atau tidak. Saat trial menggunakan aplikasi (belum memasukam kegiatan tsb ke jadwal harian). Respon anak itu lebih tidak ingin terstruktur saat menggunakan aplikasi. Misalnya khan accademy. Saya pilihkan bagian logic. Untuk level paling rendah di aplikasi tsb. Kemudian anak memilih casenya dengan cara acak. Ada momen malah lebih pilih bagian drawing, read aloudnya, dibandingkan bermain ‘game’ tentang logic. Pada kesempatan lain dia menikmati saat bermain game tentang logic. Hehehe…saya hati2 sekali agar prosesnya tetap menyenangkan. Apakah ada tips dari Mas Aar dan Mba Lala tentang apa yang saya sampaikan di atas, terkait latihan membuat jadwal. Apakah proses yang kami lakukan sudah tepat?Boleh kah berbagi pengalaman Mas Aar dan Mba Lala, kapan mulai dikenalkannya anak2 mengenai aplikasi online sebagai media belajarnya?

    Terimakasih

    #4891
    Aar
    Keymaster

    Kak @vera-marsella

    Proses yang kakak lakukan sudah on track.

    Kakak membuat jadwal untuk anak, kemudian mengkomunikasikannya bersama anak.

    Untuk menambah kepemilikan anak terkait kegiatannya, diantara jadwal yang dibuat perlu dimasukkan kegiatan yang menjadi usulan anak.

    Masa transisi yang kakak lakukan berarti mulai memperkenalkan kegiatan2 yang terjadwal dan terstruktur, tidak hanya bersifat spontan.

    Salah satu alat yang bisa digunakan adalah aplikasi belajar online.

    Dulu, anak2 kami pada awalnya menggunakan IXL Math dan Reading Eggs. Kami masukkan jadwal kegiatan itu 3x/seminggu untuk perkenalan. Kami jelaskan apa ini dan kami dampingi proses awalnya sehingga anak merasa nyaman dan tidak mengalami kesulitan.

    Poin penting saat menggunakan aplikasi online adalah anak familiar, anak menikmati, dan anak tahu cara mencari solusi jika ada masalah.

    Demikian kak, semoga menjawab dan membantu.

    🙏

    #4890

    Terimakasih Mas @Aar untuk jawabannya. Ketika saya mulai membuatkan jadwal tertulis untuk mendampingi anak-anak usia dini. Saya jadi belajar untuk komitmen menjalankan jadwal. Karena HS yang flexibel. Saya merasa begitu. Ada jadwal seperti pengingat untuk menyiapkan waktu berkegiatan dengan anak2. Bukan memberikan sisa waktu saya.

    Anak2 mulai dilibatkan untuk menentukan ide kegiatan yang sesuai dengan tema di jadwal dan waktu pelaksanaannya bisa diobrolkan.

    #4889
    Aar
    Keymaster

    Bagus kak @vera-marsella

    Selamat melanjutkan proses…!

    Jalani selama beberapa bulan, nanti dilihat lagi perkembangannya apakah strategi ini masih cocok atau butuh penyesuaian.

    🙏

    #4887

    Siap Mas. Catatan: review lagi pelaksanaan jadwal per periode. Terimakasih Mas Aar.

    Salam

    #4850

    Selamat pagi mas aar <div>

    Terima kasih banyak atas penjelasannya saya mulai memahami bagaimana homeschooling.

    Maaf saya mau bertanya mengenai panduan materi dan acuan kurikulum kami bisa mendapatkan contohnya dari mana ya?

    </div>

    #4847
    Aar
    Keymaster

    Kak Yunani,

    Tidak ada panduan siap pakai untuk anak homeschooling dalam bahasa Indonesia.

    Jangan membayangkan kurikulum itu sebagai dokumen yang mudah dibaca dan sekumpulan kegiatan yang tinggal dijalanikan oleh orangtua.

    Untuk sekolah pun, kurikulum itu tak mudah dipahami oleh guru karena para guru tetap harus merancang lesson plan untuk kegiatan belajar anak-anak setiap hari.

    Mengapa?

    Karena kondisi lapangan itu unik. Kurikulum bersifat global dan menjadi panduan. Setiap pemimpin belajar perlu merancang kegiatan yang sesuai dengan anak dan kondisi lapangan.

    Jika kakak mengacu pada sekolah, kurikulum bisa dilihat di sini: https://kurikulum.kemdikbud.go.id/

    Cara paling mudah adalah menggunakan melihat daftar isi modul belajar atau buku pelajaran sekolah setiap jenjang. Itu pendekatan yang paling praktis.

    -()-

    Dalam HS, panduan itu tergantung kemampuan orangtua membuat visi pendidikan keluarga. Apa yang menurut orangtua penting untuk dipelajari anak? Itu yang menjadi panduan belajar dalam HS anak-anak.

    Di keluarga kami, kami tidak menggunakan kurikulum seperti sekolah.

    Anak-anak belajar matematika menggunakan kurikulum Amerika dan memakai aplikasi IXL Math. Ini adalah materi belajar numerasi..

    Anak-anak belajar bahasa Inggris memakai IXL Language Art. Ini adalah materi belajar literasi.

    Selebihnya, anak-anak fokus mengasah keterampilan belajar dan mengembangkan minat mereka menjadi keterampilan dan keahlian berkarya.

    Demikian kak,

    Kakak bisa memilih beberapa mata pelajaran seperti sekolah dan menggunakan buku sekolah atau cara belajar apapun. Selebihnya, kakak bisa melakukan kegiatan belajar lain yang dianggap penting dan bisa menjadi bekal hidup anak, misalnya: belajar agama, belajar bisnis, olahraga supaya sehat, dll.

Viewing 14 posts - 1 through 14 (of 14 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top