Belajar Parenting › Forums › Memulai Homeschooling Usia Dini › Podcast Sosialisasi Homeschooling Anak Usia Dini
- This topic is empty.
-
AuthorPosts
-
November 9, 2022 at 8:28 pm #5871
Jessica Layantara
MemberBagaimana jika orangtua keduanya adalah introvert, tidak dekat dg keluarga besar, dan tidak juga punya sahabat orangtua yg dekat? Sehingga anak akrab hanya dengan orangtua saja. Apakah akan membantu jikalau anak dititipkan 1 hari dalam seminggu di daycare? Atau biarkan saja yg penting anak nyaman dg dirinya dan orangtuanya? Anak usia 16 bulan, dan jika bertemu orang lain selalu menangis dan tidak nyaman dg keramaian. Juga tidak suka dg orang yg punya suara yg melengking/tinggi.
November 10, 2022 at 9:42 am #5870Aar
KeymasterHalo kak @jessica-layantara,
Terima kasih pertanyaannya. Dengan informasi yang diberikan, saya ingin memberikan beberapa catatan.
1.
Perlu dibedakan antara kecenderungan personal (introvert-extrovert) dengan keterampilan sosial (social skills).
Introvert-extrovert adalah kencenderungan seseorang dalam pola interaksi orang lain. Introvert berarti orang lebih suka menjaga jarak dalam keramaian, merasa nyaman dalam kesendirian dan lingkaran kecil dibandingkan dalam keramaian. Orang introvert mendapatkan energi saat sendiri, sementara saat dalam keramaian dia justru merasa terkuras energinya.
Nah, orang introvert maupun ekstrovert perlu memiliki keterampilan sosial, bisa berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain dengan baik. Dia bisa bertanya, menjawab, mengobrol, berdiskusi, dan keterampilan lain yang dibutuhkan untuk hidup.
Bisa saja orangnya introvert (lebih suka sendiri dan dalam kelompok kecil), tapi dia tak masalah untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain jika dibutuhkan.
Nah, yang dibutuhkan oleh anak-anak (baik introvert maupun introvert) adalah mengasah keterampilan sosial.
2.
Pondasi untuk keterampilan sosial adalah rasa aman dan nyaman anak. Anak merasa aman dan nyaman dengan dirinya sendiri. Jika rasa aman dan nyaman anak besar, secara alamiah dia akan mulai bergerak ke luar.
Nah, di sinilah titik kritisnya.
Setiap anak punya daya tahan berbeda-beda saat berhubungan dengan orang dan lingkungan yang asing. Jika anak menangis dan ketakutan saat berinteraksi dengan orang baru, tandanya kapasitasnya memang masih terbatas. Dan it’s okay karena setiap anak unik.
Penyebabnya bisa 2:
~ anak masih belum cukup besar rasa aman dan nyaman dengan dirinya sendiri. Kepercayaan dirinya masih terbatas.
~ anak belum terbiasa dengan lingkungan yang sama sekali baru
3.
Karena anak usianya belum 2 tahun, sebenarnya tidak perlu ada kekhawatiran yang berlebihan. Memaksa anak untuk berinteraksi dengan dunia yang asing pada saat anak belum siap justru bisa menimbulkan ketakutan berlebihan pada anak, membuat anak menarik diri, dan mengalami pengalaman buruk yang menjadi masalah dalam jangka panjang
Yang dibutuhkan anak adalah:
a. Pastikan hubungan anak dengan orangtua kuat. Anak tidak rewel, anak menjalani keseharian dengan ceria, anak bisa berbicara dengan baik, anak bisa mengungkapkan keinginannya dengan jelas, anak bisa mengelola emosinya. Ini yang menjadi fokus utama.
b. Secara perlahan orangtua perlu memaparkan anak dengan lingkungan baru, misalnya main di taman, belanja ke supermarket, ketemu sepupu, dll. Pada saat memaparkan pada lingkungan baru,
- pastikan orangtua ada bersama anak dan memberikan rasa aman dan nyaman pada (jangan dilepas sendiri)
- lakukan proses yang sama berulang (main di taman, ketemu orang/lingkungan yang sama) sehingga anak lama2 semakin mengenal bahwa itu hal yang aman dan tidak apa2
- jangan memaksa anak main dengan anak/orang lain jika anak belum siap. Berikan ruang dan waktu yang cukup buat anak menentukan sendiri kapan dia siap.
- berikan komentar yang mendukung (kamu bisa, kalau nggak belum mau tak apa2), tidak melabeli negatif (cengeng, nggak mandiri, lemah, dll)
- lindungi anak dari komentar orang dewasa yang menghakimi (Oo.. dia memang masih lebih senang main sama mama papanya, nanti kapan2 dicoba lagi yaa..)
Demikian kak, semoga membantu. 🙏
July 26, 2023 at 8:36 am #5418dhona sarawati
MemberHalo mas Aar dan mbak Lala, saya ada beberapa pertanyaan lg terkait dg sosialisasi HSUD
1. Bagaimana jika anak tidak tertarik untuk main dg teman sebaya karena dia punya hobi?
Anak saya 4th dan sejak 2th seperti sudah terlihat ketertarikan dg menggambar dan sampai skrg masih berlanjut. Setiap hari dia hanya menggambar dan kalaupun bosan dia ganti dengan main permainan lego, puzzle atau sekedar mengamati ikan di kolam. intinya permainan dan kegiatan yg hanya melibatkan diri sendiri. Kalau sedang sibuk dengan dunianya seperti tidak butuh teman. Ada kerumunan anak bermain di depan rumahpun dia tidak tertarik untuk bergabung. Pernah suatu hari saya tawari mau main tidak dg si A (anak tetangga) mungkin masih malu saya inisiatif antarkan dulu, tp dia jawab tidak.
Pernah jg dapat ulang undangan ulang tahun anak tetangga. Ekspektasi saya dia akan antusias ketemu banyak teman. Ternyata cm duduk, diam, mengamati, selesai acara pulang. Dia tidak tertarik untuk berbaur dg yg lain, nyanyi bersama atau makan bersama. Baiklah saya tidak memaksa. Tp ada sedikit kegundahan, apa tidak apa2 seperti ini? bgmn kalo anak sy jadi ansos nantinya? harus saya stimulasi apa? dst dst …..
2. Bagaimana jika anak hanya mau berkomunikasi dg keluarga dekat saja?
Untuk komunikasi anak saya ini dalam keluarga termasuk yg bisa dibilang banyak bicaranya, segala apapun ditanyakan sampai saya kadang kuwalahan tidak bisa menjawab pertanyaannya.
Tp kalau dg orang asing/ anak sebaya lain seperti tidak tertarik untuk main/bicara.
Lalu ada tidak komunikasi dg orang lain? Tentunya ada, main dg sepupu.nya yg masih seumuran (ini.pun jg jarang karena setiap hari dia menggambar). Lalu dengan om, tante, kakek nenek bisa asyik bercanda atau tertawa. Intinya dia hanya mau mengeluarkan diri seutuhnya hanya dengan yg dia kenal..
komunikasi dg orang lain/asing hanya ketika bertransaksi jajan diwarung.
Jadi bisa dibilang anak saya ini tidak punya teman sebaya selain sepupu2nya itu tadi. Bagaimana menurut mas Aar/mbak Lala?
Terimakasih 😊
July 27, 2023 at 11:55 am #5415Aar
KeymasterHalo kak Dhona,
Ada 3 indikator penting terkait kapasitas sosial anak:
1. Anak memiliki keterampilan berkomunikasi: mengekspresikan keinginan/gagasan/perasaan, memahami perintah dan melakukan, bertanya-jawab, mengobrol dua arah.
2. Anak bisa melakukan dengan baik dalam situasi sosial kecil (keluarga) dan jika dibutuhkan.
3. Anak merasa nyaman dengan dirinya dan saat menjalani kesehariannya.
Jika 3 aspek tersebut terjadi, maka kondisi aman.
Terkait kebutuhan untuk berinteraksi dengan banyak teman, itu kaitannya dg personalitas: ekstrovert vs. introvert.
Orang ekstrovert merasa nyaman dalam situasi pertemanan dengan banyak orang, mendapatkan energi saat berinteraksi dg orang lain.
Orang introvert merasa nyaman dalam situasi pertemanan kecil atau sendiri, merasa terkuras energinya saat berinteraksi dg orang banyak.
Jadi, kondisi yang sedang kakak alami itu masih dalam batas cukup wajar.
Apalagi jika ada keluarga dekat yang memiliki personalitas serupa (introvert).
Fokuskan pada 3 aspek yang di atas (mengasah social skills). Berikan ruang dan waktu buat anak saat berinteraksi dg orang lain.
Anak introvert biasanya jadi pengamat saat interaksi sosial awal. Jika sudah merasa nyaman dia baru mau berinteraksi.
Stimulasi yang dibutuhkan adalah:
1. Terus asah keterampilan sosial
2. Sesekali paparkan dengan lingkungan sosial berbeda (akan lebih baik jika ada irisannya, misalnya sama2 suka menggambar)
3. Turunkan ekspektasi orangtua, berikan ruang dan waktu lebih besar pada anak saat melakukan interaksi sosial.
Demikian, kak. Semoga membantu. 🙏
July 27, 2023 at 1:06 pm #5414dhona sarawati
Memberwahh…makasih bgt mas Aar penjelasannya. Mungkin memang ekspektasi saya terlalu tinggi ya padahal dg aspek2 yg tadi disebutkan anak juga sedang berproses..kalau menengok lg ke belakang mungkin saja anak sy introvert seperti saya waktu kecil.
trimakasih. sangat membantu 🙏
August 12, 2023 at 11:38 am #5285Aar
KeymasterSelamat berproses ya kak Dhona,
Dengan penerimaan dari orangtua, anak akan merasa nyaman dan bisa bertumbuh sesuai dengan keunikannya masing-masing.
🙏
January 24, 2024 at 3:38 pm #4912Yane Riana
MemberHalo Mas Aar dan Mba Lala. <div>
Anak kami 1, usia 3.5 tahun perempuan.
Saat kami mantap memutuskan akan full HS setelah selesai playgroup Mei nanti, guru di PG menyayangkan dan menilai akan sulit dalam sosialisasi dan dibilang “Jago Kandang”
🙁
Curhat sekaligus minta saran untuk kedepannya, Mas Aar dan Mba Lala 😇
</div>
January 26, 2024 at 2:25 pm #4911Aar
KeymasterHalo kak @yane-riana
Terima kasih sharingnya kak. Kebayang hati kakak jadi tidak nyaman karena komentar guru yang sangat tidak empatik pada siswanya. Dia hanya tahu sepintas tentang homeschooling tetapi sudah berani menghakimi pilihan homeschooling yang diambil oleh kakak.
Jika kakak memutuskan untuk menjalani HS Usia Dini, ada beberapa catatan yang ingin saya berikan untuk memperkuat perjalanan kakak:
1. Kuatkan bonding & connection bersama anak
Nikmati kegiatan bersama anak. Jadikan keseharian bersama anak membahagiakan untuk anak maupun orangtua. Jika kualitas keseharian asyik, itu sudah seperti memastikan lahan subur sehingga benih-benih potensi anak bisa berkembang baik.
2. Menjalani hari dengan bahagia
Jadikan kehidupan anak sebagai proses belajar dan materi belajar anak. Yang disebut belajar bukan hanya calistung dan menambah pengetahuan. Belajar juga terkait proses membangun kemandirian dan kebiasaan-kebiasaan baik. Bangun tidur tidak menangis, minum air putih supaya sehat, mengasah kemandirian terkait mandi, makan, minum, dll.
Belajar bukan hanya terjadi di waktu-waktu tertentu. Belajar terjadi sejak anak bangun tidur hingga tidur lagi.
3. Perbanyak kegiatan fisik
Perbanyak kegiatan fisik karena kegiatan fisik itu bukan hanya membuat anak sehat dan bugar, tetapi juga menjadi stimulasi untuk perkembangan syaraf-syaraf terkait kecerdasan. Main lembar bola di rumah, aneka jalan dan lompat, main ke taman bermain dekat rumah, dll.
4. Mengobrol dan mengobrol
Anda memang perlu mengalokasikan waktu minimal 30 menit untuk berkegiatan khusus bersama anak. Di luar itu, proses belajar sangat bisa dilakukan dengan aneka kegiatan kecil keseharian dan mengobrol. Libatkan anak dalam urusan2 rumah, misalnya: membantu memasukkan baju kotor ke mesin cuci, belajar mengoperasikan mesin cuci, mengambil jemuran, membantu mengupas telur, membantu mengambilkan bahan di kulkas, dll.
5. Nikmati keseharian
Yang pasti, upayakan untuk hadir secara mindful bersama anak. Nikmati keseharian bersama anak.
Kunci keberhasilan HS Usia Dini adalah keseharian berlangsung membahagiakan dan minim drama.
Demikian kak, selamat menikmati petualangan belajar bersama anak-anak..
🙏
June 3, 2024 at 11:38 am #4872Happy Zahra Zaky
MemberHalo Mas Aar dan Mba Lala,
Terkait sosialisai HSUD, anak saya laki-laki 2 tahun, sepertinya tidak punya masalah berinteraksi dengan orang lain, hanya saja kalau sudah main dengan anak tetangga sampai tidak mau pulang, kalau diajak kembali ke rumah untuk melakukan rutinitas lain akan menangis keras dan tantrum dalam waktu yang lama. Bagaimana memberitahu dia mengenai batasan waktu bermain? Perlukah saya biarkan dia bermain sepuasnya? Berapa lama saya perlu biarkan dia main dengan tetangga?
Lalu akhir – akhir kami (orang satu rumah) agak malas menemaninya bermain karena si anak sering mencubit, memukul denga tangan maupun barang / bersikap agresif, kadang karena maunya tidak di turuti atau tanpa alasan. Bahkan dengan orang yang baru iya temui juga diperlakukan sama. Kami sudah coba menasehati tapi tidak didengarkan. Btw, anak kami belum bisa bicara. Baru mama-papa dan suara hewan. Bagaimana menghentikan kebiasaan ini? kalau terus berlanjut saya khawatir tidak ada yang mau main dengan si anak di rumah dan ia tidak terstimulasi.
Mohon tanggapannya. Terima kasih
June 8, 2024 at 10:55 am #4871Aar
KeymasterTerima kasih sharingnya kak @happy-zahra-zaky
Saya mencoba memahami cerita kakak, ada 2 isu yang kelihatannya saling berkaitan, yaitu: manajemen emosi anak dan keterampilan berkomunikasi. Menurut sudut pandang saya (berdasarkan paparan kakak, ini yang perlu diperbaiki dan diselesaikan.
Ini bukan tentang dibiarkan main atau diatur. Ini juga bukan tentang dinasihati. Yang dibutuhkan adalah stimulasi untuk meningkatkan keterampilan berbicara dan pengelolaan emosi.
Keterampilan berkomunikasi dan berbicara adalah perihal kemampuan anak mengutarakan hal yang ada di pikiran dan emosi yang dirasakannya. Jika kosakatanya terbatas, maka ekspresinya adalah menangis, marah, teriak, mencubit, memukul, bersikap agresif dan lain-lain. Jadi, kemampuan berbicara ini juga sangat terkait dengan manajemen emosi.Pada usia 2 tahun, perkembangan anak secara umum dalam aspek bahasa adalah menguasai sekitar 150-300 kata. Anak juga sudah mulai bisa membuat kalimat sederhana untuk menjelaskan pikiran atau aksinya, misalnya: “Aku lapar”. “Aku mau main”, “Itu bola”, dll.
Jika kosakata anak sedikit sekali, ini perlu segera ditangani karena masalahnya bisa merembet ke mana-mana, termasuk gangguan emosi dan perilaku.
Ada beberapa kemungkinan penyebab anak terlambat berbicara:
1. Fisik (kesehatan), misalnya: anak punya masalah pendengaran, gangguan mulut, lidah, atau syaraf. Untuk memastikan apakah anak punya masalah fisik, perlu dibawa ke dokter agar bisa dicek.2. Pengaruh lingkungan, misalnya: terlalu banyak menonton gawai sehingga anak cenderung pasif dan malam berbicara.
3. Kurang stimulasi, misalnya orangtua jarang mengajak anak mengobrol dan menstimulasi kemampuan bahasa anak.
Jika anak kurang stimulasi, beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua adalah meningkatkan komunikasi dan stimulasi terkait bahasa, misalnya:
a. Memperbanyak main dan berkegiatan bersama anak, misalnya main air, main balok, jalan pagi, dll. Setiap kali berkegiatan bersama, orangtua terus bercerita dan mengajak anak mengobrol tentang berbagai hal yang sedang dilakukan.
“Eh kak, ini kita lagi main air. Kita main pakai gayung. Lihat gayungnya warnanya merah. Kita tuang ke sini yuk dari wadah besar ke wadah yang kecil… dst”
Pokoknya orangtua perlu “mengoceh” terus, jangan malas untuk bercerita agar anak semakin banyak menyerap kata-kata di otaknya.b. Memperbanyak dialog dan tanya-jawab
Biasakan bertanya dan melatih anak untuk berbicara.
“Kita lagi makan nasi sama telur. Yang ini nasi, yang itu telur. Yang ini apa?”
Tunggu anak sampai menjawab. Jika anak belum bisa, minta anak untuk mengikuti “Na… si”“Itu apa?” “Te… lur.”
Lakukan obrolan tentang apapun, Ajari anak mengucapkan kata mulai dengan 2 suku kata (merah, hijau, biru, makan, minum, nasi, ayam, telur, ayah, ibu, piring, dan benda2 lain yang ada di sekitar).
c. Dongeng dan membacakan buku sebelum tidur
Buatlah kebiasaan untuk membacakan buku cerita atau mendongeng sebelum tidur atau kapan pun. Ini adalah proses membangun stimulasi bahasa dan kecerdasan anak. Anak menambah kosakata, belajar memahami cerita, memahami nama/tokoh/tempat, belajar memahami alur cerita, dst.
Demikian kak. Jawaban ini tak langsung, tapi semoga bisa membantu menyelesaikan masalah lapangan yang terjadi.
Tentang main keluar, untuk penyelesaian saat ini diatur saja waktu dan dibawa pulang jika waktunya selesai.
Semoga dengan meningkatnya kemampuan anak berbicara, keterampilan anak mengelola emosi dan menyalurkan emosi menjadi lebih baik.
Sekali lagi, yang kelihatannya paling dibutuhkan anak saat ini bukanlah nasihat, tetapi stimulasi keterampilan bicaranya.
🙏🤩
July 17, 2024 at 10:41 am #4858Happy Zahra Zaky
MemberTerima kasih banyak sarannya mas Aar, saya sama sekali gak nyangka perilaku agresifnya karena kekurangan kosakata, saya kira karena saya kecolongan dan dia meniru orang lain. Saat ini si anak sudah mulai berani mengikuti kata yang dia suka, seperti membeo walaupun belum jelas. Kami juga mengajak si anak ke toko buku dan memilih sendiri buku yang dia suka. Dia jadi lebih semangat lihat bukunya. Isi buku tersebut jadi sering kami bahas berkali-kali.
Saya akan terus mencoba lebih bawel lagi menjelaskan ini itu.
July 17, 2024 at 7:35 pm #4857Aar
KeymasterSelamat menstimulasi keterampilan bahasa dan menemani tumbuh kembang anak kak @happy-zahra-zaky
🤩🙏
-
AuthorPosts
- You must be logged in to reply to this topic.