Belajar Parenting › Forums › Menyiapkan Pembelajar Mandiri › Podcast Mengasah Keterampilan Bertanya
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
December 25, 2019 at 11:03 am #4622
Aar
KeymasterApakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?
September 3, 2021 at 10:41 pm #6801Anonymous
GuestHai Kak Lala,
Bagaimana cara melatih anak yg jika diajak ngobrol atau ditanya soal sesuatu jawabannya seringnya sangat irit atau ‘tidak tahu’. Terkadang saya jadi bingung mau ajak ngobrol apa lagi dengan anak, hehehe. Padahal niatnya supaya kami bs berlatih untuk saling bertanya.Oia, di slide kedua ditulis 5w+1h, tp ‘W’ nya hanya ada 4. Sementara di podcast mas Aar mention 4w+1h.
terimakasih banyak
September 5, 2021 at 3:45 pm #6800Aar
KeymasterHalo kak Kartika,
Terima kasih pertanyaannya.
Terima kasih koreksinya untuk slide. Yang betul adalah 4W + 1H = What, Where, When, Why + How.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi keterampilan anak mengungkapkan pikiran dan pendapat. Ada kaitannya dengan karakter, suasana percakapan, stimulasi, dan sebagainya.
Kuncinya adalah keterampilan. Jika anak terampil (pada momen tertentu), berarti tidak masalah. Jika anak belum terampil, berarti proses stimulasi perlu ditingkatkan.
Apa yang bisa dilakukan?
1. Terkait karakter
Ada anak-anak yang lebih pendiam dan anak-anak yang lebih ceriwis. Itu adalah hal yang biasa. Apakah ada karakter Ayah/Ibu yang memang cenderung pendiam?Pada anak yang pendiam, amati dan kenali kondisi saat anak berbicara lebih banyak dibandingkan kondisi umumnya. Apakah terkait tema tertentu yang dibicarakan? Terkait momen/suasana yang sesuai dengannya? Terkait teman dan partner diskusi?
Dari pengamatan, Anda bisa mencoba menyesuaikan dengan kondisi yang membuat anak banyak berbicara/bercerita.
2. Mengasah keterampilan
Ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengasah keterampilan terkait komuninasi.
~ penjelasan tentang alasan. Sebelum melakukan kegiatan yang baru bersama anak, jelaskan tujuan dan maksud kegiatannya. Apa keuntungannya untuk anak. Misalnya, kalau kamu terampil berbicara dengan jelas, kamu bisa menyampaikan apapun yang kamu inginkan.~ narasi. Minta anak untuk menceritakan ulang buku yang baru selesai dibaca. Proses ini bisa diawali dari buku yang sederhana. Jika anak mengalami kesulitan, bantu dengan mengajukan pertanyaan: apa judulnya? Siapa penulisnya? Siapa saja tokohnya? Bagaimana alur ceritanya? Apa yang terjadi dengan tokohnya? Apa yang terjadi pada saat adegan xxx?
~ presentasi. Sebagai bagian dari proyek kegiatan, minta anak melakukan presentasi yang menjelaskan proyeknya. Presentasi sebaiknya dipersiapkan dan memakai slide. Ajari anak membuat slide. Mulai dengan sederhana. Jadikan sebagai proyek keluarga sehingga anak merasa kegiatan presentasi itu penting. Libatkan seluruh anggota keluarga, misalnya menjelang tidur malam atau di akhir pekan.
3. obrolan yang mendalam
Diskusi bersama anak biasanya terjadi jika topik bahasannya penting, relevan, dan memang berharga didiskusikan; bukan hanya mencari-cari. Juga, orangtua memiliki keterampilan untuk mengajukan pertanyaan follow-up sehingga obrolan/diskusi tidak berhenti.Contohnya:
~ tanya-jawab mengenai lokasi di perjalanan. “Eh, kak kita belajar tebak-tebakan supaya kamu tahu nama daerah yang kita lewati. Ini nama daerahnya apa?” Jika anak tidak bisa menjawab, sebutkan nama daerah itu. Ulangi tanya-jawab itu dalam kesempatan perjalanan yang lain.~ minta diajari (yang kira2 anak tahu jawabannya). “Kak, film dokumenter apa yang bagus di Netflix ya?”
~ kesukaan/pilihan. “Kak, kalau nanti kita jalan makan, kamu mau makan apa? Bagaimaan kalau kita coba makan yang berbeda? Restorang mana yang paling kamu sukai, mengapa?” .. lanjutkan jawaban anak dengan jawaban kesukaan/pilihan versi Anda dan tanyakan juga pada saudaranya (jika ada).
Demikian kak, semoga membantu dan bisa memberikan ide.
September 8, 2023 at 5:41 pm #5007Dhiyan Fathiya
MemberHalo Mas Aar,
Terimakasih materinya. Menarik sekali pembahasannya, keresahan yang saya rasakan terjawab dari sini; tentang bagaimana mengembangkan kemampuan belajar sebagai salah satu keterampilan, dan Anda memulainya dari tentang ‘bertanya’ dimana itu juga merupakan suatu keterampilan.
Pertanyaan saya ada beberapa ya Mas. Pertama, untuk anak usia dini, mengembangkan bagaimana mas Aar menerapkan jadwal kegiatan pada anak 4 tahun? Di saat yang bagi saya krusial untuk memutuskan apakah anak saya akan homeschooling atau TK ini, saya bingung menerapkan sistem jadwal pada anak saya. Apa jangan2 saya tidak mampu… Kalau sekolah kan anak sudah dibuat terbiasa dan teratur sendiri dengan jadwal belajar di sekolah ya, bagaimana dengan yang homeschooling? Anak 4 tahun juga sedang nikmat2nya bermain, saya coba gunakan workbook supaya dikerjakan tiap hari, tapi jadwalnya ya tidak bisa teratur.
Selanjutnya pertanyaan untuk anak remaja, mungkin ini sebetulnya mengarah pada produk komunitas remaja yang ditawarkan Rumah Inspirasi ya. Untuk memotivasi anak remaja supaya jadi makin semangat belajar, saya sedang mencari komunitas remaja usia SMA di Jakarta. Harapannya anak remaja saya baik bisa terdorong lebih giat belajar baik melalui ngobrol, diskusi, atau mencari informasi lainnya dengan sesama remaja. Saya kan belum daftar member coaching, jadi hanya melihat ada teen’s club yang diadakan tiap bulan, itu pun yang terlihat aktif banyaknya anak akhir SD dan SMP ya Mas? Nah, selain itu, ada kegiatan apa lagi untuk remaja SMA di Rumah Inspirasi?
Oya, 5W itu kan kurang Who ya mas. Hehehe. 🙏
Terimakasih
September 9, 2023 at 12:03 pm #5006Aar
KeymasterKak @dhiyan-fathiya
Terima kasih pertanyaannya.
1. Jadwal anak usia dini
Secara umum, anak usia dini tidak menggunakan jadwal seperti anak sekolah (TK). Sebagian besar kegiatan anak usia dini bersifat spontan, menggunakan keseharian.
Dalam pengelolaan jadwal anak HS, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a. Jangan berharap HS seperti sekolah
Jika orangtua berharap jadwal dan cara belajar anak dalam HS seperti sekolah yang sangat terstruktur, hampir dipastikan orangtua akan kecewa. Sebab, rumah berbeda dengan sekolah. Pola hubungan orangtua-anak berbeda dengan guru-murid.
Jika orangtua ingin anak HS punya jadwal belajar di rumah seperti anak TK yang rutin dan ketat, itu sangat sulit dilaksanakan.
b. Merangkul kondisi informal
Pola hubungan orangtua-anak adalah informal, banyak mengobrol dan negosiasi. Tidak kaku. Pola kegiatan dilakukan melalui kesepakatan-kesepakatan.
Kondisi rumah berbeda dengan sekolah sehingga pola kegiatan anak juga tak bisa disamakan. Sesekali menggunakan worksheet dan duduk tenang latihan soal. Sebagian besar proses belajar dilakukan melalui mengobrol, proyek, memakai aplikasi, dan melalui aneka kegiatan keseharian.
c. Jadwal untuk kepentingan orangtua
Jika anak usia dini ingin dibuatkan jadwal, maka jadwal itu sebenarnya untuk orangtua supaya mudah mengalokasikan waktu. Jadwal bukan daftar yang harus ditaati anak karena anak belum mengerti dan belum bisa dituntut komitmennya.
Daftar anak dimulai dengan cara menempelkannya pada kegiatan alamiah: mandi, makan, tidur.
Misalnya: habis mandi kegiatan bersama Bunda. Jenis kegiatannya diisiasi oleh orangtua dan ditawarkan pada anak.
d. Kegiatan melalui keseharian
Kegiatan2 anak berbasis pada tumbuh kembang (checklist parameter perkembangan anak), bukan materi akademis. Kegiatan memanfaatkan keseharian yang dijalani di rumah untuk mengasah: 10 keterampilan dasar anak.
2. Komunitas HS Remaja
Komunitas HS masih sangat sedikit, apalagi untuk remaja. Sejak pandemi, banyak komunitas yang berhenti berkegiatan dan belum berkegiatan bersama lagi.
Yang penting dilakukan oleh orangtua adalah:
a. Carilah teman, tidak harus sesama HS
Pertemanan yang paling memungkinkan adalah berbasis minat dan hobi. Cari komunitas2 berbasis minat anak dan lakukan kegiatan bersama di sana. Teman juga tak harus seusia.
Misalnya: komunitas pecinta reptil, komunitas astronomi, public speaking, board game, dll. Googling dan carilah informasi tentang kegiatan komunitas2 dan hadirilah.
b. Jangan cari yang serius
Komunitas remaja yang serius dan isinya belajar/berdiskusi sangat sedikit. Sebagian besar komunitas isinya main dan bergaul dengan benang merah sebuah minat tertentu. Tujuan utamanya memang bersenang-senang dengan bonus tambah pengetahuan/wawasan sesuai minatnya.
Salah satu yang cukup serius adalah Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) biasa berkegiatan di TIM. Isinya para remaja, mahasiswa, peminat tentang astronomi. Kegiatannya pengamatan bintang, diskusi, pelatihan, dan lain-lain.
c. Teens Club Rumah Inspirasi (TCRI)
TCRI disediakan Rumah Inspirasi untuk memfasilitasi pertemuan para remaja. Ternyata, yang hadir sebagian besar adalah pre-teens, anak sekitar usia SD yang masih mau hadir karena didorong orangtuanya.
Anak yang SMA tidak mau hadir bersama adik-adiknya yang kecil karena mereka juga sudah punya lingkaran teman sendiri yang diperolehnya melalui Twitter atau yang lainnya.
Kondisi-kondisi semacam ini memang tak ideal dan tak seperti harapan kita. Dan memang kondisi-kondisi seperti inilah yang menjadi tantangan dalam proses HS.
Infrastruktur untuk menjalankan HS masih sangat terbatas sehingga kita harus mencari substitusi-substitusi yang paling memungkinkan dan sesuai kebutuhan anak-anak kita.
Demikian kak, semoga membantu.
🙏
January 24, 2026 at 10:34 pm #4750Khairunnisa
Member5W+1H kalo di slide mungkin ada tambahan “who” atau pertanyaan siapa nya mungkin ya mas aar?
January 27, 2026 at 2:09 pm #4749Aar
KeymasterBetul kak,
Who bisa digunakan sebagai kerangka berpikir untuk menggali informasi/cerita terkait orang. -
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.