Belajar Parenting › Forums › 10 Keterampilan Dasar Anak › Pengembangan Keterampilan Profesional
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 24, 2019 at 6:35 pm #4632
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
May 8, 2020 at 2:31 am #7230Anonymous
GuestSelamat pagi mba Aar dan mba Lala,
Pagi ini saya melakukan refleksi, dan saya merasa lbh fokus dgn anak pertama..saya merasa anak kedua saya ini lbh sering bermain bebas, sehingga saya lupa membangun budaya belajarnya…stimulasi2 yg saya lakukan ke anak ke 2 ini betul2 spontan sesuai yang dia lakukan saat itu…maen bersama sekalian menstimulasi apa yang bs saya lakukan saat bermain saat itu juga..dgn melakukan hal2 seperti ini apakah bs dikatakan juga membangun budaya belajar?krn anak ke 2 ini aktif geraknya…sbnrnya saya bgg gimana ya sebaiknya?
Oiya anak pertama saya skrg 6 tahun, anak ke 2 usianya 4 tahun.
terima kasihNovember 6, 2021 at 10:14 am #6765Aar
KeymasterHalo kak Rudi,
Terima kasih pertanyaannya.
Jenis kegiatan pengembangan anak sangat tergantung pada budaya di keluarga. Dalam contoh2 yang kami berikan pasti juga dipengaruhi oleh budaya di keluarga kami yang memang banyak menggunakan gawai dan Internet (karena kami pekerja digital).
Ada 3 poin yang ingin saya sampaikan sebagai jawaban pertanyaan Anda:
1. Mengasah profesionalitas tidak harus digital
Banyak sekali kegiatan2 non digital yang bisa dilakukan untuk pengembangan anak. Sekali lagi, kebiasaan keluarga akan sangat mempengaruhi jenis kegiatan yang dilakukan anak. Hal-hal yang biasa dilakukan orangtua dengan sukacita, dikenalkan pada anak dan dilakukan bersama bisa ditingkatkan menjadi pintu masuk pengembangan profesional.Contohnya, memasak. Melibatkan anak memasak dan saat anak menikmati kegiatan memasak sangat bisa diasah skillsnya agar naik setahap demi setahap. Anak terampil bekerja dengan aman, staminanya meningkat, skills terkait jenis masakan terus meningkat seiring anak biasa melakukan kegiatan memasak bersama. Sesekali anak bisa ikut kegiatan kursus memasak bersama orangtua.
Banyak orangtua yang juga melibatkan anak pada kegiatannya, misalnya:
~ orangtua yang biasa jadi trainer dan fasilitator. Anak sering diajak melakukan kegiatan sambil jalan2 dan menginap di hotel, orangtua menjelaskan kegiatannya, dan anak secara bertahap menjadi asisten sesuai kapasitas yang mungkin dilakukan oleh anak.
~ orangtua menekuni kegiatan bercocok tanam hidronik. Anak dilibatkan dan dijelaskan proses2 terkait bercocok tanam secara hidroponik, mulai membenih, mengatur kandungan air, perawatan, dll.Kuncinya ada pada pengintegrasian kegiatan orangtua dan anak. Ini adalah jalan yang paling efektif sekaligus murah. Anak tidak perlu kursus, materi dan proses belajar terjadi secara alamiah selama 24 jam, orangtua bisa membimbing anak bukan hanya dalam urusan teknis, tetapi juga dalam aspek2 lain terkait etos kerja.
Tugas penting orangtua ada di sini, kak. Mencari area keahlian orangtua, yang ditekuni, dan bisa dilakukan bersama anak. Area itu tak harus pekerjaan profesional, tetapi bisa juga hobi yang sangat dikuasai ilmunya oleh orangtua.
Jika tidak, proses yang dilakukan biasanya melibatkan pihak lain dalam bentuk2 kursus dll. Proses seperti ini tentu saja bisa dilakukan, terutama jika kegiatan yang diminati anak tidak dikuasai orangtua. Walaupun anak kursus, akan lebih baik jika orangtua tetap mencari kegiatan2 yang bisa dilakukan bersama anak untuk pengembangan kemampuan berkarya, terutama membangun etos kerjanya.
2. Mengasah keterampilan profesional di bidang digital
Karena setiap keluarga punya budaya penggunaan gawai dan kebijakan terkait gawai yang berbeda, hal pertama yang sebenarnya ingin saya ketahui adalah:
~ bagaimana pola pemakaian gawai/digital oleh orangtua? Proses produktif apa yang digunakan orangtua memakai gawai/digital? Apakah orangtua membuat video, membuat slide, melakukan foto, membuat podcast, dll?~ bagaimana pola pemakaian gawai oleh anak selama ini? Gawai dipakai apa saja? Kapan gawai dipakai anak? Aturan main apa terkait yang Anda terapkan untuk anak-anak?
Pertanyaan tentang kondisi saat ini penting saya sampaikan karena mempengaruhi kebijakan alamiah tentang gawai yang perlu dibuat oleh keluarga.
Jika orangtua selama ini tidak melakukan proses produksi/profesional terkait digital/gawai, proses pembimbingan anak akan menjadi lebih sulit. Orangtua biasanya bisa “menyuruh” anak melakukan dan anak belum tentu melakukannya. Jika anak mengalami kesulitan, orangtua tidak bisa mendampingi.
Dalam kondisi seperti ini, pilihannya ada 2:
~ orangtua belajar bersama anak sehingga bisa mendampingi dan memberikan petunjuk pada anak. Ini kondisi ideal yang butuh effort orangtua, tapi akan sangat membantu dalam proses pendampingan anak.“Yuk kak, kita sama2 belajar bikin foto yang cakep. Kita sama2 belajar food photography. Jadi, setelah kakak memasak, kita foto supaya hasilnya cakep.”
“Yuk kita sama2 belajar bikin video. Ayah juga belum bisa, tapi ayah mau belajar. Kalau kita bisa bikin video cakep, kegiatan2 yang kita lakukan bisa divideokan dengan bagus.”
~ orangtua memilih kegiatan non-digital yang dikuasai sebagai pintu masuk pembimbingan profesionalitas. Jadi, kegiatan non-digital dijadikan sebagai pintu masuk mengasah kapasitas profesional anak.
3. Kebijakan gawai di keluarga
Secara umum, kebijakan penggunakan gawai terdiri 3 aspek:
~ apa yang boleh dimainkan (kurasi)
~ kapan boleh main (frekuensi)
~ berapa lama mainnya (durasi)Kebijakan ini harus dibuat dan dikomunikasikan bersama anak. Tak ada benar dan salah. Ukuran benar-salahnya adalah dampak pada anak dan keluarga:
~ apakah bikin happy?
~ apakah bikin produktif?Jadi, bisa diatur:
~ pemakaian bebas untuk hiburan
~ pemakaian produktif sesuai petunjuk dan kesepakatan bersamaJangan semuanya produktif karena pasti tidak asyik. Tapi juga jangan semuanya hiburan karena bisa membuat anak tidak terlatih memanfaatkan gawai secara produktif.
Begitu kurang lebihnya, kak.
Semoga membantu.
Jika ada pertanyaan lanjutan, silakan disampaikan.
November 6, 2021 at 4:21 pm #6764Anonymous
GuestHalo Mas Aar,
Kalo saya lihat videonya, ini banyak melibatkan gadget untuk membuat tulisan di blog, membuat video, bernyanyi di smule, membuat desain, dsb.
Pertanyaan saya bagaimana mengatur anak anak dalam hal penggunaaan gadget ? apakah digunakan hanya pada saat membuat produksi saja ? karena kalau seperti itu biasanya mereka tidak menarik, karena seolah olah mereka seperti diberi tugas untuk membuat.
Trus bagaimana cara membilangi anak supaya proses ini baik untuk kamu kedepan ?
btw anak saya perempuan kelas 3 SD.
terima kasih
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.