Belajar Parenting › Forums › 10 Keterampilan Dasar Anak › Pengembangan Keterampilan Personal
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
March 11, 2022 at 9:19 am #6572
Nia
ParticipantTerima kasih Mas @Aar sudah mem-break down ini semua, saya jadi lebih paham sekarang, semoga bisa melatih semua kapasitas ini dalam perjalanan kami…
March 17, 2022 at 2:08 pm #6531Tarita
MemberSelamat siang Mas @Aar dan Mba @Lala,
Anak saya berumur 12 tahun, tidak suka membaca tapi suka sekali melihat video-video tutorial untuk kemudian dipraktekkan. Tidak suka juga membaca buku cerita, tapi lebih suka lihat versi videonya. Membaca buku pelajaran juga tidak suka, lebih suka lihat versi Youtube nya. Apakah tetap harus dibiasakan membaca ?
Terima kasih
March 17, 2022 at 4:44 pm #6528Aar
KeymasterHalo kak @Ita
Tentang materi belajar dan proses belajar anak, kita perlu kembalikan pada substansi dan tujuan-tujuannya.
Tujuan pendidikan adalah untuk memberikan bekal hidup untuk anak-anak kita, baik saat ini maupun di masa depan.
Materi belajar dan kegiatan belajar disusun berdasarkan analisis tentang kebutuhan: “apa sih yang butuh dipelajari anak-anak untuk bekal mereka?”
Dalam sistem pendidikan secara umum, ada beberapa hal yang dinilai sebagai pondasi penting untuk berbagai bekal penting anak, antara lain: literasi.
Mengapa literasi penting? Karena dia menjadi bekal untuk proses belajar banyak hal yang lain.
Nah, seiring waktu, berkembang format2 materi belajar yang bisa digunakan anak, salah satunya video.
Pertanyaannya: apakah video saja cukup untuk bekal hidup anak? Apakah semua materi pengetahuan/kehidupan selalu ada dalam bentuk video? Bagaimana jika ada materi yang tidak ada dalam format video?
Pertanyaan itu yang perlu dijawab oleh kakak.
Karena aspek pengetahuan itu sangat luas dan media belajar beragam, dalam pendapat saya anak tetap perlu terampil membaca teks.
Keterampilan berbeda dengan kesukaan. Terampil berarti bisa melakukan dengan baik (jika dibutuhkan). Suka berarti preferensi atau kecenderungan.
Artinya, jika suatu saat anak dibutuhkan untuk membaca dokumen yang panjang (misalnya dokumen legal), dia tetap bisa melakukannya. Tapi untuk yang sifatnya pilihan dan ada video yang tersedia, tentu saja pilihan menonton video tak masalah.
Kondisi ini serupa dengan matematika. Mungkin anak tidak suka berhubungan dengan angka, tetapi dia tetap perlu memiliki keterampilan basic terkait logika dan matematika karena itu dibutuhkan untuk bekal hidup sehari-hari, misalnya melakukan transaksi dan memahami realitas dalam bentuk kuantitatif.
Demikian kak, semoga membantu.
March 17, 2022 at 6:55 pm #6525Tarita
MemberTerima kasih pencerahannya Mas @Aar, jadi tercerahkan antara suka dan perlu. Di beberapa hal berarti anak boleh ya untuk tetap menggunakan fasilitas tutorial ataupun video. Tapi di hal-hal tertentu anak juga harus tetap belajar mengerti lewat membaca. Mungkin sayanya saja yang kadang kurang sabar untuk menjelaskan mengapa di beberapa hal anak harus tetap mengerti lewat membaca. Kurang lebih mungkin seperti itu ya Mas @Aar?
March 17, 2022 at 7:26 pm #6524Aar
KeymasterBetul kak @Ita
Dalam kehidupan ini ada aspek: perlu & suka. Anak-anak perlu mengenal dua-duanya agar hidup mereka bisa berjalan baik.
Terkadang kita harus melakukan hal yang perlu dilakukan, bukan yang suka kita lakukan. Contoh sederhana adalah membayar pajak, mencari SIM, membuat paspor, kegiatan di lingkungan tetangga, dan lain-lain.
Kuncinya memang menceritakan “why” kepada anak-anak agar mereka memahami dan tidak suka-suka karena itu bisa menyulitkan kehidupan mereka sendiri.
March 19, 2022 at 12:34 pm #6517August 5, 2022 at 11:43 am #6035Nia
ParticipantSelamat siang Mas @Aar . postingan yang saya reply ini udah 4 bulan lamanya saya post di sini. Saat Hichan masih gymnastic, terus sekarang Hichan udah mulai les renang sekitar 3-4 bulan. Tapi tragedinya berulang =))
untuk teknis Hichan (7) progressnya cukup baik, kayak misalnya kaki gerakannya udah bener, tapi mungkin karena masih tahapan belajar biasa prosesnya masih turun naik. Hari ini bener, 4 hari lagi latihan salah lagi. Nah kemarin itu ternyata dia kakinya ke bawah terus sementara harusnya kaki dan badan itu rata kan. Nah terus pelatihnya ini memang minta dia posisinya bener dulu aja di kaki, jadi latihannya teruuuusss di kaki, jangan dulu ke tangan. setelah 30 menit latihan tiba-tiba Hichan naik dan nangis, katanya kesel nggak bisa-bisa… dia juga nyebut katanya pelatihnya kayak marah gitu (menurut saya ini nggak mungkin karena kemarin Hichan itu latihannya kebetulan sendiri dan dipegang sama 3 pelatih, jadi pelatihnya ga mungkin stress megang Hichan sendiri) dan pelatihnya juga akhirnya menjelaskan kayaknya Hichan bosen karena disuruh latihan kaki terus..
Pas jalan pulang saya tanya kenapa tadi dia menangis, terus dia bilang katanya kesel sama diri sendiri karena nggak bisa-bisa.. Lalu saya mrecall soal gymnastic ke Hichan, dan iya, dia bilang juga suka kesel kalau nggak bisa-bisa gerakannya..
Kejadian seperti ini tuh jadi kayak berulang, saat gymnastic yang saya post ini, saat Ujian akhir smester kalau Mas Aar masih ingat, dan sekarang pas renang..
Kemarin juga saya jadi ingat kata-kata Mas Aar kurag lebih, “sebetulnya masalah yang kita hadapi itu di situ2 saja.. orang yang peragu masalahnya di pengambilan keputusan, dll..”
Dan sepertinya masalah yang saya hadapi dengan Hichan pun kurang lebih akan “disini-sini aja” :D. Apakah tidak apa-apa jika kondisinya begini?
Tapi bersyukur juga karena saya pernah dihadapkan di kejadian yang lebih drama saat gymnastic itu, respon saya kemarin bisa lebih santai, bisa memberikan Hichan waktu dan minta dia untuk lanjut tapi nggak terlalu maksa sambil judes X)). Dan Hichan juga bisa lebih cepat untuk balik lagi, nggak lebih dari 10 menit, dan latihan lagi seperti biasa (mungkin karena pelatih renangnya juga lebih cair dibandingkan dengan pelatih gymnasticnya dulu..)
Pertanyaan kedua,
Mungkinkah karena budaya instan, anak-anak seusia Hichan ini jadi segala2 ingin cepet. belajar apa, pengen cepet bisa, sehingga saat dia tidak bisa, nggak bisa chill aja gitu.. toh dia tidak dikejar target apa2 😀
meski tidak terlalu intens, tapi Hichan ini suka sama video pendek seperti reels menggambar, masak, yang 30 detik semua langsung jadi.. kontennya mungkin aman, tapi sepertinya sedikit banyak ini juga akhirnya terbawa dalam keseharian juga.
Terima kasih
August 5, 2022 at 6:02 pm #6031Aar
KeymasterHalo kak @nia.purnama
Terima kasih untuk update perkembangan Hichan.
1. Tantangan personal
Tantangan personal terkait keunikan karakter biasanya memang kurang lebih serupa bentuknya sejak anak kecil hingga dewasa. Itu bagian dari kemanusiaan seseorang dan tidak apa-apa.
Ada 2 proses penting yang bisa dilakukan untuk mengelolanya:
1. Membawanya ke dalam kesadaran sehingga kita (dan anak) memahami pemicunya dan bisa mengelolanya saat muncul. Tujuannya adalah membuatnya menjadi semakin cair dan tidak mengganggu kefungsian.
2. Berlatih untuk memperbaiki kualitas personal secara teknis. Misalnya: berlatih mengambil keputusan, berlatih mengelola emosi dan respon.
Cara yang kak Nia lakukan itu sudah bagus. Kakak tidak melakukan represi terhadap emosi yang dialami anak, tetapi melakukan validasi. Sikap santai kakak juga sangat bagus dan penting untuk membuat emosi-emosi itu semakin terkelola.
Dengan pendekatan yang dilakukan saat ini, semoga Hichan semakin lama semakin terampil mengenali dan mengelola emosinya. Semoga penerimaan orangtua membuatnya menjad semakin santai dengan dirinya sendiri.
2. Budaya instan
Betul sekali pengamatan kak Nia. Kita semua tidak steril dari pengaruh lingkungan. Bahkan, kita memang dipengaruhi oleh lingkungan tempat kita hidup.
Karakter (hasil bentukan) adalah buah dari tindakan-tindakan berulang yang kita lakukan.
Nah, pola perilaku kita (dan anak) juga dipengaruhi oleh pola2 yang ada di zaman dan tempat kita tinggal.
Salah satu dampak dari perkembangan digital adalah cepatnya pola feedback (instant feedback) terhadap perilaku sosial di Internet. Game membuat anak2 terbiasa semua hal yang serba cepat dan jelas antara berhasil dan gagal. itu juga mempengaruhi anak2 menjadi sulit fokus, mudah berganti2, dan cenderung menjadi tidak sabaran untuk berproses.
Itulah sebabnya, diantara tantangan untuk anak2 zaman sekarang adalah fokus, sabar, deep work (melakukan pekerjaan bermakna dalam durasi panjang).
Demikian, semoga membantu 🙏
August 12, 2022 at 11:40 am #6008Nia
ParticipantTerima kasih banyak Mas Aar untuk insightnya, ini jadi kayak tambahan semangat lagj dan diingatkan kembali bahwa ini akan jadi perjalanan panjang, jadi harus dinikmati.
Noted, jadi kuncinya tetap ada di kesadaran ya. Saat anak merasa tidak nyaman, kita nggak reaktif dan lebih baik menggali saat suasananya sudah kondusif.
Saya juga jadi bersyukur karena Hichan kemarin mau jujur dan merasa aman untuk bercerita, nggak bikin-bikin alasan hanya untuk bikin saya senang.. 🥹🥹
August 12, 2022 at 11:45 am #6007Aar
KeymasterSama-sama kak @nia-purnamasari
Semakin nyaman hubungan antara kak Nia & Hichan, prosesnya semoga semakin mulus.
Dengan kenyamanan dan trust, direction dan petunjuk teknis akan lebih mudah diberikan untuk membantu dia agar bisa terus bertumbuh.
Selamat menikmati prosesnya, kak!
August 20, 2022 at 9:23 am #5997Meri Azmi
MemberHalo mas Aar, terima kasih untuk video ini, sangat membuka mata saya.
Mas Aar, bagaimana ya agar konsistensi ini terjaga. Masalah selama ini adalah di kekonsistenan dalam melakukan suatu kebiasaan. Kadang hanya 2 minggu bersemangat, diminggu berikutnya mulai malas-malasan. Disini saya berusaha tetap tegar untuk melatihkan kebiasaan ini dan terus melatihkannya pada anak walau anak malas dan kadang sampai ngambek nggak mau melakukannya.
Kadang kebiasaan baik ini sudah ajeg pada anak, tetapi ketika dilatihkan kebiasaan baru eh kebiasaan lama dilupakan. Atau ketika ada perubahan ritme di rumah misalnya ada tamu yang datang menginap, atau anggota keluarga lain yg sakit atau kadang ‘bisikan’ dari pihak keluarga lain (nenek, om atau tante), kebiasaan ini jadi ambyar.
Contoh sebulan ini kami coba menyepakati untuk melakukan chores yang dilakukan pada pagi hari seusai bangun dan sholat subuh. Setiap anggota keluarga dirumah diberikan tugas masing-masing. Kesepakatan ini dirapatkan bersama dan anak-anak sendiri yg juga memilih ingin melakukan pekerjaan apa setiap hari dan di roling setiap harinya agar semua anggota keluarga mendapat bagian pekerjaan yg sama. Dua minggu berjalan, tiba-tiba kami kedatangan tamu yg menginap dirumah(hingga sekarang), kedatangan tamu ini ternyata sangat berpengaruh pada anak-anak krn tamu ikut membantu pekerjaan yg sudah kami sepakati di awal.
Gimana menyikapi ini ya mas aar, agar anak konsisten dengan apa yg sudah ditugaskan dan disepakati? Dan ketika ada ritme yang berubah bagaimana agar kebiasaan ini tetap dilakukan anak-anak. Terima kasih mas aar.
August 20, 2022 at 10:24 am #5996Aar
KeymasterHalo kak @meri-azmi
Terima kasih pertanyaannya.
Konsistensi adalah masalah manusiawi yang dialami oleh semua orang, bukan hanya oleh anak-anak.
Banyak orang dewasa ingin olahraga, hanya bertahan 1 minggu saja. Banyak yang ingin diet mengatur pola makan, tapi yang berhasil tidak banyak. Banyak yang membuat resolusi awal tahun, biasanya hanya bertahan satu bulan pertama.
Coba kakak refleksikan juga, bagaimana pengalaman kakak mengasah konsistensi? Pada aspek apa kakak konsisten dan pada aspek apa kakak belum bisa konsisten?
Refleksi dari pengalaman diri itu bisa membantu kita untuk bisa lebih berempati terhadap proses-proses yang dijalani anak-anak.
Ini memang masalah kita semua.
Membangun Kebiasaan Baik
Lalu, bagaimana untuk meningkatkan peluang keberhasilan dan mengasah otot konsistensi?
1. Start small
Pastikan kegiatan yang dilakukan sederhana dan mudah dilakukan. Semakin mudah dilakukan, semakin besar peluang keberhasilannya. Ukuran sederhana dan mudah adalah anak, bukan anak lain, apalagi kita.
2. Anak merasakan manfaat personal
Kebiasaan dibangun bukan hanya karena itu alasan baik untuk dilakukan, tetapi karena memang dirasakan manfaatnya. Anak merasa mendapatkan keuntungan dengan melakukan kebiasaan itu.
3. Teladan dan bantuan
Apakah kegiatannya dilakukan oleh semua anggota keluarga tanpa kecuali? Apakah semuanya melakukan dengan sukacita? Apakah ada alat bantu untuk memudahkan dan mengingatkan?
4. Kesepakatan saja tidak cukup
Jadi, tidak cukup karena sudah disepakati lalu kita berharap anak akan konsisten. Karena anak-anak masih kecil, turunkan ekspektasi dan lihatlah semuanya sebagai proses berlatih. Jangan lupa, pastikan kegiatan dilakukan dengan sukacita.
Distraksi Tamu
Tentang distraksi tamu, memang begitu kondisinya kak. Ini bukan masalah anak-anak, tapi masalah ekspektasi kita terhadap mereka.
Jika kita menyadari bahwa distraksi tamu itu memang mengganggu pola rutinitas, maka setelah tamu pulang kita perlu membangun kebiasaan itu dari awal lagi. Kita segarkan komitmen anak-anak mengapa kebiasaan itu perlu dilakukan dan baik buat mereka, kemudian kita mulai lagi.
Jadi, dimulai ulang ya kak.. tetap semangat karena memang beginilah proses parenting dan membangun kebiasaan baik.
Jika kita tak mengomel-ngomel, malah bisa menertawakan kondisi, kemudian bersama anak-anak mencoba membangun pola baru lagi; peristiwa-peristiwa semacam ini akan menjadi alat bertumbuh bagi seluruh anggota keluarga, bukan hanya untuk anak-anak.
Ini memang bukan petunjuk teknis, tetapi tentang sudut pandang dan cara mengolah hati kita saat menemani proses anak-anak. Jika hati kita lebih lapang dan lentur, ekspektasi kita terjaga (tidak tinggi), biasanya kita jadi bisa lebih menikmati proses.
Saat kita dan anak2 menikmati proses (dan tak ingin segera melihat hasil), efektivitasnya biasanya akan semakin meningkat.
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.