Belajar Parenting › Forums › 10 Keterampilan Dasar Anak › Pengembangan Keterampilan Personal
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 24, 2019 at 2:47 pm #4641
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
April 23, 2020 at 5:32 pm #7250Anonymous
GuestBismillah,
Mohon maaf mengganggu,mas Aar dan mba Lala ,
Bagaimana cara mengubah pola, anak yang sudah terbiasa dengan masakan asin,manis dan berpenyedap.
Karena ketika rasanya kurang enak, mereka jadi tidak berselera untuk makan?April 24, 2020 at 3:21 pm #7248Anonymous
GuestSalam mas Aar dan mb Lala,
Berkaitan dgn pengembangan ketrampilan personal ada bbrp pertanyaan yg ingin sy ajukan :
1. Bagi org dewasa yg pelupa kira2 ketrampilan personal apa yg terlewat ditanamkan ketika kecil?
2.Anak pertama usia 7,5 th,sering sy ajak utk mbantu di dapur,tetapi tingkat kecerobohannya msh sangat tinggi walaupun di awal sdh sy beri pengertian,di sekolah jg sering terjatuh,terpeleset,tingkat kehati2annya msh perlu ditingkatkan,kemudian ketika ada benda terjatuh misal sapu tergeletak di lantai,dilangkahin aja tdk lgsung dibenarkan posisinya, cuek aja,hehehe….Bgmn menanamkan ketrampilan utk selalu bhati2 dan peduli dgn keadaan di sekitarnya.Bisakah kondisi trsbt (cuek/tdk perduli)menurun dr ortu ke anaknya?
3. Anak ke 2,usia 4,5 th sdh bs mandi sendiri,tp semenjak ayahnya wfh selalu minta dimandikan,alasannya krn kl sblmnya mama repot cuma sendiri,ayah kerja,kl skrg ayah di rmh,hehehe…Bgmn kami menyikapi tingkah yg mgemaskan itu?
Kemudian belum mau utk mbersihkan sendiri ketika bab,dgn alasan nanti tanganku kotor, walaupun sdh diberi solusi nanti bisa pakai sabun,msh blm bhasil hingga saat ini.Mungkin Mas Aar dan Mba Lala py pengalaman sewaktu anak2 msh balita bgmn menyikapi nya
Terimakasih byk ..April 24, 2020 at 3:44 pm #7246Aar
KeymasterHai kak Lia,
Begitu sudah menjadi kebiasaan dan kebutuhan, pasti tidak mudah untuk mengubahnya. Betul sekali itu kak.
Yang bisa dilakukan adalah:
~ mengurangi porsi penyedap sedikit demi sedikit
~ mengobrol bersama anak tentang perubahan yang terjadi untuk kepentingan kesehatan mereka
~ prosesnya mungkin panjang berbulan-bulan. Tapi jika dilakukan secara konsisten, ini proses yang bisa dilakukan. Apalagi jika disertai kesadaran untuk alasan kesehatan.Saya punya pengalaman pribadi dengan gula. Sejak kecil selalu minum manis, tidak terbiasa minum air putih. Baru mulai mengubah kebiasaan saat kuliah. Ternyata bisa walaupun memang tidak mudah. Sekarang sudah terbiasa minum air putih. Minum teh manis hanya pagi hari atau dijatah satu poci kecil sehari. Gula-pun diganti dari gula pasir menjadi stevia. (sekadar berbagi pengalaman)
April 25, 2020 at 3:45 pm #7244Aar
KeymasterKak Dewi,
1. Bagi org dewasa yg pelupa kira2 ketrampilan personal apa yg terlewat ditanamkan ketika kecil?
Pelupa bisa jadi merupakan sifat bawaan seseorang yang disebabkan oleh banyak hal.
Untuk membuat kehidupan menjadi lebih terkelola, salah satu keterampilan penting yang perlu dikuatkan adalah self management (manajemen diri). Salah satunya adalah kebiasaan mencatat dan meletakkan benda di tempat yang sama. Dengan keterampilan mencatat (rencana, checklist, jurnal), itu bisa menjadi alat bantu dalam mengelola keseharian.2.Anak pertama usia 7,5 th,sering sy ajak utk mbantu di dapur,tetapi tingkat kecerobohannya msh sangat tinggi walaupun di awal sdh sy beri pengertian,di sekolah jg sering terjatuh,terpeleset,tingkat kehati2annya msh perlu ditingkatkan,kemudian ketika ada benda terjatuh misal sapu tergeletak di lantai,dilangkahin aja tdk lgsung dibenarkan posisinya, cuek aja,hehehe….Bgmn menanamkan ketrampilan utk selalu bhati2 dan peduli dgn keadaan di sekitarnya.Bisakah kondisi trsbt (cuek/tdk perduli)menurun dr ortu ke anaknya?
Ada anak-anak yang memang “clumsy”, jalan tidak lurus, minum tumpah, gampang tersandung, dll. Anak seperti ini tidak memiliki masalah IQ, tetapi memiliki masalah berkaitan dengan motorik. Kondisi ini terjadi bukan atas kemauan anak, tapi dia sendiri susah mengontrol gerakan tubuhnya. Jika masalahnya berat, mungkin perlu konsultasi ke dokter untuk melihat apakah ada gangguan perkembangan koordinasi (GPK) dan penanganannya secara medis.
Untuk stimulasi personal, orangtua perlu memberikan panduan teknis (step-by-step, hal yang perlu diperhatikan anak) saat berkegiatan untuk mengurangi kecerobohannya.
Tentang sapu tergelak dan dicuekin, itu adalah isu yang berbeda. Itu berarti tentang kepedulian. Teladankan, ajarkan, beri petujuk teknis, ingatkan. Proses itu yang perlu terus dilakukan sepanjang tumbuh
3. Anak ke 2,usia 4,5 th sdh bs mandi sendiri,tp semenjak ayahnya wfh selalu minta dimandikan,alasannya krn kl sblmnya mama repot cuma sendiri,ayah kerja,kl skrg ayah di rmh,hehehe…Bgmn kami menyikapi tingkah yg mgemaskan itu?
Kemudian belum mau utk mbersihkan sendiri ketika bab,dgn alasan nanti tanganku kotor, walaupun sdh diberi solusi nanti bisa pakai sabun,msh blm bhasil hingga saat ini.Mungkin Mas Aar dan Mba Lala py pengalaman sewaktu anak2 msh balita bgmn menyikapi nyaKalau menurut saya tidak apa-apa. Anggap saja sebagai liburan/selingan dan menjadi alat untuk bonding Ayah bersama anak. Jika ingin didorong untuk mandiri sendiri, sebaiknya yang meminta pada anak adalah ayah.
Tentang jijik, itu wajar kok. Nanti seiring waktu anak akan semakin tahu dan bisa melakukannya. Jika memungkinkan, gunakan alat bantu berupa semprotan air untuk membersihkan pantat adik.
June 8, 2020 at 7:23 am #7217Anonymous
Guestkarena saya bekerja, saya jarang sekali memasak lebih banyak order gofood
apakah cara memperoleh makanan bisa diajarkan dengan membeli secara online ?karena masih khawatir jika anak diajarkan memasak, misal goreng telur lebih banyak ketakutan dan ceroboh
atau jika membeli online diajarkan cara menghangatkan saja dengan microwave
atau banyak makanan instan yang hanya cukup dipanaskan bisa dimakanapa bisa diajarkan seperti itu saja ?
June 8, 2020 at 9:31 am #7216Aar
KeymasterTerima kasih kak untuk sharingnya kak Windhi,
Dalam konteks menghasilkan makanan, apa yang ingin Anda ajarkan?
Pengetahuan tentang makanan atau keterampilan memproduksi makanan?Jika yang ingin Anda ajarkan adalah pengetahuan, maka bisa diberikan dalam bentuk buku atau video.
Tapi kalau Anda ingn membekali anak dengan keterampilan, maka tak cukup hanya dengan video, tapi perlu dipraktekkan.
Kapan praktek memasak dilakukan?
Saat Anda memiliki waktu. Jika hari biasa bekerja, maka praktek dilakukan saat akhir pekan (Sabtu-Minggu).
Bagaimana kalau orangtua khawatir anak ceroboh?
Di sinilah pentingnya pengamatan orangtua untuk melihat apa yang sudah bisa dilakukan anak dan apa yang perlu distimulasi/dilatih.
Jika anak belum bisa menggunakan kompor dan belum bisa menggoreng telur, berarti jangan dulu. Mulai dengan hal-hal yang sederhana tanpa menggunakan kompor; misalnya: menghangatkan makanan (seperti yang Anda contohkan). Atau, membuat roti isi. Anak belajar mengoles mentega, mengisi dengan meisis atau selai, dll.
Kegiatan lain yang lebih kompleks dilakukan pada saat ada pendampingan orangtua, dimulai dari masakan sederhana, misalnya: membuat jelly, donat, dll. Anda bisa menggunakan bahan yang siap pakai (ready mix) yang tersedia di supermarket.
Apakah keterampilan menghasilkan makanan ini cukup hanya diajarkan dengan kemampuan anak menghangatkan/memanaskan makanan?
Tergantung target Anda sendiri. Jika Anda merasa keterampilan itu sudah cukup menjadi bekal hidup anak saat dewasa, silakan. Jika Anda merasa anak perlu diajari keterampilan lanjutan, maka perlu dicari akal bagaimana cara mengajarkannya.
Semakin terampil anak menghasilkan makanan, semakin dia merasa berdaya dan memiliki alternatif.
June 9, 2020 at 9:28 am #7214Anonymous
GuestNah inilah yang saya perlu diberikan masukan perihal “standar”
Dari forum ini saya belajar standar pembelajaran dari yang diberikan mas Aar sama mba lala
artinya, kalau keterampilan personal yang diberikan disini adalah standar anak untuk dapat menghasilkan makanannya sendiri dengan memasak.tapi kalau ada orang tua lain misalnya hanya ingin cuma bisa menghangatkan saja, ya gpp juga
begitu ya. pertanyaannya lagi, standar mana yang terbaik ? tidak ada
tergantung set up si orang tua. tapi dari sini kita belajar bahwa anak juga harus di ajarkan dapat menghasilkan makanan supaya bisa mandiribegitu ya
June 9, 2020 at 10:28 am #7213Aar
KeymasterBetul kak Windhi,
Salah satu ciri dari pelatihan yang diadakan Rumah Inspirasi adalah mendorong orangtua untuk belajar mengenali dan menetapkan standar berkaitan hal-hal yang dianggap baik untuk hidupnya dan hidup keluarganya. Ini adalah sebuah keterampilan penting karena dalam kehidupan di sekolah dan masyarakat selama ini kita selalu didorong untuk mengikuti standar yang dibuat oleh orang lain.
Kami ingin mendorong orangtua memiliki otonomi dengan hidupnya, menerima kondisi saat ini sambil terus membuka diri untuk bertumbuh menjadi lebih baik. Itulah kunci kebahagiaan.
Demikian juga berkaitan dengan anak. Penentuan hal yang dianggap penting ditentukan berdasarkan keyakinan orangtua tentang kondisi masa depan dan bekal yang dibutuhkan buat anak untuk survive di masa depan.
Dalam konteks pengembangan keterampilan dasar, kami ingin mendorong orangtua untuk:
– tidak hanya memasrahkan anak pada sistem sekolah/eksternal
– terlibat aktif dalam kegiatan bersama anak
– menumbuhkan keterampilan (bukan hanya pengetahuan) buat hidup anak saat ini dan masa depanDalam materi tentang keterampilan personal, keterampilan sosial, dan keterampilan profesional, saya ingin menunjukkan kepada orangtua bahwa banyak hal-hal sederhana dalam keseharian yang penting diajarkan pada anak dan bisa bermanfaat untuk hidupnya, misalnya menghasilkan makanan.
Dalam sistem pendidikan di luar, kita tak diajarkan secara khusus sehingga banyak anak dan orang dewasa tidak terampil memasak, padahal dia membutuhkan dan menginginkan keterampilan memasak karena menambahkan fleksibilitasnya.
Ketika orangtua terampil memasak, maka dia memiliki pilihan apakah membeli makanan (praktis & lebih mahal) atau memasak (higienis, sesuai pilihan, lebih hemat). Jika orangtua tak memiliki keterampilan memasak, maka dia hanya memiliki opsi untuk membeli makanan. Kondisi itu akan menjadi beban jika sedang dalam kondisi kesulitan keuangan atau harus menyajikan masakan khusus saat anak sakit, atau berada dalam kondisi terpaksa yang mengharuskan memasak.
Jadi, itu goal belajar menghasilkan makanan dan memasak adalah meningkatkan keterampilan anak dan menambah fleksibilitas hidupnya. Semakin terampil anak, semakin fleksibel hidupnya.
Dalam konteks keluarga kami, standar minimalnya adalah anak bisa membuat makanan sendiri: membuat roti isi, toast, menanak nasi, menggoreng telur, membuat mie instan. Itu paling basic yang akan membuat dia tak akan kelaparan saat di rumah.
Semoga menjawab ya kak..
July 3, 2020 at 2:11 am #7159Anonymous
Guestbismillah, bagaimana ya mas Aar, mbal Lala, menengahi keributan antar saudara,
seringnya adik yang ke3 (usia 3tahun) maunya ikutan nimbrung aktifitas kakak2nya yang usia 9tahun dan 6,5tahun.misal kegiatan di dapur,, kakaknya diberi tugas untuk menimbang takaran adonan kue,, nah yang ke 3 ini maunya ikutan juga,, alhasil rebutan timbangan,, rebutan tepung yang mau ditimbang..
jadinya kakak2nya gak mau melanjutkan proses masak di dapur karena ada adiknya…
bagaimana ya menanganinya?bukan hanya soal memasak saja,, hampir semua kegiatan,, padahal yang 3tahun juga sudah diberi aktifitas lain sebelumnya,, atau aktifitas yang sesuai umurnya,, tapi lagi2 maunya ikutan kakak2nya… hehehehe…
jadi untuk kegiatan yang sifatnya digital (gambar digital, IXL, kelas menulis), kakaknya sembunyi2, atau menunggu adiknya tidur, hanya saja kakaknya pun masih perlu pendampingan dari kami ortunya… belum lagi masih ada adik bayi 5bulan yang perlu perhatian..
Masya Allah…mohon masukan dan sharing nya mas Aar, mbak Lala..
makasiJuly 3, 2020 at 9:32 am #7158Aar
KeymasterKak Adinda,
Kebayang kondisinya pasti jadi lebih rumit karena adik paling kecil pengin ikutan belajar (yang menganggu kakaknya)
Ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan:
1. Tantangan pertama adalah memelihara keingintahuan dan inisiatif belajar adik kecil yang menggebu-gebu (positif) dan pada saat bersamaan menerima concern kakak-kakak yang merasa terganggu.
Jangan sampai adik jadi rewel dan kehilangan inisiatifnya. Jangan sampai kakak-kakak menjadi tidak bisa menuntaskan proses belajarnya.
2. Sumber penyebab kondisi ini biasanya adalah: adik ingin merasa besar dan ingin diperlakukan sama dengan kakak-kakak. Dia tidak mau dan tidak suka diperlakukan berbeda dengan kakak-kakaknya. Dia tak mau diperlakukan sebagai anak kecil (walaupun masih kecil, hehehe)
Jika kita bisa menerima sudut pandang itu, mungkin kita bisa lebih lapang hati. Demikian pun kakak2 bisa melihat kondisi adiknya sebagai hal yang “lucu”, bukan menyebalkan. Jika perkembangan sosial anak ke-3 diintegrasikan, mungkin solusi-solusi kreatifnya bisa dicari lebih mudah.
Kata kunci yang biasa kami lakukan adalah “mengintegrasikan”. Menjadikan kegiatan adik kecil sama dengan kakak-kakak, tapi porsinya lebih disederhanakan.
Jadi, dalam proses kegiatan memasak, masuknya adik sebagai anggota tim memang perlu diintegrasikan dengan sadar. Itu artinya:
~ setiap orang mendapatkan peran dalam proses memasak. Jika kakak memakai celemek, adik juga ikut memakai celemek.
~ atur supaya ada 3 alat (misalnya: wadah) yang digunakan masing-masing anak.
~ kegiatan dipimpin oleh Ibu dengan memberikan arahan pada setiap anak. Dua kakak bekerja sendiri, adik dalam pengawasan Ibu
~ kalau kakak menimbang, berikan kesempatan juga pada adik untuk menimbang. Yang penting dia terlibat dan melakukan.
~ fokus pada menikmati proses belajar supaya kakak-kakak dan Ibu tidak jadi beteProses yang sama juga dipakai untuk kegiatan yang melibatkan kertas. Kegiatan temanya sama, tapi kegiatan berbeda. Adik diberi kertas print dengan gambar yang sama dengan kakak, tapi prosesnya bebas (misalnya: diwarnai, digunting, dicoret2, dll).
Proses seperti ini yang biasanya kami lakukan, kak.
Tidak sempurna, sih. Tapi seiring waktu prosesnya menjadi lebih mudah. Salah satu kunci pentingnya adalah memberikan pengertian dan kelapangan hati dari kakak pertama. Jika pertama kakak mendapat pengertian bahwa dia keren karena membantu Ibu mengurusi adik-adik. Juga, ketika kakak pertama bisa ditanya dan membantu kakak ke-2 jika ada pertanyaan.
Semoga membantu.
January 10, 2022 at 8:03 am #6736Anonymous
Guestاَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
Ijin bertanya anak kami yang pertama saat ini berusia 9 th dan memiliki adik berusia 6 th. Menurut mas Aar dan mba lala.. pengembangan ketrampilan apa dulu yang perlu kami kembangkan utk kakak ? Karena dalam ketrampilan dasar usia dini nya ternyta ada bbrp yg perlu dibenahi.
Misal ketrampilan mengelola emosi.January 10, 2022 at 9:33 am #6735Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb, kak Intan
Ada beberapa poin penting yang perlu kita perhatikan saat membangun keterampilan dasar anak.
1. Turunkan ekspektasi
Ekspektasi yang terlalu tinggi sering menjadi penyebab emosi orangtua. Jadi, turunkan harapan Anda pada anak, tetapi kuatkan diri Anda untuk terus mendampingi mereka.2. Fokus pada proses, bukan hasil
Jika fokus pada hasil, kita biasanya akan merasa gagal dan mudah emosi. Kita merasa anak-anak tidak terampil, kita merasa gagal sebagai orangtua. Ini akan menciptakan spiral negatif dalam diri kita.Jadi, akan lebih baik fokus memikirkan cara menjalani proses yang baik dan berkualitas setiap hari.
3. Ekspektasi jangka panjang
Jangan berharap instan. Proses stimulasi keterampilan ini terjadi selapis demi selapis. Pertumbuhan pasti terjadi, tapi mungkin tidak terlalu kelihatan. Jadi, penting sekali untuk bersabar dan tidak berhenti berproses bersama anak. Kunci supaya tahan lama adalah kita dan anak2 menikmati proses-proses yang terjadi.4. Jalani keseharian dengan baik
Proses paling ringan sekaligus efektif adalah dengan berusaha menjalani keseharian dengan baik, mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Anak belajar menyadari kegiatannya dan belajar mengendalikan diri (terutama mengurangi waktu main game/menonton Youtube).Usahakan sering mendiskusikan bersama anak tentang keseharian, misalnya setiap malam menjelang tidur. Dengarkan pendapat mereka dan dorong mereka sendiri memikirkan solusi untuk dirinya sendiri.
“Bagaimana kegiatanmu hari ini?”
“Apakah kamu puas dengan hari ini? Berapa kamu memberi nilai hari ini antara 1-100? Mengapa kamu memberikan nilai itu?”
“Apa yang sudah berhasil kamu lakukan hari ini?”
“Apa yang belum berhasil dilakukan hari ini? Mengapa belum berhasil? Bagaimana cara dan rencana perbaikannya?”
“Apa rencana kamu besok? Apa yang kamu butuhkan dari Bunda untuk membantumu?”Demikian kak, semoga membantu.
March 8, 2022 at 3:04 pm #6576Nia
ParticipantSelamat sore Mas @Aar dan Mbak @Lala , saya mau curhat dan nanya 😀
salah kamar..Jadi kemarin itu Hichan (7th) jadwal gymnastic. tapi karena teman-temannya lagi ujian tengah semester, di gym itu kosong melompong, cuma ada 1 anak lain yang latihan (dgn pelatih yg beda). Dari awal saya udah feeling nih latihannya akan agak tricky karena kelihatan sekali Hichan nggak nyaman dan malu latihan sendiri. Awalnya saya santai aja, yang penting dia latihan, saya semangatin, dan bercandain, tapi cemberut. Saya udah nanya “H kok cemberut? nggak semangat latihan? gak apa-apa ya sekali ini doang latihan sendiri” maksudnya mau dibikin nyaman dan dikasih semangat, dia bilang “nggak” tapi wajahnya cemberut, mungkin dia juga enek kali ya saya semangatin terus hahaha..
di tengah2 terus dia diajarin satu gerakan yang agak sulit, 5 kali percobaan gagal terus, akhirnya pecah deh tangisannya, saya juga masih santai aja, saya panggil dan saya ajak peluk untuk bikin dia nyaman dulu aja. yang penting nggak berhenti latihan deh, biar dia nggak gampang berhenti gituloh. Nangis yang sampai nafasnya terengah2 gitu padahal baru sebentar, saya suruh jangan minum terus dia minum banyak, akhirnya muntah :|, saya marah sih pas dia muntah (ini setelah saya pikir lagi juga saya tau saya salah hehehe..) terutama karena dia nggak bawa celana ganti.,
1. Saya inget banget kata-katanya Mbak Lala “jadi orangtua itu harus supportive tapi demanding”. Nah saya mau praktikin ini (wicis kayaknya gagal karena saya kepancing jadi marah..) apakah tindakan saya sudah tepat (sebelum momen marah) saat dia merasa ga nyaman saya berusaha chill, nggak ngegas dan menyemangati Hichan dan “memaksa” dia untuk tetap latihan meski tidak ada teman2nya?
2. Saya nggak ada goal untuk dia jadi atlet sampai saat ini (karena lihat kapasitas H juga belum sampai situ) jadi ini pun latihan cuma seminggu sekali aja (makanya gemes karena ada pikiran ‘ya aalllaaaah, disuruh latian seminggu sekali doang, biar olahraga loh ini..’), Nah kalau di kasus kami, saat H waktunya latihan tapi dia cemberut karena situasi yang nggak biasanya, bagaimanakah sebaiknya sikap kita sebagai ortu? Cuekin aja ngambeknya dan kita berusaha biasa yang penting dia latihan, atau bahas dulu soal cemberutnya, misalnya ngasih tau anak supaya ‘ayo dong ceria, senyum kalau latihan tuh’ padahal kita juga tau kalau dia kondisinya nggak nyaman 😀
terima kasih mas aar dan Mbak lala
March 9, 2022 at 11:04 am #6575Aar
KeymasterKak @nia.purnama
Terima kasih atas sharingnya.
Saya kebayang dinamika yang terjadi di lapangan dan tidak mudah untuk ditangani karena banyak sekali faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang tepat di lapangan.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat?
Ini juga agak tricky jawabannya karena kita tidak bisa memutlakkan sebuah keputusan karena ada dampak jangka pendek dan jangka panjang yang bisa jadi tidak selaras.
Dalam jangka panjang baik, tapi dalam jangka pendek (saat itu) terjadi drama yang tidak mengenakkan.
Atau sebaliknya, dalam jangka pendek anak senang tapi dalam jangka panjang membuat anak menjadi lemah.
Lalu bagaimana?
Ini sudah wisdom di lapangan dan semuanya perlu berproses dengan keputusan yang dibuat. Yang bisa kita lakukan bukan membuat keputusan sempurna, tetapi menyempurnakan keputusan yang sudah dibuat.
Jika ada keputusan yang kurang tepat, kita terus merivisi dengan keputusan baru untuk membuat arah proses menjadi lebih baik.
Begitulah kurang lebih dinamika proses pengambilan keputusan bersama anak-anak.
Sekarang jawaban terhadap pertanyaan kak Nia.
1. Menangani ketidaknyamanan
Saat memberikan dukungan pada anak, biasanya alat kita adalah motivasi. Kita memberikan penyemangat pada anak agar mereka bisa lebih naik motivasinya untuk mengatasi masalah yang terjadi.
Sebenarnya ada satu lagi alat yang bisa kita gunakan yaitu memberikan ruang bagi anak untuk mengelola ketidaknyamanannya. Jadi, alih-alih langsung masuk memberikan penyemangat dan masukan, kita memberikan ruang bagi anak untuk berproses. Kita memberikan rasa nyaman dengan makanan atau hal lain tanpa melalui kata-kata.
Terkadang hal semacam ini sesuai dengan kondisi lapangan karena kemampuan anak mengelola emosinya sendiri juga adalah pelajaran penting baginya untuk terampil mengelola emosi.
Mendorong anak tetap berkegiatan walaupun kondisinya tidak nyaman adalah bagian dari belajar berkomitmen. Tidak apa-apa, kak.
2. Empati vs. Mendorong
Ini juga agak tricky. Poin pentingnya biasanya ada 2:
~ anak tahu bahwa dia perlu belajar berkomitmen dan tidak hanya tergantung mood (poin ekspektasi ini perlu disampaikan ke anak dan dimengerti anak)
~ mencari solusi lapangan. Poin penting yang perlu jadi diskusi bersama anak untuk mengurangi drama adalah:
- “Kamu tahu nggak tujuan kegiatan ini?”
- “Mengapa kamu cemberut?”
- “Gimana caranya supaya tujuan kegiatan tersebut (sehat, belajar komitmen, dll) tercapai dan kamu menjalaninya dengan happy?”
- “Bunda sih tetap pengin kamu sehat dan belajar komitmen. Itu sudah pasti. Tapi Bunda juga pengin kamu happy dan tidak cemberut. Jadi bagaimana enaknya?”
Demikian kurang lebihnya, kak.
Semoga membantu.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.