Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Dini › Podcast Belajar Membaca Saat Usia Dini
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 21, 2019 at 1:42 pm #4718
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
June 9, 2020 at 2:12 pm #7212Anonymous
GuestKlo aplikasi reading egg itu bisa dikenalkan dr usia berapa ya
June 9, 2020 at 4:57 pm #7211Aar
KeymasterKak Maria,
Kalau menurut petunjuk website-nya, bisa digunakan mulai usia 3-5 tahun. Tapi itu konteks-nya anak-anak yang sehari-hari berbahasa Inggris yaa..Kalau saran kami, dikuatkan dulu bahasa Ibu agar anak memahami pembicaraan dengan lingkungannya, terampil mengekspresikan pikiran/perasaan dan bercakap-cakap dengan orang lain.
Bahasa Inggrisnya diperkenalkan sebagai permainan/mendengarkan/menonton. Medianya antara lain lagu/film
Penggunaan Reading Eggs sebagai alat bantu bahasa kedua bisa dimulai sekitar usia 5-7 tahun.
June 10, 2020 at 3:13 am #7210Anonymous
GuestSalam mas Aar dan mbak Lala,
ANak saya 4 tahun 3 bulan, sudah mulai kelihatan ingin membaca. saya baru kenalkan alfabet dan terlihat antusias. Tantangan saya pas membaca satu kata, sepertinya anak saya melihat gambar atau dia hafal (saya donlot buku baca dari rumah inspirasi). Jadi dia sudah bisa menyebut hurufnya tapi pas jadi kata lain disebut. (Misal ini baju biru, dia bisa menyebut huruf tapi pas baca jadinya satu baju, hehe)Pun kalau minta dibacakan buku, setelah dibacakan dia membaca sendiri versinya. Sepertinya dia tau alur ceritanya atau dia hafalkan, hehe
ada saran untuk saya?June 10, 2020 at 1:42 pm #7209Aar
KeymasterKak Ita,
Kuncinya adalah:
~ bermain dan bersenang-senang
~ tidak ada targetKegiatan literasi utama pada anak usia dini adalah membaca nyaring (read aloud). Perbanyak membaca buku cerita dan mengobrol bersama anak tentang buku yang dibaca, misalnya tentang tokohnya, alur cerita, setting cerita, dll.
Setelah belajar huruf/alfabet, tangga berikutnya adalah suku kata. Anda bisa menggunakan lagu “AIUEO” yang dibuat Lala untuk memperkaya proses belajar membaca. Link lagu “AIUEO”:
June 11, 2020 at 3:37 am #7208Anonymous
GuestPak Aar, terima kasih banyak atas informasinya. Oh ya, kalau untuk take it seriously teaching alphabet ataupun reading, baiknya dimulai dari usia berapa ya pak? Kemudian antara mengajari huruf atau phonetic, lebih baik yang mana? Terima kasih pak.
June 11, 2020 at 3:37 am #7207Anonymous
Guestsiap mas Aar, makasih yaa
June 11, 2020 at 1:56 pm #7206Aar
KeymasterTerima kasih kak Andrio untuk pertanyannya.
Jika keluarga memiliki tradisi literasi yang baik, biasanya anak-anak sudah mengenal huruf/kata dari proses orangtua membacakan buku cerita pada anak (read aloud). Proses yang dibutuhkan adalah kebiasaan dongeng/cerita dan membacakan buku cerita pada anak. Pengenalan huruf dan kata berjalan alamiah melalui tanya-jawab dan keingintahuan anak.
Proses belajar anak usia dini biasanya menggunakan metode visual. Huruf/kata dilihat sebagai lambang yang berasosiasi dengan bunyi tertentu. Tapi bagian otak logika anak belum bertumbuh sempurna.
Bagian otak logika anak biasanya menjadi matang sekitar usia 7 tahun. Otak belahan kanan dan kiri bersambung. Anak di usia ini dinilai sudah siap menjalani proses belajar membaca yang lebih terstruktur. Tanda keterambungan otak kiri dan kanan adalah anak bisa melakukan proses berbaris (kaki kanan maju bersamaan tangan kiri, kaki kiri maju bersamaan tangan kanan).
Mengapa? Karena membaca sebenarnya membutuhkan otak visual & logika sekaligus. Jika anak terbiasa membaca secara visual, dikhawatirkan otak logikanya tidak terstimulasi secara seimbang sehingga pada saat besar anak kesulitan membaca teks yang panjang dan kompleks.
Tentang perbandingan belajar membaca dengan huruf & fonetik, mohon maaf saya belum menemukan penelitian mengenai perbandingan efektivitasnya.
Jika mau dilihat gambar besarnya, ada beberapa jenjang proses belajar membaca:
1. Melafalkan huruf/suku kata/kata/kalimat
2. Memahami teks yang dibaca
3. Menghubungkan makna teks yang dibaca dengan pengetahuan yang dimiliki
4. Membangun kecintaan membacaProses belajar membaca sendiri sebenarnya relatif tidak susah. Yang perlu kita bangun pada anak-anak dan membutuhkan waktu yang lebih panjang adalah jenjang2 di atasnya: membaca-memahami, mengaitkan teks dengan pengetahuan/pengalaman lain, dan membangun kecintaan membaca. Dalam konteks ini, penting untuk menghadirkan pengalaman membaca yang membahagiakan pada anak, bukan pengalaman yang traumatik yang membuat anak menjadi takut/segan/malas membaca dan bersentuhan dengan buku.
Semoga menjawab pertanyaan Anda.
June 12, 2020 at 4:18 am #7204Anonymous
GuestTerima kasih atas jawabannya pak. 🙂
Alhamdulillah saat ini kecintaan membacanya sudah mulai terbangun. Bahkan bisa menceritakan ulang buku yang berulang kali kami bacakan karena ia paham konteks gambarnya, bukan huruf per hurufnya. Kadang saat kami “salah” membacakan kata-katanya, ia akan protes karena ia tahu bahwa huruf pertama dari kalimat itu bukanlah apa yang kami sebutkan. Menarik ya pak.
Kami juga sepakat, lebih baik membangun kecintaan ketimbang memaksakan anak untuk membaca di usia dini.
January 20, 2021 at 3:23 pm #7041Aar
KeymasterKak Tsarwatul Jannah,
Terima kasih atas sharingnya.
Bagaimana mendampingi anak usia 6 tahun agar mencintai membaca, sementara dia merasa “terteror” saat belajar membaca di TK?
Saat kita melakukan sebuah kegiatan, bayangkan tujuannya membentang dalam sebuah garis, mulai negatif, netral (nol), hingga positif.
Kecintaan membaca ada di posisi sebelah kanan (positif). Sementara rasa terteror ada di sebelah kiri (negatif). Angka negatifnya menunjukkan seberapa jauh dia merasa terteror. Semakin tegang dan stress, semakin jauh dia di sisi negatif.
Nah, sebelum sampai ke titik positif (kecintaan membaca), proses pertama yang perlu diupayakan adalah netral. Anak tidak merasa tertekan dan terteror. Itu dulu yang perlu dikejar.
Mengapa efek negatif ini perlu dinetralkan dulu?
Sebab, belajar adalah proses marathon yang berlangsung dalam jangka panjang. Salah satu modal besarnya adalah kecintaan pada ilmu dan membaca. Jika anak mengalami trauma atau mendapatkan pengalaman buruk dengan belajar membaca, itu akan menciptakan resistensi dan problem belajar dalam jangka panjang.
Menetralkan Masalah
Untuk menetralkan dampak negatif tekanan membaca, ada beberapa hal yang bisa diupayakan:
1. Memberikan rasa aman dan nyaman pada anak
Lapangkan hati Anda dan jadilah orangtua yang berpihak pada anak (bukan target dan tekanan eksternal) karena setiap anak memiliki kecepatan belajarnya masing-masing.Katakan dengan lembut kepada anak tentang keberpihakan Anda kepadanya,”Kakak berusaha sebaiknya saja. Bunda tidak akan memarahi kakak kalau kakak belum bisa membaca. Bunda nanti akan menemani kakak belajar.”
2. Tanyakan kepada anak
Tanyakan pada anak tentang kesulitannya. Jangan berasumsi.“Kakak susahnya di mana?”
“Apa yang kakak bingung?”3. Cari solusi pendampingan
Cari metode belajar membaca yang menyenangkan sesuai dengan kebutuhan dan kesukaan anak. Misalnya: menggunakan lagu “AIUEO”, bisa diunduh di Pelangi Nada.Anda bisa menggunakan tebak-tebakan memakai flashcard suku kata. Atau, bisa menempelkan kata pada benda-benda di rumah, misalnya: meja, kursi, lemarin, dll
Nah, itu dulu yang perlu diutamakan.
Membangun Kecintaan Membaca
Tahap berikutnya adalah membangun kecintaan membaca. Proses ini bisa dilakukan parallel dengan langkah sebelumnya.
Bagaimana membangun kecintaan membaca?
Intinya adalah menghadirkan pengalaman membahagiakan berkaitan dengan membaca. Beberapa proses yang bisa dilakukan antara lain:
1. Baca buku sebelum tidur
Membacakan buku kepada anak sebelum tidur akan memberikan pengalaman kedekatan anak dengan orangtua sekaligus dengan buku. Pilih tema-tema buku yang ringan dan disukai anak. Baca buku dengan suara lantang (read aloud) dan penuh ekspresi.
2. Tebak-tebakan cerita
Masih terkait dengan yang pertama, lakukan tebak-tebakan tentang jalan cerita dari buku yang sering dibacakan. Anda bacakan buku, kemudian minta anak melanjutkan. Atau, Anda dengan sengaja salah membaca dan minta anak mengoreksi/mengingat tentang kesalahan Anda.3. Mengaitkan buku dengan pengalaman anak
Saat anak bertanya sebuah hal, cari jawabannya di buku sehingga anak tahu hubungan antara buku dengan ilmu. Buku adalah sumber ilmu dan kemampuan membaca membuat kita bisa mencari ilmu apapun yang kita butuhkan.4. Tebak-tebakan di jalan
Saat jalan-jalan di luar, bermainlah tebak-tebakan setiap melihat huruf atau kata yang ditemui di sepanjang jalan.Sekali lagi, jangan lupa untuk menjaga ketenangan orangtua. Juga, selalu hadirkan sukacita dan kebahagiaan saat berkegiatan bersama anak.
Demikian kak. Semoga membantu.
January 20, 2021 at 3:34 pm #7040Anonymous
GuestIzin bertanya mas aar 🙏
Saya memiliki 3 anak.
Yang pertama berusia 6th dan saat ini masuk sekolah formal (TK), yang kedua berusia 3,5th, yang ketiga berusia 2,5th.Untuk saat ini, saya sedang belajar tentang Homeschooling, sambil menerapkannya untuk anak-anak saya di rumah.
Untuk anak kedua dan ketiga mungkin memang masih bisa pelan-pelan saya terapkan sambil berjalan, sambil belajar. Tetapi untuk anak pertama saya yang sudah “terlanjur” Bersekolah di Sekolah formal, apakah bisa saya terapkan juga ketika dia sedang berada di rumah?Untuk anak saya yang pertama ini, di sekolahnya sudah ada kurikulum membaca, dan ternyata anak saya termasuk yang lambat membacanya. Sebenernya saya tidak mempermasalahkan keterlambatannya itu, karena mungkin dia tipe yang lambat membaca. Nah, solusi yang ingin saya lakukan adalah mendampinginya di rumah agar dia “mencintai” Membaca.
Pertanyaannya, bentuk pendampingan yang bagaimanakah agar anak saya bisa membuat anak pertama saya ini mencintai membaca tapi di sisi lain dia agak “terteror” dari kurikulum sekolahnya. Dengan catatan, tetap bersekolah di Sekolah Formal. Karena informasi tambahan, saya juga masih belum 1 suara masalah pendidikan ini dengan suami. 🤭🙏Mohon pencerahannya
Terimakasih mas aarJanuary 20, 2021 at 8:37 pm #7039Anonymous
GuestMaasyaAllah, terimakasih ilmunya mas aar.
Insyaallah akan saya jalani step by step.
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.