Podcast Proses Pengembangan Keterampilan

Belajar Parenting Forums 10 Keterampilan Dasar Anak Podcast Proses Pengembangan Keterampilan

  • This topic is empty.
Viewing 5 posts - 1 through 5 (of 5 total)
  • Author
    Posts
  • #4644
    Aar
    Keymaster

    Apakah Anda punya pertanyaan sesuai materi terkait?

    #6807
    Aar
    Keymaster

    Halo kak Henny,

    Terima kasih atas pertanyaannya.

    Saya agak susah menjawab pertanyaan Anda karena informasinya yang terbatas. Hanya ada informasi tentang masalah dan tidak ada konteks menurut analisis Anda mengapa masalah itu terjadi.

    Sebelum masuk ke ide penyelesaian dan solusi, penting sekali untuk memahami konteks keseharian yang mungkin menjadi penyebab masalah.

    Ada kasus begini, kak.

    Ada seorang Ibu yang merasa dia sudah berbicara dengan anak, sudah mengajak anak, sudah bertanya pada anak; tetapi anaknya selalu resisten dan menjawab apapun yang dikatakan Ibunya.

    Secara teori tertulis, Ibunya sudah melakukan proses yang seakan-akan sudah betul. Tapi yang tidak terlihat dan terkatakan adalah suasana yang diciptakan Ibu tersebut saat berinteraksi dengan anak. Ternyata, anaknya merasa Ibu terlalu dominan, kalau berkata selalu menasihati, terlalu menuntut anak, tidak apresiatif, gemar mengkritik, serta tidak memberikan rasa yang nyaman.

    Ketika bertanya kepada anak pun sang Ibu bukan untuk mendengarkan anak, tetapi bertanya dengan mengeluh. Ketika anaknya menjawab jujur, Ibu bukan menerima penjelasan anak sebagai modal untuk perbaikan, tetapi bersikap defensif.

    Akibatnya, yang terjadi adalah resistensi anak terhadap apapun yang disampaikan oleh Ibunya.

    Yang tidak disadari oleh Ibunya ketika bercerita tentang masalah yang dialami bersama anaknya adalah: sang Ibu tidak menyadari bahwa pola komunikasi dan interaksinya mengakibatkan rasa tidak nyaman bagi anak. Ada energi tidak nyaman yang dilontarkan oleh Ibu.

    Itu tadi hanya ilustrasi untuk menunjukkan bahwa konteks di lapangan berpengaruh penting untuk menyelesaikan masalah. Selama Ibu tidak mengubah energi, pola komunikasi dan tidak menerima sudut pandang anak dengan tulus, konflik itu akan terus terjadi.

    Nah, sekarang kita bahas pertanyaan kak Henny.

    1. Kegiatan Dapur
    Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali penyebab anak tidak tertarik lagi melakukan kegiatan di dapur. Apa refleksi Anda?

    ~ Apakah ada kegiatan lain yang lebih menarik bagi anak dibandingkan kegiatan memasak? => berarti perlu dihadirkan pengalaman memasak yang lebih asyik

    ~ Apakah anak pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat berkegiatan di dapur? Pengalaman buruk itu bisa macam2: kena panas minyak goreng, terpercik air panas, luka kena pisau, dimarahi karena melakukan kesalaham, dll => berarti perlu disembuhkan dulu pengalaman buruknya

    ~ Apakah kegiatan memasak terlalu menjadi beban bagi anak? => berarti ekspektasinya diturunkan, kegiatannya disesuaikan dengan kesenangan anak

    2. Pekerjaan rumah
    Latihan melakukan pekerjaan rumah perlu dilihat sebagai proses belajar dan menjadi sukacita, bukan beban. Itu artinya, kalau anak belum mampu ya jangan dipaksa. Minta anak melakukan hal yang memang sesuai kemampuannya, terutama yang berhubungan dengan kepentingan dirinya sendiri.

    Berterima kasihlah dan apresiasilah kakak setiap kali kakak melakukan pekerjaannya yang meringankan beban orangtua. Jadilah orangtua yang murah hati untuk memberikan apresiasi, bukan sibuk menuntutkan.

    Tentang pekerjaan rumah ini, salah satu kuncinya memang keadilan (fairness). Jika anak merasa diperlakukan tidak adil, proses ini akan sulit dilakukan. Pastikan bahwa seluruh anggota keluarga berbagi peran (bukan berbagi beban). Ibu, ayah, dan seluruh anggota keluarga lain berbagi peran. Adik pun diberikan peran dan jika dia belum bisa, maka orangtua terlibat untuk membantunya.

    Juga, jangan terlalu rigid dalam pembagian peran. Sesekali orangtua membantu anak melakukan tugas kakak, sesekali ayah membantu Ibu, sesekali Ibu membantu ayah, dst. Itu adalah gesture untuk menunjukkan bahwa urusan rumah ini diselesaikan bersama-sama, bukan saling menuntut orang lain melakukan kewajibannya.

    Supaya tidak hanya dilihat sebagai kewajiban dan beban, orangtua perlu menjadi teladan untuk melakukan kegiatan rumah ini dengan sukacita. Orangtua mengekrespresikan kebahagiaan saat selesai memasak, saat selesai menyapu, dan lain-lain.

    “Alhamdulillah, puji syukur, rumah sudah bersih.”
    “Alhamdulillah, puji syukur masakan sudah selesai dan siap dinikmati.”

    Energi sukacita dan kebahagiaan ini akan menular pada anak-anak.

    Demikian kak, semoga membantu.

    #6806
    Anonymous
    Guest

    Selamat sore mas Aar,
    Anak saya usia 9thn dan 4thn, pertanyaannya :
    1. Saat usia 2-3 tahun anak saya yg ke 2 senang sekali ikut kegiatan di dapur, selalu ingin terlibat dalam proses memasak khususnya menggoreng. Tapi perlahan keinginan dia untuk berktivitas di dapur berkurang dan hilang sama sekali saat menginjak usia 4tahun lebih. Saya sudah berusaha mengajak untuk terlibat kegiatan di dapur seperti dulu tapi dia tidak berminat sama sekali. Apa yg harus saya lakukan untuk menarik minatnya lagi?

    2. Anak saya yg pertama usia 9thn, sering uring2an kalo diingatkan mengerjakan daily choresnya. Sudah saya ajak ngobrol sesekali sehubungan dengan manfaat daily chores ini tp besoknya dia uring2an lagi. Sepertinya dia melihat adiknya yg tidak pernah saya libatkan dalam kegiatan beres2 rumah selain beres2 mainannya sendiri. Karena adiknya ini termasuk anak yg “keras kepala” setiap nasehat dan dorongan saya untuk melakukan daily chores tidak dihiraukannya. Bagaimana saya menyikapi permasalahan ini sehingga saya juga tidak terpancing emosi setiap kali mereka menolak melakukan daily chores.

    Terima kasih, mohon pencerahannya

    #6804
    Anonymous
    Guest

    Selamat malam mas Aar

    1. Saya baru baca balasan dari mas Aar dan tersadarkan, selama ini saya sepertinya terlalu mendominasi percakapan antara saya dengan kakak, terkadang menjudge apa yg terjadi hari ini. Sepertinya saya harus belajar berkomunikasi dengan kakak agar lebih efektif sehingga kakak tdk defensif dengan saya.

    2. Tentang kegiatan di dapur, seringnya adik mendapat teguran dari ibu saya (beliau tinggal bersama saya) karena namanya anak kecil yg terlihat malah seperti ngerecokin. Dan di saat bersamaan si adik sudah mulai terpapar dengan gadget dan TV yg tdk terjadwal. Sehingga minatnya berubah. Sekarang saya sudah mulai memberikan jadwal untuk screen time hanya dilakukan pada akhir pekan. Saya berusaha menarik minatnya lagi untuk kembali ke dapur, sering tertolak tp kadang dia mau walaupun sesaat.

    Saya sangat berterima kasih atas pencerahan yg diberikan mas Aar. Karena saya susah merangkai kata2 jadi kadang mau menjelaskan sesuatu harus dipancing dulu, maafkaann

    #6796
    Aar
    Keymaster

    Hai kak Henny,

    Terima kasih untuk informasi tambahannya, kak. Saya jadi lebih memahami kondisi yang terjadi di lapangan.

    1. Terima kasih untuk refleksinya yang berani dan jujur. Proses semacam ini sangat bagus untuk meningkatkan kapasitas kakak dalam mendampingi anak-anak. Ketika kakak merasa ada hal yang perlu diperbaiki dalam komunikasi dengana anak, itu menjadi pintu masuk kakak untuk belajar keterampilan berkomunikasi yang lebih baik.

    Salah satu tips-nya yang sederhana untuk memulai proses komunikasi lebih baik adalah mindfulness. Cobalah kakak hadir sepenuh hati saat berkomunikasi dengan anak. Jangan berteriak dan memerintah dari jauh. Setiap mengobrol bersama anak usahakan dalam jarak dekat dan berhadap2an. Atur nafas dan perhatikan intonasi suara. Itu dulu mulainya.

    Yang kedua, perbanyak kegiatan santai bersama anak, misalnya jalan pagi, bersepeda bersama, masak-masak, makan es krim bersama, pergi ke supermarket, main game bersama, dll. Bersenang2 dan mengobrol bersama. Ini akan membangun kedekatan hati anak-anak bersama kak Henny.

    2. Nah, ternyata ketemu kemungkinan penyebab anak mengalami perasaan tidak nyaman saat melakukan kegiatan di dapur. Dalam proses perbaikan, ada 2 hal yang bisa kakak lakukan:
    a. Lanjutkan proses mengurangi screen time dan ganti dengan kegiatan lain (tidak harus memasak). Sediakan alat siap pakai yang bisa digunakan anak melakukan kegiatan bebas tanpa Anda, misalnya: balok, kertas, aneka pensil warna, dll.

    b. Jika ingin berkegiatan di dapur lagi, pastikan Anda membantu untuk merapikan dapur (yang menjadi concern nenek) sehingga anak tidak menerima akibat sampingan berupa omelan. Jika kondisinya cukup santai dan memungkinkan, jelaskan ke nenek bahwa Anda sedang mengajarkan anak keterampilan hidup dan kegiatan di dapur merupakan bagian dari proses belajar.

    Demikan kak, tetap semangat yaa…!

Viewing 5 posts - 1 through 5 (of 5 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.
Scroll to Top