Belajar Parenting › Forums › Menyiapkan Pembelajar Mandiri › Podcast Apa Itu Pembelajar Mandiri
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 25, 2019 at 8:58 am #4627
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
November 25, 2020 at 8:04 pm #7078Anonymous
Guestdikatakan bahwa pembelajar mandiri akan mengetahui tujuan, bagaimana mencapai tujuan dan apa-apa saja yang perlu dipersiapkan untuk mencapai tujuan tersebut. pada anak yang tidak cutup mendapatkan stimulus akan menjadikan mereka tidak mengetahui tujuan atau hal yang mereka ingikan. stimulus disini dalam bentuk apa? apakah pada setiap jenjang usia, bents stimulus tersebut sama? bagaimana kita tahu bahwa anak kita belum cukup mendapatkan stimulus tersebut? terimakasih
November 26, 2020 at 3:12 pm #7077Aar
KeymasterKak Komang,
Terima kasih pertanyaannya. Saya coba jawab satu persatu yaa..
Tentang kesadaran terhadap tujuan, ada satu podcast khusus yang membahaskan tentang hal ini:
https://member.rumahinspirasi.com/courses/menyiapkan-pembelajar-mandiri/lessons/membangun-budaya-belajar/topic/podcast-berorientasi-tujuan/1. Stimulasi orientasi tujuan
Stimulasi paling sederhana adalah sering mengobrol dan bertanya pada anak:
“Apa rencanamu? Apa goal yang kamu raih?”Proses bertanya bisa dilakukan dengan beragam cara sesuai dengan kondisi yang sedang berlangsung, misalnya:
a. Pagi saat sarapan
“Apa rencana kegiatan hari ini? Apa yang akan kamu lakukan?”b. Saat anak membaca buku
“Bagaimana cerita bukunya? Apa isinya?”c. Saat sedang berlatih
“Apa tujuan latihan hari ini? Apa yang dilatih? Apa yang ingin dicapai?”2. Stimulasi sesuai usia
Proses stimulasi dilakukan bukan berdasarkan usia, tetapi kapasitas anak. Jika anak belum bisa menjawab, maka tugas orangtua adalah memberikan contoh jawaban.Misalnya, anak usai berlatih catur, kita bertanya: “Tadi yang latihan apa?”
Kalau anak belum bisa menjawab, kita bisa mengajukan opsi: “Tadi latihan taktik? Atau latihan opening? Atau middle game?”Pertanyaan opsi itu mensyaratkan pengetahuan orangtua tentang tujuan-tujuan yang perlu dikejar anak dalam proses kegiatannya.
3. Bagaimana kita tahu kapasitas anak?
Jika anak bisa menjawab pertanyaan dan menjelaskan dengan baik tentang kegiatan/target/tujuan, itu berarti anak sudah memiliki kapasitas dan terstimulasi dengan baik.Jika anak belum bisa menjawab, berarti anak masih membutuhkan stimulasi dan bimbingan lebih banyak.
August 28, 2021 at 4:12 am #6809Anonymous
GuestBismillah…
Assalamu’alaikum Pak Aar ..Mbak Lala…
ijin bertanya
Ada 4 tangga utk menjadi pembelajar mandiri
1. Siswa tergantung
2. Siswa mulai tertarik pada suatu hal
3. Siswa terlibat/involved
4. Siswa berkembangBiasanya dibutuhkan waktu berapa lama di setiap tahapan tsb ?
terima kasih…
August 29, 2021 at 3:23 pm #6808Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb.
Halo kak Ina,
Kami biasanya tidak menggunakan durasi sebagai acuan, karena setiap anak unik. Kebetulan datanya juga tidak ada, ini justru menjadi karunia karena kita tidak perlu mengikuti standar eksternal. Kita bisa fokus pada keunikan anak kita.
Ada anak usia 12 tahun sudah mandiri. Ada anak usia 17 tahun belum mandiri. Semuanya sangat tergantung stimulasi dan keunikan anak.
Jadi, lebih baik fokus kita adalah kapasitas dan stimulasinya anak.
Awali prosesnya dengan:
1. Kenali anak sedang ada di posisi/level mana
2. Lakukan peran sesuai dengan level kemandirian anak
3. Secara bertahap, berikan stimulasi untuk menaikkan level kemandiriannya
4. Lakukan ini secara terus-menerus
5. Refleksikan kondisi di lapangan. Jika anak belum mampu, bertahanlah dulu di level yang sesuai (jangan buru-buru).Ingat, kita tidak sedang berlomba dengan siapapun. Kita sedang menemani anak-anak untuk bertumbuh optimal sesuai kecepatan dirinya.
Goalnya adalah anak terus bertumbuh dan merasa nyaman (tidak stress).
Demikian kak, semoga membantu.
February 20, 2022 at 12:56 pm #6617Amanda
MemberSelamat siang mas Aar.. ijin bertanya (anak saya laki2 usia 12 tahun baru menjalani HS selama 6 bulan,setelah sebelumnya sekolah formal sampe kelas 4 SD)
1. Bagaimana membangun kembali motivasi internal pada anak yang mungkin terlanjur rasa inisiatifnya mati entah karena sekolah atau pola didik orang tua?
2. Apakah inisiatif anak ketika ingin belajar sesuatu boleh diberi target tertentu? Karena seringkali anak hanya ingin tahu kemudian bosan lalu berpindah lagi. Orang tua merasa belum cukup nih menggali yang ini ko sudah pindah lagi.
February 21, 2022 at 9:58 pm #6613Aar
KeymasterHalo kak @Manda
Terima kasih pertanyaannya.
Proses perubahan dari bersekolah ke HS membutuhkan proses transisi, baik untuk anak maupun orangtua.
Transisinya meliputi transisi budaya dan transisi legal.
Transisi budaya berkaitan dengan perbedaan budaya dari kebiasaan bersekolah dan menjalani homeschooling.
Yang paling terasa adalah, saat anak bersekolah semuanya sudah diatur oleh sistem, anak tidak perlu (bahkan tidak boleh) berinisiatif, semua materi belajar dan cara belajar, juga waktu belajar sudah ditentukan.
Ketika menjalani HS, semua keharusan dan larangan itu tiba2 menjadi fleksibel. Ini menimbulkan perbedaan budaya yang perlu difahami.
Orangtua pun butuh melakukan perubahan budaya terkait memaknai belajar. Belajar bukan hanya tentang mata pelajaran dan seperti di sekolah (pakai buku, worksheet, ujian, dll), tetapi terkait dengan semua aspek keseharian dan kehidupan.
1. Deschooling
Masa transisi ini disebut deschooling. Anak merasa libur dan butuh proses beradaptasi dengan sistem belajar baru yang lebih natural dengan kondisi rumah.
Dalam proses deschooling biasanya terjadi kekacauan dan orangtua merasa panik karena anak tidak belajar (seperti di sekolah). Proses transsisi anak kelas 4 SD bisa sekitar 4-8 bulan, bisa lebih cepat atau lebih lambat.
Dalam proses transisi ini, orangtua perlu lebih tenang dan mendampingi anak menemukan cara belajar. Orangtua perlu melepaskan dulu dengan proses belajar ala anak sekolah (berbasis pelajaran). Orangtua bisa mulai dari kursus/les yang disukai anak, misalnya: bahasa asing, musik, seni, dll. Belajar dimulai dari proyek yang disepakati. Belajar menjalani setiap hari dengan baik (tidak hanya nonton Youtube & main game).
Jika anak sudah mulai menikmati kegiatan kesehariannya, seiring waktu baru ditambahkan kegiatan belajar lain sesuai kesepakatan.
2. Transisi
Dalam masa transisi, sebaiknya kesepakatannya terletak pada kualitas proses, bukan target hasil. Sepakati durasi kegiatan dan komitmen, sebelum pindah ke kegiatan lain. Anak belajar menekuni sebuah kegiatan dalam bimbingan orangtua.
Jika durasi yang disepakati sudah diselesaikan, baru boleh pindah kegiatan lain.
Dalam proses ini, penting sekali orangtua untuk melapangkan hati dan menemani proses anak yang masih dalam transisi dari model sekolah (yang serba harus) menjadi HS (yang serba boleh). Anak belajar memilih, menikmati kegiatan, dan secara bertahap belajar berkomitmen.
Demikian, semoga membantu.
.
January 29, 2023 at 2:12 pm #5685Nongki Sakinah
Membermengenai 4 stage pembelajar, misalnya kami menilai saat di kegiatan menulis, anak sudah ada di stage terlibat, di kegiatan olahraga stage nya tergantung, di kegiatan menghafal quran stage nya tertarik. apakah kondisi seperti ini memang bisa terjadi? kalau memang iya, apakah berarti di usia yang sama, anak bisa memiliki stage yang berbeda di tema aktivitas yang berbeda? atau apakah saat anak misalnya sudah ada di tahap mandiri, berarti di setiap tema pembelajaran apapun seharusnya dia sudah bisa mandiri?
January 29, 2023 at 2:16 pm #5684Nongki Sakinah
MemberMengenai Fokus (tahu tujuan) , bagaimana tips supaya anak bisa tahu tujuannya. kadang kalau diajak diskusi, dia baru sebatas mau belajar A, B, C tapi ya karena ingin aja, belum bisa menjawab kalau ditanya tujuannya apa. berarti kalau seperti ini , masih ada di stage apa?
TerimakasihJanuary 29, 2023 at 4:24 pm #5681Aar
KeymasterHalo kak @nongki-sakinah,
Perkembangan kemandirian anak memang berbeda-beda untuk setiap area. Jadi, kondisi yang kakak alami itu sangat wajar dan memang demikianlah kondisi di lapangan.
Dengan mengetahui stage anak, kita bisa menentukan cara penyikapan yang tepat pada setiap area perkembangan anak.
Semoga membantu 🙏
January 29, 2023 at 4:39 pm #5680Aar
KeymasterHalo kak @nongki-sakinah
Memahami tujuan bisa berbeda-beda kualitasnya untuk setiap anak. Perkembangan usia juga sangat berpengaruh pada pemahaman anak tentang tujuan. Anak biasanya masih fokus pada kegiatannya dan belum tahu tentang tujuannya.
Untuk anak-anak usia dini hingga SD, pengenalan tujuan biasanya masih perlu dibantu orangtua. Berikan contoh2 yang cukup dekat dengan anak tentang manfaat2 kegiatan yang dilakukannya.
Misalnya:
~ anak suka menulis. Ceritakan dan obrolkan tentang penulis2 terkenal yang karyanya disukai anak-anak.
~ anak suka berenang, diskusikan tentang manfaat berenang untuk kesehatan
– kegiatan membaca Al Quran, ceritakan tentang hal-hal baik yang didapat anak dengan membaca Al Quran
Saat bercerita, pastikan penekanannya pada manfaat dan rasa asyik yang berpihak pada kepentingan anak, bukan pada kewajiban/keharusan dan hal2 yang dirasakan membebani anak.
Demikian kak, semoga membant
🙏
November 3, 2023 at 5:40 am #4965Winda Djohar
MemberHalo, Kak Aar.
Saya ingin tanya cara mengenali bahwa anak sedang di tahap yg mana.
Misal, anak saya usia 4 tahun. Sebelumnya, tidak punya ketertarikan menggambar/menulis. Tapi sejak menginjak usia ini, dia mulai senang menulis dan menggambar.
Nah, gambar dan tulisannya itu masih terbatas dgn kemampuannya membuat bentuk. Misal ingin gambar kucing, tapi telinga, kaki, dan tangannya hanya garis lurus. Atau misal urutan menulis hurufnya masih kebalik2.
Apakah saya berada di tahap cukup memberi apresiasi dulu pada gambarnya atau tahap memberi masukan agar bentuk gambar/tulisannya lebih baik?
November 4, 2023 at 9:56 am #4962Aar
KeymasterHalo kak @winda-djohar
Untuk anak usia 4 tahun, kegiatan menggambar itu yang penting adalah prosesnya dinikmati. Apresiasi proses dan hasil gambar anak, tanyakan dan obrolkan tentang yang digambar, sesekali temani dan lakukan kegiatan menggambar bersama.
Kurang koreksi, berikan contoh saat menggambar bersama. Jadikan kegiatan menggambar sebagai stimulasi yang membahagiakan.
Menggambar sendiri ada banyak aspek dan manfaatnya:
- stimulasi motorik halus
- kreativitas
- belajar mengekspresikan yang dilihat dan dipikirkan
Tentang bentuk dan teknis, jangan terlalu dikoreksi. Kualitas teknis bisa diasah seiring waktu.
Di dunia profesional, banyak artis yang gambarnya “tidak bagus”, tapi unik dan menginspirasi. Banyak aliran gambar/lukisan, tidak semuanya realis. Ada kubisme, impresionisme, abstrak, dll.
Demikian kak, semoga membantu
🙏
November 24, 2023 at 12:30 pm #4944Mira wulandari
MemberRelated banget dengan yang saya alami, lebih crowded nya karena anak Ada di kelas 6. Dan dia dalam tahap segala sesuatu adalah beban belajar, bukan bermain. Sehingga ketika diajak untuk bergabung dengan komunitas HS lain, untuk sebuah kegiatan, dia merasa “ini beban baru lagi, untuk menghadapi ujian paket A aja belum kelar, dan aq bingung.” Lain hal nya dengan kelas IXL Math, enjoy banget dia. Wkwkwkwk.
Saat ini khusus untuk anak kelas6 ini, saya longgarkan. Hanya bertanya, sampai mana buku modulnya?, tema mana yang mau dibahas lanjut? IXL Math nya mau Bunda bantukah? Sampai tablet ku dikuasai dia.
Kelonggaran ini juga terkait dengan usia dia yang beranjak remaja. Masa peralihan, dimana telinga dia kurang mendengar apa kata Bunda. Tapi lebih mendengar apa kata teman, kakak sepupu.
Rikues donk kelas “berdamai dengan anak beranjak remaja”.
November 24, 2023 at 3:24 pm #4941Aar
KeymasterTerima kasih kak @mira-wulandari untuk sharing pengalamannya.
Yang kakak lakukan sudah on track.
Proses belajar mulai dipegang anak. Orangtua mundur dan berfungsi sebagai QC (Quality Controller). Anak belajar menentukan kendali dan kepemilikan atas proses belajar yang dijalaninya.
Terkait hubungan dengan remaja, ada beberapa hal yang bisa kakak lakukan:
1. Pastikan kualitas hubungan tetap terjaga baik sehingga bisa saling berkomunikasi walaupun tak selalu mulus.
2. Bimbing anak untuk mencari dan menemukan hal yang diminati. Dimulai dengan mencoba dan belajar mengasah skills. Jika tidak cocok, ganti juga tidak apa2. Tapi tetap bersungguh-sungguh dalam hal apapun yang dicoba.
3. Cari kesempatan untuk anak berkegiatan di luar sehingga bisa menggesekkan diri dengan orang lain dan kegiatan lain. Kegiatan luar juga bermanfaat untuk mengurangi gesekan antara anak dan orangtua di rumah.
4. Pastikan anak selalu merasa bahwa orangtua mendukungnya. “Bapak/Ibu akan menerimamu apa adanya dan mendukungmu. Tugasmu adalah mencari hal yang kamu asah dan kamu bekerja keras sebaik-baiknya.”
5. Sambil mencari dan menemukan hal yang diasah, jangan lupa mengasah keterampilan basic, misalnya: bahasa Inggris. Pastikan skills bahasa Inggris naik terus hingga anak lancar berbicara dan menulis. Gunakan standar seperti TOEFL/IELTS untuk mengukur pertumbuhan kemampuan bahasa Inggris anak.
Demikian kak, semoga membantu.
Selamat bertumbuh..🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.