Belajar Parenting › Forums › 10 Keterampilan Dasar Anak › Podcast Keterampilan Literasi
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 24, 2019 at 3:08 pm #4638
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
April 29, 2020 at 10:39 pm #7242Anonymous
GuestHalo Mas Aar dan Mba Lala.
Anak saya, Rayhan berumur 8 tahun. Sejak kecil saya mengenalkan buku dan melakukan kegiatan read aloud setiap hari. Rayhan sangat menyukai buku dan meminta untuk dibacakan cerita setiap hari.
Ketika masuk TK umur 5 tahun, sekolah mulai mengajari membaca dan mempunyai target anak-anak didik harus bisa membaca sebelum masuk SD. Saya melakukan kesalahan dengan mengajari juga membaca agar Rayhan cepat bisa membaca. Lambat laun saya melihat perubahan Rayhan yang dari mencintai buku menjadi enggan membaca.
Mulai dari usia bisa membaca, jika saya mengajak Rayhan membaca, selalu ada penolakan halus dengan berbagai alasan. Ketika saya tanyakan kenapa dia tidak suka membaca jawabannya karena capek. Saya bujuk dan memberikan pengertian mengenai betapa menyenangkannya membaca, manfaat membaca, dst. Rayhan akhirnya mau membaca buku, tetapi dia sering melakukan ‘fake reading’. Membaca tanpa mengerti isi bacaannya. Akhirnya saya melakukan lagi kegiatan read aloud supaya dia tertarik untuk membaca.
Pertanyaan saya:
1. Apakah anak melakukan ‘fake reading’ dan kemampuan literasinya rendah karena anak terlalu awal dipaksa bisa membaca? Bagaimana caranya untuk mengatasi hal ini?
2. Apakah kegiatan read aloud masih bisa dilakukan walaupun anak saya sudah bisa membaca sendiri?
3. Bagaimana saya bisa membangkitkan kembali kecintaannya terhadap buku?Mohon masukan dari Mas Aar dan Mba Lala. Terima kasih.
April 30, 2020 at 9:50 am #7240Aar
KeymasterTerima kasih atas kepercayaannya berbagi ya kak Weni,
Kelihatannya Rayhan terbebani dengan kegiatan belajar membaca. Beban yang terjadi terus menerus dan tak bisa dielakkan membuat dia terpaksa belajar membaca. Ketika terjadi berkali-kali, anak mencoba “mencari selamat”. Daripada dimarahi, dia akan lakukan walaupun tidak suka. Membaca bergeser dari sukacita menjadi beban. Dia anak baik yang ingin mematuhi orangtua, tapi dia sebenarnya merasa tertekan.
Yang menjadi tantangan adalah penyikapan orangtua. Apakah orangtua mau menerima bahwa anaknya mengalami masalah, mungkin trauma, dengan kegiatan membaca?
Jika masalah ini berkaitan pengalaman buruk/traumatik, apakah orangtua siap dan mau mengambil langkah yang diperlukan?
~ berdasarkan informasi yang Anda sampaikan, kemungkinan masalahnya sudah berlangsung cukup lama. Masalah diketahui, tapi tetap dijalani karena kondisi (anak harus bisa membaca) sehingga responnya bukan menerima keluhan anak, tapi mendorong anak tetap menjalaninya dengan beragam cara. Yang penting tetap belajar membaca dan mau membaca.
Jika masalah ini dianggap sebagai pengalaman buruk/traumatik, maka pendekatannya harus diubah. Jika kondisi dilihat dalam spektrum yang lebar mulai negatif-netral-positif, harapan Anda adalah anak cinta membaca (positif). Padahal anak sedang berada dalam kondisi negatif. Jadi, proses penting yang harus dilakukan adalah menggeser dari negatif ke netral dulu, sebelum menggeser ke positif.
Dan itu membutuhkan waktu.
Yang pertama, turunkan ekspektasi Anda. Anak tidak bisa langsung diminta anak cinta membaca lagi. Tapi, dia perlu menggeser dari trauma/benci menjadi netral dulu.
Yang kedua, cobalah mengobrol santai dari hati ke hati. Sampaikan permintaan maaf yang tulus pada anak yang telah membuatnya menjadi “benci” kegiatan membaca. Dengarkan dengan tulus apa yang dia rasakan, jangan dimarahi dan dinasihati. Dengarkan saja. Jika dilakukan dengan baik, proses ini bisa menjadi katup pembuka hati anak dan pintu pembuka bagi Anda untuk memahami kondisi yang sebenarnya terjadi.
Proses penggalian ini perlu berlangsung berkali-kali.
Yang ketiga, liburkan dulu aktivitas membaca yang dipaksa/diharuskan. Sediakan buku2 cerita kesukaannya, tapi jangan paksa anak membaca. Sesekali tanyakan, tapi betul-betul bertanya, bukan menyarankan.
Yang keempat, jika Anda ingin melakukan kegiatan read aloud, prosesnya boleh dilakukan atas izin/persetujuan anak. Pastikan dia benar2 mau. Jika dia tidak mau, biarkan dan jangan dinasihati/diberikan pengertian. Sekali lagi, fokusnya adalah penyembuhan pengalaman negatif anak.
Apa yang ditunggu?
Yang ditunggu adalah insiatif alamiah anak untuk membaca. Jika anak pernah menikmati dan suka membaca, kesukaan itu pasti akan muncul lagi.
Proses menunggu ini mungkin membutuhkan waktu, sebagaimana keterpaksaan yang dialami anak telah berjalan cukup lama. Jika anak sudah relax, mereka akan mengajukan diri atau tidak resisten lagi terhadap ajakan Anda.
Kurang lebih seperti itu prosesnya.
Untuk konsultasi lebih mendalam tentang penanganan trauma, kami sarankan Anda mencari teman/profesional yang ahli dalam bidang psikologi anak.
April 30, 2020 at 1:05 pm #7238Anonymous
GuestMas Aar, terima kasih banyak atas saran dan masukannya. Benar-benar membuka mata dan hati saya. Kami sebagai orang tua terutama saya sudah melakukan kesalahan. Kami siap melakukan langkah-langkah yang mas Aar sarankan. Sekali lagi terima kasih.
July 10, 2021 at 7:43 am #6869Anonymous
GuestMas Aar sya mau bertanya anak saya sekarang 11 tahun,dari usia dini sudah sering sya bacakan buku cerita dan rajin sya bawa ke perpustakaan,skr dia sudah mulai senang membaca secara mandiri cerita cerita pendek seperti novel hingga novel tebal seperti Harry Potter,Balkan sir dia suka menulis cerita fiksi dengan tulisan dia sendiri,pertanyaan sy:
1.Bagaimana meningkatkan minat Baca anak agar bacaannya lebih meningkat pada buku bacaan ilwu pengetahuan dsb?
2. Barangkali Mas Aar punya referensi aktifitas2 apa saja saya yang bìsa sya lakukan setiap harinya,untuk melatih dan meningkatkan kemampuannya menulis fiksi?
Terima kasih banyakJuly 10, 2021 at 9:50 am #6868Aar
KeymasterHalo kak Fadilah,
1. Minat anak pada buku pengetahuan
Pertama, kesukaan anak untuk membaca itu sangat perlu disyukuri dulu. Apalagi jika anak suka menulis. Itu sebuah kemampuan yang luar biasa. Itu menunjukkan anak punya minat dan kemampuan berkarya yang besar.
Kedua, mengapa anak perlu didorong untuk belajar pengetahuan? Apakah ada kebutuhan khusus bagi anak untuk belajar pengetahuan? Apakah anak tahu bahwa dia perlu belajar pengetahuan?
Jika anak tahu bahwa dia butuh belajar pengetahuan, jenis pengetahuan apa yang dia butuhkan dan ingin dipelajarinya? Bagaimana cara anak mempelajari pengetahuan yang dibutuhkan?
Pertanyaan2 reflektif itu perlu dilakukan karena pengetahuan ini luas sekali dan banyak sekali jenisnyya. Pengetahuan yang dianggap penting oleh orangtua belum tentu dianggap penting anak. Yang dianggap penting anak belum tentu dianggap penting orangtua. Ini yang membutuhkan dialog bersama anak untuk saling memahami kesukaan dan harapan masing-masing.
Ketiga, bagaimana jika anak berminat untuk jadi penulis fiksi. Apakah Anda mengizinkan? Kemampuan dan proses apa saja yang dibutuhkan oleh anak untuk jadi penulis yang baik? Ini yang perlu digali dan difasilitasi. Kebutuhan seorang penulis sudah pasti berbeda dengan kebutuhan seorang ilmuwan.
2. Stimulasi menulis fiksi
Saya penulis non-fiksi dan tidak punya pengalaman sebagai penulis fiksi.Daro sedikit pengalaman saya sebagai penulis, ada beberapa poin yang mungkin bisa dilakukan untuk mengembangkan potensi anak:
a. Memperbanyak memabca
Semakin banyak membaca, semakin luas wawasan anak. Memperluas bacaan perlu dilakukan secara horizontal (beragam genre/tema) dan juga secara vertikal (mendalami satu jenis genre tertentu yang disukai).b. Mencari guru
Ikutlah pelatihan menulis fiksi dan carilah mentor penulis yang biasa menulis fiksi. Guru/mentor itu cocok-cocokan. Oleh karena itu, kita mungkin mencoba beberapa kali sampai menemukan yang cocok dengan anak. Fungsi guru bukan hanya mengajarkan tentang teori menulis fiksi, tetapi sangat bermanfaat jika bisa memberikan bimbingan dan feedback untuk meningkatkan kualitas karya anak.c. Mencari komunitas
Banyak sekali komunitas menulis fiksi. Cari dan bergabunglah. Diskusikan dengan anak dan bergabunglah menggunakan identitas Anda (orangtua). Jadikan sebagai proses belajar bersama.Itu prosesnya yang penting kak. Tentu saja akan sangat ideal jika orangtua yang membimbing sendiri proses anak mengasah keterampilan menulisnya. Jika tidak bisa, mau tidak mau orangtua perlu mencari narasumber atau mentor eksternal bagi anak.
Demikian kak, semoga membantu.
October 17, 2023 at 2:00 am #4990Indah
Memberassalamu’alaikum wr.wb
1. kalau di paparan mas aar kan ada ya proeses melatih literasi ini salahsatunya hadirkan buku yang berkualitas boleh minta gambaran atau sebutkan contoh bukunya? atau komunitas buku yang mengahdirkan ini ada linknya ga boleh minta?
2. jika pada memproses literasi ini mengajarkan anak ada yang ketinggalan bahkan penumbuhan prosesnya tidak seperti yang mas aar sebutkan bisa kah diulang terutama pada usia remaja sementara fase pada masa Usia dini nya kita tidak menstimulasi seperti yang mas aar sebutkan?
October 19, 2023 at 10:36 am #4986Aar
KeymasterWa’alaikum salam wr wb,
Kak @annisa-sidqia-nahdah,
1. Komunitas Literasi
Saya tidak punya preferensi khusus komunitas literasi. Banyak komunitas penggerak literasi, Judul2 buku juga terus berkembang sesuai zaman.
Beberapa komunitas literasi bisa dilihat di sini: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/09/14/komunitas-peduli-literasi-di-indonesia
Ini juga komunitas yang bikin daftar buku berdasarkan konsep Charlotte Mason: https://cmindonesia.com/rekomendasi-buku-terjemahan-ao/
2. Literasi Remaja
Proses stimulasi tidak bisa diputar balik. Untuk anak remaja, kita tak lagi bisa mengajarkan mereka seperti anak-anak. Mereka sudah punya preferensi dan maunya sendiri.
Yang bisa kita lakukan adalah memaksimalkan kondisi yang saat ini ada. Paling jauh menawarkan kegiatan2 yang menurut kita bagus buat anak.
Jika anak HS, kita bisa bikin negosiasi dan mengobrol untuk bikin proyek literasi bersama. Misalnya: baca buku pilihan dan kemudian mendiskusikannya setiap minggu. Kalau mau asyik, yang baca buku bukan cuma anak tapi orangtua juga membaca. Jadi, prosesnya saling bercerita.
Kegiatan melakukan bersama itu pasti mengurangi resistensi anak. Jika hanya anak yang mendapat tugas, itu berarti tambahan beban yang mungkin membuat anak enggan.
Jika tidak bersama orangtua, mungkin bisa dilakukan bersama anak-anak lain atau di komunitas yang diikuti. Intinya, anak tidak merasa sendiri dan ada yang melakukan kegiatan itu bersama-sama.
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.