Belajar Parenting › Forums › Manajemen Keseharian Homeschooling › Podcast Manajemen Materi Belajar
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 23, 2019 at 1:22 pm #4663
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
June 18, 2020 at 4:38 pm #7176Anonymous
GuestHalo Mas Aar dan Mba Lala ..
Saya ingin menanyakan diumur berapa anak di beri kebebasan utk menentukan jadwalnya sendiri? Bgmn cr utk mulai mengenalkan anak2 agar dpt membuat jdwl mereka sendiri
Terima kshJune 19, 2020 at 4:48 pm #7174Aar
KeymasterDear kak Yovina,
- Untuk anak usia dini, kepentingan membuat jadwal adalah untuk orangtuanya. Orangtua merasa sehat secara mental dan proses kegiatan anak terkelola.
- Transisi saat usia dini – usia sekolah (sekitar 5-7 tahun), mulailah belajar membuat jadwal. Tuliskan jadwal di dinding, buat bersama anak, masukkan jadwal keseharian yang sudah dilakukan (misalnya: bangun pagi, mandi, sikat, gigi, dsb)
- Sebenarnya tak ada kondisi yang murni anak bebas membuat jadwalnya. Kondisi kebebasan lahir dari proses-proses sebelumnya ketika anak berlatih dan bisa dipercaya membuat dan menjalankan rencananya. Selama proses itu, ada dialog dan diskusi bersama orangtua tentang jadwal kegiatan anak.
Dalam pengalaman keluarga kami, anak2 sudah terampil mengatur jadwalnya sendiri ketika akhis SMP dan sepanjang masa SMA
June 15, 2021 at 5:05 am #6900Anonymous
GuestHalo mas @aar dan mba @mira Julia, mendengarkan podcast ini saya jadi teringat anak sulung kami (10 tahun 7 bulan, kelas 5 sekolah formal). Semenjak pandemi dan belajar di rumah menggunakan laptop, terlihat sekali minatnya di bidang IT. Bahkan dia belajar sendiri membuat animasi sederhana menggunakan Pivot, mahir mengoperasikan aplikasi2 dan selalu ngoprek2 mencari shorcuts, sintaks2 utk minecraft dsb. Yg saya dan suami alami adl saat dia terlalu lama berinteraksi dg layar, anaknya seperti hilang fokus, alam bawah sadarnya masih berselancar di dunia maya, krn selain ngoprek, youtuban jg tentunya. Akhirnya kami pun memberikan batasan, setelah selesai PJJ hanya mengakses laptop selama 1 jam utk menekuni hobinya. Yg ingin saya tanyakan, tips manajemen gawai yg ideal utk anak umur 10 tahunan, agar potensinya berkembang optimal, kadang ada kekhawatiran jg, 1 jam itu udh cukup atau masih kurang sih utk anak dg tipe seperti anak saya.
Terimakasih mas aar dan mba Lala.
June 15, 2021 at 4:44 pm #6899Anonymous
GuestTerimakasih mas aar, langsung tercerahkan saya dan langsung forward ke suami. Alhamdulillah anak kami di zona 2 dan 3, netral dan produktif, mungkin kami yg terlalu khawatir berlebihan.
June 15, 2021 at 4:49 pm #6898Aar
KeymasterKak Tri,
Bagaimana tips manajemen gawai untuk anak usia 10 tahun?
Tidak ada pengaturan durasi waktu gadget yang pasti untuk anak. Kita bisa menggunakan pendekatan praktis dengan melihat dampaknya pada anak.
Secara praktis, ada 3 dampak penggunaan gadget:
1. Negatif: anak kecanduan, fokus perhatian pada gadget/game/video; anak tidak tertarik melakukan kegiatan lain di luar gadget
2. Netral: gadget sebagai hiburan, bukan fokus kehidupan. Gadget digunakan sesekali untuk bersenang-senang dan anak bisa melakukan kegiatan lain dengan happy.
3. Positif: gadget dimanfaatkan untuk belajar dan proses produktif (berkarya)Yang menjadi tujuan kita adalah 2 dan 3.
Yang dikejar pertama adalah 2: gadget berdampak netral pada anak. Artinya, kalau tak ada gadget, anak tidak rewel dan tak masalah. Anak menggunakan gadget dalam durasi yang wajar.
Jika ingin digunakan sebagai alat belajar dan berkarya, itu berarti durasinya perlu ditambah. Tak apa-apa. Selain gadget digunakan untuk belajar/produktif, yang penting dipastikan bahwa anak tidak tergantung dengan gadget, memiliki kegiatan yang disukai di luar gadget, dan memiliki kegiatan fisik yang cukup banyak.
Begitu kak.
Jadi, durasinya boleh ditambah sambil didiskusikan dengan anak tujuan menambah durasi. Kemudian dilihat dampaknya. Jika dampaknya baik (bagi kesehatan mental maupun skills-nya), dilanjutkan dan bisa ditambah. Jika berdampak buruk secara mental, didiskusikan lagi. Bisa tetap atau dikurangi durasinya sesuai kondisi kesehatan mental dan produktivitasnya.
Demikian kak, semoga membantu.
October 9, 2024 at 5:58 am #4833Antik
MemberMas Aar…
maaf mau bertanya…saat anak-anak belajar, misalkan field trip itu apakah boleh bila dilakukan dengan keluarga aja? misal ibu dan adik kakak…? atau harus bersama dengan teman2 misalnya komunitas?
Saya memperhatikan, bila perginya bersama dengan banyak teman-teman, anak-anak cenderung lebih banyak bercanda dan ngobrol dengan teman-temannya daripada memperhatikan tujuan awalnya.
terima kasih banyak atas respon dan penjelasannya..
salam,
antik
October 18, 2024 at 1:27 pm #4831Aar
KeymasterHalo kak @antik.ernawati
Tentu saja boleh, kak.
Proses mengasah keterampilan melakukan perjalanan mandiri dan kegiatan travelling itu dilakukan bukan hanya 1 kali, tetapi berkali-kali, selama bertahun-tahun.
Prosesnya juga bertahap sesuai kondisi anak dan keluarga.
Jangan takut melakukan inisiatif kegiatan anak.
Kenali tujuan Anda dan kondisi Anda. Lakukan hal yang terbaik untuk anak dan keluarga.
Sebuah hal dinilai baik jika:
- hasilnya selaras dengan tujuan yang ditetapkan
- prosesnya dinikmati
- kegiatannya terkelola dengan baik (tidak memberatkan)
Demikian kak, semoga membantu.
April 16, 2026 at 11:15 am #4746Astri
MemberMas Aar bagaimana cara komunikasi yang bijak ke anak usia 10 th jika plannya tidak berjalan, dia jadi seolah ga mau lagi membuat plan karena akhirnya tidak terlaksana
April 16, 2026 at 4:59 pm #4745Aar
KeymasterKak @astri-mayasari,
Jika anak mengalami kegagalan (misalnya membuat rencana), maka yang perlu dilakukan adalah:
1. Berempati dan menerima kekecewaan anak.
“Kamu sedih ya karena rencana yang kamu buat gagal?”
“Bunda juga pernah gagal bikin rencana.. waktu itu ..[ceritakan pengalaman kesedihan dan kegagalan Anda beserta penyebabnya].”
2. Melakukan refleksi bersama
“Kalau menurut kakak, kenapa rencana itu tidak terlaksana? Apakah karena sulit? Butuh waktu lebih banyak? Ada halangan dari luar?”
Bantu anak mengidentifikasi. Jika anak belum bisa menyebutkan penyebabnya, orangtua boleh mengajukan pertanyaan berisi dugaan.
“Mungkin nggak masalahnya karena A? Atau karena B? Atau karena C?”
3. Mengambil pelajaran
“Gimana supaya lain waktu tidak gagal lagi?”
“Mungkin perlu disederhanakan targetnya ya?”“Atau mungkin perlu disiapkan alatnya?”
[bantu anak melakukan troubleshooting]
4. Tawarkan bantuan
“Bagaimana kalau bikin rencana lagi, tapi kali ini Bunda temani. Kita perbaiki yg kemarin jadi penyebab masalahnya.”
Demikian kurang lebih prosesnya, kak. Peran orangtua mendukung, sekaligus membimbing anak agar bisa melakukan refleksi dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.
Pastikan perbincangan dilakukan dalam kondisi santai dan anak sudah reda emosinya. Percakapan ini bisa terjadi di beberapa waktu yang berbeda, tidak dalam satu waktu sekaligus.
Semoga membantu 🙏
April 17, 2026 at 2:25 pm #4744Astri
MemberTerimakasih mas pencerahannya siapp akan saya coba mas
Makasih sekali lagi y mas 😁🤩
April 17, 2026 at 2:26 pm #4743Astri
MemberSiapp mas terimakasih pencerahannya mas 🙏 akan saya coba mas
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.