Pengembangan Keterampilan Sosial

Belajar Parenting Forums 10 Keterampilan Dasar Anak Pengembangan Keterampilan Sosial

  • This topic is empty.
Viewing 11 posts - 1 through 11 (of 11 total)
  • Author
    Posts
  • #4635
    Aar
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #7239
    Anonymous
    Guest

    Mas aar dan mbak Lala, anak saya usia pra sd dengan adiknya yg beda usia 1.5 th. Mereka selalu beraktivitas bersama hingga saya seringkali sulit mendeteksi ketertarikan dari masing2 anak. Dari preference warna, permainan, makanan, dan bahkan untuk mengidentifikasi apakah satu dan lainnya merupakan introvert atau extrovert. bisakah membantu saya bagaimana mengatasinya?

    #7236
    Aar
    Keymaster

    Ummu Zuhri,

    Ada anak-anak yang memiliki ketertarikan luas, ada anak yang fokus. Itu hal yang biasa terjadi pada anak-anak, kak. Tidak perlu dikhawatirkan. Pada awalnya, anak-anak cenderung menerima apapun stimulasi yang diberikan oleh orangtuanya. Itu hal yang baik dan sangat memudahkan orangtua.

    Jika anaknya memiliki minat yang luas dan adaptif terhadap apapun yang diberikan oleh Ibu, maka tugas Ibu adalah memaparkan anak dengan beragam pengalaman berkegiatan, misalnya: main sendiri, main di rumah dan main sama teman2. Kegiatan baca buku dan bersepeda. Kegiatan art dan fisik.

    Dari beragam jenis kegiatan yang dilakukan anak, nanti lama2 akan kelihatan hal yang lebih disukai anak dan hal yang kurang disukai.

    Dalam konteks keterampilan sosial, kecenderungan ekstrovert dan introvert akan mulai terlihat ketika anak mulai berhubungan dengan anak lain. Apakah dia langsung akrab dan bisa langsung terlibat, atau dia hanya mengamati dari jauh dan terlihat malu-malu.

    Jadi, PR-nya ada 2:
    ~ memaparkan anak dengan beragam kegiatan dan pengalaman
    ~ mengamati anak dalam konteks hubungan dengan teman2 di luar (nanti setelah masa pandemik berakhir)

    #6788
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Fadilah,

    Terima kasih atas pertanyaannya.

    Dalam konteks keterampilan bersosialisasi, ada 2 aspek penting yang perlu diperhatikan:
    ~ karakter personal anak (ekstrovert vs. introvert)
    ~ keterampilan sosial

    Anak introvert itu ada sebagaimana orangtua introvert. Introvert ini ada di berbagai profesi dan tidak ada masalah.

    Orang introvert itu merasa nyaman dalam sendirian dan kelompok kecil, lebih senang memperhatikan daripada bercakap-cakap akrab, membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial baru. Jika dibutuhkan, orang introvert bisa berkomunikasi dengan orang lain. Tapi jika ada pilihan, introvert lebih suka menghindari pesta dan memilih mengobrol bersama sahabat atau menikmati kesendirian.

    Mengapa orang introvert bisa berkomunikasi? Karena mereka memiliki keterampilan sosial (social skills). Mereka tahu bagaimana berbicara dengan baik, berkenalan, bercakap-cakap, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, dll.

    Nah, yang perlu dilatih untuk anak introvert adalah keterampilan-keterampilan ini.

    Caranya:
    ~ bangun dalam komunikasi di keluarga bersama Ayah, Ibu, dan saudara. Bimbing anak dan berikan masukan kepada anak tentang cara berkomunikasi yang baik. Jika anak melakukan kesalahan komunikasi, berikan masukan dan lakukan koreksi, jangan dibiarkan.
    ~ libatkan anak dengan transaksi sosial, misalnya: berbelanja di tukang sayur, toko, supermarket, dan pasar.
    ~ saat sedang dalam kegiatan di luar bersama keluarga, minta anak untuk aktif terlibat. Misalnya: menjadi orang yang memesan makanan saat pergi ke restoran, bertanya ke satpam saat di mal, dsb.
    ~ libatkan anak dengan kegiatan sosial, mulai dari hal-hal yang dikenal dan nyaman, misalnya: kegiatan yang diikuti orangtua (masjid, RT, dan sebagainya)
    ~ libatkan anak dengan kegiatan2 organisasi, seperti: pramuka, olahraga beregu (basket, sepakbola, futsal, dll).

    Nah, karena anak adalah tipe introvert, kunci penting yang perlu diperhatikan orangtua adalah:
    ~ anak butuh waktu untuk beradaptasi dengan suasana baru. Beri kesempatan anak beradaptasi, jangan didorong dan dipaksa.
    ~ pandemi baru usai dan kontak sosial baru mulai dibuka. Sebagian besar orang yang adaptasi untuk berinteraksi secara sosial bersama orang lain. Berikan keluasan hati Anda untuk melihat anak berproses

    Demikian kak, semoga membantu.

    #6780
    Anonymous
    Guest

    Mas aar anak2 saya 11 tahun sudah terlihat memiliki minat dalam menulis cerita novel,namun secara sosial saya lihat dia masih kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya.
    Terlebih lebih dia tipe introvert.Terlihat sepertinya dia kebingungan untuk memulai.
    Jika ada yang mendekati duluan & ngajak bermain baru dia bisa berbaur.
    Tapi jika tidak ada mendekati duluan, dia terlihat bingung mau memulai berkenalan seperti apa,akhirnya saat yang lain sudah saling bermain,dia malah sendirian tak punya teman.

    Saya juga ketika kecil memiliki sifat yang sama mas War seperti itu.

    Tapi saya tidak mau terjadi juga pada anak saya.
    Kira kira apa yang harus saya lakukan mas Aar untuk mengajari dia keterampilan bersosialisasi juga bagaimana meningkatkan kepercayaan dirinya?

    Terima kasih banyak sebelum nya mas Aar

    #6762
    Anonymous
    Guest

    Pagi kak Aar, berkaitan ketrampilan sosial, anak saya juga cenderung introvert apabila diluar rumah,, cenderung diam dan malu malu.. Anak saya hampir 6 th dia ingin bisa karate seperti tupai di spongebob. Saya pun mengajak kakak melihat anak anak latihan tekwondo di desa sebelah, (ditempat kami belum ada karate), agar anak saya bisa bersosialisasi dengan teman sebaya jadi saya daftarkan tekwondo. Setelah pulang dari melihat taekwondo.
    Hari berikutnya malah kakak ga mau ikut latihan, karena dia bilang dia ga bisa. Saya menjelaskan biar bisa ya ikut latihan.. tetapi kakak tidak mau…dia seperti takut ga bisa.
    Bagaimana cara menumbuhkan percaya diri dan tidak takut mencoba? Ikut latihan tekwondo,, terimakasih

    #6760
    Aar
    Keymaster

    Kak Anissa,

    Sangat dipahami kondisinya, kak. Apalagi selama pandemi anak tidak banyak berinteraksi dengan orang lain secara intens.

    Ada 2 isu yang bisa dibahas di sini:

    ~ anak-anak yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap sebuah hal
    Ketika melihat sebuah hal di video/film/Youtube dan terlihat keren, anak membayankan hal tersebut mudah dilakukan. Ini terjadi pada craft, masakan, sulap, dan aneka hal lainnya. Anak belum tahu bahwa keahlian itu butuh waktu belajar dan berlatih yang sangat panjang. Dia merasa bisa, ingin mencoba, dan kemudian kecewa karena gagal.

    Nah, tugas orangtua adalah menemani dan membantu mengelola ekspektasi anak.

    “Keahlian karate itu memang tidak mudah dan perlu belajar, kak. Prosesnya belajarnya panjang, sedikit demi sedikit. Coba kita lihat jenjang belajar karate mulai sabuk putih, kuning, hijau, biru, sampai hitam. Itu prosesnya panjang dan bertahun-tahun. Kakak bagus pengin belajar karate/taekwondo. Bunda akan temani kalau kakak mau belajar setahap demi setahap. OK?”

    ~ anak introvert yang sedang belajar keterampilan sosial.
    Prosesnya memang lebih lambat karena anak introvert cenderung mengamati dulu sebelum masuk lebih jauh dalam satu lingkaran sosial. Oleh karena itu, sebaiknya anak tidak langsung dicemplungkan ke sebuah kegiatan yang berkomitmen. Biarkan dia melihat-lihat dulu, tenang-tenang. Jika anak memilih untuk mundur, berikan kesempatan.

    Supaya anak tidak merasa gagal, berikan ruang yang lebih santai dan peluang berhasilnya besar. Jangan langsung didorong berkomitmen dalam kegiatan bersama anak-anak lain.

    ~ membangun kepercayaan diri
    Jika kondisinya memungkinkan, akan sangat baik jika anak ditanya apakah ingin mencoba lagi.

    “Kakak masih mau mencoba lagi? Kalau mau, nanti Bunda temani. Semua hal memang dimulai dari sederhana dan kayaknya sulit. Seperti dulu kakak waktu kecil belajar jalan. Kakak harus merangkak dulu, tidak bisa langsung jalan. Kakak berdiri dan jalan pelan2. Kakak jalan dan jatuh. Tapi kakak tidak berhenti mencoba sehingga akhirnya kakak bisa berdiri dan berjalan dengan lancar.”

    Jika anak tidak mau, cari kegiatan lain yang lebih sesuai dengan anak. Goalnya adalah membangun kepercayaan diri anak dan agar dia merasa berhasil.

    Demikian kak, semoga membantu.

    #4933

    selamat pagi kak lala, kak aar.

    saya ada pertanyaan,

    anak saya, dulu saat masih TK, temannya banyak sekali, hanya saja, dia seperti belum bisa membedakan mana aktivitas baik dan buruk. sekedar ikut, temannya ngapain, dia ngapain juga.

    setelah SD ini kami memutuskan untuk homeschooling.

    kami tetap ngaji di TPQ saat sore hari, TPQ ini teman beragam. dan karena kami sering input di rumah tentang hal baik dan buruk. anak saya saat di TPQ jadi males, karena menyaksikan, kebanyakan teman2nya berkelakuan tidak baik menurut standar anak saya. dia sedih, dan ga semangat sekolah, karena menurutnya, dia jadi gak bisa “make a friend” kalau kata dia.

    gimana ya menjelaskan ke anak tentang ini?

    #4931
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @dina-oktaviana,

    Terima kasih sharingnya.

    Saya berusaha memahami kondisi yang sedang dialami dan agak mengalami kesulitan.

    Secara umum, pergaulan anak kecil (dalam sudut pandang saya) tidak terlalu bermasalah. Ada masalah-masalah kecil, tapi itu bagian dari dinamika yang terjadi di lapangan yang menjadi proses belajar anak secara sosial.

    “Apa saja masukan yg kakak sampaikan sehingga membuat anak berpikir teman-temannya “sangat jelek” sehingga merasa tidak nyaman untuk berteman lagi? Apakah aturan benar/salah yang diberikan terlalu ketat menurutnya?”

    Yang perlu dilakukan mungkin bukan melakukan aksi untuk membuat anak paham, tetapi mendengarkan perasaan dan sudut pandangnya:

    “Menurut kamu bagaimana?”

    “Bagusnya bagaimana?”

    Proses mendengarkan dengan tulus itu perlu dilakukan karena anak bukan kertas kosong yang bisa ditulisi sekendak hati orangtua/orang dewasa. Anak punya potensi nalar/logika dan berusaha menggesekkan yang diterimanya dengan dirinya.

    Jika kita terlalu kaku dan memaksakan nasihat/masukan kita, yang muncul adalah perlawanan baik terbuka maupun tersembunyi. Dan itu bisa menjadi sumber konflik dalam jangka panjang.

    Dengan upaya mendengarkan anak secara tulus, kita jadi memahami concern anak dan bisa mencari solusi2 praktis di lapangan sesuai kondisi saat ini.

    Demikian kak, semoga membantu.

    Jika ada informasi tambahan yang lebih detil, akan sangat membantu saya memahami kondisinya.

    🙏

    #4929

    salah satu inputan yang kami lakukan adalah

    “tempat mengaji bukan tempat untuk lari-lari, maka dari itu, bila ingin lari harusnya saat di lapangan atau saat ikut taekwondo, misalnya”

    “kemudian masalah antri, kami menanamkan pada anak2 kami, agar selalu antri. ditempat mengajinya selalu berdesakan berebut pulang duluan. dan ini mungkin kurang nyaman juga dan ditentang oleh anak kami”

    ” kemudian lempar batu, kerikil dan hal-hal yang berbahaya. kami memang sampaikan hal itu tidak boleh, jika ada yang terkena maka bisa sakit”

    apakah inputan tersebut tergolong kaku?

    #4928
    Aar
    Keymaster

    Kak @dina-oktaviana

    Dari sisi konten, masukan yang kakak berikan itu bagus dan tidak ada masalah.

    Sebelum mencari solusi, PR terbesar kita adalah mencoba mengenali apa penyebab masalahnya: mengapa resistensi anak sangat besar terhadap nasihat itu?

    Karena komunikasi bukan hanya perihal isi materinya, tapi ada konteks, cara penyampaian, termasuk kondisi penerima pesan (anak) yang mempengaruhi penerimaan/penolakan pesan.

    Ini yang perlu digali lebih mendalam oleh kakak.

    Misalnya:

    • Apakah pesan itu disampaikan sekaligus sehingga terasa berat dan jadi banyak aturan yang dirasakan mengekang oleh anak?
    • Apakah pesan itu disampaikan dengan intonasi yang membuat anak tidak nyaman?
    • Apakah anak sedang dalam kondisi tidak nyaman saat menerima pesan?
    • Dst

    Jika tidak yakin dengan penyebab penentangan anak, hal yang bisa kita lakukan adalah bertanya langsung pada anak:

    • Apa yang tidak kamu setujui? Mengapa kamu tidak setuju?
    • Kamu tahu mengapa ada petunjuk itu?
    • Menurut kamu, bagaimana sebaiknya?

    Diskusi itu yang perlu dilakukan bersama anak dalam kondisi santai.

    Kunci efektivitas pesan/perintah/nasihat adalah kesiapan anak menerima dan proses penyampaian yang asyik. Dalam proses penyampaian yang asyik itu termasuk kesediaan kita berdialog bersama anak.

    Misalnya, daripada menasihati jangan ini-itu dan harus ini-itu, kita bisa menggunakan kalimat tanya:

    ~ Kenapa sih di masjid lari-larian? Menurut kakak itu bagus, nggak? Kalau yang bagus bagaimana?

    ~ Kenapa sih kalau harus rebutan keluar masjid? Kalau nggak ikut rebutan efeknya apa?
    ~ Kenapa sih pada seneng lempar-lemparan kerikil? Emang nggak sakit kalau kena? Ada yang pernah sakit nggak? Ada yg pernah nangis nggak? Emang nggak ada mainan lain?

    Demikian kak, semoga membantu proses dialog dan mencari solusi yang asyik bersama anak-anak.

    🙏

Viewing 11 posts - 1 through 11 (of 11 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top