Podcast Peluang & Tantangan Homeschooling Usia Dini

Belajar Parenting Forums Memulai Homeschooling Usia Dini Podcast Peluang & Tantangan Homeschooling Usia Dini

  • This topic is empty.
Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 15 total)
  • Author
    Posts
  • #4727
    Mira Julia
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #7224
    Anonymous
    Guest

    Disebutkan disini kalau salah satu peluang homeschooling adalah agar kita bisa menanamkan pola baik keluarga sesuai dengan nilai keluarga kita.
    Pertanyaan saya, bagaimana kalau pola keluarga kami tidak sempurna dan masih ada kekurangan?

    Bukankah salah satu keunggulan kurikulum sekolah adalah karena sekolah dapat mengajarkan pola terbaik sesuai dengan apa yang diterima masyarakat?
    Yang saya khawatirkan, ada pola keluarga kami yang masih kurang baik, dan itu yg akan nanti turun ke anak, tanpa kami sadari.

    Misalnya: manajemen emosi. Kalau saya masih suka marah ke anak, nanti turun ke anaknya jadi suka marah-marah.
    Atau ada nilai-nilai baik dasar yang saya lupa/tidak sadar harus diajarkan ke anak.

    Terima kasih sebelumnya.

    #7223
    Aar
    Keymaster

    Hai kak Catherine,

    Ada beberapa isu yang bisa kita bahas dan renungkan tentang proses penanaman nilai baik pada anak:

    1. Tidak ada keluarga yang sempurna. Tapi, keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi anak untuk bertumbuh. Orangtua adalah penanggung jawab yang dititipi Tuhan untuk mengasuh anak. Baik anak kita bersekolah maupun HS, keluarga akan tetap menjadi referensi utama dalam kaitan dengan nilai-nilai kehidupan, terutama pada saat anak usia dini.

    2. Pendidikan mengandung 2 aspek, yaitu: pengasuhan dan pengajaran. Fungsi utama sekolah adalah memberikan pengajaran, transfer ilmu. Pengasuhan adalah proses membimbing tumbuh kembang anak dan itu tak bisa didelegasikan pada siapapun (guru, ustadz, dan pihak luar). Pengasuhan menjadi tanggung jawab orangtua, terutama pada saat anak usia dini.

    3. Homeschooling bisa menjadi sarana bagi orangtua untuk terus bertumbuh dan berkembang karena ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak dan keluarga. Jika kita merasa ada hal yang kurang baik dalam diri kita, HS membuat kita berkomitmen untuk memperbaiki diri. Yang utama dalam proses parenting adalah kekuatan cinta dan itikad kita. Ketika kita masih belum bisa menahan emosi, yang penting prosesnya adalah terus belajar mengelola emosi dan minta maaf pada anak jika tanpa sengaja kita terbawa emosi.

    4. Sekali lagi, orangtua yang ingin menjalani homeschooling perlu melihat keteladanan sebagai sebuah tantangan untuk perbaikan diri.

    Tapi sekali lagi, semua kembali pada penilaian terhadap diri kita sendiri. Jika mau homeschooling, orangtua perlu membangun kepercayaan diri bahwa mereka sanggup memperbaiki diri dan berproses bersama anak-anak dengan sukacita.

    #7028
    Anonymous
    Guest

    MaasyaaAllah..

    Terimakasih Mas Aar.
    InsyaaAllah sharing dari Mas Aar dan Mbak Lala ini akan sangat membantu saya sekali khususnya sebagai Ibu juga Suami saya.

    Semoga dengan sharing di sini , Saya semakin kuat dan tetap terus bersemangat untuk berproses menjadi orang tua yang baik dan amanah yang disayangi dalam keluarga kami.

    Dari paparan Mas Aar, Saya tampaknya sudah sedang dalam hal upaya melaksanakan poin-poin tersebut. Selanjutnya untuk lebih mindful lagi dalam melakukannya. Serta mengupayakan diri baik saya maupun Suami agar selalu mengisi tangki kebagiaan kami. Sebab memang benar, saat Saya dan Suami dalam kondisi emosi yang bahagia, maka saat itu pula kami bisa menjaga sikap dan tenang dalam menghadapi tingkah anak, dan saat itu pula tangki kebagiaan anak terisi.

    Semangaaaaat…

    #7026
    Aar
    Keymaster

    Semangat kak Indriana,

    Ada hal-hal yang kelihatannya sederhana, tapi berdampak sangat besar dalam proses pendampingan anak, yaitu: mindfulness dan kebahagiaan Ibu.

    Mengapa? Karena banyak sekali problem perilaku anak sebenarnya disebabkan oleh hal-hal yang sederhana: lapar, haus, lelah, insecure. Jika kebutuhan fisik seperti makan/minum/istirahat terpenuhi, problem sering muncul karena kebutuhan psikologis yang belum terpenuhi secara utuh. Anak kemudian mencari perhatian orangtua dengan rewel, nakal, dan mengganggu karena dengan cara itu dia bisa mendapatkan perhatian orangtuanya.

    Jadi, tantangan kita sebagai orangtua adalah mengisi tanki kebahagiaan anak sebelum tanki itu kosong.

    Saat orangtua sehat dan santai bersama anak, banyak masalah perilaku anak biasanya menjadi terurai.

    #6953
    Anonymous
    Guest

    Homeschooling ini bukan sekedar mendidik dan mengasuh anak saja, orang tua pun turut belajar dan memperbaiki diri agar bisa menanamkan nilai nilai baik kepada anak. Seperti itu ya kira kira peluang dan tantangannya homeschooling ini, Mbak Lala/Mas Aar?

    Sejauh ini, yang menjadi tantangan utama bagi kami orang tua adalah management emosi. Bagaimana kami sebagai orang tua bisa memanage emosi kami dalam menghadapi anak atau di depan anak, tentunya juga bagaimana kami sendiri orang tua bisa mengajarkan anak untuk mampu memanage emosi mereka yang notabenenya masih berusia dini.

    Kami dengan 2 orang balita yang sedang dalam masa butuh pendampingan intensif bersama kedua orang tua, terutama saya sebagai Ibu, itu berasa tidak bisa maksimal membersamai mereka sekaligus. Disaat si adek 1 tahun sedang butuh pengawasan penuh karena masa masa mulai aktif bergerak, si Kakak juga sedang dalam masa butuh pendampingan orang tua sebagai teman bermainnya. Akhirnya si Kakak lebih sering didampingi ayah, jika ayah sedang bekerja ibu sedang ngelonin adek, jadilah si Kakak ditemani Televisi.

    Kemudian lagi, mereka berdua sering rebutan. Terkadang si adik yang pengen maenan yang dipegang si Kakak. Terkadang sebaiknya, si Kakak yang juga mau mainan yang dipegang adek. Minum rebutan, lihat buku Rebutan, tidur bareng Ibu juga rebutan, pake selimut Rebutan, mau mandi rebutan, minta gendong ayah pun kadang rebutan juga. Yang mana Rebutan ini acapkali diiringi dengan tangisan.

    Misalnya, si adek lagi pegang buku biru, nah sama si Kakak dia juga mau buku biru. Atau si Kakak lagi minum pake botol, si adek juga merengek mau minum pake botol yang dipegang Kakak. Jika salah satunya diminta bersabar mengalah, ini bakalan nangis dan kesal si anaknya. Antara pengen ketawa,nangis, atau kesal/marah gitu jadinya. Gimana ya Mas Aar/Mbak Lala caranya agar bisa berdamai dalam kondisi yang seperti ini. Tanpa tangisan, tanpa teriakan, sebaliknya bisa saling sayang kakak adek.

    Tapi kalau lagi baeknya. Mereka juga suka becanda main bareng. Kakak mau membujuk adek, adek pun seneng dibecandain si Kakak.

    Terimakasih lagi sebelumnya buat Mas Aar dan Mbak Lala.

    #6733
    Anonymous
    Guest

    Terima kasih mas Aar atas ilmu dan penjelasannya. Saya orang tua yang masih menimbang HS dan mulai menjalaninya sedikit demi sedikit.

    Anak saya masih 1, usia 4.5tahun. Sejauh ini saya perhatikan, dia sangat menikmati waktu bermain dan belajar bersama saya. Begitupun saya.

    Sampai dia betul2 tidak ingin sekolah. Sudah saya tawari, sounding dsb. Tetap tidak ingin sekolah dan ingin belajar bersama saya saja.

    Dia bilang, “sekolah itu perlu tp kalau tidak mau sekolah jgn dipaksa. Yang penting itu tetap belajar dan beraktivitas dirumah”

    Saya tidak pernah mengajari itu dan tidak pernah “mendoktrin” harus bgt HS.

    Apakah “prinsip” anak saya tsb salah satu tanda memang dia cocok HS?

    #6732
    Aar
    Keymaster

    Terima kasih pertanyaannya kak Sarah,

    Wah, anaknya luar biasa sudah punya pendapat dan pemikiran tersendiri, kak. Anak juga berani mengutarakannya ke orangtua.

    Secara umum, HS bisa diterapkan untuk anak apapun, apalagi saat usia dini. Kuncinya adalah kemampuan orangtua untuk menjelaskan pada anak dan membangun pola keseharian yang asyik bersama anak.

    Jika anak Anda ingin belajar di rumah dan menikmati kegiatan bersama Anda, itu adalah modal yang sangat besar dan baik.

    Sekarang bolanya ada di orangtua untuk merancang pola kegiatan keseharian yang asyik dan membantu anak untuk terus bertumbuh.

    Selamat menikmati kegiatan bersama ya kak..

    #6722
    Aar
    Keymaster

    Kak Indriana,

    Terima kasih sharingnya.

    Betul sekali yang Anda sampaikan. Homeschooling itu bukan hanya tentang mengasuh dan mendidik anak, tetapi juga perihal orangtua mendidik diri sendiri agar menjadi orangtua/diri yang lebih baik.

    Banyak yang mengira bahwa kitalah yang mengajari anak-anak tentang kehidupan. Tapi dalam banyak hal, sebenarnya anak-anak adalah seperti malaikat yang dikirimkan Tuhan kepada kita untuk mendidik kita.

    Melalui kehadiran anak-anak, kita belajar bersabar. Melalui mereka, kita belajar untuk menahan diri. Melalui mereka, kita belajar tertawa dan menertawakan segala kekacauan yang terjadi. Melalui mereka, kita belajar meningkatkan efektivitas manajemen keseharian. Melalui mereka, kita belajar terus meningkatkan kualitas diri kita.

    Sebab, kita tahu bahwa anak-anak bukan mendengarkan nasihat kita, tetapi menyerap energi dan contoh2 keseharian yang kita lakukan.

    Lalu bagaimana?

    Susah ya? hehehe… betul 😉

    Ada beberap hal yang perlu dan bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas pendampingan bersama anak, yang juga terkait dengan upaya meningkatkan kapasitas kesabaran kita.

    1. Fokus pada Hal yang Bisa Diubah
    Lebih banyak fokus pada hal-hal yang bisa dikelola (circle of control), bukan hal yang bisa kita pengaruhi (circle of influence). Anak-anak termasuk circle of influence yang bisa kita pengaruhi dengan usaha. Tapi jauh lebih mudah mengubah diri kita (cara pandang, sikap, respon, kegiatan) yang ada dalam kendali kita sepenuhnya.

    2. Perbesar kapasitas kebahagiaan Ibu
    Proses meningkatkan kapasitas pendampingan dan kesabaran dimulai dengan “Ibu yang bahagia”. Semakin semakin besar dan penuh “tanki kebahagiaan” kita, semakin santai kita saat kebahagiaan kita disedot oleh anak-anak kita. Semakin damai dan bahagia Ibu, semakin mudah merespon masalah dengan banyak tertawa

    Cari cara untuk membahagiakan diri sendiri dengan cara-cara yang mudah dan memungkinkan untuk dilakukan sehingga mudah mengisi tanki kebahagiaan. Sesederhana minum teh di pagi hari, mengaji 15 menit, dll yang bisa menjadi sumber kebahagiaan kakak.

    3. Kondisi ini sementara, bukan permanen
    Lihatlah kondisi ini sebagai bagian dari proses pertumbuhan anak-anak, bukan hal yang akan terjadi seterusnya. Ini hanya sementara kok, nanti akan berubah seiring pertumbuhan anak.

    Tapi yang sementara ini memang menggemaskan sih, hehehe.. apalagi kala tanki kebahagiaan kita menipis karena lelah atau ada masalah lain.

    4. Fasilitasi dan Bikin Aturan Main
    Ada kalanya kondisi susah terutama jika anak masih sangat kecil. Jadi, solusi sederhananya adalah difasilitasi dengan 2 hal yang serupa; misalnya gelas yang sama, piring yang sama, dll (jika memungkinkan).

    Buat aturan main untuk membantu kakak (yang besar) belajar self control. Misalnya:
    ~ main di tempat berbeda dengan adik (misalnya di kamar)
    ~ berikan waktu jeda saat meminta sebuah (misalnya hitungan 10)
    ~ meminta dnegan baik, tidak berteriak atau merebut (jika meminta atau merebut justru tidak diberi)

    Aturan2 semacam ini dibuat, jelaskan pada anak dengan bahasa yang sederhana, praktekkan dengan konsisten.

    5. Tertawakan
    Saat anak ribut dan menangis, tertawalah keras-keras dan diamlah. Itu akan membuat anak kaget. Atau Anda bisa menangis kencang-kencang menirukan tingkah anak (role playing). Lalu bahaskan secara santai bersama anak tentang cara bersikap baik (sesuai petunjuk Anda).

    6. Isi tanki kebahagiaan anak
    Cari momen2 di mana Anda main berdua secara khusus dengan anak. Biasanya ini untuk kakak supaya dia tahu bahwa dia tetap disayangi dan tidak diduakan. Saat berdua, berkegiatanlah dengan sepenuh hati (mindful) dan sampaikan bahwa Anda tetap mencintai kakak sepenuh hati.

    Demikian, semoga membantu ya kak.

    #5579
    Katrin
    Member

    Kak saya mau sharing. Anak saya selama usia 0 hingga 3 tahun mendapatkan ujian sakit. sehingga pertumbuhan dan perkembangannya sempat terganggu. sekarang usianya menuju 4 tahun sudah sembuh namun masih fokus terapi fisik, wicara, dan okupasi. tapi dasarnya dia tidak ada kelainan otak maupun fisik, hanya karena sakitnya yg mempengaruhi kenaikan berat badan lalu mengakibatkan motorik kasar terlambat, dan lama-lama perkembangan yang lain ikut terlambat. kami adalah nomaden family, sehingga kami berniat melakukan HS karena kondisi anak yang spesial dan tempat tinggal yang berpindah pindah. permasalahan yang saya hadapi adalah kadang saya khawatir saat anak saya usia 7 tahun dia belum siap belajar kurikulum SD meski saya akan mengusahan yang terbaik untuk stimulasi anak saya, namun kecepatan hasil juga kan ada kemungkinan tidak sesuai harapan. apa yang harus saya lakukan jika anak saya belum siap menjalani HS tingkat SD di usia 7 tahun nanti?

    #5577
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @katrin-tara

    Terima kasih sharingnya.

    Salah satu kelebihan HS dibandingkan sekolah adalah: fleksibilitas.

    Dalam HS prosesnya bisa lebih longgar dibandingkan di sekolah.

    Misalnya: anak belum bisa membaca di usia 8 tahun. Jika bersekolah, itu akan jadi masalah karena banyak materi belajar yang mensyaratkan anak sudah bisa membaca.

    Dalam proses HS itu tidak apa2. Yang penting anak terus distimulasi sesuai kapasitas dan kecepatannya.

    Yang menjadi kekuatannya terus diasah, yang menjadi kelemahannya disesuaikan dengan kondisi anak.

    Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika menjalani HS.

    Yang penting kakak sekarang fokus menstimulasi anak agar bisa berkembang optimal. Supaya optimal, kelola emosi dan harapan kakak agar suasana saat berkegiatan nyaman untuk anak. Jangan takut, jangan khawatir, hadirkan ketenangan dalam diri orangtua saat mendampingi anak.

    Sesuaikan stimulasi dengan kapasitas dan kemampuan anak.

    Nanti di usia 7 tahun dilihat perkembangan kondisinya.

    Jika mau sekolah, berarti didaftarkan ke SD.

    Jika mau HS, berarti didaftarkan ke PKBM.

    Demikian kak, semoga membantu.

    🙏

    #5574
    Katrin
    Member

    masyaAllah makasih Kak Aar atas jawabannya. Saya jadi lebih lega. Ohya untuk pendaftaran ke PKBM itu sejak start HS atau saat mau menempuh ujian kesetaraan saja? Apakah ada syarat usia maksimal dan minimal?

    #5573
    Aar
    Keymaster

    Kak @katrin-tara,

    Pendaftaran di PKBM dilakukan sejak usia 7 tahun, saat mulai masuk HS Usia Sekolah.

    Dulu pendaftaran bisa dilakukan setahun sebelum ujian Paket. Aturan sekarang tak bisa dilakukan. Data peserta ujian diambil dari data siswa PKBM yang ada di Dapodik.

    Demikian kak, semoga menjawab. 🙏

    #4866
    A
    Member

    Hi pak Aar dan bu Lala.. saat membaca materi ini saya sedang mengassess apakah saya mampu menghadapi tantangan kondisi adhd (ortunya) untuk dampingi anak. sesi planning sudah overwhelming dan kadang malah off radar ketika sedang hyper focus homeschooling. Apakah pak Aar dan bu Lala ada pengalaman obervasi otu dengan adhd menjalankan homeschooling untuk anaknya?

    #4864
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @ariana-susilo

    Kami belum pernah berinteraksi dengan orangtua HS yang didiagnosa ADHD. Biasanya diagnosa itu terkait anak, bukan orangtua. Masih sangat jarang orangtua yang melakukan konsultasi profesional terkait kondisi dirinya, apalagi semisal terkait ADHD.

    Dalam konteks HS Usia DIni, pola2 yang terjadi sebenarnya lebih santai dan jauh lebih ringan dibandingkan sekolah.

    Dalam konteks perencanaan, fokusnya lebih ke aspek alokasi waktu orangtua (kapan jadwal mendampingi anak) dan bukan perencanaan detil kegiatan anak. Jadi bukan perencanaan kegiatan seperti guru TK/sekolah.

    Kegiatan anak punya 2 pola:

    • kegiatan rutin: menempel bersama kegiatan alamiah anak (tidur, mandi, makan, main)
    • kegiatan spontan: tergantung hal-hal yang sedang ada terjadi pada saat ini

    Dalam pengalaman keluarga kami, porsi terbesar kegiatannya adalah kegiatan spontan, memanfaatkan keseharian yang dijalani anak bersama keluarga.

    Terkait perencanaan yang ada hubungannya dengan tumbuh kembang anak, kami melihat checklist tumbuh kembang anak 1-3 bulan sekali.

    Di luar itu, fokus utamanya adalah menjalani keseharian yang asyik bersama anak dan mengurangi paparan gawai.

    Kegiatan yang asyik itu ditandai:

    • anak semangat menjalani kesehariannya
    • minim drama

    Demikian kak, semoga membantu. Jika ada pertanyaan lanjutan, dipersilakan.

    🙏


Viewing 15 posts - 1 through 15 (of 15 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top