Podcast Manajemen Proses dan Jadwal Belajar

Belajar Parenting Forums Memulai Homeschooling Usia Sekolah Podcast Manajemen Proses dan Jadwal Belajar

  • This topic is empty.
Viewing 11 posts - 1 through 11 (of 11 total)
  • Author
    Posts
  • #4672
    Aar
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #7271
    Anonymous
    Guest

    1. Jika anak mengikuti kelas2 online, ada tugas2 dr kelas2 tsb, berarti itu diluar tugas minimum harian ya?

    2. Bagaimana penentuan project dalam sebulan yg akan dikerjakan? Apakah ada temanya? Apakah disesuaikan dgn minat anak?

    3. Jk ada tugas minimum harian dan mingguan bagaimana? Tugas mingguan contohnya mendengar kajian online.

    4. Jd yg perlu sy lakukan, mohon komen dan masukan jk ada yg kurang.

    1. Tentukan mana pelajaran yg mandatory/utama, mana yg pilihan. Cth. Utama : agama, piliham sesuai minat anak.

    2. Buat usulan tugas minimum terkait no 1 diatas baik pelajaran utama maupun pilihan.

    3. Buat kesepakatan dgn anak

    4. Buat tertulis

    5. Scr berkala lakukan pdca.

    #7263
    Aar
    Keymaster

    Hai kak Mutiara,

    1. Betul. Jika yang ditentukan sebagai kegiatan minimum adalah mengikuti kelas online, maka tugas2 terkait kelas tersebut adalah “tambahan proses/prestasi anak”. Tapi itu juga tergantung kesepakatan bersama anak tentang hal-hal yang dimasukkan dalam kategori kegiatan minimum. Kalau tugasnya banyak dan menghabiskan banyak waktu, nanti tidak bisa disebut minimum lagi.

    Intinya, kegiatan minimum jangan banyak2. Tujuannya adalah menciptakan “perasaan berhasil” setiap hari yang akan membuat semangat dan membangun spiral positif berkegiatan.

    2. Tema proyek tergantung kesepakatan bersama anak. Temanya boleh diusulkan oleh anak dan disetujui orangtua. Boleh juga diusulkan orangtua dan disetujui anak. Intinya adalah kesepakatan dan anak setuju. Faktor anak itu penting karena dia yang menjalani proses belajar, agar dia memiliki kepemilikan atas proses belajarnya, bukan hanya menjadi pelaksana dan orang suruhan saja.

    3. Boleh, kak. Tidak masalah. Sekali lagi, fungsi kegiatan minimum adalah membuat “batas bawah”, bukan batas tengah atau bentuk ideal. Semakin sedikit, semakin baik. Kalau batas minimumnya terlalu banyak dan sering tidak terlaksana, nanti akan jadi stress dan merasa gagal.

    4. Jadi, tugas orangtua adalah memeras otak dan menentukan betul-betul kegiatan minimum. Sebab, biasanya orangtua selalu memikir bahwa ini penting, itu penting dan akhirnya semuanya jadi penting. Memang butuh keberanian untuk menentukan batas minimum ini.

    Dalam kenyataannya, yang dilakukan anak-anak pasti jauh lebih banyak dan di atas batas minimum. Penentuan batas minimum adalah antisipasi ketidakpastian dan untuk kesehatan mental orangtua.

    #7253
    Anonymous
    Guest

    Makasiiiih kaaa

    Waaaah ituuu kok bueneerr buangeet yg no 4. Sy udh mikir, ini itu penting smua penting. Soal agama puenting, keterampilan rumah penting. Banyaak bgt jadinya.
    Khawatir kebanyakan leyeh2 ig an anaknya nih saya. Padahal ya kl dipikir ya ngga juga sih. Astaghfirullah.

    Noted kak.

    #7245
    Aar
    Keymaster

    Iya kak, ini fenomena umum di keluarga HS. Kita selalu merasa anak2 kurang kegiatan dan ingin memaksimalkan waktu mereka.

    Padahal kalau mereka sekolah kan sebenarnya banyak mainnya juga. Di kelas, bahkan yang efektif menurut guru adalah 20 menit pertama.

    Jadi, kunci pentingnya adalah menyelesaikan kesepakatan. Di luar waktu itu adalah jatah/hak anak untuk melakukan apapun yang ingin dilakukannya untuk bersenang-senang dan pengembangan diri.

    #6317
    Lydia
    Member

    Kak @Aar bisa beri contoh yang disebut keberhasilan kecil yang bisa membangun spiral positif seperti apa?

    Terimakasih 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

    #6314
    Aar
    Keymaster

    Kak @lydia

    Keberhasilan kecil adalah hal-hal yang berhasil dilakukan anak dan merupakan perkembangan dari kondisi dia sebelumnya.

    Seringkali yang terjadi dalam proses parenting adalah orangtua terlalu fokus pada harapan agar anak meraih tujuan besar/ideal, tapi mengabaikan atau tidak menghargai perkembangan yang lebih kecil. Akibatnya orangtua menjadi lebih mudah emosi atau merasa insecure, dan itu bisa memicu sikap-sikap orangtua yang kurang tepat.

    Contohnya begini:

    • Orangtua punya harapan anak yang supel, ramah dengan anak lain, langsung berbaur dengan teman-teman barunya. Ini adalah keberhasilan besar (yang membutuhkan waktu panjang dan proses bertahap pada anak).

    Ketika anak bertemu dengan orang baru (misalnya saat Lebaran) dan tidak terlihat aktif membaur, orangtua langsung mengeluhkan anaknya bermasalah secara sosial.

    Padahal, ada kemajuan-kemajuan dan keberhasilan kecil yang sebenarnya diraih anak: dia tidak ketakutan/kabur saat bertemu orang baru, anak mengamati dengan lebih santai temannya, anak mulai berani mengobrol setelah beberapa waktu, dll.

    • Contoh lain, orangtua mengharapkan anak menguasai materi belajar dan bisa mengerjakan semua soal. Itu keberhasilan besar.

    Keberhasilan kecil dalam konteks ini: anak bertambah pengetahuannya pada area xxx, anak sudah mulai mengerti bagian xxx dibandingkan sebelumnya tapi masih butuh latihan dan penguatan lagi.

    Jadi, poin penting yang perlu dibangun dalam proses pendampingan anak adalah:

    • menjaga agar kepercayaan diri anak tetap terjaga
    • mengenali aspek-aspek yang bertumbuh (dibandingkan dirinya sebelumnya, bukan dibandingkan orang lain)
    • bersyukur dan mengapresiasi pertumbuhan yang terjadi
    • menjadikan pertumbuhan anak sebagai basis stimulasi berikutnya

    Demikian kak, semoga membantu.

    #6312
    Lydia
    Member

    Terimakasih kak @Aar untuk penjelasannya yang sangat detail✍ noted.

    #6065
    Meri Azmi
    Member

    Terima kasih Mas Aar, sangat bermanfaat sekali. Mas Aar bolehkan kita memberikan sistem reward pada anak jika anak bisa mengerjakan kegiatan minimum dalam sehari? Boleh jugakah kita menyepakati konsekuensi diawal jika kegiatan minimum ini tidak tercapai? Adakah sistem reward dan konsekuensi ini di kelarga mas aar dan mbak lala?

    #6062
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @meri-azmi

    Mengapa pencapaian harian anak perlu diberi reward?

    Bukankah jika pencapaian itu tercapai, yang paling bertumbuh dan mendapatkan manfaat adalah anak?

    Jika diberi hadiah, fokus anak nanti pada hadiahnya, bukan kebahagiaan karena dirinya bertumbuh (bisa bikin jadwal, tambah pengetahuan/wawasan, semakin terampil, semakin percaya diri, dll).

    1.. Membangun motivasi intrinsik

    Jika kakak ingin membangun motivasi intrinsik (dari dalam) pada anak, maka hadiah2 yang sifatnya eksternal perlu dikurangi. Yang dibangun adalah kebahagiaan anak karena dia berhasil mencapai sesuatu.

    Peneguhan dari orangtua bisa dilakukan dengan apresiasi2 lisan atas pencapaiannya. Fokuskan apresiasi pada pencapaian dan pertumbuhannya. Misalnya:

    • “Wah, kakak keren sekarang selalu jadwalnya selalu dikerjakan. Kalau kamu terampil bikin jadwal dan menepati jadwalnya sendiri, hidupmu nanti akan enak kalau sudah besar.”
    • “Good job. Hari ini kakak cuma diingetin sekali. Berarti kesadaran kakak semakin baik.”
    • “Selamat ya kak.. walaupun pagi sempat terlambat mulai, tapi kakak berhasil menyelesaikan semua jadwal.”

    Sesekali kakak memberikan hadiah sebagai kejutan tidak apa2, tapi jangan rutin dan terpola.

    2. Konsekuensi

    Ketika berbicara kesepakatan dan konsekuensi, semua prosesnya ada di depan. Jadi, jika tidak terlaksana, anak sudah tahu apa risiko yang dialaminya.

    Sebagaimana apresiasi dibuat ringan, demikian pun konsekuensi jangan dibuat terlalu keras tapi tetap terasa dan bisa menjadi pelajaran buat anak.

    “Kalau xxx tidak dikerjakan, jam main dikurangi 5 menit. Kalau 2 hari berturut-turut, dikurangi 10 menit. Dst.”

    3. Pengalaman keluarga

    Keluarga kami tak menggunakan pendekatan reward & punishment. Kami berusaha membangun kesadaran anak bahwa semua proses belajar/kegiatan itu untuk kepentingannya.

    “Bikin jadwal dan menepati jadwal itu ilmu penting untuk hidup. Kalau kamu jago, hidupmu akan mudah kamu kelola.”

    “Tugas Bapak/Ibu membantumu agar semakin terampil mengelola diri dan belajarmu. Kalau kamu jadi jago, siapa yang mendapat manfaat? Kalau kamu jadi tambah terampil, siapa yang senang? Kalau kamu bisa bikin2 yang bagus, siapa yang beruntung?”

    “Bapak dan Ibu akan membantumu jika kamu memiliki kesulitan. Tapi belajar itu milikmu. Lakukan proses belajarmu karena hasilnya akan jadi bekal baik untuk hidupmu.”

    Sesekali kami memberikan “hadiah” misalnya menambah jam main jika anak berhasil membuat pencapaian besar, misalnya pulang turnamen, bikin karya yang bagus, dll.

    Demikian kak, semoga membantu. 🙏

    #6061
    Meri Azmi
    Member

    Terima kasih banyak mas aar, sangat mencerahkan 🙏

Viewing 11 posts - 1 through 11 (of 11 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top