Belajar Parenting › Forums › Strategi Belajar Homeschooling › Podcast Jenjang Kompleksitas Tematik
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 24, 2021 at 11:07 am #4490
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
February 23, 2022 at 7:56 pm #6590Ipop Purintyas
MemberSelamat malam, Pak Aar.
Terima kasih atas materinya. Ada yang ingin saya tanyakan.
Bagaimana menyiasati belajar tematik dengan dua siblings yang berbeda cukup jauh usianya (13 dan 7 th) dan berbeda kepribadian serta gaya belajar? Yang satu introver, gaya belajar visual, lebih suka indoor activity, yang satu lagi extrover, gaya belajar audio-kinestetik, dan lebih suka outdoor activity. Bagaimana merancang kegiatan belajar tematik agar bisa belajar dalam waktu bersamaan dan ada interaksi/kerja sama antara kakak-adik tersebut?
Terima kasih.
February 23, 2022 at 9:02 pm #6589Aar
KeymasterHalo kak @ipop.purintyas
Terima kasih pertanyaannya.
Ada kondisi2 ideal di mana sebuah proses belajar bisa dikolaborasikan dan semua tujuan bisa diraih. Tapi ada kalanya kita perlu melakukan pendekatan-pendekatan paling masuk akal dan bisa kita lakukan. Kita perlu mengenali tema2 yang bisa dilakukan dengan beragam gaya belajar. Tapi ada kalanya sebuah tema tidak bisa.
Dengan kata lain, kita mencari titik optimal.
Dalam pengalaman keluarga kami, gaya belajar itu hanya menjadi background pengetahuan orangtua tapi tidak menjadi hal utama dalam pertimbangan kami merancang kegiatan untuk anak. Kami sering mendorong anak untuk mencoba melakukan hal yang perlu dilakukannya agar dia semakin fleksibel dan lentur dalam proses belajarnya.
Yang utama, proses belajar harus manageable, bisa terkelola. Perlu ada kompromi-kompromi yang dilakukan. Kalau tidak, nanti kita kusut.
Mari kita ambil 1 contoh, misalnya belajar tema makanan, ambil contoh pizza.
Apa tujuan kita belajar dengan tema pizza?
Dari tema pizza, anak antara lain bisa belajar tentang:
- Sejarah pizza
- Menggambar & mewarnai pizza
- Cara membuat pizza
- Mencari tutorial pizza
- Berbelanja bahan untuk membuat pizza
- Menulis resep pizza
- Membuat pizza bersama
Kegiatan semacam ini bisa dilakukan berdua untuk anak usia 13 tahun dan 7 tahun.
Kenali proses yang bisa dilakukan oleh anak usia 13 tahun dan apa yang bisa dilakukan oleh anak usia 7 tahun. Juga kegiatan yang bisa dilakukan bersama.
Anak usia 13 tahun bisa:
- melakukan riset tentang pizza
- membuat silde tentang pizza
- presentasi tentang pizza
- mencari tutorial tentang pizza
- menulis resep pizza
Anak usia 7 tahun bisa:
- menggambar pizza
- mewarnai pizza
- menonton tutorial membuat pizza
- menceritakan ulang video yang ditonton
- menulis resep pizza (jika anak sudah bisa menulis)
Bersama-sama:
- berbelanja bahan pizza
- membuat pizza bersama
Jika Anda merasa secara teknis ada yang perlu disesuaikan dengan kecenderungan cara belajar anak, prosesnya bisa ditambahkan.
Demikian kak, semoga membantu.
March 6, 2022 at 7:26 pm #6578Afrani
MemberSelamat malam Mas Aar dan Mba Lala,
Apakah ada rentang usia pada masing2 level ini?
misalkan anak SD kelas 2,apakah tidak mengapa apabila masih berkegiatan di tematik level 1, belum melakukan tematik di level2 yg lbh kompleks
mohon pencerahanya,terima kasih
March 6, 2022 at 9:23 pm #6577Aar
KeymasterDalam proses HS, tugas orangtua adalah melakukan pengamatan kapasitas anak dan merancang kegiatan yang sesuai kapasitas anak.
Tak apa jika anak masih melakukan proses di level 1, yang penting adalah terus bertumbuh.
Kriterianya 3:
- anak merasa nyaman dan percaya diri (karena bisa melakukan kegiatan)
- anak semakin terampil karena sering melakukan
- anak sedikit mengalami kesulitan karena ada hal baru yang ditambahkan
Demikian kak, semoga membantu.
November 22, 2023 at 7:37 am #4950Dhiyan Fathiya
MemberSalam Mas Aar,
Terimakasih untuk pemaparannya.
Pertanyaan saya, kalau boleh tau bagaimana anda bersama keluarga membangun kegiatan belajar yang mandiri di rumah, dihadapkan dengan tantangan adanya hape dan media lainnya yang sangat menggiurkan untuk anak, apalagi kalau anak sering di rumah. Di sisi lain, kadang saya juga melihat ada (sedikit sebenarnya ya) pelajaran keterampilan yang positif saat bermain game, atau saat misalnya menonton film berbahasa Inggris, Atau… apakah itu jangan2 alasan saya saja ya untuk membolehkan anak menggunakan gawai?? Karena ada keuntungan juga untuk saya sehingga contohnya saya jadi bisa melakukan kegiatan rumah tangga. Sebab memang saya merasakan juga efek negatif gawai bagi anak.
Kadang saya juga bingung untuk menjalani. Apakah anak homeschool itu berarti ibunya tidak boleh bekerja? Apakah ibu menjadi sangat terbatas menggunakan media sosial di hapenya?
November 23, 2023 at 4:38 pm #4947Aar
KeymasterHalo kak @dhiyan-fathiya,
Saya belum terlalu faham maksud pertanyaan kakak tentang hubungan kegiatan mandiri dan HP. Apakah maksudnya mengatur kegiatan anak tanpa HP dan memanfaatkan HP secara produktif?
1. Manajemen HP
Kami sekeluarga bekerja online, aktif menggunakan komputer dan HP sehari-hari.
Anak-anak pada saat kecil terbiasa belajar menggunakan laptop. Mereka mulai memakai HP sekitar usia remaja.
Di rumah kami, ada aturan main terkait komputer dan HP. Beberapa diantaranya:
1. HP milik Bapak Ibu, status anak-anak meminjam HP. Pemakaian HP harus sesuai aturan. Jika tak sesuai aturan, pemakaian HP/komputer bisa dibatasi atau dihentikan. Anak-anak kami baru memakai HP saat usia remaja (sekitar 13 tahun). Sebelum itu mereka hanya pakai HP dengan pinjam milik kami.
2. HP tak boleh digunakan saat makan bersama.
3. Kegiatan anak2 sebagian besar di laptop, bukan di HP. Anak-anak boleh pakai HP untuk menonton dan main game di waktu2 yang memang diperbolehkan, misalnya saat istirahat makan siang atau Sabtu/Minggu.
4. HP bisa dicabut pemakaiannya jika anak2 mereka main game melebihi waktunya, kegiatan2 utama tidak dikerjakan, dan emosi mereka tidak stabil. Salah satu ukuran ketidakstabilan adalah anak2 selalu ingin main game dan hanya belajar sekadarnya.
5. Semua aturan2 itu dibicarakan dengan anak dan disepakati, serta ditegakkan.
6. Saat anak semakin besar, aturan itu dilonggarkan. Anak semakin mendapat kepercayaan mengatur dirinya. Kesepakatannya: proses belajar dan tugas2 utama beres.
Kuncinya adalah ada aturan main yang disepakati antara orangtua dan anak. Isi kesepakatannya tergantung keluarga.
Ada kondisi lain, saat anak kedua kami, Tata SMA. Dia menjalankan bisnis Kreasita. Setiap hari sejak pagi hingga malam dia belajar dan bekerja di depan komputer. Kami memberikan kepercayaan penuh kepadanya untuk mengatur kesehariannya, termasuk pemakaian HP dan komputer. Kami berkomunikasi berdasarkan output dan deadline yang disepakati.
Jadi, kami tidak memusuhi HP. Yang berusaha kami lakukan adalah membimbing anak2 agar bisa menggunakan HP dan komputer sebagai alat yang produktif.
2. Pekerjaan orangtua
Dari mana kakak mendapat kesan bahwa Ibu HS tidak boleh bekerja dan Ibu HS terbatas menggunakan media sosial?
Poin penting HS adalah orangtua membimbing anak-anaknya untuk menjalani pendidikan sehari-hari. Jadi, kuncinya memang alokasi waktu dan energi. Kalau orangtua tidak punya waktu dan energi untuk mendampingi anak, tentu akan sulit menjalani HS.
Pertanyaannya: jika orangtua tidak punya waktu, siapa yang akan mendampingi dan membimbing anak?
Nah, siapa yang akan mendampingi anak? Itu sudah kesepakatan bersama antara suami dan isteri. Ada keluarga yang Ibunya di rumah dan menjalankan proses utama HS. Ada keluarga lain yang ibunya bekerja dan ayahnya bekerja fleksibel sehingga memimpin keseharian HS.
Ada Ibu dan Ayah yang bekerja, tapi mereka bisa mengalokasikan waktu bergantian memimpin proses HS dan memanfaatkan dukungan keluarga besar (kakek/nenek) untuk menjalani HS.
Ada juga orangtua bekerja dengan anak HS remaja dan pola kegiatan anak banyak menggunakan bantuan eksternal: aplikasi, komunitas, kursus, kegiatan klub, dll. Anak sudah mandiri berkegiatan di luar.
Setting keluarga HS bermacam-macam, tapi substansinya sama: untuk menjalani HS dibutuhkan waktu dan energi mendampingi anak-anak.
Demikian kak, semoga membantu 🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.