Podcast Prinsip Penyelenggaraan Homeschooling Usia Dini

Belajar Parenting Forums Memulai Homeschooling Usia Dini Podcast Prinsip Penyelenggaraan Homeschooling Usia Dini

  • This topic is empty.
Viewing 7 posts - 1 through 7 (of 7 total)
  • Author
    Posts
  • #4726
    Mira Julia
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #7326
    Anonymous
    Guest

    Jika anak usia 4 tahun sudah diikutkan belajar mathematika di ixl math bagaimana? Tujuannya supaya anak bisa lebih cepat bisa berhitung dgn cara yg menyenangkan..

    #7321
    Aar
    Keymaster

    Secara teknis bisa mbak. Tapi ekspektasi orangtuanya perlu dikelola: jadikan itu kegiatan “main game”, bukan belajar. Pastikan ada pendampingan saat anak berkegiatan. Jika anak belum siap, jangan dipaksa.

    Untuk anak usia 4 tahun, proses yang lebih efektif sebenarnya menggunakan benda-benda fisik, misalnya: batu, daun, mainan, kue, dll

    #5036
    Winda Djohar
    Member

    Halo, Kak Aar dan Kak Lala.

    Terkait rasa aman…

    Anak saya berusia 4 tahun dan saya lihat punya banyak ketakutan.

    Dia takut berenang di kolam renang yg banyak hiasannya (ember tumpah, shower, air mancur, dll.), takut dgn perosotan yg meliuk-liuk atau tinggi, berjalan di jembatan mainan (yg biasanya ada di playground), tidak suka tekstur oobleck, enggan masuk toilet rumah saat ada kotoran (seperti pasir/kerikil) di lantai, dll.

    Meskipun selalu didampingi saat melakukan aktivitas di atas, dia tetap takut.

    Apakah ketakutan ini wajar? (melihat anak2 lain seusianya biasanya senang bermain di waterpark dan playground).

    Apakah ada trust issue dari anak kepada orgtuanya, sehingga dia tetap enggan melakukan aktivitas meski sudah dibujuk?

    Bagaimana caranya agar anak mau mencoba, dgn harapan rasa takutnya bisa hilang?

    #5032
    Aar
    Keymaster

    Halo kak @winda-djohar,

    Karakter atau sikap anak dipengaruhi oleh banyak faktor, baik terkait dirinya sendiri (bawaan, nature) atau pengaruh lingkungan (pengasuhan, nurture).

    Sudut pandang penting yang perlu kita miliki sebagai orangtua, adalah:

    1. Menerima (accept)

    Apapun yang sedang terjadi, ini adalah kondisi yang perlu kita terima sepenuh hati sebagai realitas yang terjadi sekarang. Jangan sampai terlalu rasa bersalah dan terbebani masa lalu. Jangan pula terlalu khawatir dengan masa depan. Masih banyak hal yang bisa dilakukan.

    Penerimaan ini dilakukan dengan mengamati emosi-emosi yang dominan pada diri kita (bukan emosi anak). Kenali dan olah sehingga semakin lama kita semakin santai (tidak panik, kesal, emosi, takut).

    Energi tenang (peaceful) akan memancakan energi yang membantu anak mengelola emosi (ketakutan) dalam dirinya, apapun penyebabnya.

    2. Kenali kemungkinan2 penyebabnya

    Alternatif solusi baru bisa dimunculkan jika kita bisa mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan penyebabnya:

    Nature (bawaan):

    • apakah ketakutan itu terjadi sejak dia bayi dan terus konsisten hingga kini?
    • apakah saat kehamilan ada emosi2 kuat yang dirasakan oleh Ibu yang membuatnya berdampak pada janin?

    Nurture (pengasuhan):

    • apakah anak punya pengalaman buruk saat kecil yang membuatnya ketakutan (misalnya, dimarahi dengan keras, sakit/luka parah karena mencoba2?
    • apakah orangtua dan lingkungan membawa suasana tegang/khawatir yang diserap anak?
    • apakah ada konflik besar di keluarga yang membuat anak ketakutan?
    • apakah anak sering diomeli saat melakukan kesalahan?
    • apakah anak terpapar dengan pengalaman yang menakutkan (misalnya cerita perang, horor) yang sebenarnya membuatnya ketakutan?
    • Dll

    3. Seberapa tinggi intensitas ketakutannya?

    Ada anak yang memang pada dasarnya takut mencoba hal-hal baru.

    Ketakutan itu bisa terurai seiring pertumbuhan usia (masih tetap penakut saat besar, tapi tidak mengkhawatirkan lagi) karena orangtua menerimanya dan mendampingi anak mengelola ketakutannya.

    Ketakutan itu bisa semakin memburuk karena orangtua menyikapi dengan kurang tepat, misalnya mengomeli dan memaksa anak melawan ketakutannya secara paksa. menetapan harapan dan standar tinggi yang tidak bisa dipenuhi anak sehingga anak merasa gagal, dll.

    Jika kakak merasa intensitasnya masih dalam batas wajar, kakak bisa melakukan aksi personal secara mandiri.

    Jika kakak merasa ketakutannya sangat berlebihan dan mengganggu fungsi normal kesehariannya, kakak mungkin perlu berkonsultasi dengan profesional (psikolog) untuk mendapatkan bantuan identifikasi yang lebih tajam dan bantuan petunjuk aksi sesuai diagnosis profesional.

    Aksi orangtua

    Secara sederhana, hal-hal yang bisa dilakukan orangtua adalah meningkatkan perasaan aman anak dan membantu anak mengelola ketakutannya melalui aksi:

    1. Terima kondisi, jangan diomeli & dipaksa-paksa

    Jika anak diomeli, dia akan semakin khawatir dan ketakutan karena merasa diinya bersalah. Anak bisa semakin kehilangan kepercayaan dirinya.

    Setiap anak unik dan bebeda-beda. Ada anak yang mandiri, ada yang butuh dukungan sedikit, ada yang butuh dukungan banyak dari orangtua. Itu semua adalah dinamika alamiah terkait anak, bukan berarti anak tidak sempurna.

    2. Validasi emosi anak

    Terima dan amati saja emosi anak. Pancarkan energi ketenangan dari diri orangtua. Sampaikan dengan nada datar tanpa amarah dan kejengkelan.

    “Kakak takut? Kakak tidak mau? Kakak mau melihat dulu?”

    “Nggak apa-apa kok? Sini Bunda peluk dulu…”

    3. Gali akar masalah

    Dalam kondisi santai (misalnya sambil makan es krim bersama), obrolkan tentang emosi yang dialami anak:

    “Apa sih yang kakak lihat?”

    “Apa yang kakak takutkan?”

    “Apa yang ada dalam bayangan kakak?”

    4. Simulasikan penanganan masalah

    Dampingi anak untuk mengurai ketakutannya.

    “Lihat nih Bunda masuk dan tidak apa-apa. Kakak mau mencoba?”

    “Mau melakukan barengan sama Bunda?”

    Demikian kak, semoga membantu.

    Masukan ini bersifat umum. Dalam dunia psikologi ada yang disebut phobia (ketakutan tentang sebuah hal tertentu yang sangat intens). Ada yang ketakutan di ruang sempit, ketakutan melihat cacing, dll. Jika kakak melihat kondisi ini dekat dengan phobia dan tidak bisa hanya ditangani oleh orangtua, kakak perlu berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan bantuan penanganan yang lebih tepat.

    🙏

    #5029
    Winda Djohar
    Member

    Halo, Kak Aar.

    Terima kasih atas jawabannya yang mendetail.

    Kembali lagi ke Circle of Control ya, Kak. Harus kelola emosi diri sendiri dulu, baru bisa membantu anak.

    Akan saya coba terapkan sarannya, Kak.

    Terima kasih dan salam sehat selalu😊

    #5026
    Aar
    Keymaster

    Betul kak Winda,

    Cara paling efektif untuk mempengaruhi anak adalah dengan mengubah diri kita sendiri, bukan langsung mengubah anak.

    Proses seperti ini biasanya dampaknya jangka panjang dan membuat pertumbuhan bisa lebih mulus.

    Selamat berpraktik kak.. 🙏

Viewing 7 posts - 1 through 7 (of 7 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top