Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Dini › Persiapan Awal Homeschooling Usia Dini
Tagged: hsud, legalitas, mengulangtk, umurhs
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
February 2, 2022 at 8:22 pm #6702
Anonymous
GuestHalo kak, anak saya tahun ini usia 4 tahun, saya dan suami karyawan yang senin-jumat bekerja sampai drumah sktr jam 7 mlm. Anak drumah bersama mba pengasuh. Untuk bonding karena waktu bersama sangat terbatas kami sangat memanfaatkan waktu stlh plg kerja dan weekend fultime bersama anak.
Apakah dgn kondisi kami berdua bekerja msh memungkinkan untuk hs?
Terima kasihFebruary 2, 2022 at 8:23 pm #6701Aar
KeymasterHalo kak Rika,
Tidak mudah menjawab pertanyaan Anda karena proses-proses yang terjadi dalam homeschooling usia dini biasanya terbangun melalui interaksi informal yang terjadi bersama anak secara terus-menerus. Semakin banyak waktu yang dialokasikan bersama anak, semakin banyak stimulasi yang diperoleh anak dari orangtuanya. Jadi, memang tidak ada waktu khusus yang dialokasikan seperti jam sekolah di TK/Preschool.
Jadi, biasanya untuk anak usia dini pendampingan salah satu orangtua memang krusial untuk memberikan kualitas pada anak dalam hal: memberikan rasa aman & nyaman, membangun kebiasaan baik, serta melakukan stimulasi terkait keseharian.
Tapi kehidupan tidak berjalan secara ideal.
Yang bisa kita lakukan adalah mencari solusi optimal untuk keluarga kita. Apalagi dalam kondisi pandemi seperti saat ini anak juga tidak memungkinkan untuk masuk ke preschool.
Nah, apa yang bisa dilakukan untuk memberikan stimulasi optimal pada anak usia 4 tahun dengan kondisi keterbatasan waktu? Berikut ini beberapa ide yang mungkin bermanfaat bagi Anda:
~ memperkuat bonding & connection saat kondisi memungkinkan. Kapan kondisi yang memungkinkan itu: apakah bisa pagi sebelum bekerja + malam setelah pulang bekerja? Atau hanya malam pada waktu pulang bekerja?
~ berikan sentuhan-sentuhan personal saat Anda datang, misalnya: membawa โoleh-olehโ untuk anak. Oleh-oleh itu tak harus barang berharga, tetapi bisa menjadi pertanda perhatian Anda kepadanya, misalnya: kartu yang Anda buat di kantor, bunga yang Anda temukan di jalan, origami, makanan kecil, dsb.
~ manfaatkan waktu yang ada untuk membangun bonding dengan banyak mengobrol, bertanya dan mendengarkan ceritanya, membacakan buku cerita, kegiatan bikin2 balok, dan sebagainya.Tentu saja ini pasti melelahkan. Tapi itulah proses2 yang bisa dilakukan.
~ jika kondisinya memungkinkan, akan baik sekali jika pada saat pagi Anda sempat berinteraksi dengan anak: menjadi wajah yang pertama kali dilihat anak, dicium anak, dan melakukan kegiatan sederhana seperti sarapan bersama.
~ jadikan pengasuh sebagai partner Anda. Jelaskan nilai-nilai penting Anda terkait pengasuhan, berikan bekal pada pengasuh berkaitan keseharian yang perlu dilakukan bersama anak. Bekali dengan materi siap pakai yang bisa mempermudah keseharian. Pantau prosesnya dengan cara mendengarkan cerita anak pada saat Anda bertemu pada malam hari.
~ manfaatkan Checklist Parameter Perkembangan Anak sebagai panduan untuk Pengasuh dan Anda saat melakukan kegiatan dan stimulasi bersam anak.
Demikian kak Rika, semoga jawaban ini membantu dan bermanfaat buat Anda.
March 14, 2022 at 11:25 am #6562Miva Aziza
MemberAssalammualaikum, Mas Aar dan Ka Lala,
Saat ini anak saya berusia 5 tahun, mungkin sedikit terlambat untuk mengenal HS Usia Dini. Saya memutuskan resign dari tempat mengajar saat anak saya lahir dan hanya mengajar kelas privat maksimal 5 jam per pekan.
Awalnya saya merasa sepertinya saya akan ketinggalan jauh dalam menerapkan HS Usia Dini ini, tapi ternyata alhamdulillah, apa yg saya jalani selama ini bersama anak di rumah sudah termasuk HS Usia Dini.
Terima kasih inspirasinya. Saya pernah mengalami insecure ketika melihat anak-anak teman yg mengikuti pendidikan usia dini di lembaga tertentu. Mereka terlihat jauh lebih matang dan perkembangannya lebih cepat.
Anak saya menderita speech delay, dan saya baru menyadarinya saat usia dia 3 tahun, sehingga penanganannya sedikit terlambat. Saya berfokus pada mengejar ketertinggalan kemampuan berbicaranya. Apakah tidak apa-apa jika saya lebih mengutamakan satu aspek perkembangan daripada yg lain?
Salam hangat,
Miva
March 14, 2022 at 4:11 pm #6561Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Halo kak @miva.aziza
Terima kasih pertanyaannya.
Di era informasi yang sangat terbuka saat ini, salah satu tantangan orangtua adalah saat melihat praktek2 pengasuhan dan kehidupan orang lain. Juga cerita2 diantara pertemanan yang mendorong proses2 kompetitif yang tidak sehat untuk orangtua maupun anak.
Orangtua bisa merasa insecure, takut salah/ketinggalan, dan kemudian mengambil pola2 pengasuhan yang kurang tepat.
Kunci penting dalam proses pengasuhan usia dini adalah rasa aman dan tenang orangtua, yang kemudian ditransfer kepada anak melalui interaksi keseharian yang membahagiakan. Orangtua merasa nyaman dengan kehidupannya dan menerima kondisi anak apa-adanya, termasuk kekurangan-kekurangan yang mungkin dimiliki oleh anak.
Goal utama dalam proses anak usia dini adalah:
- membangun rasa aman dan nyaman anak yang buahnya adalah kepercayaan diri anak
- membangun kemampuan-kemampuan dasar anak seperti terkait komunikasi & gerak fisik anak
Dalam proses ini, kakak bisa memberikan porsi lebih besar pada area-area tertentu yang ingin diperbaiki, misalnya speech delay. Kakak bisa memperbesar porsi kegiatan mengobrol, membacakan buku, dan kegiatan lain terkait terapi wicara.
Karena waktu yang dijalani sehari-hari panjang dan model HS Usia Dini bukan belajar materi akademik, kakak tetap bisa menstimulasi aspek lain pada anak-anak melalui kegiatan keseharian, termasuk kegiatan fisik dan stimulasi sensori.
Yang penting kegiatannya dijadikan proses bermain dan bersenang-senang ya kak…
Semoga membantu.
June 21, 2023 at 3:21 pm #5459Dian
MemberHalo Bu Lala dan Pak Aar,
Saya ingin bertanya terkait HSUD ini. Saya jelaskan sedikit kondisi anak kedua saya. Mika tahun 2023 ini umur 6th3bulan. Usia PG dan TK A (4tahunan) Mika HS mengikuti tips tips di rumah inspirasi sambil bundanya ini belajar. Kemudian umur 5th3bulan Mika TK B di sekolah formal.
Overall respon Mika terhadap pengalaman sekklah adalah Kurang menyenangkan. Saya semakin ngeh mengenai hal ini di akhir sekolah ini. Sudah setahun sekolah tapi dia masih susah bangun pagi, rewel, menolak sekolah, dg tegas memilih PKBM yg dulu diikutinya. Lalu dia seperti terseret seret emosinya, harus cepat adaptasi, harus cepat sosialisasi, harus ini itu. Banyak reaksi nya yg membuat saya sedih. Seperti diacak acak sekali emosi dan rutinitasnya. Bangun buru buru, berangkat buru buru, lalu adaptasi dg teman itu dia kudu ramah mau menyapa dll sedangkan dia selalu observasi dulu segala hal sebelum terjun melakukan dg tekun. Saat gladi resik hari ini, dia memegang erat tangan saya tdk mau ke panggung, nangis sampai acara terhambat. Saya tenang menghadapi ini dan memeluknya lalu biarkan dia tdk ikut gladi resik pentas.
Dari banyak pengalaman memperhatikannya. Rasanya saya ingin lebih memperlambat langkahnya dulu. Karena momen momen yg klo saya lihat terlalu overwhelming buat Mika. Nah pertanyaan saya :
– apakah memungkinkan saya mengulang TK B Mika di umur 6th3bulan ini? Sehingga SD 7th3bulan. Saya sudah niatkan Mika HS tahun ini.
– jika mengulang TK B, bagaimana menuturkan hal ini kepada Mika? Memang dia pindah sekolah dari formal ke HS. Saya bingung alasan dan cara menjelaskannya bahwa dia pindah HS dan tetap TK B. Tujuan saya slowing down ingin bermain main dulu dengan Mika, memperbaiki bonding saya (karna sering tersulut emosi frustasi lihat dia super alot brkt sekolah)
– apakah pengulangan ini akan mempengaruhi legalitas? Karna TK A – HS. Lalu TK B – Formal. Lalu ulangi TK B – HS
Mohon masukannya
Terimakasih banyak sebelumnya pak Aar bu Lala
Salam
Sofie
June 21, 2023 at 7:17 pm #5457Aar
KeymasterHalo kak @dian-sofianty-pratiwi
Terima kasih pertanyaannya.
Untuk proses HS, pengelompokannya tidak seketat sekolah.
Proses pendaftaran di PKBM sebenarnya dimulai saat anak usia kelas 1 SD (7 tahun).
Pendaftaran di PKBM saat anak di bawah SD sebenarnya tidak bermakna apapun secara legal. Itu hanya berfungsi menenangkan orangtua supaya anak punya ijazah TK (jika mau daftar ke SD).
Yang penting adalah kualitas kegiatan bersama anak. Anak menikmati kesehariannya dan bertumbuh optimal sesuai usianya.
Jika kakak mau HS, proses yang utama ada di rumah. Pendaftaran di PKBM hanya sebagai tambahan legalitas.
Tak perlu dibahaskan tentang naik kelas atau tetap di kelas yang sama. Kegiatan di PKBM juga perlu dijadikan sebagai pelengkap saja.
Proses yang penting untuk dilakukan orangtua saat anak usia dini adalah:
1. Melakukan kegiatan bersama anak dengan mindful
2. Gunakan panduan checklist parameter perkembangan/tumbuh kembang anak
3, Jenis kegiatan bebas dengan mengacu pada tumbuh kembang tersebut, serta kegiatan lain untuk membangun kebiasaan baik dan kemandirian anak.
4. Pendaftaran di PKBM dan pendaftaran di PKBM bersifat optional.
Demikian kak, semoga membantu yaa.. ๐
November 22, 2023 at 8:03 am #4949R Fardhany
MemberAssalamualaikum Wr. Wb. Mas Aar & Mbak Lala salam kenal. Saya seorang ibu. Saya bersyukur sekali menemukan rumah inspirasi. Anak-anak saya laki-laki usia 5 tahun dan 6 tahun. Sebelumnya sebenarnya saya sudah melakukan homeschooling mandiri sejak anak-anak saya bayi. Hanya saja, saya melakukan jurnaling kegiatan anak-anak hanya melalui merekam video atau foto, tanpa jurnaling tertulis.
Anak-anak juga pernah masuk TK karena bujukan neneknya yang kurang yakin dengan homeschooling. Namun, hanya bertahan beberapa bulan saja mereka tidak betah di TK yang diharuskan masuk kelas, rambut dicukur pendek (karena anak saya suka rambut panjang, enggak mau dicukur rambutnya), lalu diancam gurunya “tidak boleh masuk sekolah kalau rambut enggak dicukur dan ancaman pelanggaran aturan lainnya”. Walhasil anak saya mogok sekolah selama sebulan. Anak-anak minta kembali ke homeschooling. Karena kasus anak-anak, akhirnya saya memutuskan untuk kembali homeschooling lagi, belajar lagi searching tentang homeschooling hingga menemukan rumah inspirasi.
Selain praktik HS bersama saya, anak-anak juga saya ajak mengaji di guru ngaji dekat rumah. Hanya saja anak-anak saya masih minta ditungguin. Saya tanya kakaknya yang usia 6 tahun, kenapa enggak mau ditinggal? Jawabannya karena takut. Takut apa? Takut kalau enggak ada mamah. Anak-anak oleh Pak Kyainya sudah diminta dan dibujuk untuk berangkat sendiri dan ditinggal saja, dikasih tahu juga anak-anak yang lain enggak ada yang diantar oleh orang tua ataupun ditunggu orangtuanya. Agar bisa main bersama.
Mengingat dulu saya pernah bercerai dan ada kejadian anak pertama saat usia 13 bulan pernah diculik ayah kandungnya dan dipisahkan dengan saya selama sebulan. Anak pertama saya juga diterapi psikologi, karena anak saya sempat trauma pasca penculikan. Belum lama ini saya menikah lagi. Sekarang anak-anak saya tinggal bersama saya dengan ayah sambung.
Yang ingin saya tanyakan:
– Anak saya yang kakaknya sudah usia 6 tahun tapi apakah wajar enggak mau ditinggal atau berangkat sendiri seperti anak-anak lainnya yang seusia dia atau bahkan lebih muda? Apakah itu efek dari kejadian penculikan? Jujur ini agak buat saya khawatir terkait kemandirian anak-anak.
– Bagaimanakah bonding dengan ayah sambungnya agar anak-anak tak merasakan kehilangan figur ayah? Mengingat ayah kandungnya hanya sekali menengok anak-anaknya setelah kami bercerai.
Terima kasih.
November 23, 2023 at 4:13 pm #4948Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Halo kak @r-fardhany,
Terima kasih sharingnya yang lengkap sehingga membuat saya lebih memahami konteks kondisi yang sedang Anda alami.
1. Setiap anak unik
Setiap anak unik dan memiliki tantangan yang berbeda-beda. Yang sering menjadi masalah, banyak anggota masyarakat yang cenderung menstandarkan dan terbiasa memaksa anak-anak agar menyesuaikan dengan standar yang berlaku di masyarakat.
Sementara itu, kita malas atau merasa tidak perlu menjelaskan kondisi anak/kita kepada orang lain.
Jadi, secara umum kakak perlu fokus menerima dan mendampingi proses anak serta agak mengabaikan masukan orang yang menurut kakak tak sesuai dengan kondisi anak dan keluarga kakak.
Apalagi anak pernah punya pengalaman buruk dan traumatik terkait penculikan. Dia butuh waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan lingkungan baru yang tak sepenuhnya dia percaya atau dia kenal.
Untuk menjadi mandiri, yang dibutuhkan adalah anak merasa aman dan nyaman. Ini basic-nya. Jika dia merasa aman dan nyaman dengan dirinya sendiri, secara alamiah anak akan mulai keluar menjangkau sekitarnya.
Nah, tugas kakak adalah membantu anak memberikan rasa aman dan nyaman ini.
Jika anak masih merasa butuh pendampingan, dampingi agar dia merasa tenang dan nyaman.
Jika ada orang dewasa tertentu (misalnya guru ngaji) yang menurut Anda bisa membantu memberikan rasa aman dan nyaman pada anak, Anda bisa ceritakan kondisi anak yg pernah trauma penculikan sehingga dia tidak terlalu menekan anak terkait aspek kemandirian terhadap orang lain.
2. Bonding dengan Ayah
Manfaatkan kehadiran ayah sambung sebagai figur baru yang bisa menjadi sosok laki-laki pelindung untuk anak. Bangun bonding antara ayah sambung dengan anak dengan cara sering melakukan kegiatan yang santai dan disukai apapun, misalnya: main bola, memancing, naik motor, masak-masak, mengaji bersama, atau hal-hal yang membuat anak merasa tenang dan ada yang melindunginya.
Proses ini mungkin tak mudah dan membutuhkan waktu. Tapi proses semacam ini perlu dilakukan sedikit demi sedikit sehingga anak menemukan kehidupan baru yang nyaman bersama keluarga (ayah) baru.
Demikian kak, semoga masukan ini membantu.
Silakan ditanyakan lebih jauh jika ada hal yang perlu dieksplorasi lebih mendalam.
๐
December 4, 2023 at 11:39 am #4935R Fardhany
MemberTerima kasih Mas Aar & Mbak Lala atas masukkan berharganya. Sebenernya saya sudah mengabaikan masukan dari neneknya, karena tahu kondisi anak pertama yang pernah trauma pasca penculikan ayah kandungnya. Mungkin saya harus belajar lebih tegas lagi menolaknya.
Hanya dilematis aja, neneknya terlalu ikut campur dengan mempengaruhi anak kedua, agar sekolah TK formal. Apalagi saya dulu belum menikah lagi, pasca perceraian, kami dipaksa tinggal dengan orangtua.
Mengingat semua lingkungan di tempat kami tinggal saat itu, semuanya sekolah TK formal. Anak yang kedua jadi merengek terus menerus minta sekolah TK Formal. Walhasil saya turuti, tapi enggak berjalan lama. Anak-anak jadj tahu sendiri enggak enaknya sekolah TK formal dan kenapa saya sebagai ibu memilih HS sejak dini.
Sejak kejadian penculikan anak saya. Saya juga lebih privasi, tertutup, selektif sekali menceritakan kondisi anak-anak ke orang yang benar-benar saya percaya. Saya sampai tidak menceritakan kondisi anak ke guru ngajinya (ada ketakutan tersendiri untuk saya kalau-kalau guru ngajinya juga dihasut untuk memisahkan anak-anak dengan saya).
Meskipun hak asuh jatuh ke tangan saya. Namun, pihak mantan suami masih enggak terima dengan hasil sidang. Meskipun saya sudah memberikan hak-hak, pihak mantan suami dipersilahkan menjenguk anak-anak. Tapi tetap saja, ada pihak-pihak yang memfitnah saya dan tidak suka jika saya cerai dengan damai. Sebab itu saya, sangat selektif bercerita tentang keadaan saya.
Sekali lagi, masukan Mas Aar & Mbak Lala sangat berguna. Alhamdulillah saya terapkan sedikit demi sedikit dengan ayah sambungnya, ngobrol dari hati ke hati.
Kini kami tinggal ngontrak rumah berempat. Ayah sambung kini ada lebih banyak waktunya untuk bermain bersama anak-anak dan mau olahraga bersama, daripada fokus bekerja. Meskipun baru begitu saja saya sangat bersyukur anak-anak bahagia dan merasakan figur ayah. Ditambah lagi dari ayah sambung, saya sudah mulai hamil 14 minggu. Mungkin sifat kebapakan-annya mulai muncul.
Semoga saja. Harapan saya dengan kehadiran anak kandungnya, semoga ayah sambungnya tetap sayang sama anak-anak, meski bukan anak kandungnya.
December 5, 2023 at 3:24 pm #4934Aar
KeymasterTerima kasih untuk lanjutan informasinya, kak.
Semoga perjalanan kakak semakin ringan dan semakin mulus. Semoga kakak senantiasa dikuatkan menjalaninya dengan sebaik-baiknya bersama pasangan.
Doa kami, semoga yang terbaik selalu mengiringi kakak, anak-anak, dan keluarga.
๐
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.