Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Dini › Persiapan Awal Homeschooling Usia Dini
Tagged: hsud, legalitas, mengulangtk, umurhs
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
January 23, 2021 at 8:59 pm #7032
Anonymous
GuestBismillah…
Salam kenal kak Aar & kak Lala, senang sekali saya bisa bergabung disini,
Saya ibu rumah tangga kegiatannya berjualan di warung kecil dan suami bekerja pisah dengan kami atau tepatnya saya LDR, saya memutuskan HS usia dini karena tidak ada waktu untuk antar jemput sekolah apabila anak masuk lembaga sekolah, kegiatan anak sehari² bersama saya di warung, sudah berjalan 1 tahun anak mulai diajarkan calistung dll, karena di warung tidak begitu sibuk juga, namun karena saya mengajarinya tanpa ada komitmen, jurnal dll, mungkin keterbatasan ilmu saya jd merasa banyak kekurangan, kadang kala ada keinginan memasukan anak ke lembaga sekolah, namun karena basic saya juga guru ada kalanya saya berkata pasti bisa, yg ingin ditanyakan
1. Bagaimana menghilangkan keraguan supaya bisa lebih fokus dalam memilih HS ?
2. Apakah HS saya akan berhasil tanpa ada bantuan seorang ayah (jadi ketemu ayahnya dlm sebulan hanya 1 atau dua kali itupun cuma 2hari) ?
Terimakasih kak Aar& mbak Lala atas jawabannya dan saya mohon maaf apabila ada kata yg salah dalam bertanya disini 🙏🙏
December 18, 2021 at 5:30 pm #4616Mira Julia
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
December 18, 2021 at 5:31 pm #6750Anonymous
GuestKak @aar bagaimana saya memulai mengajar kan homeschooling untuk bayi di rumah?
December 18, 2021 at 5:32 pm #6749Aar
KeymasterOK kak Mia, kita akan bahas setehap demi setahap selama Kelas Online yaa..
Cara mulai paling sederhana adalah melakukan kegiatan sehari-hari dengan mindful bersama bayi. Bayangkan bahwa kita tak akan mengirimkan dia ke PAUD dan TKm bahkan mungkin tidak bersekolah. Jadi, hati kita benar-benar hadir dan tercurah saat bersamanya.
December 18, 2021 at 6:31 pm #6748Anonymous
GuestBismillaahirrahmaanirraahiim
Salam kenal dari kami di Bukittinggi.
Saya sudah simak penjelasan mengenai persiapan awal homeschooling usia Dininya.Kira kira nih ya, basic homeschooling usia Dini itu awalnya adalah pembentukan bonding orang tua dan anak, seperti itu bukan ya?
Nah. Kami sekarang ini adalah orang tua dengan 2 orang balita, yang pertama laki laki usia 4 tahun 4 bulan dan yang kedua perempuan usia 1 tahun 4 bulanan.
Alhamdulillaah Kami orang tua baik Ibu maupun Ayah diberikan kelapangan waktu untuk membersamai anak anak setiap hari sepanjang waktu pagi, siang, dan malam. Karna Suami saya bekerja dengan toko didepan rumah dan Saya sendiri full sebagai Istri dan Ibu Rumah Tangga.
Iya ,saya memutuskan untuk fokus di rumah dan keluarga, tidak berkarir di luar rumah. Saya benar benar berkeinginan untuk mengasuh anak sendiri, tidak titip ke orang tua. Anak kita kan amanah buat kita sendiri orang tuanya.
Saya ingin memberikan pengasuhan yang terbaik buat anak anak Kami.
Untuk bonding dengan waktu 30menit minimal untuk beraktifitas bersama anak sudah Kami lakukan. Setiap hari bareng mereka karna aktifitas Ayah Ibu ya di sekitar rumah saja umumnya.
Hasilnya sekarang yang dilihat, kedua anak Kami lengket sekali dengan Kami Ayah dan Ibu mereka.
Untuk berinteraksi dengan orang lain, mereka tidak begitu saja langsung mau disapa atau bersalaman misalnya, apalagi bermain dan bercerita. Begitu pun dengan bepergian. Kalau Ayah dan Ibu tidak ikut, mereka terutama yang laki laki 4 tahun tidak mau diajak oleh orang selain Ayah Ibu bepergian cukup jauh (berkendara) meskipun Yang ajak Masih anggota keluarga inti seperti nenek, kakek, paman, tantenya.
Padahal sudah cukup intens bertemu tiap hari atau tiap Minggu. Kalau bermain dan beraktifitas bersama mau selama Ayah Ibu ada disekitar mereka, tapi jika diajak bepergian oleh kakek, paman, tanpa Ayah Ibu, si anak lanang tidak mau.
Terus, ini sikap anak seperti itu apa wajar atau ada hal yang perlu disiasati mengenai sikap anak yang seperti itu ya, Mbak Lala / Mas Aar?
Kemudian, saya sudah setahun ini menjalankan bisnis dagang online berstatus distributor sebuah produk pakaian muslimah.
Setelah dijalani, bisnis ini agar terus berkembang dan berjalan semakin baik, sangat perlu sekali untuk dirawat dengan telaten, harus banyak lagi belajar dan tentu saja praktekin ilmunya. Kalau dipikir dan dirasa nih, nguras waktu tenaga dan pikiran untuk merintis dan mengembangkan bisnis ini. Saya sendiri adalah tipe pribadi yang fokus dan menyukai pencapaian maksimal untuk setiap hal yang saya tekuni, pelajari, dan kerjakan.
Nah, kira kira jika Saya merintis Dan terus mengembangkan bisnis ini sekalian belajar dan praktek homeschooling usia Dini ini apakah akan tetap memperoleh hasil maksimal sesuai harapan atau sebaiknya Saya benar benar fokus ke pengasuhan anak menjalankan homeschooling usia Dini ini dengan baik dan maksimal???
Selama saya menjalankan bisnis online ini, Saya jalanin kerja sendiri dibantu suami. Aktifitas medsos buat dagang online itu menyita waktu sekali buat saya. Melayani chat cabuy, update status dan postingan di medsos, update produk dari produsen, transaksi segala macam, wah sibuk kutak kutik pokoknya kalau diikutin semua.
Mau pakai tenaga bantuan karyawan, tetap saja harus mengedukasi mereka , kontrol, dan lebih memaksimalkan sediaan barang dagang beserta penjualannya. Karena ini kan fase awal rintisan bisnis ya harus maksimal usahanya biar tetap jalan dan berkembang. Baiknya apakah memang Saya fokus saja membersamai pengasuhan anak menjalankan homeschooling usia Dini ini atau bisa sekalian jalan rintis bisnis ya, Mbak Lala/Mas Aar? Galau Sayanya ini.
Status distributor ini dilain sisi merupakan sebuah aset usaha, disisi lain akan sangat menyita waktu dan perhatian juga.
Terimakasih atas perhatian dan tanggapan Mbak Lala/Mas Aar.
December 18, 2021 at 6:36 pm #6747Aar
KeymasterTerima kasih sharingnya kak.
Penjelasan yang cukup lengkap sangat membantu saya memahami situasinya.
Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan sebagai bahan masukan kak Indriana.
1. Bonding Ayah & Bunda
Betul sekali.
Hal yang sangat mendasar dalam proses HS Usia Dini adalah membangun bonding dan kedekatan antara anak dan orangtua.
Apa goalnya?
Goalnya bukan menciptakan ketergantungan anak pada orangtua. Goalnya adalah membangun rasa aman dan nyaman pada anak.
Jika anak merasa aman dan nyaman karena terpenuhi kebutuhan psikologisnya, itu menjadi pondasi penting untuk membangun kepercayaan diri anak. Jika anak percaya diri, dia akan berani mengeksplorasi dunia sekitarnya dan berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.
Apakah mungkin anak lengket pada orangtua, tetapi merasa tidak aman dan nyaman? Bisa. Ketika orangtua sering menakut-nakuti anak terhadap dunia luar, misalnya: “Jangan main di luar karena nanti kamu diculik.” “Jangan dekat-dekat dengan orang lain”. “Jangan ngobrol dengan orang asing karena berbahaya.” Dst.
Kedekatan yang perlu dibangun bukan ketergantungan pada orangtua, tetapi rasa aman dan nyaman anak.
2. Bonding dengan Keluarga & Sekitar
Bagaimana jika anak takut atau tidak berani berinteraksi dengan saudara dan sekitar?
Setiap anak memang memiliki fase yang berbeda-beda dalam hal kesiapan untuk berinteraksi dengan dunia luar (yang tidak terlalu dikenalnya).
Kuncinya adalah:
a. Stimulasi orangtua
Orangtua perlu sering mengobrol dan mengenalkan sekitar pada anak untuk mengenalkan dan memastikan anak tahu bahwa dunia sekitarnya aman.
“Nggak apa-apa kok main sama xxx (teman, tetangga, saudara).”Anak sebaiknya tidak dilepas, tapi secara bertahap orangtua mulai menjauh jika dirasa anak sudah merasa nyaman dengan teman mainnya.
b. Mengajukan pertanyaan
Saat anak tidak mau ditinggal atau tidak mau main bersama temannya sendirian, tanyakan kepada: “Apa yang kakak rasakan? Kakak takut? Bunda ada kok di sana sambil bekerja.”
c. Berikan waktu untuk berproses
Jika anak belum mau, jangan dipaksa dan diolok-olok atau dilabeli. Cegah juga pelabelan oleh oleh saudara/orang dewasa dengan sebutan “penakut, cengeng, dsb”. Jangan menambahi pelabelan dan penghakiman pada anak.
“Bukan, kakak bukan penakut, cuma lagi pengin main sendiri saja. Nanti kalau sudah ada waktunya akan main bareng kok!”
Berikan ruang bagi anak untuk berproses, tanyakan, dan berikan penjelasan pada anak agar merasa nyaman dan berani.
3. Bepergian bersama orang lain
Bepergian bersama orang lain adalah sebuah isu yang berbeda lagi. Agar anak mau bepergian dengan orang lain, harus dibangun tahapannya dulu, misalnya:
a. Anak sudah kenal dan akrab sekali dengan kakek/nenek
b. Anak bepergian sebentar bersama orangtua + kakek/nenek
c. Anak bepergian sebentar (misalnya naik motor, jalan ke warung dekat) bersama kakek/nenek tanpa orang tua
d. Anak sudah pernah menginap bersama orangtua di rumah kakek/nenek berkali-kali dan anak mendapatkan pengalaman menyenangkan selama di rumah kakek/nenek
e. Anak baru bisa menginap di rumah kakek/nenek
Jadi, tahapannya itu yang perlu dibangun. Apalagi usianya belum 5 tahun. Masih sangat wajar, kak.
4. Pilihan keluarga
Sangat difahami bahwa merintis usaha pasti membuat waktu kita banyak tersita untuk membangun dan meletakkan pondasi bisnis. Walaupun secara fisik kita di rumah, tetapi konsentrasi dan kesibukan mengurus bisnis pasti membuat perhatian terpecah.
Tidak ada benar dan salah di sini, kak. Memastikan kebutuhan keluarga dan meletakkan pondasi ekonomi ke depan adalah hal yang penting. Membersamai anak secara penuh juga penting.
Tergantung nilai-nilai keluarga kak Indriana.
Jika mau HS, memang konsekuensinya adalah kebutuhan alokasi waktu. Yang dibutuhkan bukan hanya kualitas, tetapi juga kuantitas waktu bersama anak.
Dalam pengalaman personal di keluarga, kami dulu memilih menyesuaikan pekerjaan dengan pendampingan anak. Proses bisnis memang tak berjalan terlalu kencang karena kami sangat mengutamakan pendampingan bersama anak-anak. Proses bisnis keluarga kami baru mulai lebih ditekuni saat anak-anak sudah lewat usia dini dan lebih mandiri.
Tapi sekali lagi semua itu pilihan ya kak. Setiap pilihan ada konsekuensinya.
Semogo jawaban2 ini membantu.
December 18, 2021 at 8:52 pm #6746Anonymous
GuestTerimakasih sekali lagi buat Mas Aar atas tanggapan dan sharingnya ini.
Alhamdulillaah sangat membantu sekali buat saya. Makin mantap untuk mengambil keputusan fokus ke pengasuhan anak saja terlebih dahulu sekarang ini dan mundur dulu dari bisnis yang sudah dijalani. Suami pun lebih cenderung mendukung saya untuk mundur dulu dari aktifitas pekerjaan bisnis dan semacamnya. selain keluarga dan anak nanti aja.
Mengenai bonding dengan anak juga sangat membantu saya mereview kembali bagaimana bonding anak anak dengan kami orang tua sejauh ini, juga bonding dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Jadi untuk ke depan bisa lebih baik mengkondisikan proses bonding anak dengan lingkungan dan keluarga.
Sepertinya saya sebagai Ibu memang sejauh ini agak lebih kurang berani atau agak parno melepas anak begitu saja Di lingkungan dibanding ayah anak anak. Saya kurang suka jika anak bermain dengan anak anak yang kurang baik attitudenya. Atau khawatir melepas anak jalan lari larian di jalan komplek seperti anak anak lainnya yang hampir seumuran. Karena lumayan banyak kendaraan yang lewat, ngeri aja liatin anak lari larian di jalan. Padahal anak lain bisa dengan santai bermain dijalan komplek. Menurut saya bahaya kalau anak umuran dibawah 5 tahun itu bebas bermain/berlarian di jalan meskipun memang ada anak tetangga yang santai bermain dijalan, seperti bersepeda. Saya kadang bingung juga sebenarnya sikap saya ini wajar atau over protective ya sebagai Ibu.
Interaksi anak dengan lingkungan dan keluarga cukup baik. Si sulung mau bermain dengan anak anak tetangga, senang sekali jika anak dari Kakak kami datang ke rumah. Memang awalnya berproses dulu jika sudah lama tidak bertemu, kemudian bisa asik bermain bersama bahkan bercerita. Dia juga akrab dengan Kakek Nenek sebab tiap hari ketemu, Karena Kami tinggal di rumahnya Kakek Nenek. Suka dan antusias sekali menolong Ayah, Ibu, Kakek atau Nenek jika sedang melakukan sebuah pekerjaaan. Hanya untuk bepergian saja yang belum mau diajak tanpa Ayah Ibu. Dan juga si sulung ini tidak mau kalau adiknya diajak pergi/dibawa oleh anggota keluarga selain Ayah Ibu. Jika ada yang bilang “adek ikut ya../ adeknya pergi sama tante ya..” si sulung bakalan teriak ” gaaak… Gak boleeh”.
Persiapan tahap awal HS usia Dini bisa dikatakan terutama sekali ada pada pembentukan bonding anak ini berarti ya, Mas Aar?
December 18, 2021 at 8:54 pm #6745Aar
KeymasterTerima kasih kak Indriana,
Saya juga lebih terbayang konteks interaksi Ibu-anak dan lingkungan tempat tinggal Anda. Kebayang jika Ibu memiliki kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan, kemungkinan petunjuk dan respon pada anak juga akan dipengaruhi dengan kekhawatiran itu.
Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk membuat kondisi lebih baik?
1. Kelekatan dan kemandirian
Tujuan pengasuhan usia dini bukan hanya bonding (kelekatan) tapi juga memmbangun kepercayaan diri anak sehingga anak menjadi berani dan mandiri. Nah, aspek kedua ini perlu dibawa ke dalam sadar agar pilihan kata-kata dan petunjuk kita pada anak adalah untuk memperkuat kepercayaan diri dan kemandiriannya. Jangan sampai petunjuk kita justru menciptakan ketergantungan pada orangtua dan kekhawatiran anak pada sekitar.
Ini menjadi tantangan personal Ibu untuk ditangani.
2. Kenali kekhawatiran Anda
Kenali hal-hal yang membuat Anda khawatir. Jika Anda khawatir dengan pengaruh buruk teman, sebenarnya itu sangat bisa dinetralisir jika suasana di rumah nyaman dan jelas nilai-nilainya (misalnya: tidak teriak, tidak ngomong kasar, dll). Ibaratnya, setelah main di luar, sesampai di rumah anak akan “mandi atau dibasuh” dengan nilai-nilai keluarga.
Fokus pada keamanan dan keselamatan anak sangat penting, tapi secara bertahap anak juga perlu belajar survive di lingkungan tempat hidupnya. Ini yang perlu dicari keseimbangannya sesuai kondisi Anda.
3. Fokus pada solusi teknis
Terhadap kekhawatiran Anda, fokuslah untuk mencari solusi praktis. Buatlah aturan main dan ajari anak melakukannya. Misalnya: kalau di jalanan harus jalan, tidak boleh lari. Menyeberang jalan harus bersama orangtua atau orang dewasa. Jelaskan mengapa aturan ini dibuat. Praktekkan berkali-kali sehingga anak benar-benar memahami aturan itu.
Tentang bepergian, jika anak sudah merasa nyaman nanti pasti ada waktunya. Sekali lagi, bangun bonding dan kepercayaan diri anak pada saat bersamaan.
Semoga tambahan ini membantu.
December 18, 2021 at 9:02 pm #6744Aar
KeymasterKak Ati,
Terima kasih sharingnya. Saya suka sekali dengan semangat kak Ati untuk mendidik sendiri putranya.
Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan terkait pertanyaan Anda.
Membangun Kepercayaan Diri
HS Usia Dini sangat krusial dan sebenarnya relatif tidak berat. Sebagian besar orangtua yang memiliki komitmen untuk belajar dan waktu untuk mendampingi anak bisa melakukannya.Ada 2 hal yang bisa Anda lakukan untuk mengikis keraguan dan meningkatkan kepercayaan diri:
1. Pengetahuan mengikis keraguan
Anda menuliskan daftar pertanyaan-pertanyaan dan keraguan yang Anda miliki. Kemudian pelajari materi di kelas Memulai HS Usia Dini. Baca ebook, dengarkan podcast, tonton video, dan ikuti Webinar live bulan Februari yang akan datang. Jika ada pertanyaan yang belum terjawab, silakan disampaikan di forum ini. Saya akan berusaha menjawab seluruh pertanyaan Anda.2. Praktekkan
HS bukan ilmu teori. Tak ada ujian tertulis tentang teori HS dan parenting. Yang ada adalah praktik.Jadi, praktekkan hal-hal yang diajarkan dalam kelas ini. Cari keberhasilan kecil yang membuat Anda bahagia.
Lihat pertumbuhan anak dan gunakan Checklist/Parameter perkembangan anak sebagai alat bantu memantau perkembangan anak-anak Anda.
Semakin sering kita mendapatkan keberhasilan, semakin pupus keraguan kita dan semakin meningkat kepercayaan diri kita.
Pengasuhan Jarak Jauh
Saya terbayang kekhawatiran Anda karena minimnya figur ayah dalam proses keseharian. Kalau berbicara tentang ideal, tentu saja akan sangat baik jika Ayah & Ibu semuanya hadir dalam proses pengasuhan.
Tapi kita tidak hidup dalam dunia ideal. Kita hanya bisa mengoptimalkan pilihan-pilihan yang ada di hadapan kita. Ketiadaan Ayah tidak berhubungan dengan pilihan HS atau Sekolah.
Anda tetap memiliki peluang keberhasilan yang tinggi, saya percaya itu. Yang penting Anda mengoptimalkan kondisi Anda dengan memaparkan anak dengan pergaulan yang beragam bersama teman dan orang dewasa lainnya.
Sebagai sharing pribadi, saya adalah orang yang dibesarkan oleh orangtua tunggal (Ibu). Ayah saya meninggal saat saya berusia 3 tahun dan adik berusia 1 tahun. Sepanjang hidup, saya merasa kasih sayang yang besar karena Ibu selalu membesarkan kami berdua dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh. Saya tidak merasa kosong walaupun dibesarkan tanpa figur Ayah.
Demikian, kak. Semoga jawaban ini bisa membantu dan memberikan penguatan.
Terus dipelajari materinya yaa..
Terus semangat belajar sambil berpraktek.
Jika ada pertanyaan jangan segan untuk menyampaikannya.
February 2, 2022 at 8:13 pm #6708Anonymous
GuestAssalamualaikum, salam kenal Mas Aar dan Mbak Lala. Terima Kasih atas sharingnya yang sangat mudah dipahami dan bisa segera dipraktekkan. Perkenalkan saya Trisa Amalia Arnid berdomisili di Jambi. Terkait bonding dengan anak usia dini saya punya sedikit pertanyaan. Sedikit bercerita, saya memiliki anak laki-laki (K) yang sekarang berusia 2 Tahun 5 Bulan. Saat K berusia 3 Bulan sampai 1 Tahun, saya menitipkan anak saya di sebuah daycare di Jakarta. Itu berlangsung sebelum saya menjadi full time ibu di rumah di mana suami saya bekerja di Jambi, dan saya bekerja di Jakarta (LDM). Saat ini saya punya perasaan rasa bersalah bahwa nanti suatu saat K besar dia akan marah besar saat tahu bahwa dia pernah diasuh oleh orang lain selain ibunya sendiri saat bayi. Apakah ada dampak daycare pada masa bayi terhadap bonding dengan anak seusia K? Terima Kasih Mas Aar dan Mbak Lala sebelumnya.
February 2, 2022 at 8:17 pm #6707Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb kak Trisa,
Jangan khawatir, kak. Anak pada dasarnya pemaaf. Jangan terlalu keras menghakimi diri sendiri yang membuat proses Anda akan jatuh pada ekstrem yang lain yaitu memanjakan anak sebagai “balas dendam” atas hal yang Anda anggap salah.
Ruang bertumbuh anak masih sangat besar. Yang penting sekarang dinikmati proses kebersamaannya, bikin kegiatan main dan bersenang-senang bersama, Ikuti tantangan kegiatan di IG Rumah Inspirasi untuk proses bermain sekaligus bealjar anak. Ada tantangan berkegiatan memakai batu, daun, air, garam, dll.
Juga, nikmati kegiatan “read aloud” membaca nyaring buku2 cerita sesuai kesukaan anak. Baca dengan lantang dan penuh ekspresi.
Bermain dan belajar bersama dengan sukacita, itulah “tebusan” paling tepat untuk anak yang dapat Anda berikan.
February 2, 2022 at 8:18 pm #6706Anonymous
Guestassalamualaikum wr wb mas aar dan mba lala
Perkenalkan saya Ati asal bekasi.saya ibu rumah tangga. kami punya 3 putra. 14,12 dan 6 tahun. ketika saya membesarkan anak kami yg pertama dan ke 2 tidak adakendala untuk mau bersekolah dan berkegiatan. Tapi anak kami yg ke 3 awal sekolah usia 4,5 tahun paud sudah menunjukkan mempunyai prinsip tidak mau pakai seragam , suka suka dia untuk mengerjakan tugas dari gurunya. ketika akan naik tk A diusia 5 sudah tidak mau bersekolah kembali. Di satu sisi karena kerepotan mengurusi ke 2 kakaknya , anak kami bungsu agak terlambat untuk belajar baca dan tulis sampai sekarang diusia 6 tahun. Ketika ada kelas ini saya berusaha ikut untuk membenahi keterlambatan saya membimbing anak kami yg bungsu. Saya berniat HS saja untuk anak kami yg bungsu . Tapi saya bingung mulai dari mana, terutama untuk pengenalan huruf, membaca dan menulisnya. Apa ada contoh tahap tahap pengenalan untuk belajarnya. Terus terang saya buta tentang HS ini. Mohon pencerahannya agar saya segera bergerak mengejar keterlambatan belajar anak kami.
terimakasihFebruary 2, 2022 at 8:20 pm #6705Aar
KeymasterTerima kasih sharingnya.
Anda sama sekali tidak terlambat untuk anak ke-3, terutama dalam kaitan belajar membaca.
Menurut para ahli, bahkan proses belajar membaca itu sebaiknya dimulai saat usia 7 tahun (saat jaringan otak logik/kiri dan visual/kanan terhubung) karena proses belajar membaca melibatkan proses visual dan logik. Jika anak belajar membaca secara visual sejak usia dini, bisa terjadi prosesnya tidak berkembang secara optimal dalam jangka panjang karena anak terbiasa membaca secara visual dan pada saat besar susah membaca bacaan/teks yang kompleks.
Jadi, bisa membaca bukan tujuan utama belajar. Dia adalah awal. Dan awal itu tidak boleh merusak proses-proses yang dibutuhkan anak dalam jangka panjang. Jangan sampai anak mengalami pengalaman buruk dan trauma saat belajar membaca sehingga benci kegiatan membaca (walaupun pada akhirnya bisa membaca).
Proses belajar membaca memiliki jenjang:
1. Belajar membunyikan huruf/kata/kalimat
2. Memahami kalimat dan isi bacaan
3. Menghubungkan antara bacaan dan pengetahuan/pengalaman personal
4. Mensistesis hal berkaitan isi bacaanBenang merah dari jenjang belajar membaca adalah “kecintaan membaca”. Nah, proses ini membangun kecintaan membaca ini yang bisa dibangun sejak dini melalui kegiatan membacakan buku sebelum tidur, membaca lantang (read aloud), mengobrolkan buku yang baru dibaca, dll. Anak perlu mendapatkan pengalaman yang membahagiakan dengan kegiatan membaca.
Proses homeschooling juga bukan hanya tentang kegiatan calistung.
Untuk anak usia 6 tahun, Anda bisa memulai dengan mengunduh Cheklist Perkembangan Anak yang kami sediakan: https://member.rumahinspirasi.com/checklist-perkembangan-anak-usia-dini-dari-diknas/
Apa yang sudah berkembang, ditandai. Apa yang belum tercapai, berarti perlu distimulasi.
Selain itu, silakan dipelajari dulu materi yang lainnya. Jangan panik.
Karena anak usia 6 tahun, Anda sudah perlu juga menjajagi materi Memulai HS Usia Sekolah: https://member.rumahinspirasi.com/courses/memulai-homeschooling-usia-sekolah/
February 2, 2022 at 8:20 pm #6704Anonymous
GuestKak, di era pandemi covid ini, untuk anak tk b dan sd kecil untuk memfasilitasi kebutuhan sosialisasi antar teman gmn ya Kak?, karena anak saya hanya satu dan di keluarga dekatpun belum ada anak2 yg sebaya,
Terima Kasih Kak Aar, Kak Lala
February 2, 2022 at 8:21 pm #6703Aar
KeymasterKak Joni,
Kondisi pandemi ini menjadi kesulitan bagi semua orang di seluruh bumi ini. Kita sedang menghadapi problem generasi berkaitan dengan pengembangan keterampilan sosialnya.
Untuk anak usia dini, sebenarnya isunya tidak terlalu kuat. Kebutuhan utama komunikasi dan social skills anak usia dini masih berfokus di keluarga. Jadi, fokus dulu pada aspek ini:
~ Orangtua memperbanyak main dan berkegiatan bersama anak secara mindful
~ Baca buku cerita sebelum tidur
~ Banyak mengobrol dan melatih keterampilan komunikasi anak
~ Sering bertanya pada anak untuk mendorong anak menyampaikan pendapat dan pikirannyaProses-proses semacam ini sangat krusial.
Untuk komunikasi dengan orang lain, bisa dicoba mengobrol online dengan kakek/nenek, dan para sepupu/om/tante.
Jika kondisinya memungkinkan, nanti bisa bikin klub kegiatan ngobrol2 bersama anak sebayanya melalui online chat seperti Zoom, Whatsapp Call, dsb..
Itu hal2 yang paling bisa kita lakukan.
Semoga pandemi reda dan anak-anak kita bisa bermain lagi bersama teman-teman sebayanya.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.