Belajar Parenting › Forums › 10 Keterampilan Dasar Anak › Podcast Keterampilan Komunikasi Personal
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 24, 2019 at 3:04 pm #4639
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
April 29, 2020 at 9:44 pm #7243Anonymous
GuestHalo Mas Aar dan Mba Lala. Saya mempunyai beberapa pertanyaan:
1. Sejak umur berapa anak-anak harus dibiasakan melakukan presentasi secara terstruktur?
2. Apa saja yang menjadi inti penilaian dari orang tua pada waktu presentasi sehingga orang tua bisa memberikan feedback yang positif dan bermanfaat bagi anak?Terima kasih
April 30, 2020 at 9:25 am #7241Aar
KeymasterHai kak Weni,
1. Saya tidak terlalu suka menggunakan pengelompokan berdasarkan umur karena perkembangan anak berbeda-beda. Jadi, yang perlu kita lihat adalah kesiapan anak.
Proses bercerita terstruktur bisa dimulai kurang lebih sejak TK. Anak belajar menceritakan kembali buku cerita yang dibacakan atau film yang ditonton. Untuk memandu struktur, orangtua bisa mengajukan pertanyaan dengan kerangka umum 4W + 1H (what, where, when, why) + how
Proses ini bisa dilakukan hingga kurang lebih kelas 2 atau 3.
Jika anak sudah lancar menulis, anak mulai bisa membuat materi presentasi/slide. Mulainya sederhana, dibantu orangtua. Kemudian anak bercerita (presentasi) dengan urutan seperti yang ada di slide.
2. Proses presentasi tidak dinilai, tapi ditingkatkan kualitasnya seiring waktu.
Tahap pertama: yang penting anak mau dan bisa presentasi/cerita. Isinya hanya apresiasi tanpa feedback untuk membangun kepercayaan diri.Tahap kedua: mulai ada feedback sedikit tentang cara presentasi, misalnya: suara lebih keras, melihat ke depan, ada intonasi suara, dll. Apresiasi diperbanyak, feedback sedikit saja (jangan semua aspek). Proses ini diulang-ulang terus dengan feedback sedikit setiap presentasi.
Tahap ketiga: mulai diperbaiki cara membuat slide-nya dan substansi materi presentasinya.
Tahap kedua dan ketiga saling terkait dan diulang terus sepanjang proses anak belajar presentasi.
Intinya:
~ bangun kenyamanan anak
~ buatkan tangga proses sedikit demi sedikit
~ tidak ada nilai untuk rapor, proses ini untuk pengembangan diri
~ semakin lama semakin ditingkatkan kualitasnya: baik kualitas cara melakukan presentasi maupun penyajian slide presentasiMay 5, 2020 at 4:41 pm #7232Anonymous
GuestHallo mas Aar dan mba Lala…
Mau bertanya… Bagaimana cara menghadapi anak usia 10thn yg gampang emosian… Ntah itu nangis ato marah.. Sudah d ajak ngobrol… Dtanya kenapa, mau nya apa, tp g mau tbuka, selalu bilg tserah, tp sebari kesal, diminta nulis diary juga hanya 1x dkerjainnya..
Terima kasih atas bantuannyaMay 8, 2020 at 9:26 am #7229Aar
KeymasterKak Sisca,
Proses penyelesaian masalah dilakukan berdasarkan analisis terhadap kondisi di lapangan. Dengan informasi yang Anda berikan, saya sulit memberikan saran.Kunci penyelesaian masalah adalah asesmen atau penilaian orangtua (yang paling tahu kondisi di lapangan) terhadap penyebab masalah yang dialami anak.
Sebelum penyebab masalah ditemukan, akui dan terima emosinya, jangan justru adu keras memarahi anak supaya tidak emosi.
“Kakak kesal? Kakak kecewa? Kakak marah?”
“Nggak apa-apa kok kalau kakak xxxx (sebutkan sesuai yang dikatakan anak). Semua orang pernah merasakan xxxx.”Setelah anak tenang karena emosinya diakusi dan diterima, baru pertanyaan penyebabnya diajukan. Jangan langsung mengajukan pertanyaan sebelum emosi anak mereda, apalagi adu keras emosi. Itu tak akan membantu.
“Jadi, mengapa kakak xxxx? Apa yang bisa Bunda lakukan untuk membantu supaya xxxx-nya berkurang?”
Jika anak belum bisa atau tidak mau menjawab pertanyaan terbuka, tugas kita sebagai orangtua adalah mengajukan pertanyaan dugaan.
“Jadi kakak marah karena mainannya diambil adik?”
“Kakak kesal karena waktu mainnya kurang banyak?”
“Kakak kesal karena xxxxx?”(xxxxx itu adalah dugaan Anda yang menjadi penyebab masalah)
Jika anak terus menjawab bukan dan makin marah, maka ajukan pertanyaan lanjutan: “Jadi apa donk penyebabnya? Bunda tidak bisa membantu kalau kakak tidak cerita penyebabnya.”
Kurang lebih prosesnya seperti itu, kak. Kalau tetap tidak bisa ketemu penyebabnya, solusi yang bisa dilakukan adalah memberikan istirahat.
“Oo.. berarti kakak sedang lelah, ya. Kalau gitu kakak istirahat dulu. Mainnya berhenti dan sekarang istirahat di kamar. Bunda tidak suka anak yang marah-marah. Kalau sudah selesai marahnya, nanti kita ngobrol lagi.”
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.