Belajar Parenting › Forums › 10 Keterampilan Dasar Anak › Podcast Gambar Besar Keterampilan Dasar
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 24, 2019 at 2:15 pm #4646
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
April 16, 2020 at 5:24 am #7298Anonymous
GuestMas Aar dan Mbak Lala,
Terkait literasi, umur berapakah minimal anak-anak diperbolehkan menjadi blogger? membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan orang luar yang kita tidak tahu siapa saja bisa membacanya? Apakah harus ada pengetahuan terkait cara berkomunikasi secara tulisan?April 17, 2020 at 3:23 am #7292Anonymous
GuestHalo selamat pagi
Salam kenal.. sejak usia berapa anak2 melakukan journaling? Dan apakah sampai skrg msh melakukan rutin setiap hari (journal manual kan ya?)?
Di Era gadget saat ini,bagaimana temen2 rumah inspirasi menekankan Dan mengkonsistenkan untuk menjurnal? Anakku msh balita sih,mohon masukannya jg ya
Serta ijin turut menyimak pertanyaan mba Rosa.Terimakasi…
April 17, 2020 at 2:20 pm #7290Aar
KeymasterKak Rosa,
Menjadi blogger berkaitan dengan keterampilan menulis. Kunci pentingnya adalah anak sudah bisa menulis dan mengekspresikan pikiran/perasaan melalui tulisan.
Fungsi blog sendiri ada 2:
1. Alat untuk mendokumentasikan karya anak
2. Alat untuk berbagiUntuk fungsi 1 prosesnya lebih untuk individu, tidak untuk dibagikan. Komen bisa dimatikan (jika dianggap perlu). Untuk yang seperti ini bisa dimulai dari SD akhir (sekitar kelas 5). Usia lebih muda juga bisa. Tapi prosesnya harus didampingi orangtua.
Untuk fungsi ke-2 butuh kedewasaan dan kesiapan lebih karena tujuannya memang untuk dibagikan. Anak mungkin menulis review tentang buku atau film, menceritakan sudut pandang terhadap peristiwa, dll. Anak perlu tahu bahwa ada kemungkinan karyanya dikomentari orang lain yang bisa jadi setuju atau tidak setuju. Untuk yang seperti ini biasanya mulai sekitar 13 tahun.
Dalam setiap proses, penting bagi orangtua untuk mengetahui dan mendampingi proses anak, terutama di awal.
April 17, 2020 at 2:21 pm #7289Aar
KeymasterHai kak Retno,
Journal itu bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa sederhana punya ceklis harian. Ada yang lebih banyak tulisan. Atau lebih banyak gambar.
Kunci pertama adalah memahami apa itu jurnal dan fungsinya.
Jurnal adalah media untuk pengamatan, ekspresi, manajemen diri anak. Dalam kegiatan tertentu, anak-anak belajar membuat jurnal pengamatan tentang obyek atau kegiatan yang dijalani.
Kami tidak mewajibkan anak-anak menjurnal. Tapi Yudhis (18 tahun) dan Tata (15 tahun) terlatih dan terampil membuat jurnal. Mereka beberapa kali melakukan kegiatan eksplorasi alam dan sosial yang melibatkan penggunaan jurnal sebagai alat dokumentasi pengamatan.
Tata senang membuat jurnal tapi dia melakukannya sebagai alat ekspresi. Dia lebih banyak melakukan jurnal secara visual.
Yang saat ini sedang belajar membuat jurnal adalah Duta (11 tahun). Setiap hari, salah satu kegiatan Duta adalah membuat jurnal. Isinya adalah daftar kegiatan yang akan dilakukan hari itu.
Bagaimana membuatnya konsisten?
Jika anak merasa mendapatkan manfaat nyata, dia akan melakukan. Jika orangtua yang merasa bahwa proses journaling itu penting, berarti orangtua yang perlu sering mengingatkan.
June 12, 2020 at 4:37 am #7203Anonymous
GuestHalo Rumah Inspirasi
Saya ingin tanya terkait dengan membangun kebiasaan pada anak dalam hal membantu memasak. Selama ini sy dan suami belum dpt melibatkan anak scr intensif ketika memasak krn yg terjadi anak sy ingin merebut makanan yg ingin diolah. Kami hampir setiap hari memasak dan anak sy sering melihat proses tersebut, untuk melibatkannya sy masih belum dpt celah. Anak sy usia 2 th 5 bl. ada kah tipsnya?terima kasih
June 12, 2020 at 2:22 pm #7202Aar
KeymasterKak Puri,
Untuk anak usia 2.5 tahun secara umum belum bisa kak. Anak fokusnya masih terbatas, motorik skillsnya juga masih di awal. Jadi memang belum bisa dilibatkan secara intensif. Anak akan merecoki dan main-main dengan bahan makanan. Pasti seru sekaligus kacau (messy), hehehe. Itu juga proses belajar, kak. Bukan belajar memasak, tapi stimulasi sensorinya.
Dinikmati dulu proses perkembangan motorik dan fokusnya kak, nanti dia akan berproses seiring waktu.
Proses yang bisa dilakukan saat ini adalah melibatkan anak sesekali, misalnya diminta bantuan mengambilkan sesuatu atau melakukan hal kecil yang sederhana, misalnya bagian akhir dari proses memasak (menghias dan menyajikan).
Semoga membantu.
April 4, 2022 at 8:28 am #6400Atina Catur
MemberHallo Mas Aar..
Dari pengalaman keluarga mas Aar, bagaimana menumbuhkan rasa butuh dan suka dari diri anak dalam mempelajari sesuatu? Jika dari awal anak tidak berminat, tapi ortu ingin anak mempelajari hal tersebut, apa masih bisa menumbuhkan minat anak tersebut tanpa memaksa anak? Adakah tips-tips yang bisa dibagikan pada kami Kak?
Terimakasih..
April 4, 2022 at 4:41 pm #6396Aar
KeymasterHalo kak @atina.catur
Ada 2 aspek pertanyaan Anda.
- Orangtua ingin anak mempelajari sesuatu
- Menumbuhkan minat belajar anak
1. Orangtua ingin anak mempelajari sesuatu
Sebagai orangtua yang mendapatkan tanggung jawab dari Tuhan mendidik anak, tentu saja kita bisa memiliki otoritas untuk menentukan hal-hal yang menurut kita baik untuk dipelajari anak. Ada beberapa koridor yang penting diperhatikan dalam proses ini:
Pertama, pastikan pilihan itu untuk alasan kebaikan/kepentingan anak, bukan kepentingan keluarga/orang lain.
Kedua, kenali lebih detil alasan mengapa sebuah hal harus dipelajari anak, misalnya: keselamatan, kesehatan, perintah agama, masa depan, dll.
“Kamu perlu belajar renang supaya selamat ketika ada di air.”
Ketiga, jumlahnya jangan terlalu banyak supaya anak tidak merasa terbebani.
Keempat, berikan ruang bagi anak untuk memilih terkait teknis/cara. Misalnya:
“Kamu perlu berolahraga agar sehat. Jenis olahraganya terserah kamu.”
“Kamu perlu belajar xxx. Enaknya berapa kali kita melakukannya?”
Kelima, berikan bimbingan dan fasilitasi proses agar anak mudah melakukannya. Jika orangtua menginginkan anak belajar sebuah hal tertentu, tanggung jawab pembimbingan ada di orangtua.2. Menumbuhkan minat belajar anak
Minat anak untuk belajar akan bertumbuh jika:
- anak tahu tujuan belajarnya
- anak tahu keterkaitan yang dipelajari dengan hidupnya
- anak mendapatkan manfaat langsung dengan materi yang dipelajari
- anak menyukai metode/cara belajarnya
Nah, kedua aspek tersebut perlu digabungkan jika ada hal-hal tertentu yang menurut orangtua perlu dipelajari anak.
- Orangtua menjelaskan alasan hal tersebut penting untuk anak
- Orangtua memikirkan cara agar proses belajarnya bermakna dan asyik
Bagaimaa jika anak tetap tidak menikmati?
Jika memang orangtua merasa itu adalah hal yang penting dan harus dipelajari anak, pastikan pendampingan terus sambil mengupayakan agar prosesnya berjalan semakin asyik dan bisa dinikmati oleh anak.
Demikian kak, semoga membantu.
April 5, 2022 at 5:03 am #6393Atina Catur
MemberWaahhh..jawaban nya lengkaaapp..
Refleksi kami, sepertinya proses belajar kami perlu lebih “asyik” lagi ini.
Noted kak..
Terimakasih
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.